Bursa
( 805 )Berharap Sentimen dari Stock Split
Sederet emiten siap menggelar aksi pemecahan nilai nominal saham alias stock split. Ada delapan emiten yang mengumumkan penyelenggaraan stock split tahun ini. Sebagian menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Emiten yang belum lama ini mengumumkan rencana stock split yakni PT Indospring Tbk (INDS). Emiten suku cadang otomotif ini akan melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:10. INDS akan menggelar RUPS pada 12 Juni 2024. Sebelumnya, ada PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) yang lebih dulu membuka rencana stock split. Emiten lainnya, PT Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) dengan rasio pemecahan saham 1:2, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) dengan rasio 1:5, PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) dengan rasio 1:20, dan PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) dengan rasio 1:4.
Di keterbukaan, manajemen PBID mengungkapkan dua tujuan aksi ini. Pertama, meningkatkan likuiditas saham dengan memperluas basis investor. Kedua, dengan harga saham lebih terjangkau bisa meningkatkan jumlah investor. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengamati stock split memberikan sinyal emiten masih optimistis terhadap prospek kinerja bisnisnya. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono mengingatkan stock split tidak memberikan dampak terhadap fundamental emiten tersebut. Ia menyarankan, agar investor tetap selektif, karena bisa saja ada emiten yang menggelar stock split agar harga sahamnya turun sehingga lebih likuid. Pendiri WH-Project, William Hartanto menambahkan, seberapa signifikan stock split menambah likuiditas saham akan tetap tergantung dari daya tarik emiten tersebut.
TGUK JalIn Investasi dengan Aice Senilai Rp 700 Miliar
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) membidik pendapatan yang lebih tinggi dari produk berbasis es krim. Emiten makanan dan minuman ini menargetkan kontribusi produk berbasis es krim bisa mencapai 30%-40% dari total pendapatan tahun 2024 ini. Saat ini, kontribusi segmen tersebut baru 20% terhadap total penjualan TGUK. TGUK menjalin investasi bersama atau joint venture dengan produsen es krim Aice untuk memperluas pasar di Indonesia. Aksi korporasi ini merupakan tindak lanjut kerja sama strategis yang sudah terjalin antara kedua belah pihak sejak September 2023 lalu. Dalam kerjasama kali ini, Aice sepakat turut berinvestasi dalam pengembangan Mobile Esgrim (Mogrim) dan Esgrim Island yang sudah mulai digarap oleh TGUK sejak akhir 2023 lalu.
"Total investasi ini Rp 700 miliar, dengan target penambahan 10.000 Mogrim dan 1.500 Esgrim Island dalam empat hingga lima tahun ke depan," ujar Direktur Utama TGUK Maulana Hakim, di Jakarta, Jumat (3/5).
Hingga saat ini, jumlah Mogrim yang beroperasi sekitar 124 unit, sedangkan gerai Esgrim Island sudah ada 30
outlet
yang tersebar di area Jabodetabek. "Target 1.000 Mogrim dan 300 Esgrim Island harapannya bisa tercapai di kuartal III-2024," ujarnya.
Hingga akhir kuartal I-2024, TGUK mengantongi pendapatan sebesar Rp 34,65 miliar. Angka ini naik 16,84% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan laba bersihnya melonjak 83,56% menjadi Rp 1,08 miliar per 31 Maret 2024, dibandingkan Rp 590,97 juta di periode yang sama tahun lalu.
Balapan Juara Kapitalisasi Pasar di Bursa
Persaingan emiten papan atas dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar semakin sengit. Di awal Mei ini PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengokohkan diri sebagai emiten dengan market cap paling jumbo di Bursa Efek Indonesia (BEI). Market cap BREN tercatat sebesar Rp 1.321 triliun. Posisi ini setelah saham BREN melonjak 7,05% ke level harga tertingginya di Rp 9.875 per saham Kamis (2/5). Dus, saham BREN telah melejit 1.166,92% sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Oktober 2023. "Tujuannya, memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasinya di saham BREN,” tulis Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Donni Kusuma Permana. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, pergeseran posisi market cap tak lepas dari pergerakan harga saham emiten.
Reza mengingatkan, naik atau turun harga saham dipengaruhi oleh sentimen atau asumsi pelaku pasar terhadap kinerja emiten maupun prospek industri di sektor tersebut.
Contohnya BREN yang secara kinerja mengalami penurunan
top line
dan
bottom line
pada kuartal I-2024. Meski begitu, harga saham BREN tetap menanjak. Reza melihat, kemungkinan saham BREN terangkat oleh prospek masa depan dari emiten yang bersangkutan. Yakni yang berkutat di industri energi terbarukan atau energi hijau. Soal rotasi
market caps,
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani mengamati kenaikan peringkat BREN juga disebabkan oleh momentum saham-saham
big caps lain yang sedang lesu.
