;
Tags

Bursa

( 810 )

TOWR Siap Lakukan Right Issue Senilai Rp 9 Triliun

HR1 19 Sep 2024 Kontan

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) membidik dana jumbo dari rights issue. Nilai saham baru yang diterbitkan dari rights issue tersebut sebanyak-banyaknya sebesar Rp 9 triliun. TOWR akan melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHEMTD) dengan harga penawaran yang akan ditetapkan dan diumumkan kemudian dalam prospektus. Untuk aksi korporasi ini, TOWR akan meminta restu dalam RUPSLB 25 Oktober 2024 mendatang. "Pelaksanaan PMHMETD harus dilakukan paling lambat 12 bulan setelah tanggal persetujuan RUPSLB," tulis manajemen TOWR dalam prospektus ringkas, Rabu (18/9). 

Dana hasil rights issue tersebut, akan digunakan untuk membayar pinjaman dan keperluan modal kerja TOWR dan/atau anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo). Jika aksi korporasi ini tidak memperoleh persetujuan dari RUPSLB, maka rencana tersebut baru dapat diajukan kembali 12 bulan setelah pelaksanaan RUPSLB. Deputi Head of Research Sucor Sekuritas, Paulus Jimmy melihat, rencana right issue yang dilakukan TOWR akan berdampak positif untuk kinerja TOWR dalam jangka panjang. Ini mengingat tujuan penggunaan dana untuk modal kerja dan deleveraging. Melihat kinerja fundamental TOWR, right issue ini juga bukan disebabkan arus kas TOWR yang memburuk. Sedangkan analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, pergerakan saham TOWR ada di level support Rp 720 dan resistance Rp 860. Herditya pun merekomendasikan buy on weakness untuk TOWR dengan target harga Rp 885–Rp 955 per saham.

Pengambilalihan Baru, Harapan Baru di Dunia Bisnis

HR1 18 Sep 2024 Kontan

Aksi akuisisi pergantian pemegang saham pengendali di emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terjadi. Terbaru, PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk (KMDS) dan PT Lini Imaji Kreasi Ekosistem Tbk (FUTR) sedang melakukan proses dan negosiasi transaksi jual beli saham antara pengendali saham lama dan calon pengendali baru. Direktur Utama Kurniamitra Duta Sentosa, Hengky Wijaya menyampaikan, pada 11 September 2024, PT Dima Investindo (DI) telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham dengan PT Miki Ojisan Indomitra (MOI) dan KMDS. Kesepakatan itu terkait rencana pengambilalihan 440 juta saham milik MOI, mewakili 55% modal dalam KMDS. "Transaksi ini dapat menyebabkan perubahan pengendali saham KMDS," kata Hengky, dalam keterbukaan informasi, Kamis (12/9). Beberapa hari sebelumnya, pengumuman serupa disampaikan manajemen FUTR. Direktur Utama FUTR, Martha Rebecca menyatakan, terdapat proses negosiasi antara PT Investasi Gemilang Maju (IGM) selaku calon penjual dan PT Hexa Prima Nusantara (HPN) calon pembeli. Pelaku pasar sempat merespons positif rencana pergantian pemegang saham pengendali ini. 

Tercermin dari lonjakan harga saham KMDS di penutupan perdagangan Selasa (17/9) sebesar 5% ke level Rp 735 per saham. Harga saham PT Meratus Jasa Prima Tbk (KARW) dan PT Green Power Group Tbk (LABA) juga meroket hingga ribuan persen pasca pergantian pengendali. Pada Selasa (17/9), harga KARW ambles 9,94% ke Rp 2.810 dan LABA naik 3,01% jadi Rp 685 per saham. Namun, saham KARW sudah mengakumulasi kenaikan hingga 5.520% dan LABA terbang 1.270% sejak awal tahun ini. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menyoroti, pergantian pengendali dapat mengubah arah perusahaan. Kehadiran pemilik anyar biasanya membawa strategi baru. Terlebih jika pengendali baru telah berpengalaman di industrinya. Founder & CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto sepakat, posisi dan reputasi pengendali baru akan menentukan perubahan strategi bisnis dan prospek kinerja. Strategi ini bisa mengubah prospek pendapatan dan marjin laba emiten. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana mengamini, pelaku pasar mesti mencermati rekam jejak pengendali baru dan rencana bisnis yang akan dibawa untuk emiten. Kemudian, pertimbangkan kembali performa fundamental emiten setelah diakuisisi. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menilai, kenaikan harga saham emiten saat awal pengumuman perubahan pengendali biasanya terdorong oleh ekspektasi pasar. Dengan adanya perubahan pengendali, ada perbaikan prospek kinerja emiten.

