Bursa
( 805 )Antrean IPO Menyusut di Tengah Skandal
Hajatan initial public offering (IPO) saham sepi. Sudah sebulan terakhir, belum ada calon emiten baru yang melakukan penawaran umum saham perdana. Bahkan, jumlah emiten dalam pipeline IPO Bursa Efek Indonesia (BEI) menciut. Tercatat, ada lima calon emiten yang mundur dari rencana IPO di bursa. Penurunan jumlah pipeline IPO ini terjadi di tengah kasus suap IPO yang melibatkan karyawan BEI. Per 30 Agustus 2024 lalu, BEI mencatat, hanya ada 23 calon emiten yang berada dalam antrean IPO. Sebanyak 17 di antaranya, merupakan perusahaan skala menengah dengan nilai aset Rp 50 miliar hingga senilai Rp 250 miliar. Sedangkan lima perusahaan lainnya berskala besar, dengan aset di atas Rp 250 miliar, dan hanya ada hanya ada satu calon emiten dengan skala kecil yang memiliki nilai aset di bawah Rp 50 miliar. Pencatatan saham IPO terakhir kali dilakukan pada 8 Agustus 2024, yakni IPO saham PT Esta Indonesia Tbk (NEST). NEST menjadi emiten ke 34 yang listing pada tahun 2024 ini. Jumlah nilai emisi yang dikantongi emiten saham baru dari IPO ini sebesar Rp 5,15 triliun. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI mengatakan, menyusutnya jumlah pipeline IPO disebabkan ada keputusan internal perusahaan-perusahaan tersebut untuk menunda maupun berdasarkan evaluasi manajemen bursa. Nyoman menampik mundurnya calon emiten dari rencana IPO berkaitan dengan isu skandal gratifikasi yang masih diselidiki lebih lanjut.
Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal dan Guru Besar Keuangan dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, sepinya hajatan penawaran umum perdana saham tak bisa dipungkiri disebabkan oleh mencuatnya dugaan kasus gratifikasi yang dilakukan oknum karyawan BEI.
Seperti diketahui. BEI dikabarkan telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap lima karyawannya. Ini merupakan buntut pelanggan oknum karyawan yang meminta imbalan dan gratifikasi atas jasa penerimaan emiten.
Adapun kelimanya merupakan karyawan pada divisi penilaian perusahaan. Divisi ini bertanggung jawab terhadap penerimaan calon emiten saham. Kuat dugaan kelima karyawan tersebut meminta sejumlah uang imbalan kepada calon emiten.
Komisi XI DPR pun berencana segera memanggil otoritas pasar modal untuk mendalami kasus tersebut.
Pengamat Pasar Modal, Satrio Utomo mengatakan, sebenarnya minat perusahaan untuk melakukan IPO di bursa saham masih banyak. Di sisi lain, para investor menginginkan IPO yang bagus.
Sementara analis Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus mengatakan, sebaiknya BEI memang lebih selektif dalam menyaring saham-saham yang baru IPO tersebut. "Ini agar investor tidak dirugikan," tandasnya.
Jangan Lewatkan Pesta Besar di Bursa
Pesta besar tengah terjadi di bursa saham. Pendorongnya adalah euforia era pemerintah baru yang segera tiba, masuknya dana jumbo investor asing ke pasar saham. Ketegangan politik yang mereda dan kepastian pelonggaran kebijakan moneter turut mengangkat kepercayaan pasar sehingga mendorong transaksi di bursa saham. Dari data RTI, nilai pembelian bersih investor asing di seluruh pasar mencapai Rp 15,36 triliun dalam sepekan. Lalu, dalam sebulan mencapai Rp 29,1 triliun. Nilai ini cukup besar, mengingat dan asing sempat banyak keluar dari pasar saham pada akhir semester pertama lalu. Transaksi di pasar saham memang lagi ramai. Tengok saja, nilai transaksi harian di pasar saham cenderung tinggi beberapa hari terakhir. Hal ini membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat beberapa kali menyentuh rekor harga tertinggi baru. Tak cuma di pasar reguler, transaksi bursa di pasar negosiasi juga semarak. Ada peralihan dana triliunan rupiah melalui pasar negosiasi. Oktavianus Audi, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas mengatakan, derasnya aliran dana investor asing membuat IHSG telah menguat 9,77% selama bulan Juni hingga Agustus 2024. Masuknya dana asing ini didorong sentimen pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve. "Tercatat saat Fed mulai dovish, asing masuk sebesar Rp 16,67 triliun dengan dominasi ke sektor perbankan," kata dia kepada KONTAN, Selasa (3/9).
