;
Tags

Bursa

( 805 )

Adu Kuat Emiten Grup Konglomerat

HR1 15 Jul 2024 Kontan

Jumlah perusahaan milik konglomerat di Tanah Air yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin bejibun. Terbaru, melalui PT Tancorp Investama Mulia, konglomerat asal Surabaya, Hermanto Tanoko sukses membawa PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) melakukan initial public offering (IPO) pada Senin (8/7). Mengutip data RTI, hingga penutupan pasar saham Jumat (12/7), nilai market cap atau kapitalisasi pasar BLES di BEI mencapai Rp 2,29 triliun. Nilai market cap ddelapan emiten Tancorp itu mencapai Rp 63,75 triliun. Kapitalisasi pasar emiten Grup Tancorp itu berpotensi bertambah. Ini seiring rencana Hermanto Tanoko yang bakal membawa dua perusahaan lagi untuk IPO. Kedua perusahaan itu paling telat dijadwalkan akan IPO di kuartal IV-2024. Bila ditotal, kapitalisasi pasar lima emiten Grup Barito itu menembus Rp 2.303,37 triliun. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi emiten penyumbang market cap terbesar Grup Barito, yakni Rp 1.264,28 triliun. Nilai ini lebih dari 50% total market cap emiten Grup Barito. Tempat kedua diduduki konglomerat Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Lewat Grup Djarum, Hartono bersaudara ini memiliki sejumlah kepemilikan saham di enam emiten. Total market cap emiten Grup Djarum sekitar Rp 1.392,58 triliun. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menguasai market cap emiten Grup Djarum, dengan nilai Rp 1.242 triliun. Founder & CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto mengamati, kepemilikan saham konglomerat di sebuah emiten bisa menambah daya tarik yang mengangkat prospek sahamnya. Apalagi jika sang konglomerat punya reputasi dan rekam jejak apik, serta menguasai jejaring grup bisnis besar. Salah satu saham emiten milik konglomerat yang sempat membetot perhatian publik adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). 

Pemilik market cap terbesar di BEI ini sempat jadi 'tahanan' papan pemantauan khusus skema full periodic call auction (FCA) BEI pada 29 Mei 2024.Pasca masuk papan khusus, harga saham BREN langsung anjlok 10% ke level Rp 10.125 atau membentur batas auto reject bawah (ARB) pada perdagangan Rabu (29/5). Beruntung, saham BREN tak lama masuk papan khusus. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas menambahkan, bagi investor yang ingin melirik saham-saham emiten konglomerat bisa mencermati pergerakan sahamnya dalam jangka panjang. Terutama, emiten yang punya fundamental bisnis kuat. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, grup konglomerasi memiliki keunggulan bisnis terdiversifikasi dengan baik. Ini bisa memberikan keuntungan saat salah satu sektor bisnis lainnya tertekan. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana melihat, saham grup Barito punya portofolio menonjol. Selain lonjakan harga saham yang signifikan, Grup Barito juga punya prospek kinerja menarik. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Agus Pramono memandang, emiten milik konglomerat yang bisnisnya di sektor konsumsi primer dan batubara bisa menjadi pilihan menarik. Tapi, perlu diingat, performa saham dipengaruhi faktor fundamental emiten dibanding pada pemiliknya.

