Bursa
( 805 )Kinerja LQ45 Belum Berstamina
Identik dengan saham blue chip dan likuid, nyatanya indeks LQ45 tak selalu mentereng. Beberapa waktu belakangan ini, kinerja LQ45 justru tertinggal dari pasar secara umum, yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejak awal tahun 2024 hingga Jumat (26/4), IHSG terjungkal 3,25%. Namun LQ45 ambles lebih dalam dengan posisi minus 7,40% secara year to date (ytd). Kondisinya tak jauh berbeda dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022, saat IHSG menguat 4,09%, Indeks LQ45 hanya melaju tipis 0,62%. Bahkan pada 2021, saat IHSG mencetak return hingga 10,08%, Indeks LQ45 malah minus 0,37%. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menyoroti, saham BUMN cukup punya keterkaitan dalam dinamika kinerja LQ45. Terutama tiga bank besar BBRI, BMRI, dan BBNI serta TLKM.
Hingga kuartal I-2024, sejatinya kinerja LQ45 cukup apik dan unggul dibanding IHSG.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan, performa IHSG lebih unggul terdorong akselerasi saham
big caps
yang bukan konstituen LQ45. Misalnya beberapa pendatang baru
big caps
seperti BREN dan AMMN.
Meski kinerja LQ45 belakangan ini tertinggal dari IHSG, tapi CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menilai LQ45 masih menarik sebagai bagian dari tolok ukur (
benchmark
) bagi investor ritel maupun manajer investasi.
Investment Analyst
Syailendra Capital, Michael Tjandradjaja mengingatkan, meski LQ45 merepresentasikan likuiditas saham, tapi indeks ini tidak mencerminkan prospek kinerja dari emiten tersebut. Lagi pula, secara historis tidak ada
indeks equity
yang memiliki kinerja terbaik secara konsisten.
BBCA Jawara, BREN Kembali ke Posisi Kedua
Peta penguasaan pasar emiten penghuni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak dinamis. Sejauh ini emiten berkapitalisasi pasar (market cap) terbesar masih dipegang PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sementara di posisi kedua bertengger saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Posisi BREN sejatinya sempat menjadi runner up di akhir 2023. Namun, akhir Maret lalu, market cap BREN longsor ke Rp 719,10 trliun.
Berikutnya ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan
market cap
Rp 723,03 triliun. Kapitalisasi pasar BBRI sudah tergerus 15,63% dari posisi akhir 2023.
Lalu ada PT Amman Minerals International Tbk (AMMN). Akhir 2023, market cap AMMN Rp 474,99 triliun.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer melihat peluang pergeseran
market cap
masih bisa terjadi. Ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen yang mewarnai pasar saat ini. Faktor lain adalah mulai bergulirnya rilis laporan kinerja di kuartal I-2024. Hasil dari pencapaian kinerja tersebut, menurutnya, juga akan menentukan posisi kapitalisasi pasar setiap emiten. Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menyarankan
buy on weakness
BBRI dengan target Rp 4.800.
PROYEKSI PASAR SAHAM : Tenaga IHSG Masih Lemah
Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksi cenderung melemah pada perdagangan pekan ini atau usai libur panjang Idulfitri 2024. Gejolak nilai tukar, inflasi tinggi, dan memanasnya tensi geopolitik membayangi gerak pasar saham.Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali dibuka pada Selasa (16/4). Sebelum libur Lebaran, IHSG parkir di level 7.286,88 pada Jumat (5/4). IHSG menguat tipis 0,19% year-to-date. Pada saat yang sama, akumulasi net buy investor asing terus menyusut menjadi Rp16,63 triliun. Head of Research Panin Sekuritas Nico Laurens dalam risetnya memperkirakan IHSG akan bergerak mendatar pada April 2024 dengan kecendrungan melemah. Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pergerakan tersebut.
Pertama, inflasi yang masih tinggi, lalu resesi di beberapa negara, dan pelemahan nilai rupiah setelah outflow pada beberapa pekan terakhir. Di sisi lain, lanjutnya, pelaku pasar mencermati keputusan The Fed yang menjaga suku bunga di level 5,25%—5,5% pada pertemuan Maret 2024. Selain itu, The Fed juga menegaskan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2024. Dalam riset terpisah, Tim Analis MNC Sekuritas memperkirkan IHSG kembali terkoreksi dalam jangka pendek. Indeks komposit diperkirakan bergerak pada level support 7.045—7.099 dan resistance 7.396—7.454. Pada perdagangan hari ini, MNC Sekuritas merekomendasikan investor untuk mencermati saham BBCA dengan rekomendasi speculative buy. Selain itu, saham ELSA, ESSA, dan MAHA mendapat rekomendasi buy on weakness.Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya menyarankan investor mencermati saham INDF, BBCA, ASII, JSMR, AALI, BSDE, dan PWON.
