Bursa
( 805 )Suku Bunga Rendah, Emiten Ritel Semakin Menggeliat
Rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed untuk memangkas bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan FOMC pekan ini, bakal jadi angin segar bagi kinerja emiten ritel nasional.
Langkah The Fed itu akan diikuti sejumlah bank sentral lain, termasuk Bank Indonesia (BI). Kebijakan pelonggaran moneter diprediksi akan berujung ke perbaikan daya beli konsumen.
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina memprediksi, sektor ritel menunjukkan kinerja positif di kuartal IV-2024. Prediksi itu terealisasi jika BI turut memangkas bunga. "Penurunan suku bunga akan memperkuat daya beli masyarakat dan mendorong kenaikan konsumsi rumah tangga," kata Martha, akhir pekan lalu.
Pemangkasan suku bunga dan peningkatan kepercayaan konsumen akan mendorong masyarakat lebih aktif belanja barang dan jasa.
Marthe memperkirakan, sektor ritel, khususnya segmen barang konsumsi, fesyen, dan elektronik akan mendapat keuntungan dari tren tersebut.
Terlebih, kinerja keuangan sejumlah emiten ritel masih dalam tren positif di enam bulan pertama tahun ini.
Contohnya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) atau Alfamart, meraup laba bersih Rp 1,7 triliun pada semester I 2024. Laba AMRT ini tumbuh 6,2% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya Rp 1,6 triliun.
Research Analyst
Mirae Asset, Abyan Habib Yuntoharjo mengamati, prospek ACES masih akan tumbuh positif di sisa tahun 2024. Ini didorong potensi penurunan suku bunga, yang akan berdampak positif pada daya beli masyarakat. "Sentimen positif ini akan lebih terlihat nanti setelah pemangkasan suku bunga," kata Abyan.
Kabut Asap dan Regulasi Baru: Tantangan Baru Dunia Usaha
Kinerja PT Gudang Garam Tbk (GGRM) suram di tengah kenaikan cukai ketika daya beli masyarakat masih lemah. Emiten sektor rokok ini diperkirakan masih bakal dipenuhi kabut asap karena kurangnya katalis positif. GGRM melaporkan hasil kinerja yang buruk pada kuartal kedua 2024, dengan laba bersih anjlok 75,1% year on year (yoy) dan 44,7% quarter on quarter (qoq) menjadi Rp 329 miliar. Sehingga, laba bersih GGRM pada semester I-2024 tergerus jadi Rp 925 miliar, turun 71% yoy. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Putu Chantika Putri mengamati, kinerja GGRM disebabkan beberapa faktor, termasuk pertumbuhan pendapatan yang melambat. GGRM juga tertinggal dari pesaing utama karena penurunan penjualan segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM). Penurunan pendapatan dari SKM sekitar -10,6% yoy. Sedangkan pendapatan Sigaret Kretek Tangan (SKT) masih tumbuh sebesar 8,4% yoy menjadi Rp 2,3 triliun.
Margin kotor GGRM juga terkikis karena kurangnya kenaikan harga jual produk. Di sisi lain, biaya pengeluaran (opex) GGRM tercatat lebih tinggi.
Analis Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari melihat, nilai penjualan SKM GGRM yang mencapai titik terendah dalam beberapa tahun menunjukan bahwa terjadi peralihan ke produk dengan harga yang lebih murah (downtrading).
Putu mengatakan, tekanan bagi GGRM nampaknya masih belum berakhir hingga akhir tahun ini. Hal itu karena tingkat penjualan lemah, kurangnya katalis nyata untuk meningkatkan daya beli.
Karena itu, Putu merevisi perkiraan penjualan GGRM akan lebih rendah. Pendapatan GGRM diperkirakan makin tergerus menjadi hanya Rp 103,15 triliun dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 109,41 triliun dan capaian tahun 2023 sebesar Rp 118,95 triliun.
Di sisi lain,
Senior Market Chartist
Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, peluang pemangkasan suku bunga dapat menjadi katalis positif bagi GGRM karena dapat meningkatkan kembali konsumsi domestik. "Tapi pemulihan membutuhkan waktu lama, kata Nafan, ke KONTAN, kemarin.