Lolos Jerat Papan Pemantauan Khusus

HR1 12 Jul 2024 Kontan

Jumlah emiten yang lolos dari papan pemantauan khusus semakin banyak. Ini terjadi seusai Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi Peraturan Bursa Nomor I-X tentang Penempatan Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas pada Papan Pemantauan Khusus. Ada 12 emiten yang berhasil lepas dari tato X sejak 21 Juni 2024 lalu. Dari 12 saham tersebut, mayoritas tersandung kriteria 10. Adapun kriteria 10 adalah saham yang disuspensi selama lebih dari satu hari bursa karena aktivitas perdagangan. Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, saat ini fokus utama BEI adalah mendorong agar lebih banyak saham keluar dari papan pemantauan khusus. Menurut dia, pada saat yang sama, banyak emiten yang mulai memperbaiki diri agar bisa keluar dari papan pemantauan khusus. BEI juga menambahkan syarat tambahan seperti pada kriteria 1 dan 7 yang berkaitan dengan likuiditas. Untuk kriteria 1 setelah direvisi adlah mencakup saham dengan harga rata-rata dalam tiga bulan terakhir kurang dari Rp 51 dan dalam kondisi likuiditas yang rendah. Lalu, kriteria 7 adalah saham-saham dengan nilai rata-rata transaksi harian kurang dari Rp 5 juta dan volume transaksi rata-rata harian saham kurang dari 10.000. Iman Rachman, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia menimpali, sebagian besar saham yang masuk ke papan pemantauan khusus disebabkan oleh kriteria 1 tersebut. Karena itu, BEI merevisi periode saham menjadi tiga bulan dengan syarat lolos adalah jika emiten memiliki rencana membagi dividen. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, saham-saham yang telah keluar dari papan pemantauan khusus harus bisa bangkit dulu dari sisi likuiditasnya.

Lebih Agresif Jaring Dana di Semester Dua

HR1 10 Jul 2024 Kontan

Emiten masih gencar menjaring dana segar di pasar modal. Salah satunya melalui penerbitan surat utang atau obligasi. Dana yang terhimpun umumnya dipakai untuk refinancing utang, serta untuk keperluan modal kerja atau ekspansi. Catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masih ada rencana penerbitan efek bersifat utang dan atau sukuk (EBUS) dalam pipeline senilai Rp 7,76 triliun. Emiten yang sedang menawarkan obligasi di antaranya PT Barito Pacific Tbk (BRPT). BRPT menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap III-2024 Rp 1 triliun. Masa penawaran umum berlangsung pada 9 Juli - 11 Juli dan dijadwalkan akan mencatatkan obligasi pda 17 Juli 2024. Seluruh dana yang terhimpun akan dipakai BRPT untuk membayar tiga obligasi sebelumnya dan sebagian atas dua utang bank. Sebelumnya, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) baru saja mencatatkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I-2024 pada 8 Juli 2024. Jumlahnya sebesar Rp 932,35 miliar, yang akan dipakai sebagai modal kerja. Sebanyak 70% untuk pengoperasian jalan tol, dan 30% untuk pemeliharaan jalan tol.

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) juga menebitkan obligasi, dengan nilai sebesar Rp 200 miliar. Emiten lain yang menerbitkan obligasi ialah PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) sebesar Rp 600 miliar, PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) sebesar Rp 500 miliar, dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) senilai Rp 1 triliun, dan PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) sebesar Rp 500 miliar. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi memprediksi, penggalangan dana oleh emiten melalui penerbitan obligasi masih akan ramai pada semester II-2024. Di samping aksi korporasi lain berupa rights issue maupun private placement. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga punya pandangan serupa. Dengan suku bunga yang masih tinggi, emiten cenderung lebih tertarik menggalang dana melalui penerbitan obligasi atau sukuk dibandingkan pinjaman bank. Sebab, obligasi menawarkan yield yang lebih menarik bagi investor.

Terancam Delisitng 50 Emiten

KT1 10 Jul 2024 Tempo
BURSA Efek Indonesia (BEI) mengumumkan ada 50 saham yang berpotensi dicoret pencatatannya dari lantai bursa atau delisting. Peringatan dari otoritas bursa ini diumumkan pada 30 Juni 2024. BEI membeberkan penyebab perusahaan-perusahaan itu terancam delisting lantaran sudah lama mengalami suspensi atau penghentian sementara. "Suspensi perdagangan saham atas perusahaan tercatat telah mencapai enam bulan berturut-turut per 28 Juni 2024," tulis BEI.

