Bursa
( 805 )Tambah Modal Kerja, Emiten RIlis Obligasi
Sejumlah emiten berniat menerbitkan obligasi. Salah satunya PT Sumber Global Energy Tbk (SGER). Emiten batubara ini siap menawarkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I tahun 2024. Dikutip dari prospektus ringkas di Harian KONTAN, Jumat (14/6), SGER menawarkan obligasi dengan nilai pokok maksimal Rp 500 miliar. Obligasi ini terdiri dari seri A dan B, yang dijamin full commitment. Masing-masing seri ditawarkan 100% dari jumlah pokok obligasi. Dari penerbitan obligasi, SGER membidik dana Rp 1 triliun. Sekitar 25% guna pelunasan penuh utang dan 75% untuk modal kerja. Obligasi Seri A SGER memiliki jangka waktu 370 hari sejak tanggal emisi dan seri B bertenor dua tahun sejak emisi. Bunga obligasi dibayar per tiga bulan.
Bunga obligasi pertama akan dibayar SGER pada 10 Oktober 2024. "Bunga obligasi terakhir sekaligus pelunasan dibayar 20 Juli 2025 untuk obligasi seri A dan 10 Juli 2026 untuk seri B," terang manajamen SGER. Bunga obligasi dibayar tiap tiga bulan. Pembayaran pertama 8 Oktober 2024 dan terakhir sekaligus jatuh tempo pelunasan pokok obligasi masing-masing seri pada 18 Juli 2025 Seri A dan 8 Juli 2027 seri B. Hasil penerbitan obligasi BWPT, sekitar Rp 70 miliar untuk membayar sebagian pinjaman di lembaga keuangan bukan bank. Sisanya untuk modal kerja.
Review FCA dan Kebijakan The Fed Kunci Keberhasilan IHSG
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan penurunan (-0,08%) pada Rabu (12/6/2024) ke level 6.850. Koreksi IHSG yang telah mencapai -5,81% sejak awal tahun ini (year to date/ytd), diharapkan terhenti apabila ada suntikan sentimen positif ke pasar seperti peninjauan ulang (review) kebijakan metode papan pemantauan khusus (full call auction/FCA) dan potensi penurunan suku bunga The Fed. Kedua sentimen ini bisa mengembalikan kepercayaan investor lokal dan asing untuk kembali masuk dan bertransaksi di pasar saham dalam negeri.
Analis Stocknow.id Abdul Haq mengungkapkan, tren baearish IHSG dimulai sejak kebijakan FCA diterapkan terhadap saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Hal ini menjadi sentimen pemberat bagi IHSG, dan menunjukkan bahwa investor kurang yakin terhadap kebijakan yang diterapkan oleh bursa saham BREN. "(IHSG berpotensi rebound) dengan adanya sentimen pendukung seperti BREN yang keluar dari papan pemantauan khusus (FCA) hingga capital inflow dari asing, yang disebabkan oleh peningkatan kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia, pasca peninjauan ulang kebijakan FCA bursa," ujar Abdul. (Yetede)
Alarm Waspada Untuk Bursa Indonesia
Investor saham Tanah Air sedang suntuk. Harga saham rontok, sementara nilai transaksi perdagangan saham semakin sepi. Kemarin (11/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot dan menyentuh level terendah sepanjang tahun ke posisi 6.855,69. Tekanan berat terhadap bursa saham dalam negeri datang dari sejumlah sentimen negatif dari dalam dan luar negeri. Berbagai angin buruk yang masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI) inilah yang mengerem minat transaksi investor saham. Alhasil, nilai transaksi bursa hanya di kisaran Rp 8 triliun-Rp 9 triliun, turun sekitar 40% dari rata-rata nilai transaksi harian bursa yang berada di angka Rp 12 triliun. Nilai transaksi saham-saham LQ45 yang menjadi penggerak bursa juga menciut. Ambil contoh saham perbankan big caps, dan saham blue chip lainnya seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) serta PT Astra International Tbk (ASII). Morgan Stanley menilai, kebijakan fiskal Indonesia, seperti program makan siang dan susu gratis yang dicanangkan presiden terpilih Prabowo Subianto, akan membebani keuangan negara secara signifikan.
