;
Tags

Bursa

( 810 )

Emiten Teknologi Belum Unjuk Gigi

HR1 15 May 2024 Kontan

Sempat menghijau, laju indeks sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terkoreksi Selasa (14/5). Indeks sektor teknologi ditutup melemah 1,14%. Sejak awal tahun, indeks ini tergerus 23,52%. Situasi ini berbeda dengan saham teknologi di bursa Amerika Serikat (AS). Malah, saham-saham teknologi menjadi salah satu sektor penopang utama laju saham di Dow Jones. Ini dikarenakan saham-saham teknologi di negeri Paman Sam sudah diibaratkan sebagai salah satu safe haven. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta melihat, saham teknologi masih sulit mencapai titik profitabilitas. Penyebabnya, dinamika sektor teknologi di Indonesia dan AS amat berbeda.

Di AS, para pelaku sektor teknologi selalu berupaya melakukan inovasi. Tujuannya adalah agar produk mereka bisa dipakai di pasar global. Di sisi lain, para emiten di sektor teknologi masih melakukan bakar duit untuk penetrasi pasar. Baik itu dalam melakukan promosi atau program diskon. Sementara Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat, indeks teknologi  masih menjadi beban laju pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Secara teknikal indeks tersebut menunjukkan pergerakan yang melandai kemarin (14/5). Ramalannya, indeks ini masih rawan koreksi untuk menguji di 3.304 – 3.356. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda melihat, salah satu faktor adanya penguatan  indeks ini adanya  aksi buy back GOTO pekan lalu. Pasar pun menyambut positif yang secara teknikal sempat membuat indeks ini menguat.

Reksadana Campuran Menanti Arah Bunga Acuan

HR1 15 May 2024 Kontan

Kinerja reksadana campuran masih belum menunjukkan tajinya. Berdasarkan data Infovesta, secara industri kinerja reksadana campuran masih mencatatkan return negatif 1,99% secara bulanan (mom) di April 2024. Sementara sejak awal 2024  kinerjanya juga minus 1,12%. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi mengatakan, lemahnya kinerja reksdana campuran dipengaruhi arus keluar dana asing pada akhir Maret 2024. Sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah dan menyebabkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Faktor global seperti perang Israel-Iran dan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi, mempengaruhi kebijakan suku bunga," ujarnya, Selasa (14/5).

Kondisi tersebut turut menekan kinerja produk reksadana campuran HPAM, salah satunya HPAM Flexi Plus yang turun 1,62% mom. Namun, produk tersebut masih mampu tumbuh 2,24% year to date (ytd). Sementara sejumlah produk reksadana campuran Panin Asset Management (Panin AM) masih mampu mencetak kinerja positif sepanjang tahun ini. Misalnya, Panin Sumber Berkat yang tumbuh 2,95% ytd, Panin Dana Syariah Berimbang tumbuh 0,19% ytd, dan Panin Dana Bersama 2,64% sejak awal tahun. Direktur Panin AM, Rudiyanto mengatakan, perusahaan senantiasa berfokus pada pendekatan value investing dan analisis emiten secara individu. Panin AM mencari dan menilai perusahaan yang undervalue namun secara fundamental memiliki prospek yang baik ke depannya.

Korporasi Antre IPO Total Rp 11,38 Triliun

HR1 14 May 2024 Kontan
Rencana penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) masih akan ramai. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, ada sekitar 80 rencana IPO dalam pipeline OJK. Nilainya mencapai Rp 11,38 triliun. Kepala Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan, penghimpunan dana di pasar modal masih dalam tren yang positif. "Per 30 April 2024, nilai penawaran umum sudah mencapai Rp 77,64 triliun dengan 17 emiten baru," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (13/5). "Ini menunjukan tren penggalangan dana masih tinggi," tandasnya.