Sedangkan Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto menyoroti adanya efek dari evaluasi sejumlah indeks saham. Ini bisa membuat investor maupun fund manager melakukan rebalancing.
Kinerja Tak Seragam, Laju IHSG Teredam
Musim pelaporan kinerja untuk kuartal pertama tahun ini hampir usai. Sejauh ini, hasilnya cukup beragam. Emiten yang bersinggungan dengan konsumsi masyarakat, tampak masih ketiban berkah dari dorongan daya beli di momentum pemilu dan bulan Ramadan. Dari 100 emiten dengan likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tergabung di Indeks KOMPAS100, sebanyak 54 emiten mengantongi pertumbuhan laba bersih. Sedangkan 30 emiten lainnya harus rela keuntungannya terpangkas pada tiga bulan pertama 2024. "Secara historis, pada periode ini tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat. Selain itu level daya beli masyarakat masih optimis," jelas Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, Kamis (2/5).
Di sisi lain, emiten berbasis komoditas rata-rata masih mengalami penurunan kinerja lantaran pelemahan harga komoditas di kuartal pertama tahun ini.
Senior Investment Information
Mirae Asset Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan pertumbuhan ekonomi global masih akan memengaruhi kinerja emiten tahun ini. Apalagi, masih ada sentimen suku bunga acuan tinggi yang lebih lama.
Pengamat Pasar Modal dan Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy juga bilang, kinerja sejumlah emiten di kuartal I-2024 ini masih belum meyakinkan. Terutama, emiten-emiten di sektor perbankan. "Pertumbuhan labanya tidak sebesar kenaikan untuk tahun-tahun sebelumnya," kata dia.
Head of Business Development Division
Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menilai, sektor ritel masih akan unggul dan berpotensi tumbuh positif hingga semester I-2024.
Pendapatan Naik, Rugi Menyusut
Kinerja emiten e-commerce di kuartal I 2024 membaik. Tiga emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu mencetak pertumbuhan pendapatan. Di sisi lain, emiten sektor ini masih didera rugi. Meski begitu, nilai kerugiannya mulai berkurang. PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan pertumbuhan pendapatan tertinggi di antara emiten sejenis. Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2024, GOTO mengantongi pendapatan sebesar Rp 4,07 triliun. Pendapatan GOTO naik 22,4% secara tahunan atau year on year (yoy). Dari sisi bottom line, rugi bersih GOTO mencapai Rp 861,91 miliar atau menurun 77,68% dari kerugian periode yang sama tahun lalu. Direktur Keuangan Grup GOTO Jacky Lo mengatakan, saat ini GOTO sudah berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan pedoman EBITDA yang disesuaikan positif untuk tahun buku 2024. Sementara itu, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mampu meraih pendapatan bersih Rp 1,16 triliun di kuartal I-2024. Dibandingkan periode yang sama di 2023, angka ini tumbuh 16,18% yoy. Rugi nilai investasi BUKA yang sudah dan belum terealisasi bersih menyusut 46,36% yoy menjadi Rp 342,02 miliar per kuartal I-2024. Alhasil, rugi bersih BUKA menyusut menjadi Rp 41,96 miliar.
Angka kerugian ini turun 95,83% secara tahunan. Sebagai pembanding pada periode JanuariMaret 2023, rugi bersih BUKA mencapai Rp 1 triliun.
Sedangkan emiten teknologi besutan Grup Djarum, yakni PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) juga berhasil memangkas rugi bersih secara signifikan. Emiten yang mengelola
e-commerce
Blibli.com dan Tiket.com ini mencatatkan kerugian per akhir Maret 2024 sebesar Rp 691,12 miliar. Angka ini menyusut 21,28% secara tahunan. Retail Analyst
Maybank Sekuritas Adi Wicaksono menilai, kinerja emiten teknologi
e-commerce
sudah cukup baik. Namun memang pergerakan harga sahamnya masih jauh tertinggal dibanding saham teknologi global.
Adi mencermati, secara valuasi dengan indikator
enterprise value to revenue
(EV/R) atau nilai perusahaan terhadap pendapatan GOTO berada di level 3,92 kali, masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional di 2,73 kali.