Direktur Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus menambahkan, masuknya saham-saham dalam negeri ke dalam indeks global seperti MSCI dan FTSE dalam
rebalancing
terbaru juga mendorong aliran dana asing.
Pergantian kepemimpinan yang disahkan dalam pelantikan presiden terpilih Prabowo Subianto, Oktober 2024 mendatang juga dapat membawa angin segar ke pasar keuangan. Kepala Ekonom Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai, setelah ada kejelasan terkait arah kebijakan pemerintahan baru, dana asing akan makin deras masuk ke dalam negeri.
Nah, ramainya transaksi pasar saham kemungkinan masih akan berlanjut di bulan ini. Tapi perlu diingat, IHSG sudah naik cukup tinggi. Alhasil, ada potensi terjadi koreksi karena aksi ambil untung atawa
profit taking.
Martha Christina,
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas menyarankan, pelaku pasar bisa mencermati saham yang lajunya belum terlalu kencang dan punya valuasi yang masih murah. Saham pilihan Martha adalah ASII, TLKM, BMRI, BBCA, BBRI, ICBP, MYOR, MAPI, ACES dan SIDO. Sedangkan Daniel melihat saham BMRI dan MAPI punya prospek kinerja yang solid.
BEI dan Infovesta Luncurkan Indeks Baru
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Infovesta Utama meluncurkan indeks baru bernama IDX-Infovesta Multi-Factor 28 pada Senin (2/9).
P.H. Sekretaris Perusahaan BEI Eko Susanto bilang, indeks ini mengukur kinerja harga dari 28 saham yang punya profitabilitas tinggi, valuasi harga dan volatilitas rendah, dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan baik. "Indeks ini diluncurkan karena meningkatnya penggunaan indeks BEI sebagai
underlying
produk," ujar Eko dalam keterangannya, Senin (2/9).
Untuk konstituen indeks IDX-Infovesta Multi-Factor 28, BEI memilih saham yang telah tercatat di BEI minimal 5 tahun dan memiliki nilai transaksi harian lebih dari Rp 500 juta selama 6 bulan terakhir.
Selain itu, memiliki nilai
market
capitalization free float
minimal Rp 1 triliun dan harga saham tidak pernah menyentuh Rp 50 selama 5 tahun terakhir. Terakhir, saham tak masuk notasi khusus atau efek dalam pemantauan khusus selama 6 bulan terakhir.
Bank dan Properti Menjadi Sektor Andalan
Seiring gerak menanjak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), posisi indeks saham sektoral pun mengalami pergeseran sepanjang Agustus. Dalam sebulan terakhir, indeks saham energi masih unjuk gigi dengan akumulasi kenaikan tertinggi secara year to date. Sektor energi memimpin dengan performa positif 26,75% hingga akhir perdagangan Agustus. Performa sektor energi melonjak dibandingkan posisi per akhir Juli yang saat itu naik 16,69%. Artinya, sektor energi mendaki 10,06% dalam sebulan. Memasuki bulan September, Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki menilai, pergerakan sektoral masih dibayangi oleh sejumlah faktor. Sentimen terbesar datang dari potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve yang diprediksi mulai terjadi bulan ini. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus menaksir, tidak semua sektor sensitif suku bunga akan terdongkrak naik akibat pelonggaran kebijakan moneter ini. Saham sektor teknologi misalnya, diprediksi masih sulit mendaki. Alasannya, kinerja dan valuasi emiten sektor teknologi masih belum menarik.
Di sisi lain, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai, bagi sektor keuangan, penurunan suku bunga berpotensi mengurangi risiko kenaikan non-performing loan (NPL). Bagi sektor properti, pemangkasan suku bunga yang dibarengi perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berpeluang mendongkrak marketing sales pada kuartal IV-2024. Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project William Hartanto memperkirakan, sektor yang telah naik di bulan Agustus yakni energi, konsumsi non-primer, properti, keuangan dan infrastruktur masih bisa lanjut menanjak meski terbatas. William menjagokan saham PTBA, ADRO, SRTG, MPMX, ITMG, WIKA, TOTL, CTRA, dan BSDE. Daniel menjagokan sektor keuangan dan properti, dengan rekomendasi saham BBRI, BBTN, BTPS, BSDE, dan SMRA. Sedangkan Ike menyarankan saham berfundamental sehat dan secara teknikal menarik di sektor keuangan, seperti BBRI, BBCA, BBNI, BFIN, dan ARTO. Sedangkan Emil menjagokan saham sektor keuangan, properti, konsumsi non-primer dan sektor energi.