Sementara prospek pendapatan Indonesia juga memburuk, sementara prospek kinerja emiten di Indonesia juga sedang melemah. Perubahan rekomendasi Morgan Stanley ini terjadi di saat indeks dolar AS mulai menguat menjelang rapat mengenai suku bunga yang digelar Federal Reserve (Fed) pada 12 Juni 2024, serta Rapat Gubernur Bank Indonesia pada pekan depan. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi, yakni penurunan rating terhadap pasar modal Indonesia. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengatakan, selain menunggu keputusan suku bunga The Fed, investor melihat kinerja emiten di kuartal I-2024 cenderung di bawah ekspektasi. Dus, proyeksi Daniel, IHSG akan turun hingga 6.700-6.800 di akhir Juni 2024. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada juga sepakat, mekanisme FCA membuat pelaku pasar mengurangi transaksi, agar saham tak naik tinggi dan kena tato X. Alhasil, pergerakan IHSG pun lebih banyak disetir oleh sentimen psikologis pelaku pasar.
Penarikan Modal Investor Masih Tinggi
Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menurun signifikan dalam sebulan terakhir hingga akhir Mei 2024. Aksi penarikan modal oleh investor pasar modal masih tinggi disebabkan kekhawatiran kebijakan suku bunga yang akan turun lebih lama. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menyampaikan, IHSG melemah 3,64 % dalam sebulan terakhir. Tren koreksi tersebut menyumbang penurunan signifikan sepanjang 2024. ”Di pasar saham IHSG terkoreksi 4,15 % year to date ke level 6.970,74,” papar Inarno dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (10/6) di Jakarta.
Pelemahan sepanjang tahun berjalan bersamaan dengan nilai penjualan bersih saham atau net sell sebesar Rp 6,25 triliun. Nilai kapitalisasi di pasar modal pun hanya naik 1,29 % menjadi Rp 11.825 triliun sejak awal tahun 2024. Sementara pada penutupan perdagangan Senin (10/6), IHSG ditutup di level 6.921,54 atau sedikit menguat dari perdagangan pada hari terakhir pekan lalu yang sebesar 0,34 %. Kapitalisasi saham tercatat turun menjadi Rp 11.637 triliun per hari ini. Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam laporan analisisnya menjelaskan, pergerakan IHSG mengikuti tren bursa regional Asia yang cenderung masih tertekan sikap pelaku pasar saham yang berhati-hati menjelang keputusan suku bunga bank sentral AS, The Fed, di pekan ini. (Yoga)
Baru Masuk, Terjebak Papan Khusus
Dua pekan terakhir, Bursa Efek Indonesia (BEI) dilanda gonjang-ganjing. Episentrum gempa di bursa saham ini, selain jatuhnya rupiah, tak lepas dari kepanikan investor akibat masuknya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) ke papan pemantauan khusus dengan skema full periodic call auction alias FCA. Beleid otoritas bursa saham itu pun terus disorot dan diprotes karena banyak mudarat dan memicu komplikasi hebat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), misalnya, turun 3,8% dalam dua pekan ini. Nilai kapitalisasi pasar (market cap) BEI pun ambles sekitar Rp 800 triliun. Maklum, kepanikan akibat tekanan terhadap saham BREN menular dan ikut berandil menyeret turun saham-saham big caps. Banyak investor ritel yang harus menanggung rugi akibat sahamnya terjebak FCA. Apalagi jumlah penghuni papan pemantauan khusus kian bertambah.
Per Jumat (7/6), ada 263 saham, naik dari 221 saham saat implementasi papan pemantauan khusus tahap II dengan skema FCA. Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere, Investama Teguh Hidayat menuturkan, banyaknya emiten yang melakukan IPO di beberapa tahun terakhir bukan dari perusahaan terkenal atau akrab di masyarakat. Tidak heran banyak emiten baru yang akhirnya masuk ke dalam papan pemantauan khusus. Ini merupakan imbas dari dipermudahnya syarat sebuah perusahaan bisa melakukan IPO. Menurutnya, penolakan atas implementasi mekanisme periodic call auction ini disebabkan kurangnya transparansi dari bursa. Ini yang menyebabkan beberapa saham yang sudah naik tinggi akhirnya terkoreksi. Misalnya, BREN. Per kuartal I-2024, salah satu emiten Prajogo Pangestu ini membukukan pendapatan US$ 145,41 juta. Sedangkan laba tahun berjalan sebesar senilai US$ 28,83 juta. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mencermati kinerja emiten sektor energi baru terbarukan (EBT) relatif terjaga, dan berpotensi tumbuh.