Perusahaan yang masuk daftar BEI itu bergerak di bidang properti, perindustrian, hingga infrastruktur. Termasuk di antaranya emiten perusahaan pelat merah PT Waskita Karya Tbk. BUMN di bidang konstruksi dan pengembang infrastruktur itu telah mengalami suspensi sejak 8 Mei 2023 atau selama 13 bulan. Penyebabnya, BEI menilai emiten berkode WSKT tersebut terkena kondisi atau peristiwa negatif, baik secara finansial maupun hukum, yang mempengaruhi kinerja perusahaan.

Risiko delisting semakin menghantui Waskita bila tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. Sebelumnya, perdagangan saham Waskita dibekukan karena gagal membayar bunga dan pokok obligasi atau surat utang. Saham WSKT didepak sementara dari perdagangan karena adanya penundaan pembayaran bunga ke-11 atas Obligasi Berkelanjutan IV Waskita Karya Tahap I Tahun 2020, yang jatuh tempo pada 6 Mei 2024. (Yetede)

KATALIS PELECUT IHSG

HR1 09 Jul 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kendati merevisi target indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 2024, sejumlah analis masih optimistis indeks komposit mampu menembus rekor tertingginya pada tahun ini. Dus, investor pun dapat ancang-ancang dengan memilah saham-saham potensi cuan dari sektor-sektor prospektif penopang indeks komposit. Jika ditengok, IHSG sempat mencapai rekor penutupan tertinggi sepanjang masa di level 7.433,15 pada 14 Maret 2024. Namun, proyeksi positif IHSG cenderung berbalik hingga mencapai level terendah tahun ini di posisi 6.726,91 pada 19 Juni 2024. Pada akhir semester I/2024, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di atas level 7.000, tepatnya 7.063,58. IHSG melorot 2,88% secara year-to-date (YtD). Mengutip data dari DataIndonesia.id, rapor IHSG menjadi kedua yang terburuk di Asia Tenggara, setelah Bursa Thailand yakni SETi yang mencetak penurunan terdalam hingga 8,05% ke level 1.301,94 pada semester I/2024. Terkini pada Senin (8/7), IHSG berada di level 7.250,97, terkoreksi 0,30% YtD. Kendati demikian, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati memperkirakan pada semester II/2024 IHSG akan mendapat sentimen yang seimbang dari segi domestik dan global. Dari segi domestik, faktor stabilitas politik pelantikan Presiden terpilih dan penetapan nama dalam jajaran kabinet, hingga perbaikan ekonomi seperti nilai tukar rupiah, cadangan devisa, dan inflasi bakal mengungkit IHSG.

Setali tiga uang, Direktur Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan IHSG semester II/2024 bakal ditopang potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve, pelantikan Presiden terpilih dan kabinet baru, hingga kebijakan Bursa yang berpihak ke pelaku pasar. Dia memprediksi IHSG di level 7.350—7.460 pada akhir 2024 dengan rekomendasi saham BBCA dengan target harga (target price/ TP) Rp11.000, BBNI Rp6.000, BMRI Rp7.400, BBRI Rp5.900, BRIS Rp2.900, CTRA Rp1.500, BSDE Rp1.300, INDF Rp7.600, ICBP Rp13.000, MYOR Rp3.000, AMRT Rp3.300, ACES Rp1.000, JSMR Rp6.300, AUTO Rp2.900. Sementara itu, Head of Research Ciptadana Sekuritas Asia Arief Budiman menyampaikan kinerja IHSG membaik mulai Juni 2024, dengan kenaikan 1,3% month-on-month (MoM). Laju IHSG ditopang pemulihan saham perbankan seperti BBRI-BBCA dan infrastruktur TLKM-BREN.