Bursa Tak Lagi Riang Menanti Keputusan Bunga
Setelah berkali-kali mencetak rekor sepanjang masa alias all time high (ATH) di sepanjang Agustus lalu, pada September ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan diuji untuk bisa mencetak rekor serupa. Memasuki awal September, IHSG melangkah dari posisi 7.670,73. Level ini didapat usai IHSG melonjak 4,96% dalam sebulan terakhir dan menembus ATH 7.715,75 pada Agustus. Head of Institutional Research Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy menilai, setelah menanjak di Agustus, investor perlu waspada. Sebab, September bukan jadi bulan ceria bagi IHSG. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mencatat, secara historis, performa IHSG melambat di bulan September.
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menyoroti hal yang sama. Dalam 10 tahun terakhir bulan September, IHSG hanya mampu menguat pada 2017 dan 2021. Pada September ini, sentimen utama yang akan menentukan arah IHSG adalah kebijakan suku bunga The Fed. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengamini, keputusan The Fed akan menjadi sentimen penting, bersamaan dengan pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Namun, jika pemangkasan suku bunga hanya 25 basis points (bps), efeknya cenderung flat. Sebab, sentimen ini sudah cenderung priced in atau diantisipasi pelaku pasar. Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada berharap, tren kenaikan IHSG masih berlanjut. "Namun harus realistis, jika pelaku pasar mulai profit taking dan ada sentimen negatif, IHSG bisa melemah," kata Reza.
Laba Emiten Rokok Menguap
Kenaikan tarif cukai jadi bandul pemberat kinerja keuangan emiten rokok. Di semester pertama tahun ini, seluruh emiten rokok membukukan rapor merah. Terbaru, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melaporkan pendapatan yang terkoreksi 10,45% secara tahunan menjadi Rp 50,01 triliun di semester I-2024. Padahal, di periode yang sama tahun 2023, GGRM masih mencatat penjualan dan pendapatan Rp 55,85 triliun. Alhasil, laba bersih GGRM di enam bulan pertama tahun ini tergerus 71,8% menjadi Rp 925,51 miliar dari Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, Heru Budiman menyampaikan, penurunan kinerja keuangan perseroan dipicu turunnya volume penjualan. Ini imbas dari kenaikan tarif cukai. Pada 2024, pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 10%. Dus, kebijakan itu mengerek harga jual rokok. Heru bilang, hingga akhir Juni 2024, volume penjualan rokok GGRM mencapai 27,8 miliar batang. Turun 14,4% dari periode sama tahun lalu sebanyak 32,5 miliar batang. Biaya pokok pendapatan GGRM mencapai Rp 44,95 triliun pada semester I-2024, turun 6,2% dari sebelumnya Rp 47,91 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penyebabnya, kenaikan biaya cukai 3,1% dan penurunan volume penjualan. Penurunan laba juga dialami PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Di semester I-2024, HMSP mencetak laba bersih Rp 3,31 triliun, turun 11,55% secara tahunan dari Rp 3,75 triliun per Juni 2023.
Penurunan laba HMSP terjadi ketika penjualan bersih emiten ini naik 2,96% secara tahunan menjadi Rp 57,81 triliun.
Senasib, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatat penurunan laba dan pendapatan di semester I-2024. Di periode ini, WIIM meraup laba bersih Rp 147,24 miliar, anjlok 40,35% secara tahunan. Penurunan laba WIIM seiring merosotnya penjualan sebesar 6,68% secara tahunan jadi Rp 2,22 triliun.
Direktur PT Rumah Para Pedagang Kiswoyo Adi memproyeksi, prospek kinerja emiten rokok hingga akhir tahun ini masih berat. Salah satu sentimen, kenaikan tarif cukai progresif dan pembatasan iklan rokok untuk masyarakat. "Sudah iklan dibatasi, kenaikan cukai juga progresif," kata Kiswoyo.