Asing Beralih ke Obligasi dan Pasar Saham Asia Timur
Investor asing terpantau mengalihkan dana besar dari bursa saham ke pasar surat berharga negara (SBN), seiring masih tingginya ketidakpastian global dan pelemahan rupiah yang berkepanjangan. Ini membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terus terpuruk dan jebol di bawah 7.000. Berdasarkan data BRI Danareksa Sekuritas, modal asing masuk (capital inflow) ke SBN mencapai Rp 4,3 triliun pada pekan keempat Mei 2024, sedangkan dalam sebulan penuh mencapai Rp 17,47 triliun.
Sejalan dengan itu, kepemilikan asing di SBN naik menjadi Rp807 triliun per Mei 2024 dari bulan sebelumnya Rp789 triliun. Sebaliknya, masih merujuk data yang sama, modal asing keluar (capital outflow) di saham mencapai Rp 4,6 triliun pada pekan keempat Mei 2024, tertinggi dalam lima pekan terkahir. Akhirnya, indeks turun 3,5%. Sepanjang 2024, di pasar saham reguler, dana asing keluar mencapai Rp 12,9 triliun, sedangkan di Mei saja mencapai Rp 13 triliun. (Yetede)
Tuai Kontroversi, OJK & BEI Kaji Ulang FCA
Waspada IHSG Bisa Terkapar Lebih Dalam
Awan mendung masih enggan beranjak dari pasar modal Tanah Air. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian muram dan kemarin kembali tersungkur ke bawah 7.000. Tak tanggung-tanggung, IHSG terjun bebas 2,14% dalam satu hari ke level 6.947,67, Rabu (5/6). Ada banyak faktor yang menekan perfoma indeks. Salah satu yang paling dominan adalah nilai tukar rupiah yang jeblok 0,41% ke Rp 16.287 per dolar Amerika Serikat (AS). Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, maju-mundurnya rencana bank sentral AS Federal Reserve dalam kebijakan suku bunga, membuat outflow asing masih terus terjadi. Hal ini juga membuat rupiah melemah di hadapan dollar AS. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus juga mengatakan, asing juga masih hengkang dari saham-saham perbankan big caps.
Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada juga menilai, pasar masih akan bergerak fluktuatif di bulan ini. Secara historis, IHSG di bulan Juni sejatinya punya kinerja lebih baik dari bulan sebelumnya. Beberapa katalis yang bisa menjadi harapan pembalikan arah IHSG ialah rilis dividen, dan membaiknya data makroekonomi. Kemarin, saham BREN kembali menyentuh batas bawah auto reject. Yang jadi masalah, saham-saham Prajogo Pangestu lainnya seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga ikut-ikutan turun cukup dalam. Karena bobotnya juga besar terhadap IHSG, ketiga saham Prajogo Pengestu ini kompak menjadi laggard IHSG. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia. Budi Frensidy mengatakan, sejak BREN masuk ke papan pemantauan khusus, terjadi anomali dalam pergerakan di IHSG. Hitungan Budi, hingga akhir Juni nanti, sebenarnya IHSG masih bisa tetap berada di kisaran level 7.000. Tapi, karena BREN masih berada di papan pemantauan khusus, IHSG berpeluang ambrol ke level 6.500. Di tengah fluktuasi besar IHSG, Nico masih meyakini kalau strategi beli saham ketika koreksi masih akan lebih baik dibandingkan dengan membeli saat di pucuk.
Perlu Strategi Jitu di Papan Akselerasi
Barisan saham di papan akselerasi tetap mendaki saat pasar sedang berfluktuasi. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat di awal bulan Juni 2024, saham di papan akselerasi masih mampu mengikuti. Pada perdagangan Selasa (4/6), indeks saham yang dihuni oleh emiten skala aset kecil-menengah ini menguat 1,14%. Pekan lalu, saat IHSG terjun 3,48% dan hampir seluruh indeks melorot, papan akselerasi masih melaju 0,33%. Pendiri WH-Project, William Hartanto mengamati pergerakan saham-saham di papan akselerasi tidak otomatis berlawanan ataupun searah dengan IHSG. Menurut William, papan akselerasi menarik sebagai pilihan para trader. Dus, kecenderungan saham di papan akselerasi yang anggotanya identik dengan kategori saham lapis ketiga ini memiliki fluktuasi yang sangat tinggi.