Menjaring Saham Saat Indeks Loyo

HR1 14 May 2024 Kontan

Usai libur panjang akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,15% ke level 7.099,26 Senin (13/5). Laju IHSG diikuti mayoritas indeks, termasuk indeks saham blue chip LQ45 dan IDX30.LQ45 menguat 0,24% dan IDX30 hanya naik tipis 0,06% secara harian. Namun sejak awal tahun, kinerja kedua indeks ini masih suram dengan level pelemahan  jauh lebih dalam dari IHSG. Saat IHSG dalam posisi -2,39%, LQ45 anjlok -7,73% dan IDX30 ambles -8,39%. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyoroti sejumlah faktor yang membuat LQ45 melorot.

Pertama, rilis kinerja kuartal I-2024 sudah priced in dan emiten yang telah membagikan dividen cenderung mengalami tekanan harga. Kedua, tekanan suku bunga di level tinggi yang berpotensi bertahan dalam waktu lebih panjang. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus sependapat, belum adanya tanda penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi katalis negatif pasar saham. Soal kinerja LQ45 dan IDX30 yang anjlok, Daniel lebih menyoroti kontribusi dari emiten perbankan big caps yang sedang melandai. Menurut Daniel, investor bisa memanfaatkan "diskon"  saham BBRI, BBNI dan TLKM, serta EXCL untuk jangka pendek. Secara teknikal, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova juga melirik saham emiten perbankan dan telekomunikasi. 

Berharap Sentimen dari Stock Split

HR1 13 May 2024 Kontan

Sederet emiten siap menggelar aksi pemecahan nilai nominal saham alias stock split. Ada delapan emiten yang mengumumkan penyelenggaraan stock split tahun ini. Sebagian menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Emiten yang belum lama ini mengumumkan rencana stock split yakni PT Indospring Tbk (INDS). Emiten suku cadang otomotif ini akan melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:10. INDS akan menggelar RUPS pada 12 Juni 2024. Sebelumnya, ada PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) yang lebih dulu membuka rencana stock split. Emiten lainnya, PT Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) dengan rasio pemecahan saham 1:2, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) dengan rasio 1:5, PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) dengan rasio 1:20, dan PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) dengan rasio 1:4.

Di keterbukaan, manajemen PBID mengungkapkan dua tujuan aksi ini. Pertama, meningkatkan likuiditas saham dengan memperluas basis investor. Kedua, dengan harga saham lebih terjangkau bisa meningkatkan jumlah investor. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengamati stock split memberikan sinyal emiten masih optimistis terhadap prospek kinerja bisnisnya. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono mengingatkan stock split tidak memberikan dampak terhadap fundamental emiten tersebut. Ia menyarankan, agar investor tetap selektif, karena bisa saja ada emiten yang menggelar stock split agar harga sahamnya turun sehingga lebih likuid. Pendiri WH-Project, William Hartanto menambahkan, seberapa signifikan stock split menambah likuiditas saham akan tetap tergantung dari daya tarik emiten tersebut.

TGUK JalIn Investasi dengan Aice Senilai Rp 700 Miliar

HR1 04 May 2024 Kontan

PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) membidik pendapatan yang lebih tinggi dari produk berbasis es krim. Emiten makanan dan minuman ini menargetkan kontribusi produk berbasis es krim bisa mencapai 30%-40% dari total pendapatan tahun 2024 ini. Saat ini, kontribusi segmen tersebut baru 20% terhadap total penjualan TGUK. TGUK menjalin investasi bersama atau joint venture dengan produsen es krim Aice untuk memperluas pasar di Indonesia. Aksi korporasi ini merupakan tindak lanjut kerja sama strategis yang sudah terjalin antara kedua belah pihak sejak September 2023 lalu. Dalam kerjasama kali ini, Aice sepakat turut berinvestasi dalam pengembangan Mobile Esgrim (Mogrim) dan Esgrim Island yang sudah mulai digarap oleh TGUK sejak akhir 2023 lalu. 