Penjualan Merosot, Laba INTP Terus Tertekan
Emiten semen harap-harap cemas menanti keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, dalam memangkas suku bunga acuan pada pertemuan FOMC pekan depan. Maklum, langkah The Fed ini bisa menjadi sentimen positif bagi prospek bisnis emiten semen.
Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), Dani Handajani mengatakan, kebijakan The Fed memotong suku bunga bisa diikuti Bank Indonesia (BI). "Pemangkasan suku bunga akan mendorong investasi di sektor riil. Misalnya sektor properti yang akan menjadi pendorong permintaan semen," ujar Dani, Sabtu (9/9).
Selama enam bulan pertama tahun ini, INTP membukukan volume penjualan semen dan klinker 9,03 juta ton. Angka ini lebih tinggi 672.000 ton atau naik 8% secara tahunan.
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe melihat, kinerja INTP di kuartal tiga ini masih berat. Sentimennya ialah masih lesunya permintaan pasar semen domestik dan luar negeri, terutama China.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto melihat, kinerja emiten semen di kuartal II cenderung lemah. Sebab, ada musim libur lebaran dan cuaca. Tapi, di semester tiga biasanya ada lonjakan permintaan, karena pembangunan kembali berjalan.
Dividen Jadi Target Utama Emiten BUMN
Kinerja emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bakal menghadapi tantangan berat. Pada 2025, pemerintah menargetkan dividen BUMN bisa tembus Rp 90 triliun. Target dividen ini naik 4,85% dari setoran dividen BUMN tahun 2024 sebesar Rp 85,84 triliun. Besarnya target dividen itu, jelas menjadi beban bagi emiten BUMN. Di sisi lain, naiknya setoran dividen bisa menjadi berkah bagi investor pasar modal untuk menadah pembagian dividen dari emiten pelat merah.
Terlebih, beberapa emiten BUMN yang tergabung dalam IDX BUMN 20 masih konsisten menebar dividen jumbo. Contohnya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Emiten halo-halo ini membagikan dividen tunai dari laba bersih tahun buku 2023 sebesar 72% dari laba bersihnya. Tak hanya TLKM, emiten BUMN tambang PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), juga menebar dividen jumbo untuk tahun buku 2023. Bahkan, ANTM membagikan dividen tunai dengan porsi 100% dari laba bersihnya di sepanjang 2023 Rp 3,07 triliun atau Rp 128 per saham.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani melihat, penurunan kinerja indeks IDX BUMN20 disebabkan koreksi beberapa saham berkapitalisasi besar yang kinerja sahamnya melemah sejak awal tahun.
Misalnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) punya bobot 15,74% ke IDX BUMN20. Saham BBRI pun sudah turun 8,29% sejak awal tahun.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi melihat, kinerja IDX BUMN20 memang lebih lambat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja IHSG saat ini tercatat 6,71% secara YTD.
Saham Konsumsi Mencapai Titik Balik: Saatnya Bangkit?
Peluang kebangkitan saham sektor konsumer yang sebelumnya tertinggal di bursa, dengan dukungan dari meningkatnya optimisme konsumen. Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, menekankan bahwa hasil survei Bank Indonesia yang menunjukkan peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 124,4 pada Agustus 2024, mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi yang berpotensi mendorong kinerja emiten konsumer.
Meskipun indeks saham consumer non-cyclicals masih lambat dengan hanya naik 0,5% year-to-date (YtD), dibandingkan dengan IHSG yang melonjak 6,72% YtD, Nafan optimistis bahwa sentimen positif dari konsumen dapat menjadi katalis untuk sektor ini. Beberapa saham yang sudah menunjukkan perbaikan seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) telah mengalami kenaikan masing-masing 9,46% dan 9,30% YtD.
Henry Wibowo, Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Indonesia, menyatakan bahwa sektor konsumer, khususnya fast moving consumer goods (FMCG) dan consumer discretionary, akan tumbuh seiring perkiraan produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia melampaui US$5.000 pada 2024. Henry membandingkan kondisi ini dengan China pada 2011, ketika PDB per kapitanya juga mencapai angka serupa, yang memicu lonjakan konsumsi domestik.