Emiten di papan ini mudah naik dan turun dalam waktu cepat. Saham-saham di papan akselerasi bisa menjadi alternatif saat IHSG sedang melandai atau bergerak dalam volatilitas yang kencang. Tapi, tetap hati-hati. Saran William, barengi dengan diversifikasi, setidaknya dengan saham-saham di lapis kedua. Analis Stocknow.id, Emil Fajrizki menambahkan, ketika pasar sedang sepi, saham-saham lapis ketiga seperti saham di papan akselerasi lebih ramai diperdagangkan. "Saham-saham akselarasi ini lebih cocok untuk day trade saja, karena tingkat volatilitas serta rawan aksi goreng saham yang tinggi," ungkap Emil. Maka, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyarankan pelaku pasar lebih memperhatikan faktor teknikal termasuk volume dan fluktuasi harganya. Pilihannya trading buy PT Arsy Buana Travelindo Tbk (HAJJ) dan PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO).
Waspada Boleh, Panik Jangan
Indeks harga saham gabungan (IHSG) memerah 2,39%. Sepanjang 2024 atau year-to-date, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih sebesar Rp6,53 triliun per Selasa (4/6). Dari sekitar 44 indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia, hampir sebagian besar kinerjanya secara year-to-date merah merona. Hanya ada sembilan indeks yang menghijau, yaitu Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) yang tumbuh 2,09%, Jakarta Islamix Index 70 (0,35%), IDX Value30 (2,20%), IDX ESG Leaders (0,94%), Development Board (1,56%), Acceleration Board (33,03%), IDX Sector Energy (9,50%), IDX Sector Basic Materials (8,85%), dan IDX Sector Healthcare (1,15%). Sementara itu, IDX Sector Technology, IDX Sector Transportation & Logistic, dan IDX Sector Properties & Real Estate terpuruk dengan penurunan masing-masing minus 24,48%, minus 20,76%, dan minus 13,48%. Adapun, kinerja IHSG dibandingkan dengan bursa-bursa lainnya di dunia masuk dalam sebagian kecil bursa dunia yang kinerjanya tengah tertekan, seperti bursa saham Qatar yang turun 12,53%, Meksiko (-9,72%), Brasil (-9,06%), Thailand (-5,61%), Arab Saudi (-2,08%), Uni Emirat Arab (-1,89%), Filipina (-0,99%), dan India (-0,57%). Sebaliknya, hampir sebagian besar bursa-bursa di dunia, kinerjanya sepanjang 2024 menghijau. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2024 terpantau tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi IHK Mei 2024 tercatat deflasi sebesar 0,03% (MtM), sehingga secara tahunan menurun menjadi 2,84% (YoY) dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 3,00% (YoY). Secara tahunan, inflasi inti Mei 2024 tercatat sebesar 1,93% (YoY), meningkat dari inflasi inti bulan sebelumnya sebesar 1,82% (YoY). Ke depan, Bank Indonesia bahkan meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025.
Guna memastikan sasaran inflasi tersebut, Bank Indonesia pun mempertahankan BI-Rate sebesar 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 7%.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih terus dibayangi oleh tekanan geopolitik, pertumbuhan ekonomi lebih dari 5% tentu cukup menjanjikan. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi global sendiri hanya diproyeksikan sebesar 3,2% oleh IMF. Bahkan, OECD dan Bank Dunia memproyeksi di angka yang lebih rendah yaitu 2,9% dan 2,4%.
Untuk itu, investor dapat memanfaatkan kondisi saat ini untuk mengalkulasi kembali strategi investasi dan portofolio yang dimilikinya, termasuk prospek sejumlah emiten dan industrinya ketika kelak kondisi perekonomian berangsur pulih. Waspada boleh, tetapi tak perlu panik.
Pilihan Editor
-
25 Tahun Lagi Cadangan Timah Indonesia Habis
14 Dec 2021 -
Emiten Komponen Otomotif Kian Menderu
14 Dec 2021