IHSG Berpotensi Menguat: Analisis Pasar Terbaru

HR1 18 Sep 2024 Kontan

Pasca libur panjang, rupiah menguat ke kisaran Rp 15.300. Melansir Bloomberg, rupiah spot ditutup di Rp 15.335 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (17/9), menguat 0,44% dibanding penutupan Jumat (13/9). Rupiah Jisdor BI juga menguat 0,43% ke Rp 15.338 per dolar AS. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, penguatan rupiah didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga the Fed yang lebih agresif pada rapat FOMC pekan ini. "Tren pelemahan indeks dolar AS sudah terjadi sejak Jumat lalu yang dipengaruhi oleh penurunan harga barang impor di AS," kata Josua, Selasa (17/8). Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menambahkan, data perdagangan Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan menjadi katalis positif bagi penguatan rupiah. Sementara Josua meramal, rupiah bergerak sideway menjelang pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Rupiah berpeluang di kisaran Rp 15.275–Rp 15.375.

IHSG Berpeluang Kembali Menembus Rekor Tertinggi

KT1 17 Sep 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat (mixed to higher) di pekan penetapan suku bunga The Fed (Fed Fund Rate/FFR) pada minggu ini. IHSG berpeluang kembali menembus rekor tertinggi baru (all time high/ATH) dengan batasan resistance di 7.833-7.911. "Pergerakan IHSG akan lebih dipengaruhi sentimen terkait dengan bank sentral Amerika (The fed) dalam penerapan suku  bunga acuan. IHSG dipekan ini cenderung mixed to higher dengan support 7.765-7.723 dan resistance 7.833-7911," kata Senior Market Chartist-Retail Business Mirea Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily. Nafan mengungkapkan, rapat the Fed (FOMC) yang akan digelar pada 17-18 September mendatang, akan menjadi perhatian pelaku pasar dan sentimen penggerak pasar IHSG di pekan ini. "Tentunya kita berharap the Fed juga memberikan sinyal kuat adanya kebijakan pelongggaran moneter ke depannya. Sehingga pelonggaran moneter ini akan meningkat likuiditas pasar," ujar dia.

Suku Bunga Rendah, Emiten Ritel Semakin Menggeliat

HR1 17 Sep 2024 Kontan

Rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed untuk memangkas bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan FOMC pekan ini, bakal jadi angin segar bagi kinerja emiten ritel nasional. Langkah The Fed itu akan diikuti sejumlah bank sentral lain, termasuk Bank Indonesia (BI). Kebijakan pelonggaran moneter diprediksi akan berujung ke perbaikan daya beli konsumen. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina memprediksi, sektor ritel menunjukkan kinerja positif di kuartal IV-2024. Prediksi itu terealisasi jika BI turut memangkas bunga. "Penurunan suku bunga akan memperkuat daya beli masyarakat dan mendorong kenaikan konsumsi rumah tangga," kata Martha, akhir pekan lalu. Pemangkasan suku bunga dan peningkatan kepercayaan konsumen akan mendorong masyarakat lebih aktif belanja barang dan jasa. Marthe memperkirakan, sektor ritel, khususnya segmen barang konsumsi, fesyen, dan elektronik akan mendapat keuntungan dari tren tersebut. Terlebih, kinerja keuangan sejumlah emiten ritel masih dalam tren positif di enam bulan pertama tahun ini. Contohnya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) atau Alfamart, meraup laba bersih Rp 1,7 triliun pada semester I 2024. Laba AMRT ini tumbuh 6,2% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya Rp 1,6 triliun. Research Analyst Mirae Asset, Abyan Habib Yuntoharjo mengamati, prospek ACES masih akan tumbuh positif di sisa tahun 2024. Ini didorong potensi penurunan suku bunga, yang akan berdampak positif pada daya beli masyarakat. "Sentimen positif ini akan lebih terlihat nanti setelah pemangkasan suku bunga," kata Abyan.

Kabut Asap dan Regulasi Baru: Tantangan Baru Dunia Usaha

HR1 17 Sep 2024 Kontan

Kinerja PT Gudang Garam Tbk (GGRM) suram di tengah kenaikan cukai ketika daya beli masyarakat masih lemah. Emiten sektor rokok ini diperkirakan masih bakal dipenuhi kabut asap karena kurangnya katalis positif. GGRM melaporkan hasil kinerja yang buruk pada kuartal kedua 2024, dengan laba bersih anjlok 75,1% year on year (yoy) dan 44,7% quarter on quarter (qoq) menjadi Rp 329 miliar. Sehingga, laba bersih GGRM pada semester I-2024 tergerus jadi Rp 925 miliar, turun 71% yoy. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Putu Chantika Putri mengamati, kinerja GGRM disebabkan beberapa faktor, termasuk pertumbuhan pendapatan yang melambat. GGRM juga tertinggal dari pesaing utama karena penurunan penjualan segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM). Penurunan pendapatan dari SKM sekitar -10,6% yoy. Sedangkan pendapatan Sigaret Kretek Tangan (SKT) masih tumbuh sebesar 8,4% yoy menjadi Rp 2,3 triliun. 