Natalia Sutanto dan Sabela Nur Amalia dari BRI Danareksa Sekuritas juga menambahkan bahwa pemilu serentak pada November 2024 serta penguatan nilai tukar rupiah akan memberikan dampak positif pada daya beli masyarakat. Mereka merekomendasikan saham ICBP dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), yang dinilai mampu bertahan di tengah gejolak harga bahan baku dan volatilitas kurs.
Dari sisi emiten, Anthoni Salim, Direktur Utama ICBP, menyatakan bahwa perusahaan akan terus memanfaatkan ketangguhan model bisnisnya untuk menjaga pertumbuhan. Wardhana Atmadja, Direktur MYOR, menambahkan bahwa Mayora akan menaikkan harga beberapa produknya akibat kenaikan harga bahan baku seperti biji kakao dan kopi, namun diversifikasi produk diharapkan dapat meminimalkan dampaknya.
Keseluruhan optimisme ini menunjukkan bahwa sektor konsumer memiliki prospek yang cerah, terutama dengan dukungan peningkatan daya beli dan sentimen positif dari konsumen.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Pasar September
Di berbagai bursa global, September bukanlah bulan yang baik untuk para pelaku pasar. Ada istilah September Effect atau Summer Effect atau Black September yang kerap digunakan untuk menggambarkan perdagangan saham di bulan September. Secara historis, September kerap menjadi bulan dengan kinerja terburuk. Beberapa teori menyebutkan kalau perilaku investor yang melakukan penyesuaian portofolio setelah liburan musim panas menjadi penyebabnya. Dalam satu dekade terakhir, return indeks Dow Jones Industrial Average di Amerika Serikat (AS) bulan September cenderung negatif, dengan rata-rata imbal hasil minus 1,53%. Dibandingkan bulan-bulan lainn return September menjadi yang terburuk bagi indeks Dow Jones dalam 10 tahun terakhir. Kabar baiknya, imbal hasil negatif belum terlihat di dua pekan awal bulan September ini. IHSG justru berotot dan sudah beberapa kali menyentuh rekor harga tertinggi baru. Sejak awal September ini, IHSG sudah menguat 1,18%. Bahkan IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa (10/9) ke level 7.761,38. Tapi, tetap waspada karena September Effect masih bisa terjadi. Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang mengatakan, di bulan September tahun ini, ada kondisi yang berbeda dari sebelumnya.
"Secara global, September 2024 merupakan masa penantian bank sentral AS Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps)," katanya kepada KONTAN, Selasa (10/9).
Setali tiga uang,
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Martha Christina juga menekankan adanya potensi
sell on news
, jika pemangkasan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Tapi, lain cerita kalau penurunan suku bunga mencapai 50 bps. Dia masih optimis IHSG bisa berada di level 7.915 pada akhir tahun ini.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, jika terjadi koreksi, pelemahan IHSG pada bulan ini tidak akan terlalu dalam dan berlangsung lama. Level kuat IHSG saat ini berada di 7.700.
Martha menilai, adanya potensi koreksi usai FOMC bisa menjadi kesempatan bagi investor melakukan
buy on weakness
alias membeli jika harganya sudah turun. Apalagi, secara historis IHSG dan sejumlah indeks global cenderung menguat signifikan di bulan Oktober mendatang.
