;
Tags

Bursa

( 805 )

Prospek Kompas100 Tetap Positif

HR1 12 Aug 2024 Kontan
Kinerja keuangan dan saham emiten konstituen indeks Kompas100 diperkirakan lebih moncer di sisa tahun 2024 ini. Hal tersebut menyusul hasil rilis laporan keuangan emiten Kompas100 yang mayoritas mencatatkan kinerja positif. Kinerja keuangan emiten sektor perbankan, energi, dan kesehatan dinilai masih menjadi unggulan di antara yang lain. Pengamat Pasar Modal, Mayang Anggita mengatakan, lebih dari separuh konstituen indeks Kompas100 mencetak pertumbuhan laba secara tahunan. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, pertumbuhan laba per saham atau earning per share (EPS) emiten Kompas100 yang terbesar dicatatkan oleh PT Timah Tbk (TINS). "Prospek saham Kompas100 semester kedua bisa lebih baik, dengan peluang penurunan tingkat suku bunga Federal Reserve yang kemungkinan akan diikuti juga oleh Bank Indonesia (BI)," paparnya. Di sisi lain, kinerja saham Indeks Kompas100 masih lebih landai ketimbang IHSG. Secara year to date (ytd), kinerja IHSG terkoreksi 0,22%. Sementara, kinerja indeks Kompas100 turun 3,23% ytd. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menuturkan, beberapa sektor saham yang tertinggal kemungkinan akan berbalik arah di sisa tahun ini. Mayang melihat emiten-emiten dari sektor perbankan akan berkinerja paling solid di semester kedua ini. Secara teknikal, saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI juga memiliki tren jangka panjang bullish.

Menilai Daya Saing IHSG di Kawasan

HR1 09 Aug 2024 Kontan

Kendati kinerja emiten dalam negeri pada semester pertama ini lesu, valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bisa bersaing dengan bursa di kawasan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Kamis (8/8), price earning ratio (PER) IHSG berada di posisi 12,07 kali. Sedangkan price to book value (PBV) IHSG sebesar 2,16 kali. Sedangkan dari data Bloomberg, PER IHSG saat ini sebesar 26,86 kali, masih lebih mahal ketimbang bursa regional lain. Riset Mandiri Sekuritas menunjukkan, proyeksi PER IHSG di akhir 2024 sebesar 13,4 kali. Valuasi ini mencerminkan proyeksi pertumbuhan laba per saham atau earning per share (EPS) 15,5%. Sedangkan, proyeksi PER IDX80 sebesar 12,5 kali hingga akhir tahun ini. Memang, kalau dibandingkan dengan bursa di kawasan Asia Pasifik seperti indeks China CSI 300, PER IHSG masih kalah murah. Proyeksi PER CSI300 11,8 kali di tahun 2024. Tapi perlu dicermati, potensi pertumbuhan EPS indeks China cuma sebesar 5,1%, masih jauh dari IHSG. Namun, valuasi IHSG masih lebih tinggi dibanding Indeks Hang Seng dan Korea Selatan.

Di kawasan ASEAN, valuasi IHSG masih di atas Singapura dan Vietnam. Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas bilang, saat ini investor tidak hanya mengincar pertumbuhan, tetapi juga mencermati valuasi pada masing-masing bursa. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengatakan, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih di atas 5%, valuasi IHSG masih tetap atraktif. "Dengan pertumbuhan ekonomi stabil, penduduk Indonesia yang didominasi usia produktif, IHSG masih menjanjikan," kata dia, Kamis (8/8). Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menambahkan, peluang penurunan suku bunga The Fed juga dapat membuat investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi di pasar negara berkembang. Namun, perlu diperhatikan, biasanya penurunan suku bunga disertai dengan indikasi perlambatan ekonomi global yang lebih luas. Ini dapat mengurangi sentimen risiko dan memicu aksi jual di pasar saham global. Selain tiga sektor itu, Joezer bilang investor juga bisa melirik saham-saham yang sensitif dengan suku bunga. Di antaranya, sektor properti, menara telekomunikasi dan teknologi.

Harapan Emiten Peritel : Aliran Belanja Mendorong Pergerakan Bursa

HR1 08 Aug 2024 Bisnis Indonesia

Kinerja emiten peritel yang cenderung bertumbuh, seiring dengan peningkatan belanja masyarakat diprediksi berimbas ke pergerakan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, dari 15 emiten ritel yang melaporkan kinerja keuangan semester I/2024, 12 emiten di antaranya melaporkan pertumbuhan pendapatan.