Ciptadana Sekuritas pun merevisi target IHSG 2024 menjadi 7.580 dari estimasi sebelumnya 7.700. Laju indeks ditopang ekspektasi pergeseran kebijakan moneter The Fed sehingga investor asing Kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Di sisi lain, laba per saham (earning per share/ EPS) emiten yang dipantau Ciptadana diperkirakan tumbuh moderat 6%-8%. Adapun, Rekomendasi saham pilihan Ciptadana Sekuritas ialah BBCA TP Rp10.900, BBTN Rp1.975, MYOR Rp3.000, EXCL Rp3.000, ADMR Rp2.000, SMGR Rp6.000, PGAS Rp1.800, MEDC Rp1.850, SILO Rp3.070. Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, prediksi IHSG tersebut terutama karena didasari pertimbangan makroekonomi terkini terkait ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang lebih terbatas dan posisi nilai tukar rupiah. Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyampaikan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham diharapkan meningkat ke depannya.

Kinerja Membaik di Paruh Kedua 2024

HR1 09 Jul 2024 Kontan

Penguatan harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) dapat memberikan sentimen positif terhadap prospek saham emiten CPO. Melansir Bloomberg, harga CPO naik 1,7% dalam sebulan terakhir dan menguat 1,58% dalam sepekan terakhir ke harga RM 4.042 per ton, Senin (8/7). Sementara melansir Kementerian Perdagangan, harga referensi produk CPO untuk bulan ini ditetapkan sebesar US$ 800,75 per ton. Nilai ini lebih tinggi 2,82% atau US$ 21,93 per ton dari harga acuan untuk Juni 2024, yaitu US$ 778,82 per ton. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menilai, kinerja harga CPO pada tahun 2024 masih berada pada level yang cukup tinggi. Sekretaris Perusahaan TAPG Joni Tjeng mengatakan, pasokan minyak nabati global belum naik signifikan, khususnya minyak kedelai. Di sisi lain, harga minyak mentah masih cukup tinggi akibat kondisi geopolitik.

Sentimen tersebut menjaga harga CPO di semester pertama 2024. Sementara itu, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) mencatatkan harga rata-rata CPO sebesar Rp 11.856 per kg di kuartal I-2024. "Proyeksi harga jual rata-rata sangat tergantung ke mekanisme pasar serta juga fluktuasi harga komoditas dunia, ujar Investor Relations SGRO Stefanus Darmagiri. Analis Phillip Sekuritas, Marvin Lievincent menilai, kenaikan harga CPO membawa dampak positif terhadap industri. Namun, Marvin mengingatkan, penguatan harga CPO harus diimbangi dengan upaya emiten untuk menjaga biaya operasional agar tidak ikut naik. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo bilang, kenaikan harga CPO memang berpotensi menaikkan harga jual emiten sektor ini. Tapi, belum tentu kenaikan harga ini berdampak signifikan terhadap kinerja semua emiten sawit.

Kapitalisasi Emiten Naik, Arah IHSG Membaik

HR1 05 Jul 2024 Kontan (H)

Langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi ketentuan Papan Pemantauan Khusus (PPK) tahap II yang menggunakan skema full periodic call auction (FCA), mulai menggairahkan perdagangan saham di Tanah Air. Ini tercermin dari melonjaknya rata-rata volume transaksi perdagangan saham di BEI.Ambil contoh, transaksi perdagangan bursa di pekan terakhir Juni 2024. Di periode 24-28 Juni, rata-rata nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp 16,16 triliun, naik 6,49% dibanding pekan sebelumnya Rp 15,17 triliun. Sebagai catatan, BEI menerapkan revisi aturan papan khusus dengan skema FCA sejak 21 Juni 2024. Seiring revisi itu, BEI mengeluarkan sejumlah saham dari Papan Pemantauan Khusus. 