Menyusutnya Calon Emiten di Bursa Efek Indonesia
Jumlah calon emiten atau perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia menyusut pada 2024 dibanding tahun 2023. Per 6 September 2024, sebanyak 34 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia dengan total dana dihimpun Rp 5,15 triliun. Hingga akhir tahun, 23 entitas usaha siap menambah daftar emiten baru. Calon perusahaan yang mengantre untuk mengajukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) itu berkurang dari data di awal Agustus. Sebelumnya, BEI mencatat akan ada 28 perusahaan yang menunggu proses IPO. Jika capaian IPO dan rencana pencatatan emiten baru tahun ini ditotalkan, jumlahnya menyusut 62 % dibanding total IPO tahun 2023 sebanyak 79 emiten.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyatakan, sejumlah calon emiten memang mundur, di antaranya, karena keputusan internal perusahaan dan hasil evaluasi bursa yang belum memberikan persetujuan. ”Semua proses evaluasi dilakukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku,” katanya dalam keterangan kepada wartawan pekan lalu. Tren penurunan itu juga dibaca perusahaan jasa audit, Deloitte. Pemimpin Akuntan & Pelaporan Deloitte Asia Tenggara Tay Hwee Ling dalam laporannya mencatat, bukan hanya dari segi jumlah, nilai dana yang dihimpun dan kapitalisasi emiten baru juga merosot tajam. Mengacu data paruh pertama 2024, sebanyak 25 emiten baru hanya menghimpun dana 248 juta USD dan kapitalisasi pasar IPO 1,225 miliar USD. Jumlah emiten yang IPO turun 43 %. Demikian juga jumlah penghimpunan dana yang merosot 89 % dibanding semester I-2023. (Yoga)
Berburu Penjualan di Tengah Harga Kinclong
Emiten pertambangan emas memoles prospek bisnisnya melalui ekspansi dan penambahan cadangan. Bersamaan, para emiten ingin mendongkrak penjualan di tengah momentum tren harga komoditas emas yang masih tinggi. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) misalnya, tengah mengejar target penjualan 37 ton emas. Meningkat sekitar 30% dari realisasi tahun lalu. Hingga semester I-2024, ANTM mencetak penjualan produk emas sebesar 16 ton, naik 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan volume terjadi ketika harga jual rata-rata di semester pertama menanjak 14% year on year (yoy). "Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan modal kerja, serta mengurangi risiko valuta asing," ujar Sekretaris Perusahaan ANTM Syarif Faisal Alkadrie, Jumat (6/9).
PT United Tractors Tbk (UNTR) tak mau ketinggalan. UNTR membidik penjualan emas sekitar 235.000 ons pada tahun 2024. Sampai dengan Juli 2024, UNTR telah menjual 128.000 ons dari PT Agincourt Resources. Penjualan emas UNTR pada semester II-2024 bakal terdongkrak oleh kontribusi dari PT Sumbawa Jutaraya (SJR) dengan estimasi volume 15.000 ons. Sekretaris Perusahaan UNTR Sara K. Loebis mengatakan, SJR akan mencatatkan penjualan emas pada kuartal ketiga ini. Head of Corporate Communications PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Tom Malik juga optimistis harga emas yang sudah menembus level US$ 2.500 per troi ons akan membawa dampak positif.
Saat ini, MDKA sedang ekspansi pada pengembangan proyek emas Pani. Belum lama ini, MDKA telah menambah dana pembiayaan kepada perusahaan pengelola proyek emas Pani, PT Pani Bersama Jaya (PBJ) sampai dengan US$ 135 juta. Sehingga meningkat jadi US$ 260 juta dari sebelumnya US$ 125 juta, untuk pengembangan Fase 1.
Research Analyst
Stocknow.id Emil Fajrizki mengatakan, posisi harga emas yang masih di level tinggi sekitar US$ 2.400 - US$ 2.500 per troi ons akan memperbaiki margin keuntungan emiten.
Peluang IHSG Menuju 7.800 Masih Terbuka
IHSG Menuju 8.000 di Akhir Tahun
Indeks harga saham gabungan (IHSG) terus menunjukkan performa impresif selama 2024 dan diproyeksikan menguat hingga level 8000 pada akhir tahun ini. Pencapaian rekor baru alias all time high (ATH) ke-10 di level 7.721 menjadi bukti kuatnya sentimen positif yang mendominasi pasar. Konsensus analisis optimistis, tren penguatan ini akan terus berlanjut seiring dengan kombinasi faktor domestik dan global yang mendukung pasar modal Indonesia. Founder Stocknow.id Hendra Wardana menyebutkan, penguatan IHSG didorong oleh perkembangan di pasar internasional, khususnya dari Amerika Serikat. Perkembangan ini di antaranya pasar tenaga kerja Amerika yang melemah, sebagaimana tercermin dari data JOLTS yang mencapai titik terendah dalam 3,5 tahun terakhir. “Ini memicu perlambatan ekonomi AS. Ini memberikan sinyal kuat bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga, yang membuat investasi berbasis dolar menjadi kurang menarik,” kata Hendar. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tantangan Perbankan 2022
03 Jan 2022 -
Waspadai Inflasi, Perkuat Daya Beli dan Industri
03 Jan 2022 -
Arah Baru
03 Jan 2022 -
Kejaksaan Selamatkan Triliunan Uang Negara
31 Dec 2021