Margin kotor GGRM juga terkikis karena kurangnya kenaikan harga jual produk. Di sisi lain, biaya pengeluaran (opex) GGRM tercatat lebih tinggi. Analis Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari melihat, nilai penjualan SKM GGRM yang mencapai titik terendah dalam beberapa tahun menunjukan bahwa terjadi peralihan ke produk dengan harga yang lebih murah (downtrading). Putu mengatakan, tekanan bagi GGRM nampaknya masih belum berakhir hingga akhir tahun ini. Hal itu karena tingkat penjualan lemah, kurangnya katalis nyata untuk meningkatkan daya beli. Karena itu, Putu merevisi perkiraan penjualan GGRM akan lebih rendah. Pendapatan GGRM diperkirakan makin tergerus menjadi hanya Rp 103,15 triliun dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 109,41 triliun dan capaian tahun 2023 sebesar Rp 118,95 triliun. Di sisi lain, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, peluang pemangkasan suku bunga dapat menjadi katalis positif bagi GGRM karena dapat meningkatkan kembali konsumsi domestik. "Tapi pemulihan membutuhkan waktu lama, kata Nafan, ke KONTAN, kemarin.

Penjualan Merosot, Laba INTP Terus Tertekan

HR1 13 Sep 2024 Kontan

Emiten semen harap-harap cemas menanti keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, dalam memangkas suku bunga acuan pada pertemuan FOMC pekan depan. Maklum, langkah The Fed ini bisa menjadi sentimen positif bagi prospek bisnis emiten semen. Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), Dani Handajani mengatakan, kebijakan The Fed memotong suku bunga bisa diikuti Bank Indonesia (BI). "Pemangkasan suku bunga akan mendorong investasi di sektor riil. Misalnya sektor properti yang akan menjadi pendorong permintaan semen," ujar Dani, Sabtu (9/9). Selama enam bulan pertama tahun ini, INTP membukukan volume penjualan semen dan klinker 9,03 juta ton. Angka ini lebih tinggi 672.000 ton atau naik 8% secara tahunan. Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe melihat, kinerja INTP di kuartal tiga ini masih berat. Sentimennya ialah masih lesunya permintaan pasar semen domestik dan luar negeri, terutama China. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto melihat, kinerja emiten semen di kuartal II cenderung lemah. Sebab, ada musim libur lebaran dan cuaca. Tapi, di semester tiga biasanya ada lonjakan permintaan, karena pembangunan kembali berjalan.

Dividen Jadi Target Utama Emiten BUMN

HR1 12 Sep 2024 Kontan

Kinerja emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bakal menghadapi tantangan berat. Pada 2025, pemerintah menargetkan dividen BUMN bisa tembus Rp 90 triliun. Target dividen ini naik 4,85% dari setoran dividen BUMN tahun 2024 sebesar Rp 85,84 triliun. Besarnya target dividen itu, jelas menjadi beban bagi emiten BUMN. Di sisi lain, naiknya setoran dividen bisa menjadi berkah bagi investor pasar modal untuk menadah pembagian dividen dari emiten pelat merah. 

Terlebih, beberapa emiten BUMN yang tergabung dalam IDX BUMN 20 masih konsisten menebar dividen jumbo. Contohnya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Emiten halo-halo ini membagikan dividen tunai dari laba bersih tahun buku 2023 sebesar 72% dari laba bersihnya. Tak hanya TLKM, emiten BUMN tambang PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), juga menebar dividen jumbo untuk tahun buku 2023. Bahkan, ANTM membagikan dividen tunai dengan porsi 100% dari laba bersihnya di sepanjang 2023 Rp 3,07 triliun atau Rp 128 per saham. 

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani melihat, penurunan kinerja indeks IDX BUMN20 disebabkan koreksi beberapa saham berkapitalisasi besar yang kinerja sahamnya melemah sejak awal tahun. Misalnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) punya bobot 15,74% ke IDX BUMN20. Saham BBRI pun sudah turun 8,29% sejak awal tahun. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi melihat, kinerja IDX BUMN20 memang lebih lambat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja IHSG saat ini tercatat 6,71% secara YTD.