"Total investasi ini Rp 700 miliar, dengan target penambahan 10.000 Mogrim dan 1.500 Esgrim Island dalam empat hingga lima tahun ke depan," ujar Direktur Utama TGUK Maulana Hakim, di Jakarta, Jumat (3/5). Hingga saat ini, jumlah Mogrim yang beroperasi sekitar 124 unit, sedangkan gerai Esgrim Island sudah ada 30 outlet yang tersebar di area Jabodetabek. "Target 1.000 Mogrim dan 300 Esgrim Island harapannya bisa tercapai di kuartal III-2024," ujarnya. Hingga akhir kuartal I-2024, TGUK mengantongi pendapatan sebesar Rp 34,65 miliar. Angka ini naik 16,84% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan laba bersihnya melonjak 83,56% menjadi Rp 1,08 miliar per 31 Maret 2024, dibandingkan Rp 590,97 juta di periode yang sama tahun lalu.

Balapan Juara Kapitalisasi Pasar di Bursa

HR1 04 May 2024 Kontan

Persaingan emiten papan atas dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar semakin sengit. Di awal Mei ini PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengokohkan diri sebagai emiten dengan market cap paling jumbo di Bursa Efek Indonesia (BEI). Market cap BREN tercatat sebesar Rp 1.321 triliun. Posisi ini setelah saham BREN melonjak 7,05% ke level harga tertingginya di Rp 9.875 per saham Kamis (2/5). Dus, saham BREN telah melejit 1.166,92% sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Oktober 2023. "Tujuannya, memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasinya di saham BREN,” tulis Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Donni Kusuma Permana. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, pergeseran posisi market cap tak lepas dari pergerakan harga saham emiten. 

Reza mengingatkan, naik atau turun harga saham dipengaruhi oleh sentimen atau asumsi pelaku pasar terhadap kinerja emiten maupun prospek industri di sektor tersebut. Contohnya BREN yang secara kinerja mengalami penurunan top line dan bottom line pada kuartal I-2024. Meski begitu, harga saham BREN tetap menanjak. Reza melihat, kemungkinan saham BREN terangkat oleh prospek masa depan dari emiten yang bersangkutan. Yakni yang berkutat di industri energi terbarukan atau energi hijau. Soal rotasi market caps, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani mengamati kenaikan peringkat BREN juga disebabkan oleh momentum saham-saham big caps lain yang sedang lesu. Sedangkan Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto menyoroti adanya efek dari evaluasi sejumlah indeks saham. Ini bisa membuat investor maupun fund manager melakukan rebalancing.

Kinerja Tak Seragam, Laju IHSG Teredam

HR1 03 May 2024 Kontan (H)

Musim pelaporan kinerja untuk kuartal pertama tahun ini hampir usai. Sejauh ini, hasilnya cukup beragam. Emiten yang bersinggungan dengan konsumsi masyarakat, tampak masih ketiban berkah dari dorongan daya beli di momentum pemilu dan bulan Ramadan. Dari 100 emiten dengan likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tergabung di Indeks KOMPAS100, sebanyak 54 emiten mengantongi pertumbuhan laba bersih. Sedangkan 30 emiten lainnya harus rela keuntungannya terpangkas pada tiga bulan pertama 2024. "Secara historis, pada periode ini tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat. Selain itu level daya beli masyarakat masih optimis," jelas Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, Kamis (2/5). 

Di sisi lain, emiten berbasis komoditas rata-rata masih mengalami penurunan kinerja lantaran pelemahan harga komoditas di kuartal pertama tahun ini. Senior Investment Information Mirae Asset Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan pertumbuhan ekonomi global masih akan memengaruhi kinerja emiten tahun ini. Apalagi, masih ada sentimen suku bunga acuan tinggi yang lebih lama. Pengamat Pasar Modal dan Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy juga bilang, kinerja sejumlah emiten di kuartal I-2024 ini masih belum meyakinkan. Terutama, emiten-emiten di sektor perbankan. "Pertumbuhan labanya tidak sebesar kenaikan untuk tahun-tahun sebelumnya," kata dia. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menilai, sektor ritel masih akan unggul dan berpotensi tumbuh positif hingga semester I-2024.