Aksi Jual Asing Terus Menghantui Bursa
Aksi jual asing yang terjadi pada April, sepertinya akan berlanjut bulan Mei. Apalagi, ada fenomena Sell in May and Go Away. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mencatat kinerja IHSG punya kecenderungan negatif di Mei dengan rata-rata -1,30% dalam lima tahun terakhir. Dan bulan ini, sejumlah sentimen bisa mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mulai dari gejolak geopolitik, kebijakan suku bunga bank sentral, rupiah yang terus loyo terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pembagian dividen dan rilis kinerja emiten, serta perkembangan data ekonomi. Skenario bearish, IHSG di Mei 2024 berada di support 6.996 dan resistance di 7.272. Untuk bullish maupun sideways di support 7.135 dan resistance di 7.313.
Certified Elliott Wave Analyst Master
Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus, menambahkan, potensi The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan dan rupiah di atas Rp 16.200 per dolar AS menjadi penghambat IHSG. Ia memprediksi, IHSG melemah di rentang 6.890 - 7.290. Namun menurut Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto, posisi IHSG yang bertahan di atas level 7.000 membawa sinyal positif. Meski ada
Sell in May, penurunan tidak akan terlalu dalam.
Hitungan Pendiri Stocknow.id Hendra Wardana, lima tahun terakhir, probabilitas kenaikan IHSG di Mei hanya 20%. Head of Research Syailendra Capital, Rizki Jauhari melihat, dalam tiga bulan setelah Mei, pergerakan indeks bisa lebih tinggi. Ini bisa menjadi kesempatan investor.
Waspadai Fenomena Sell in May
Kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG kembali terkoreksi dalam sebulan terakhir. Sepanjang periode April, indeks komposit secara akumulatif merosot 0,75% setelah ditutup di level 7.234,20 pada Selasa (30/4). Tren negatif ini sejatinya telah dimulai sejak pertengahan Maret lalu. Selepas menyentuh level tertinggi di 7.433,32, IHSG berfluktuasi tajam dengan kecenderungan melemah. Ketidakpastian ekonomi global yang diperburuk oleh situasi geopolitik terus-terusan memberikan tekanan ke pasar saham. Pada awal pekan ini, indeks komposit memang berbalik arah dengan menguat selama 2 hari perdagangan berturut-turut. IHSG melesat 1,70% pada Senin dan keesokannya kembali mencatatkan kenaikan 1,10%. Akan tetapi, kami menilai apresiasi ini lebih banyak didorong oleh sentimen ekonomi domestik serta kinerja emiten kuartal I/2024.
Di sisi lain, kami memandang bahwa investor sesungguhnya masih mengambil sikap wait and see sembari menanti rilis data ekonomi penting di global pada pekan ini. Selain itu, pelaku pasar juga tengah menantikan hasil pertemuan The Fed, bank sentral Amerika Serikat, yang berakhir dini hari tadi.
Situasi ekonomi di Negeri Paman Sam juga belum cukup menggembirakan. Biaya tenaga kerja meningkat pada kuartal pertama tahun ini, di tengah kenaikan upah dan tunjangan. Ini mengisyaratkan tingkat inflasi di negara itu bakal terus terkerek.
Karena itulah, kami melihat bahwa keberuntungan sedang menjauh dari pasar saham. Tidak banyak katalis yang cukup kuat mendorong pergerakan indeks komposit, setidaknya dalam beberapa waktu ke depan. Sebaliknya, sentimen negatif seolah tengah mengepung pasar. Belum lagi, ada fenomena psikologis sell in May and go away yang selalu menghantui periode perdagangan di bulan ini. Secara historis, fenomena ini berpengaruh langsung terhadap performa indeks komposit.
Jika dirinci, IHSG turun 3,14% selama Mei 2018, terkoreksi 3,81% pada Mei 2019, minus 0,8% sepanjang Mei 2021, dan melemah 1,11% pada Mei 2022. Adapun pada tahun lalu, indeks anjlok lebih dalam 4,08% selama periode Mei.
Fenomena sell in May sejatinya tidak dapat menjadi acuan mutlak untuk mengukur kinerja IHSG bulan ini. Kecenderungannya, performa pasar akan relatif bergerak dengan tren melemah dalam 2 pekan pertama untuk selanjutnya terjadi akumulasi positif pada pekan-pekan terakhir di periode Mei.
Kendati dibayangi fenomena sell in May dan hasil pertemuan The Fed, kami meyakini bahwa beberapa katalis yang berasal dari perkembangan ekonomi domestik tetap berpeluang mendorong penguatan indeks kendati dalam intensitas terbatas.