CELAH AKUMULASI BLUE CHIPS
Sinyal meningkatnya volatilitas di pasar saham mulai berbunyi pada awal kuartal II/2024. Imbasnya, indeks LQ45 yang menaungi saham blue chips tak luput dari kontraksi.Meski performa indeks berkapitalisasi pasar Rp5.420 triliun itu belum optimal, prospeknya dinilai masih positif. Koreksi LQ45 justru dapat dimanfaatkan investor sebagai pintu masuk untuk mengakumulasi saham blue chips.Fluktuasi di pasar saham tecermin pada gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) yang melemah 0,49% sepanjang tahun berjalan berjalan ke level 7.236,98 pada Selasa (2/4). Melemahnya IHSG sejalan dengan indeks LQ45 yang turun 0,23% year-to-date (YtD). IHSG berbalik memerah setelah mampu naik tipis 0,22% sepanjang kuartal I/2024. Koreksi itu juga berkorelasi dengan arus keluar modal asing yang mencapai Rp1,52 triliun pada Senin (1/4) dan Rp1,76 triliun pada perdagangan kemarin. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat tujuh saham LQ45 menjadi penekan IHSG secara month-to-date, yakni BBRI yang turun 6,2%, BMRI -4,8%, BBNI -7,2%, BBCA -1,7%, ICBP -3,4%, BBTN -5,1%, dan SMGR yang merosot 2,1%.
Community & Retail Equity Analyst Lead Indo Premier Sekuritas Angga Septianus mengatakan rilis kinerja emiten tampaknya belum mampu membuat LQ45 menguat pada kuartal II/2024. Alasannya, investor tengah fokus pada menurunnya prospek pemangkasan suku bunga The Fed pada Juni 2024. Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menuturkan beralihnya fokus investor ke investasi emas di tengah rekor harga di atas US$2.200 per troy ounces turut menjadi penyebab melemahnya LQ45. Selain itu, sentimen lain juga berasal dari kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang terpantik rilis data manufaktur AS yang menunjukkan ekspansi pertama dalam sektor manufaktur dalam 18 bulan terakhir. Alhasil, lanjut Oktavianus, pasar saat ini menilai probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada Juni 2024 turun menjadi 55% dari 60% pada pekan lalu.
Dihubungi terpisah, Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan menambahkan indeks LQ45 masih memiliki potensi naik meskipun ada periode taking profit. "Dalam memilih saham, penting untuk mempertimbangkan profil risiko dan tujuan investasi. Diversifikasi portofolio dengan saham di luar indeks LQ45 juga bisa menjadi strategi yang bijaksana," ucapnya. Reza menyebut saham BBRI, ASII, BBCA, TLKM, BBNI, dan INDF menjadi pilihan teratas di jajaran LQ45. ASII disukai karena memiliki diversifi kasi bisnis yang kuat, sedangkan INDF dinilai sebagai emiten dengan pangsa pasar dominan di industri makanan dan minuman domestik.
Sementara itu, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan investor untuk memantau saham ACES, CPIN, MAPI, dan ANTM sebagai top picks di antara konstituen LQ45. Pada perkembangan lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara terkait dengan implementasi skema perdagangan full call auction (FCA) untuk papan pemantauan khusus (PPK) yang tengah disorot oleh pelaku pasar saham. Aturan itu diterapkan BEI mulai Senin (25/3).
Mekanisme perdagangan [FCA] dapat melindungi investor karena harga diperjumpakan pada satu harga sehingga menurunkan volatilitas harga di pasar,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, Selasa (2/4).
EMITEN MINIMARKET AMRT & MIDI Tumbuh Tinggi
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) meraih pertumbuhan pendapatan dan laba dobel digit pada 2023. Sepanjang tahun lalu, Alfamart mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp106,94 triliun. Pencapaian itu naik 10,34% dibandingkan dengan pendapatan Rp96,92 triliun pada 2022. Kinerja ciamik pendapatan AMRT pada tahun lalu ditopang oleh segmen makanan yang naik 12,36% year-on-year(YoY) menjadi Rp75,65 triliun dan segmen bukan makanan menyumbang Rp31,28 triliun atau naik 5,73% YoY. Di sisi bottom line, AMRT mencetak laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp3,4 triliun atau melompat 19,21% YoY. Laba per saham juga naik dari Rp68,76 menjadi Rp81,97.Sementara itu, MIDI meraup pendapatan Rp17,35 triliun pada 2023 atau naik 11,06% secara tahunan.