Pendapatan Naik, Rugi Menyusut

HR1 03 May 2024 Kontan

Kinerja emiten e-commerce di kuartal I 2024 membaik. Tiga emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu mencetak pertumbuhan pendapatan. Di sisi lain, emiten sektor ini masih didera rugi. Meski begitu, nilai kerugiannya mulai berkurang. PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan pertumbuhan pendapatan tertinggi di antara emiten sejenis. Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2024, GOTO mengantongi pendapatan sebesar Rp 4,07 triliun. Pendapatan GOTO naik 22,4% secara tahunan atau year on year (yoy).  Dari sisi bottom line, rugi bersih GOTO mencapai Rp 861,91 miliar atau menurun 77,68% dari kerugian periode yang sama tahun lalu. Direktur Keuangan Grup GOTO Jacky Lo mengatakan, saat ini GOTO sudah berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan pedoman EBITDA yang disesuaikan positif untuk tahun buku 2024. Sementara itu, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mampu meraih pendapatan bersih Rp 1,16 triliun di kuartal I-2024. Dibandingkan periode yang sama di 2023, angka ini tumbuh 16,18% yoy. Rugi nilai investasi BUKA yang sudah dan belum terealisasi bersih menyusut 46,36% yoy menjadi Rp 342,02 miliar per kuartal I-2024. Alhasil, rugi bersih BUKA menyusut menjadi Rp 41,96 miliar. 

Angka kerugian ini turun 95,83% secara tahunan. Sebagai pembanding pada periode JanuariMaret 2023, rugi bersih BUKA mencapai Rp 1 triliun. Sedangkan emiten teknologi besutan Grup Djarum, yakni PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) juga berhasil memangkas rugi bersih secara signifikan. Emiten yang mengelola e-commerce Blibli.com dan Tiket.com ini mencatatkan kerugian per akhir Maret 2024 sebesar Rp 691,12 miliar. Angka ini menyusut 21,28% secara tahunan. Retail Analyst Maybank Sekuritas Adi Wicaksono menilai, kinerja emiten teknologi e-commerce sudah cukup baik. Namun memang pergerakan harga sahamnya masih jauh tertinggal dibanding saham teknologi global. Adi mencermati, secara valuasi dengan indikator enterprise value to revenue (EV/R) atau nilai perusahaan terhadap pendapatan GOTO berada di level 3,92 kali, masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional di 2,73 kali.

Aksi Jual Asing Terus Menghantui Bursa

HR1 02 May 2024 Kontan (H)

Aksi jual asing yang terjadi pada April, sepertinya akan berlanjut bulan Mei. Apalagi, ada fenomena Sell in May and Go Away. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mencatat kinerja IHSG punya kecenderungan negatif di Mei dengan rata-rata -1,30% dalam lima tahun terakhir. Dan bulan ini, sejumlah sentimen bisa mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mulai dari gejolak geopolitik, kebijakan suku bunga bank sentral, rupiah yang terus loyo terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pembagian dividen dan rilis kinerja emiten, serta perkembangan data ekonomi. Skenario bearish, IHSG di Mei 2024 berada di support 6.996 dan resistance di 7.272. Untuk bullish maupun sideways di support 7.135 dan resistance di 7.313. 

Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus, menambahkan, potensi The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan dan rupiah di atas Rp 16.200 per dolar AS menjadi penghambat IHSG. Ia memprediksi, IHSG melemah di rentang 6.890 - 7.290. Namun menurut Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto, posisi IHSG yang bertahan di atas level 7.000 membawa sinyal positif. Meski ada Sell in May, penurunan tidak akan terlalu dalam. Hitungan Pendiri Stocknow.id Hendra Wardana, lima tahun terakhir, probabilitas kenaikan IHSG di Mei hanya 20%. Head of Research Syailendra Capital, Rizki Jauhari melihat, dalam tiga bulan setelah Mei, pergerakan indeks bisa lebih tinggi. Ini bisa menjadi kesempatan investor.