Bunga Tinggi dan Rupiah Hantui Pasar
Sebagian besar emiten penghuni Indeks LQ45 telah merilis kinerja kuartal I-2024. Catatan KONTAN, hanya ada tujuh emiten yang belum merilis laporan kinerja karena masih dalam proses audit. Artinya, sudah ada 38 emiten konstituen LQ45 yang sudah menyampaikan kinerja keuangannya. Hasilnya, ada 22 emiten yang mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi emiten dengan pertumbuhan pendapatan paling tinggi. Pendapatan GOTO melonjak 22,4% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 2,07 triliun.
Menyusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dam PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) yang pendapatannya masing-masing tumbuh sebesar 17,85%, 17,77% dan 17,05%. Emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi "Boy" Thohir ini mengantongi pendapatan US$ 10,21 juta di kuartal I-2024. Dibandingkan periode sebelumnya di 2023, laba bersih ESSA hanya mencapai US$ 3,11 juta. Investment Consultant Reliance Sekuritas, Reza Priyambada menjelaskan, sekilas kinerja para emiten di kuartal I-2024 masih cukup baik. Ini seharusnya bisa berimbas positif ke kinerja saham mereka.
Seperti diketahui, tekanan pada nilai tukar rupiah menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar emiten. Nilai tukar rupiah belum kunjung turun dari level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Inilah yang membuat Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan 25 basis poin. Ike Widiawati, Deputy Head of Research Sinarmas Sekuritas menilai, kenaikan suku bunga akan membuat likuiditas dalam negeri semakin ketat. Jika asumsinya, nilai tukar rupiah akan kembali menguat, emiten di farmasi dan kesehatan akan mendapatkan keuntungan.
Mengingat mayoritas bahan baku emiten farmasi merupakan impor. Sektor lainnya adalah ritel dan barang konsumsi, yakni seperti ACES dan ICBP.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus sependapat. Meski begitu, investor masih bisa mencermati saham
big banks
seperti BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI. Untuk sektor telko, investor juga dapat melirik TLKM serta EXCL.
Arah IHSG, Antara Rupiah dan Bunga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal mendapatkan angin segar dari rilis kinerja emiten periode kuartal I-2024. IHSG juga bakal terbantu oleh pembagian dividen. Adapun IHSG menutup perdagangan Senin (29/4) dengan menguat 1,7% atau naik 119,70 poin ke level 7.155,78. Kendati begitu, investor asing masih mencatatkan net sell senilai Rp 400,88 miliar. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, mencermati, rilis kinerja emiten dengan bobot signifikan terhadap IHSG bisa membawa sentimen yang cukup positif kepada pasar saham.
Beberapa emiten big caps sudah merilis kinerja. Seperti, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan lainnya. Sentimen lain yang menjadi penekan bursa yakni kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) serta tensi politik di Timur Tengah. Investment Consultant
Reliance Sekuritas, Reza Priyambada menimpali, sekilas pertumbuhan kinerja emiten
big caps
masih cukup baik dan seharusnya dapat berimbas positif pada harga sahamnya.
Nafan Aji Gusta,
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas mencermati IHSG masih dalam fase
bearish consolidation
dengan target support berada pada area 7.014 hingga 6.936.
Analis Phillip Sekuritas, Helen memproyeksi, secara teknikal IHSG akan bergerak di rentang 6.980–7.230.
IHSG Masih Tertekan, Yield SUN Lanjutkan Kenaikan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih dalam fase penurunan (downside) dan berpotensi melanjutkan koreksi pekan lalu yang sebanyak 0,72%. Dalam satu bulan terakhir, IHSG telah turun tajam hingga -4,02% dan masih menanti sentimen positif untuk dapat rebound menjuhi level psikologi 7.000. Sementara di pasar surat utang, imbal hasil (yield) diperkirakan melanjutkan kenaikan pada rentang 7,30%-7,30% di pekan ini. Senior Information Invesment Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, IHSG masih tertekan dengan peluang koreksi terbuka, meski arah penurunan makin terbatas. "IHSG limited downside, dengan batasan pergerakan ada di kisaran support 7.026-6.952 dan resistance 7.090-7.130" ujar dia kepada Investor Daily. Nafan mengungkapkan, pengerak IHSG akan datang dari sejumlah data ekonomi domestik dan luar negeri yang di rilis pekan ini. Pelaku pasar akan mencermati data inflasi Indonesia, yang diperkirakan naik mendekati target Bank Indonesia di 3,5%. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Kayuhan Ekonomi Sepeda di Yogyakarta
11 Dec 2021 -
Konglomerasi Menguasai Asuransi Umum
04 Oct 2021 -
Ribbit Capital Danai Bank Jago
05 Oct 2021 -
PPATK : Transaksi Narkoba Tembus Rp 120 Triliun
30 Sep 2021