Dalam perkembangan lainnya, MIDI menargetkan kenaikan pendapatan sebesar 11% sepanjang 2024. Corporate Secretary MIDI Suantopo Po mengatakan perseroan cukup optimistis dengan prospek bisnis ritel pada 2024. Oleh karena itu, MIDI membidik peningkatan pendapatan secara konsolidasi tumbuh hingga dobel digit. “Dari sisi pendapatan, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan konsolidasian 11% di mana target SSSG [same store sales growth] untuk Alfamidi adalah sebesar 6%,” ujarnya. Dari sisi pengembangan gerai, MIDI berencana untuk membuka 200 gerai baru Alfamidi pada 2024. Pada saat bersamaan, perseroan juga akan membuka 250 gerai baru Lawson dengan rincian 50 gerai berformat standalone dan 200 gerai store-in-store.
EMITEN TEKNOLOGI : BUKA Incar Kinerja Moncer
Emiten teknologi, PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) mengincar kinerja moncer pada 2024 kendati masih mencetak rugi bersih pada 2023. Presiden Bukalapak Teddy Oetomo mengatakan dalam keterangannya, bahwa momentum positif dari kinerja makroekonomi yang solid membawa ekspektasi perbaikan kinerja. “Kami mengharapkan pendapatan akan meningkat antara 15%—20% menjadi setidaknya Rp5.104 miliar dan EBITDA yang disesuaikan lebih tinggi dari Rp200 miliar untuk tahun 2024,” ujarnya, Sabtu (23/3).
Selain itu, dia menekankan pada penerapan biaya rendah pada tahun ini. Hal itu bertolak pada realisasi pada kuartal IV/2023 dengan penurunan 52% pada beban umum dan administrasi ke Rp324 miliar. Kemudian, penurunan 47% pos yang sama sepanjang 2023 ke Rp349 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan per akhir Desember 2023, BUKA mencatatkan pendapatan bersih senilai Rp4,43 triliun atau meningkat 22,66% dibandingkan dengan perolehan 2022. Pendapatan BUKA sepanjang tahun lalu ditopang oleh segmen marketplace yang meraih Rp2,23 triliun, tumbuh 47,44% secara year-on-year (YoY). Segmen online to offline juga mencatatkan peningkatan sebesar 11,29% YoY menjadi Rp2,18 triliun. Namun, BUKA mencatatkan rugi nilai investasi yang belum dan sudah terealisasi sebesar Rp1,22 triliun pada tahun lalu. Perolehan tersebut berbanding terbalik dari 2022 yang membukukan laba nilai investasi sebesar Rp3,93 triliun. Bukalapak lantas mencatatkan rugi usaha senilai Rp2,12 triliun pada 2023, dari sebelumnya meraih laba usaha sebesar Rp1,75 triliun tahun 2022.
Aksi Korporasi Bakal Meningkat
Penetapan pemenang pemilihan umum menebalkan kepercayaan pelaku pasar modal untuk melanjutkan aksi korporasi baik berupa penerbitan surat utang, reksa dana, hingga rencana mencatatkan saham di lantai bursa. Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Rabu (20/3) yang menetapkan pasangan Prabowo-Gibran sebagai pemenang Pemilihan Presiden 2024, dan kondisi politik yang relatif stabil menjadi penguat bagi para pelaku dalam menjalankan roda bisnis. Bila mengikuti target yang ditetapkan oleh otoritas bursa, pada tahun ini ditargetkan 62 perusahaan baru akan meramaikan papan transaksi di bursa saham. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pencapaian emiten IPO pada 2023. BEI mencatat sepanjang 2023 ada 79 emiten IPO dengan nilai penggalangan dana sebesar Rp54,14 triliun. Jumlah itu melesat dibandingkan dengan 2022 yang sebanyak 59 emiten dengan penghimpunan dana Rp33,06 triliun. Jumlah pencatatan emiten baru pada 2023 pun mencatatkan rekor tertinggi sejak 1990 silam sebanyak 66 emiten.