Saham Konsumsi Mencapai Titik Balik: Saatnya Bangkit?

HR1 11 Sep 2024 Bisnis Indonesia (H)

Peluang kebangkitan saham sektor konsumer yang sebelumnya tertinggal di bursa, dengan dukungan dari meningkatnya optimisme konsumen. Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, menekankan bahwa hasil survei Bank Indonesia yang menunjukkan peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 124,4 pada Agustus 2024, mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi yang berpotensi mendorong kinerja emiten konsumer.

Meskipun indeks saham consumer non-cyclicals masih lambat dengan hanya naik 0,5% year-to-date (YtD), dibandingkan dengan IHSG yang melonjak 6,72% YtD, Nafan optimistis bahwa sentimen positif dari konsumen dapat menjadi katalis untuk sektor ini. Beberapa saham yang sudah menunjukkan perbaikan seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) telah mengalami kenaikan masing-masing 9,46% dan 9,30% YtD.

Henry Wibowo, Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Indonesia, menyatakan bahwa sektor konsumer, khususnya fast moving consumer goods (FMCG) dan consumer discretionary, akan tumbuh seiring perkiraan produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia melampaui US$5.000 pada 2024. Henry membandingkan kondisi ini dengan China pada 2011, ketika PDB per kapitanya juga mencapai angka serupa, yang memicu lonjakan konsumsi domestik.

Natalia Sutanto dan Sabela Nur Amalia dari BRI Danareksa Sekuritas juga menambahkan bahwa pemilu serentak pada November 2024 serta penguatan nilai tukar rupiah akan memberikan dampak positif pada daya beli masyarakat. Mereka merekomendasikan saham ICBP dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), yang dinilai mampu bertahan di tengah gejolak harga bahan baku dan volatilitas kurs.

Dari sisi emiten, Anthoni Salim, Direktur Utama ICBP, menyatakan bahwa perusahaan akan terus memanfaatkan ketangguhan model bisnisnya untuk menjaga pertumbuhan. Wardhana Atmadja, Direktur MYOR, menambahkan bahwa Mayora akan menaikkan harga beberapa produknya akibat kenaikan harga bahan baku seperti biji kakao dan kopi, namun diversifikasi produk diharapkan dapat meminimalkan dampaknya.

Keseluruhan optimisme ini menunjukkan bahwa sektor konsumer memiliki prospek yang cerah, terutama dengan dukungan peningkatan daya beli dan sentimen positif dari konsumen.

Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Pasar September

HR1 11 Sep 2024 Kontan (H)

Di berbagai bursa global, September bukanlah bulan yang baik untuk para pelaku pasar. Ada istilah September Effect atau Summer Effect atau Black September yang kerap digunakan untuk menggambarkan perdagangan saham di bulan September. Secara historis, September kerap menjadi bulan dengan kinerja terburuk. Beberapa teori menyebutkan kalau perilaku investor yang melakukan penyesuaian portofolio setelah liburan musim panas menjadi penyebabnya. Dalam satu dekade terakhir, return indeks Dow Jones Industrial Average di Amerika Serikat (AS) bulan September cenderung negatif, dengan rata-rata imbal hasil minus 1,53%. Dibandingkan bulan-bulan lainn return September menjadi yang terburuk bagi indeks Dow Jones dalam 10 tahun terakhir. Kabar baiknya, imbal hasil negatif belum terlihat di dua pekan awal bulan September ini. IHSG justru berotot dan sudah beberapa kali menyentuh rekor harga tertinggi baru. Sejak awal September ini, IHSG sudah menguat 1,18%. Bahkan IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa (10/9) ke level 7.761,38. Tapi, tetap waspada karena September Effect masih bisa terjadi. Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang mengatakan, di bulan September tahun ini, ada kondisi yang berbeda dari sebelumnya. 

"Secara global, September 2024 merupakan masa penantian bank sentral AS Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps)," katanya kepada KONTAN, Selasa (10/9). Setali tiga uang, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina juga menekankan adanya potensi sell on news , jika pemangkasan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Tapi, lain cerita kalau penurunan suku bunga mencapai 50 bps. Dia masih optimis IHSG bisa berada di level 7.915 pada akhir tahun ini. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, jika terjadi koreksi, pelemahan IHSG pada bulan ini tidak akan terlalu dalam dan berlangsung lama. Level kuat IHSG saat ini berada di 7.700. Martha menilai, adanya potensi koreksi usai FOMC bisa menjadi kesempatan bagi investor melakukan buy on weakness alias membeli jika harganya sudah turun. Apalagi, secara historis IHSG dan sejumlah indeks global cenderung menguat signifikan di bulan Oktober mendatang.