Sedangkan Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo merekomendasi
buy on weakness
HMSP dan GGRM dengan target harga masing-masing hingga akhir tahun Rp 950 dan Rp 19.500 per saham.
Kualitas Saham IPO Masih di Bawah Harapan
Kredibilitas Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meloloskan perusahaan untuk mencatatkan saham di bursa menuai sorotan publik. Mencuat kabar adanya gratifikasi senilai Rp 20 miliar dalam proses pengurusan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO). Kasus suap ini melibatkan lima karyawan BEI. Kabar beredar di grup-grup investor saham, praktik seperti ini sudah berlangsung lama. Imbasnya, banyak saham emiten baru di BEI yang kinerjanya tidak perform. Kondisi itu tercermin dari banyaknya harga saham emiten yang baru IPO terjun bebas. Bahkan ada yang sudah masuk ke dalam papan pemantauan khusus dan diperdagangkan secara periodic call auction . Catatan KONTAN, dari 34 emiten yang IPO di sepanjang tahun 2024 berjalan, sudah ada 16 emiten yang harga sahamnya anjlok dari penawaran IPO. Hingga menutup perdagangan bursa Rabu (28/8), penurunan harga paling tajam terjadi pada saham PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) sebesar 76,98%. Emiten ayam goreng yang melantai di BEI pada 15 Februari 2024 ini menetapkan harga penawaran IPO di Rp 278 per saham. Kemarin, saham BAIK tinggal Rp 64.
Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy berpendapat, jumlah emiten baru yang terus naik tidak diiringi peningkatan kualitas perusahaan yang IPO. "Ini karena jumlah pertumbuhan perusahaan IPO setiap tahunnya jadi target BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," kata dia ke KONTAN, kemarin.
Setali tiga uang, Pengamat Pasar Modal, Satrio Utomo mengatakan, selama ini pihak regulator pasar modal hanya terkesan mengejar kuantitas IPO, bukan melindungi masyarakat dan investor. "BEI dan OJK harus lebih jujur, selama ini mereka hanya melindungi beneficial owner alias bandar," katanya.
I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian BEI menegaskan, selama ini tidak terjadi pelanggaran peraturan oleh calon perusahaan tercatat untuk bisa melantai di BEI.
Aman Santosa, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK menjelaskan, terkait adanya dugaan gratifikasi proses IPO, BEI sudah melakukan koordinasi dengan OJK.
Melihat Peluang di IHSG yang Menawan
Setelah sempat mengalami koreksi pada penutupan perdagangan Selasa (27/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tancap gas. Bahkan, menutup perdagangan pada Rabu kemarin (28/8), IHSG kembali memperbarui rekor sepanjang masanya alias all time high (ATH) ke 7.658,87, naik 0,80% dibanding hari sebelumnya. Terakhir, IHSG mencetak rekor baru pada penutupan perdagangan Senin (26/8), dengan menembus level 7.606,19. Indeks bursa nasional juga berhasil menembus rekor intraday tertinggi sepanjang masa di level 7.672,28. Sementara rekor sebelumnya berada di level 7.619 yang terjadi pada 26 Agustus lalu. Meski ada sedikit penurunan hingga penutupan perdagangan, tetapi IHSG masih mampu berada di level 7.600.
Equity Research
Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mencermati, penguatan IHSG mencapai rekor disebabkan potensi pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, pada September mendatang. Jika terwujud, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengekor langkah The Fed untuk memotong suku bunganya.
Andrey Wijaya,
Head of Research
RHB Sekuritas menambahkan, katalis utama pergerakan IHSG saat ini adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Pasalnya, nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS. Kemarin, rupiah di pasar
spot ditutup Rp 15.422 per dolar AS, menguat 0,47% dari sehari sebelumnya di Rp 15.495 per dolar AS.
Setali tiga uang, Kiwoom Sekuritas juga mengatrol naik target IHSG di sisa tahun 2024. Sekuritas ini masih mempertahankan target IHSG di posisi 7.800. Di tengah penguatan IHSG, Azis menyarankan IHSG bisa melirik saham-saham
big caps
yang valuasinya masih murah.
Head of Equity Research
Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer menjelaskan, saat ini pasar memproyeksikan adanya pemotongan suku bunga The Fed sebesar 100 basis poin (bps) di kuartal terakhir 2024. Sebelumnya, Mandiri Sekuritas hanya memprediksi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 bps.