Optimisme pelaku pasar tergambar dari mulai bertambahnya transaksi. Pada bulan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menyentuh level tertinggi, ditopang oleh rencana bagi dividen dan membaiknya kinerja emiten. Nilai transaksi pun diyakini akan terus membaik seiring dengan mulai masuknya aliran dana asing ke pasar saham. Otoritas Bursa Efek Indonesia memperkirakan nilai transaksi rata-rata akan mencapai di angka Rp12,25 triliun.Berdasarkan data BEI, IHSG kemarin ditutup di level 7.350,152 naik tipis 0,16% dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Nilai transaksi sepanjang Jumat (22/3) mencapai Rp10,10 triliun dengan volume 14,611 miliar saham.
Kualitas calon emiten menjadi isu yang cukup disoal oleh investor mengingat banyaknya emiten yang baru mencatatkan saham tetapi sudah tertimpa masalah. Beberapa di antaranya bahkan diberikan notasi khusus dengan sanksi beragam. Tak hanya itu, nilai saham yang diperdagangkan pun, banyak yang anjlok di bawah harga penawaran. Kami tentunya mengharapkan otoritas bursa lebih selektif memberikan lampu hijau bagi calon emiten yang akan mencatatkan sahamnya di bursa. Perlindungan kepada investor harus diutamakan. Apalagi saat ini jumlah investor ritel terus bertambah.
Saham Cuan Saat Ramadan
Bunga Turun, Bursa Saham Kompak Terbang
Investor saham semringah. Sejumlah bursa global mengalami tren Indeks bursa di Amerika Serikat (AS) yakni Dow Jones tembus rekor di 39.781,37 pada Kamis (21/3). Sepekan terakhir Dow Jones menguat 2,25% dan sejak awal tahun naik 5,55%. Begitu juga indeks Nikkei 225 yang mencatat tembus 40.888,43, pada Jumat (22/3). Indeks Bursa Jepang ini juga menguat 5,62% selama sepekan. Dan sejak awal tahun ini juga sangat perkasa 22,44%. Berikutnya bursa Euro Stoxx 50 naik 11,74% dan FTSE 100 Index London juga sedikit menguat 1,93% secara . Lima hari terakhir, Euro Stoxx 50 naik 1,19% dan FTSE 100 menguat 1,80%. Tak mau kalah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat kembali mencatatkan . Kemarin IHSG ditutup menguat 0,16% ke 7.350,15 dan 1,06% sejak awal tahun ini. Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai, menghijaunya bursa-bursa global dipengaruhi kinerja makro ekonomi masing-masing negara. "April-Mei ini kinerja makro ekonomi global terpantau positif, ini membuat bursa global positif," ujarnya ke KONTAN, Jumat (22/3). Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee melihat, sentimen yang memicu bursa global menghijau adalah rencana pemangkasan suku bunga The Fed dan beberapa bank sentral negara-negara maju. Hans memprediksi, The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga Juni atau Juli 2024. Bank Sentral Eropa alias European Central Bank (ECB) juga akan memangkas suku bunga Juni nanti. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, IHSG bisa berada di level 7.500 pada semester I 2024 dan 8.000 pada akhir tahun ini. Sedang menurut Hans, IHSG bisa berada di level 7.650 - 7.850 di akhir tahun. Adapun untuk Nikkei, Audi memproyeksi bisa mencapai 42.300 akhir tahun. Berikutnya Nasdaq akan tercatat di 17.120 dan Strait Times Index (STI) bisa mencapai 3.320 hingga akhir 2024 nanti.
Bursa Saham Dibanjiri Emiten Tak Berkualitas
Lukas Setia Atmaja, Pengamat Pasar Modal Universitas Prasetiya Mulya mencermati, dari 313 saham IPO selama 5 tahun terakhir, ada 43% saham yang harganya turun 40% di bawah harga perdana. Lalu, ada 25% saham IPO yang harganya tinggal gocap bahkan kurang. "Saham IPO yang fundamentalnya kurang baik dan dijual saat IPO akan sangat merugikan investor," kata dia. Otoritas bursa sendiri mulai melihat isu ini sebagai salah satu masalah. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna bilang, BEI sudah mendengar ada beberapa hal yang jadi isu di bursa, yaitu volatilitas transaksi dan penurunan harga saham usai IPO. "Kami juga sudah melakukan refleksi. Selain volatilitas transaksi, ada beberapa perusahaan yang mengalami permasalahan dari sisi operasional," kata dia, Rabu (20/3). Untuk mengatasi masalah volatilitas, Nyoman bilang BEI akan menyempurnakan aturan tentang penjatahan atau allotment.
Pilihan Editor
-
Rem Laju Utang, Sejumlah Strategi Disiapkan
30 Sep 2021 -
Kebocoran Data Seolah Dibiarkan Terus Terjadi
04 Sep 2021