Kinerja emiten peritel di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif pada semester I/2024, didorong oleh daya beli masyarakat yang masih terjaga dan peningkatan belanja domestik. Tokoh seperti Maximilianus Nicodemus dari Pilarmas Investindo dan Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas mencatat bahwa stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat menjadi katalis utama bagi pertumbuhan ini, meskipun tantangan seperti suku bunga tinggi dan persaingan dengan e-commerce tetap ada. Emiten seperti PT Erajaya Swasembada (ERAA) dan Grup MAP juga agresif dalam ekspansi gerai baru, yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja mereka di masa depan. Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, merekomendasikan saham-saham seperti MIDI, AMRT, MAPI, dan MAPA sebagai peluang investasi.

Peralihan Aset Meningkat, Aktivitas Pasar Saham Meredup

HR1 08 Aug 2024 Kontan
Investor nampaknya menahan diri bertransaksi di pasar saham. Kondisi ini tercermin dari nilai transaksi perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kembali sepi belakangan. Jika dibandingkan periode kuartal pertama lalu, Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) BEI semakin menyusut. Nilai transaksi pada perdagangan Rabu (7/8), hanya sebesar Rp 8,19 triliun. Sepanjang tahun berjalan ini, rata-rata nilai transaksi harian bursa mencapai Rp 11,81 triliun. Sedangkan rerata nilai transaksi di Juli hanya Rp 9,94 triliun, menyusut 22,64% secara bulanan dari Rp 12,84 triliun pada Juni 2024. Angka ini turun lebih jauh kalau dibandingkan posisi bulan Mei yang rata-rata mencapai Rp 14,38 triliun dan di bulan April 2024 yang sebesar Rp 13,98 triliun. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia Irvan Susandy mengatakan, penurunan rata-rata nilai transaksi harian bursa akhir-akhir ini disebabkan sejumlah faktor. Terkait penurunan RNTH ini, Irvan mengatakan, BEI terbuka dengan masukan dan melakukan evaluasi jika diperlukan. Terutama dalam memberikan stimulus untuk mendongkrak RNTH. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi mengatakan, ketidakpastian global ikut membuat perpindahan aset investasi, salah satunya ke kripto. "Investor mencari aset alternatif yang lebih defensif. Sehingga aktivitas transaksi saham dalam negeri menurun, ujarnya. Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, turunnya nilai transaksi BEI menandakan investor mulai kehilangan kepercayaan akan kinerja pasar modal domestik.

KINERJA Emiten Besar Mengendalikan Arah Bursa Saham

HR1 05 Aug 2024 Kontan (H)

Mayoritas emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah merilis laporan keuangan periode semester I-2024. Di barisan 20 market cap terbesar, ada 16 emiten yang sudah mengumumkan kinerja enam bulan pertama tahun ini. Hingga menutup perdagangan akhir pekan lalu (2/8), 20 penguasa market cap emiten di sektor komoditas, perbankan, konsumer dan industri. Jika ditotal, nilai market cap 20 emiten tersebut mencapai 7.905,72 triliun. Nilai ini setara 63,69% dari total market cap BEI sebesar Rp 12.410 triliun. Dus, dengan kapitalisasi pasarjumbo, 20 emiten big cap bisa jadi penggerak dan pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan pekan lalu, IHSG bertengger di 7.308,12. Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, IHSG naik sebesar 0,49%. Sebagai gambaran, posisi 10 teratas market cap diduduki PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Selain itu, ada PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Berikutnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Astra International Tbk (ASII). Selebihnya dihuni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menilai, kinerja emiten big caps yang bervariasi cenderung sesuai ekspektasi. Realisasi kinerja itu menunjukkan kondisi setiap sektor industri dan strategi masing-masing emiten menyesuaikan diri dengan dinamika bisnis. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Riska Afriani sepakat, kinerja emiten big caps pada paruh pertama tahun ini relatif sesuai ekspektasi. Riska menyoroti pertumbuhan kinerja emiten bank, yang menandakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah tahun politik dan sejumlah tantangan ekonomi. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengatakan, peluang emiten big caps memperbaiki kinerja di semester II-2024 semakin terbuka. Terlebih, ada harapan pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada September nanti dan ada transisi pemerintahan di bulan Oktober. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama memperkirakan, kinerja para emiten yang positif di semester I-2024 berpeluang kembali terapresiasi hingga akhir tahun ini. "Harga saham emiten itu juga akan semakin terapresiasi," ujarnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menimpali, di semester II, kinerja sejumlah emiten big caps masih akan moncer. Sentimen utamanya adalah Pilkada 2024 di akhir tahun nanti. Transisi pemerintahan dan pemilihan kabinet juga memberikan sentimen positif.