Bursa Terhuyung oleh Dugaan Skandal IPO
Dunia pasar modal Indonesia kembali geger. Secarik kertas tanpa identitas nama pengirim diterima sejumlah awak media, Senin (26/8). Isinya cukup mengejutkan: lima orang karyawan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dipecat pada periode Juli-Agustus 2024. Pemecatan itu diduga buntut dari pelanggaran yang dilakukan lima orang oknum karyawan BEI terkait permintaan imbalan dan gratifikasi jasa agar saham emiten bisa tercatat di BEI. Kelima oknum BEI itu diduga membentuk sebuah perusahaan jasa penasihat, yang dijadikan tempat penampungan dana gratifikasi sebesar Rp 20 miliar. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia Kautsar Primadi Nurahmad mengakui, telah terjadi pelanggaran etika yang melibatkan oknum karyawan BEI. Namun, I Gede Nyoman Yetna,
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia enggan merinci soal alasan pemecatan oknum karyawan BEI yang telah melanggar etika tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif & Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, membenarkan, ke lima karyawan BEI yang diduga melanggar kode etik sudah dipecat.
Dugaan suap karyawan BEI menambah daftar kasus kelam di pasar modal Indonesia. Memprihatinkan, ini terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berulang kali mencetak rekor barunya sepanjang masa atau
all time high
(ATH).
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, kasus gratifikasi IPO bermasalah bisa menyebabkan minat investasi di pasar modal semakin merosot.
Sepanjang tahun berjalan ini, emiten-emiten yang menggelar IPO juga hanya mencari dana 'recehan'. Di sepanjang Juli lalu, misalnya, bursa saham Indonesia dibanjiri emiten-emiten berskala kecil yang mencari pendanaan lewat IPO di bawah Rp 100 miliar.
Pengamat pasar modal dan mantan Direktur Utama BEI Hasan Zein Mahmud menyatakan, BEI perlu menjalankan transparansi dalam memilih calon emiten baru.
Ekspansi ke Pasar Ekspor
Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terus melebarkan sayap ke pasar ekspor. Kali ini, KLBF tengah menyasar Afrika dan Timur Tengah, sembari tetap memperkuat kehadirannya di pasar Asia Tenggara. Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy mengatakan, sebagai langkah awal, KLBF perlu mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di masing-masing negara. KLBF juga gencar memperkuat posisi di Asia Tenggara. Khususnya di Filipina, Myanmar dan Malaysia. Ketiga negara ini memberikan pertumbuhan yang baik terhadap penjualan KLBF di kawasan ASEAN. Untuk pasar ASEAN, KLBF mulai memperkuat posisi di Thailand. Pada pertengahan 2024, KLBF melalui anak usahanya Kalbe International Pt Ltd. telah mengakuisisi 49% saham Alliance Pharma Co Ltd.
Dengan aksi korporasi itu, peluang melakukan penetrasi pasar di Negeri Gajah Putih telah terbuka lebar. Kartika mengatakan, pasar Thailand khususnya obat resep sangat positif, khususnya obat-obatan khusus, onkologi dan kanker.
Demi menjaga margin, KLBF juga berupaya melepas ketergantungan dari bahan baku impor yang rentan dipengaruhi fluktuasi rupiah. KLBF pun berupaya meningkatkan kemampuan untuk memproduksi bahan baku obat sendiri. Terbaru, KLBF telah menjalin kerja sama dengan Livzon Pharmaceutical Group Inc dengan mendirikan perusahaan patungan untuk memproduksi bahan baku obat yang akan dimanfaatkan untuk pasar dalam dan luar negeri.
Equity Research
BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto memperkirakan, segmen obat
speciality
KLBF seperti onkologi dan biosimilar akan meningkat secara bertahap di masa mendatang. Natalia mempertahankan rekomendasi beli KLBF dengan target harga di Rp 1.800 per saham.
Pilihan Editor
-
Sistem Pangan Harus Berbasis Keberagaman Lokal
31 Dec 2021 -
Perkebunan Sawit Rakyat Tumbuh Berkelanjutan
31 Dec 2021 -
Transformasi Sistem Pangan
31 Dec 2021 -
Mengembangkan EBT harus Utamakan Komponen Lokal
30 Dec 2021