Ada enam emiten yang resmi dibebaskan BEI dari PPK. Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengamati, rotasi top market cap hingga awal semester kedua disebabkan oleh dua faktor. Pertama, pelemahan saham big bank  yakni BBRI dan BBNI serta saham blue chip  nonbank seperti TLKM dan ASII. Sejak awal tahun 2024, keempat saham itu turun hingga dua digit. Kedua, sejumlah saham melonjak seperti TPIA dan DSSA, serta BREN dan AMMN yang tergolong pendatang anyar. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi, mengamati, bobot top 10 saham ini sangat jumbo sehingga menyumbang lebih dari separuh total market cap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Jadi perubahannya memengaruhi arah IHSG," ujar Audi. Dus, Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto melihat rotasi saat ini sesuai ekspektasi dan memberikan sinyal positif terhadap IHSG. Saat ini IHSG menuju level psikologis 7.300. Kemarin, IHSG menguat 0,34% ke level 7.220,88. Pandangan optimistis juga diungkap DBS Group Research. DBS mengerek naik outlook pasar saham Indonesia dari netral jadi positif.

MENCEGAH IPO TAK LOYO

HR1 03 Jul 2024 Bisnis Indonesia (H)

Semester satu berlalu, otoritas bursa masih punya sederet pekerjaan rumah untuk mengakselerasi kinerja pasar modal. Salah satunya yakni mendorong lahirnya emiten baru, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. Apalagi, sejumlah kalangan menilai kinerja emiten baru sepanjang semester satu tak terlalu ciamik. Menilik data bursa, realisasi initial public offering (IPO) pada semester I/2024 hanya mencapai 25 perusahaan, atau lebih sedikit ketimbang semester I/2023 yang tercatat sebanyak 43 perusahaan. Adapun dari sisi kinerja, hanya 10 saham dari 25 emiten anyar tersebut yang menguat.Saham emiten baru yang mencatatkan penurunan harga paling dalam yakni PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk. (MPIX) yang ambles -80,60% ke level Rp52 per saham per 1 Juli 2024, dari harga IPO di level Rp268 pada 7 Februari 2024. 

Kala itu, MPIX meraup dana IPO Rp83,75 miliar.Selanjutnya, PT Bersama Mencapai Puncak Tbk. (BAIK) atau Ayam Goreng Nelongso juga mencatatkan koreksi -80,22% dari harga IPO Rp278 pada 15 Februari 2024, ke posisi Rp55 per saham pada 1 Juli 2024. BAIK meraih dana hasil IPO sebesar Rp62,55 miliar. Direktur PT Panin Sekuritas Tbk. (PANS) Prama Nugraha mengatakan kondisi ekonomi dan pasar global yang menantang menjadi pertimbangan perusahaan melakukan IPO. Dalam kondisi suku bunga tinggi, perusahaan mengkaji ulang strategi pendanaan yang tepat. Selain itu, industri pasar modal juga diharapkan terlepas dari bayang-bayang wait and see ekspansi akibat Pemilu/Pilpres 2024. Pada semester II/2024, PANS menargetkan memboyong 2 perusahaan IPO. Saat dimintai tanggapan perihal kinerja IPO, Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Laksono Widodo mengatakan pihaknya akan memantau kondisi pasar sebelum memboyong perusahaan ke lantai bursa. Pasalnya, sepanjang semester I/2024 mayoritas harga saham IPO mengalami penurunan signifikan.

Melesat Setelah Terlepas dari Jerat

HR1 22 Jun 2024 Kontan (H)

Bagai burung lepas dari sangkar, harga saham emiten yang keluar dari papan pemantauan khusus (PPK) tahap II dengan skema full periodic call auction (FCA) melejit. Dari 25 saham yang keluar dari PPK selama sebulan terakhir, sebanyak 12 saham mencatatkan kenaikan harga. Sementara harga delapan saham turun, dan lima saham stagnan. Sebagai catatan, usai dihujani protes, Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan revisi aturan tentang papan pemantauan khusus dengan skema FCA mulai kemarin. "Keputusan BEI merevisi aturan burs terkait penempatan efek di PPK agar mengurangi ketegangan," kata  Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, Jumat (21/6). Seiring revisi ketentuan papan khusus ini, BEI juga mencabut sejumlah saham dari papan khusus.