Saham Komoditas dan Perbankan Semakin Menguat

HR1 05 Aug 2024 Kontan
Saham berbasis komoditas dan perbankan masih mendominasi barisan top leaders penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sedangkan saham yang pergerakan harganya masih tertinggal (laggards) diisi emiten dari sektor beragam. Sejak awal tahun ini hingga perdagangan Jumat (2/8), 10 besar saham top leaders dihuni saham-saham dengan kapitalisasi jumbo (lihat tabel). Sedangkan top 10 saham laggards ditempati oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Lalu ada PT Astra International Tbk (ASII), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, pergerakan saham penggerak (movers) IHSG relatif sudah priced in dengan kinerja emiten dan prospek bisnis mereka. Faktor kondisi ekonomi makro akan tetap menjadi katalis penting yang dicermati pelaku pasar. Di sisi lain, suku bunga tinggi saat ini masih berkorelasi negatif terhadap sektor teknologi yang \ jadi pemberat indeks. Seperti GOTO, secara year to date mengakumulasi penurunan 38,37% dan BUKA melorot 45,37%. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana merekomendasikan spekulasi beli BBCA, ADRO, SMGR dan BRPT dengan target harga masing-masing Rp 10.550, Rp 3.500, Rp 4.200 dan Rp 1.250 per saham.

Sorak Sorai di Bulan Kemerdekaan

HR1 02 Aug 2024 Kontan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak positif sepanjang bulan Agustus ini. Secara historis, IHSG cenderung memberi return positif pada bulan kemerdekaan. Di akhir bulan Juli ini, IHSG ditutup naik 0,19% ke posisi 7.255,76, Rabu (31/7). Dalam sebulan terakhir, IHSG menanjak 1,63%. IHSG berpeluang bertahan di atas level psikologis 7.000 sepanjang bulan Agustus 2024 ini. Pasar saham dalam negeri diramal akan mendapatkan sentimen positif dari pemangkasan suku bunga. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga menjelaskan, ada beberapa sentimen penting yang berpotensi mempengaruhi pergerakan IHSG bulan ini. Salah satunya adalah rilis laporan keuangan kuartal kedua emiten. Selain itu, data produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang dijadwalkan rilis pada 5 Agustus mendatang akan sangat mempengaruhi pergerakan pasar. Jika PDB Indonesia berada di atas ekspektasi, IHSG akan bergerak positif dan sebaliknya.

"Jika terealisasi, ini tentu akan memberikan dampak positif bagi IHSG. Kebijakan moneter yang lebih longgar di AS berpotensi meningkatkan minat terhadap aset berisiko di emerging market," kata Aditya, Rabu (31/7). Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, secara historis pergerakan IHSG di Agustus cenderung sideways, tetapi relatif positif. Dalam 10 tahun terakhir, IHSG hanya memerah 3 kali di bulan Agustus. Secara teknikal, Nafan mencermati IHSG memiliki rentang terdekat berdasarkan minor parallel channel pada 7.199-7.354. Selama masih bertahan di atas 7.199, IHSG berpotensi menguji resistance 7.354. Tapi, jika IHSG breakdown dari 7.199, terdapat 61,8% retracement support di level 7.104 yang kemungkinan akan diuji. Aditya merekomendasikan saham INDF dengan nilai wajar Rp 7.842, TOWR di Rp 860 dan CTRA di Rp 1.390. Sedang Nafan menjagokan ACES, AKRA, ANTM, ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BSDE, CPIN, CTRA, ERRA, INDF, INDY, ITMG, MAPI, MDKA dan TLKM.

Lunasi Surat Utang, Emiten Siapkan Dana

HR1 31 Jul 2024 Kontan

Bersamaan musim rilis laporan keuangan semester I-2024, sejumlah emiten beramai-ramai melunasi obligasi. Sederet emiten juga menghadapi masa jatuh tempo dan telah menyiapkan dana untuk membayar pokok dan bunga surat utang. Emiten yang baru-baru ini melunasi obligasi ialah PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). INKP melunasi pokok Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I-2023 Seri A sebesar Rp 333,55 miliar. Sedangkan TBIG melunasi Obligasi Berkelanjutan VI Tahap I -2023 Seri A dengan nilai pokok Rp 1 triliun. Sebelumnya, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) pada 16 Juli telah melunasi Obligasi Berkelanjutan I Tahap I-2023 Seri A Rp 100 miliar. Di sisi lain, sejumlah emiten telah menyampaikan kesiapan dana untuk melunasi obligasi yang segera jatuh tempo.

Seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang telah menyiapkan dana pembayaran pokok Obligasi Berkelanjutan II Tahap III-2017 Seri C senilai Rp 2,51 triliun. Obligasi ini akan jatuh tempo pada 24 Agustus 2024. Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menilai, pelunasan obligasi cenderung membawa sinyal positif terhadap pasar. Dengan aksi ini, emiten menunjukkan ketersediaan dana yang memadai serta komitmen untuk menunaikan kewajibannya. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Agus Pramono mengatakan, pembayaran melalui kas internal akan menjadi opsi pertama bagi emiten yang punya fundamental keuangan solid. Namun, emiten juga umumnya melakukan refinancing melalui penerbitan obigasi tahap selanjutnya maupun pinjaman bank. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menimpali, ramainya penerbitan dan pelunasan obligasi terjadi dalam kondisi ekonomi yang berada pada masa ekspansi. Posisi utang berkelanjutan juga masih aman selama

Setoran Jumbo dari Emiten Konglomerat

HR1 30 Jul 2024 Kontan

Sejumlah grup konglomerasi Tanah Air masuk dalam daftar pembayar pajak terbesar pada 2023 lalu. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mencatat, Grup Djarum yang dimiliki Robert Budi Hartono, memimpin daftar sebagai penyetor pajak terbesar, disusul Grup Adaro milik Garibaldi Thohir. Daftar ini juga mencakup Grup Bayan Resources, Indofood, Sinarmas, Gudang Garam, Indika Energy, dan beberapa grup besar lainnya seperti Medco dan Trakindo. Nah, tentu saja, sebagian besar kekayaan para konglomerat ini berasal dari perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setoran pajak Djarum bisa jadi banyak berasal dari perusahaan rokok yang dimilikinya. Tapi, ada pula kontribusi besar dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kinerja emiten yang apik turut memengaruhi kontribusi pembayaran pajak. "BBCA mencatatkan laba bersih tinggi, sebesar Rp 48,6 triliun di tahun 2023. Wajar jika menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar," ujar Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat, Senin (29/7).

Setoran pajak yang besar boleh jadi memiliki dampak yang positif pada reputasi perusahaan di mata investor dan publik. Ini juga bisa menjadi cerminan kalau perusahaan punya kontribusi signifikan terhadap perekonomian dan punya posisi keuangan yang cukup kuat. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, sektor perbankan dan komoditas masih akan berkinerja moncer. Begitu pula sektor barang konsumsi. Selain itu, semakin besar setoran pajak dan cukai yang dibayarkan ke negara, juga dapat membuat laba bersih emiten tertekan. Contohnya, kenaikan tarif cukai rokok yang terus membayangi margin laba bersih PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Begitu pula sejumlah pajak dan royalti yang dikenakan ke industri batubara. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, emiten konglomerasi yang punya bisnis perbankan, barang konsumen siklikal, dan ritel akan cenderung diuntungkan di kondisi perekonomian saat ini.

Duit Nasabah Bank Berpaling ke Surat Utang

HR1 30 Jul 2024 Kontan (H)

Warga Indonesia sepertinya semakin makmur. Ini terlihat dari peningkatan nominal simpanan nasabah di perbankan. Di saat yang sama, porsi ritel di sejumlah instrumen pasar modal juga menunjukkan peningkatan. Jumlah investor pasar modal terus mencatatkan peningkatan. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal dalam negeri sudah mencapai 12,07 juta per Juni 2024, naik 7,47% dari akhir 2023. Sekitar 99,67% merupakan investor individu. Kepemilikan investor individu pada obligasi negara atau surat berharga negara (SBN) juga meningkat. Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan individu pada surat utang negara per Jumat (26/7) mencapai Rp 504,55 triliun, setara 8,69% terhadap total SBN. Bulan sebelumnya, kepemilikan individu di SBN baru mencapai Rp 498,13 triliun, atau sebesar 8,59% dari total SBN beredar. Adapun porsi kepemilikan individu pada Januari lalu baru 7,72% atau sebesar Rp 440,65 triliun. 

Di saat yang sama, simpanan nasabah di perbankan naik. Menilik data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total simpanan nasabah di perbankan mencapai sekitar Rp 8.766,6 triliun, naik 8,4% secara tahunan dan naik 3% sejak awal tahun. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, menilai, masyarakat mulai beralih ke obligasi negara karena imbal hasilnya di atas produk bank. Imbal hasil SBN mencapai 6%-7% per tahun. Bunga deposito bank umum saat ini hanya 2%-4%. Faktor lain, lanjut Bhima, penempatan dana di SBN meningkat karena orang-orang kaya sebelumnya mengantisipasi faktor pemilu, sehingga menempatkan uang di instrumen yang lebih aman. Kini, setelah pemilu usai, nasabah berani berinvestasi lagi di instrumen yang lebih berisiko. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Budi Frensidy juga menndaskan bahwa saat ini SBN lebih menarik dari produk bank, karena bunganya lebih tinggi. "Ini berarti inklusi keuangan dan produk pasar modal telah meningkat. Bunga deposito sekitar 4%-5% dan kena PPh 20%. Sementara SBN apalagi SRBI bisa 7,25% dengan PPh 10%," ungkapnya.