Ada enam saham emiten yang resmi dibebaskan BEI dari papan khusus. Yakni, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Haloni Jane Tbk (HALO),  PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA), PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI), PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). Usai lolos dari papan khusus pada 31 Mei lalu hingga 7 Juni 2024, transaksi rata-rata AGAR melonjak menjadi sekitar 22 juta saham per hari. Harga sahamnya juga melejit 281,63% ke posisi Rp 374 per saham. Usai lolos dari papan khusus pada 31 Mei lalu hingga 7 Juni 2024, transaksi rata-rata AGAR melonjak menjadi sekitar 22 juta saham per hari. Harga sahamnya juga melejit 281,63% ke posisi Rp 374 per saham. 

BEI pun mensuspensi lagi saham AGAR sejak 10 Juni, karena harga kumulatif sahamnya naik signifikan. Namun, BEI tidak memasukkan AGAR ke papan khusus berdasarkan kriteria nomor 10, karena suspensi lebih dari sehari. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengimbau, meski sebagian besar saham yang keluar dari PPK harganya melesat, investor hendaknya tetap mencermati kinerja dan pergerakan harga sahamnya. Head of Research Kiwoom Sekurirtas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, saham-saham yang keluar FCA bisa dilirik, jika fundamental dan teknikalnya menarik. Menurut Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, yang menarik dilirik usai keluar dari FCA adalah saham yang menunjukkan stabilitas harga dan volume perdagangan naik. Dari segi teknikal, di jangka pendek, Sukarno menilai,BREN tergolong menarik karena masih punya potensi kenaikan, meski valuasi  sudah kemahalan.

Rancangan Revisi Papan Khusus Kurang Nyus

HR1 18 Jun 2024 Kontan (H)

Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menyiapkan revisi ketentuan papan pemantauan khusus dengan skema full periodic call auction (FCA). Tapi, poin-poin revisi dinilai kurang nyus atau serba tanggung dan tambal sulam. Sebagai gambaran, penerapan papan khusus dengan skema FCA mulai 24 Maret 2024 itu telah memicu kontroversi. Apalagi setelah FCA menjerat saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), pemilik market cap terbesar di bursa. Pasar saham sempat terguncang, dan aturan FCA pun dibanjiri protes. Nah, melalui rencana revisi, BEI akan mengubah sejumlah ketentuan papan pemantauan khusus. Berdasarkan draf revisi yang diterima KONTAN, dari 11 kriteria FCA yang bisa menjerat emiten, BEI merevisi empat kriteria, yakni kriteria nomor 1, 6, 7, dan 10. Usai direvisi, BEI menetapkan ketentuan masuk PPK FCA diubah jadi harga dalam tiga bulan terakhir kurang dari Rp 51. Emiten juga telah membagikan dividen tunai yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Jika revisi kriteria ini kelar, saham BREN bakal lepas dari jerat FCA karena sudah menghuni papan FCA selama 18 hari sejak 29 Mei 2024.

Selain BREN, saham PT MNC Energy Investment Tbk (IATA) dan saham PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) juga bisa keluar dari mekanisme perdagangan FCA. Dua emiten milik taipan  Hary Tanoesoedibjo itu masuk papan khusus pada 31 Mei 2024. Secara umum masih banyak saham yang berpotensi keluar  dari jeratan FCA jika BEI merevisi aturan tersebut. Sejauh ini, dalam catatan KONTAN, ada 230 saham dari 927 emiten di bursa yang terjerat FCA dengan berbagai macam kriteria. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengatakan, saat ini BEI menunggu tanggapan dari pelaku pasar terkait revisi  aturan Nomor I-X. "Kami masih menunggu tanggapan dari seluruh stakeholders sebelum memberlakukan peraturan," katanya, kemarin. Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, kehadiran papan khusus bertujuan untuk menciptakan pasar modal yang teratur, wajar, serta meningkatkan perlindungan investor. Ihwal poin-poin revisi kriteria FCA, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menilai rencana revisi FCA masih tanggung dan belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh pelaku pasar.