;
Tags

Bursa

( 810 )

Kebijakan Full Call Auction Kembali Tuai Kontroversi

KT1 30 May 2024 Investor Daily (H)
Kebijakan penerapan metode lelang berkala secara penuh (Full Periodic Call Auction/FCA) di papan pemantauan khusus yang mulai diberlakukan 25 Maret 2024, kembali menuai kontroversi dan kritik dari pelaku pasar. Padahal kebijakan ini di klaim bertujuan untuk   meningkatkan likuiditas dan perlindungan bagi investor di pasar modal Indonesia. Terbaru, adalah pemberlakuan FCA untuk saham PT Barito Renewabless Energy Tbk (BREN) mulai Rabu (29/5/2024). Berawal dari saham BREN yang dilakukan penghentian sementara perdagangan (suspensi) sejak sesi 1 perdagangan Senin (27/5/2024) hingga Selasa (28/5/2024). Suspesi saham BREN kembali dibuka pada sesi 1 perdagangan Rabu (29/5/2024), tetapi pada waktu yang bersamaan, saham emiten energi baru terbarukan   ini juga masuk dalam pemantauan khusus diperdagangkan secara periodic all auction yang terdiri atas lima sesi periodic call auction dalam satu hari. (Yetede)

Rebound, IHSG Kembali Mengarah ke 7.300

KT1 29 May 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil rebound +1,08% ke level 7.253 pada perdagangan Selasa (12/6/2024). Langkah positif IHSG diyakini masih bisa berlanjut  dan mengarah kembali ke 7.300-an hingga akhir semester satu mendatang. "Potensi penguatan masih ada, tergantung pada data ekonomi yang keluar. Isu penurunan suku bunga makin kuat, dan ini bisa menjadi katalis positif untuk IHSG," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Daily, Selasa (28/5/2024). Nico mengungkapkan, pihaknya melihat pelang IHSG untuk kembali ke 7.300 masih cukup terbuka di penutupan  paruh pertama tahun ini. Sementara hingga akhir 2024, langkah IHSG berpotensi mengarah ke 7.350-7.460. (Yetede)

Saham Papan Atas Makin Terbatas

HR1 25 May 2024 Kontan (H)

Jumlah saham yang berada di papan utama berkurang drastis. Itulah yang tampak dari  hasil rotasi anggota papan utama yang dilakukan oleh manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam evaluasi kali ini, otoritas bursa mengangkat 10 saham ke papan utama (lihat infografik). Kemudian BEI menurunkan 109 saham dari papan utama ke level papan pengembangan.Perubahan ini berlaku akhir Mei 2024 ini. Beberapa saham yang terdepak ke papan pengembangan cukup mengejutkan. Sebut saja PT Adira Finance Tbk (ADMF), HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan Bank Permata Tbk (BNLI). Ada juga emiten yang terafiliasi orang penting terdepak dari papan utama. Sebut saja emiten milik Keluarga Tanoko,  PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk (DEPO). Emiten saham milik Tommy Soeharto,  PT GTS Internasional Tbk (GTSI), dan PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) milik Grup Salim, hingga emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), juga tergusur dari papan utama. Sementara emiten saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya yang turun kelas yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Presisi Tbk (PPRE), PT Phapros Tbk (PEHA), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM).

Sebagai gambaran, merujuk data BEI, saat ini ada 926 emiten tercatat di BEI. Dari jumlah itu, 347 emiten atau 37,47% berada di papan utama, dan 320 emiten atau 34,55% di papan pengembangan. Usai  perubahan tersebut, 248 emiten atau 26,78%  di papan utama , sementara 419 emiten atau 45,24% di papan pengembangan. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengungkapkan, beleid perpindahan papan pencatatan ini bertujuan memberi klasifikasi yang jelas ke investor mengenai kondisi emiten berdasarkan kinerja fundamental, kapitalisasi pasar, serta pemenuhan atas peraturan bursa. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat saham yang naik ke papan utama akan mendapat sentimen positif. Sebaliknya, pasar cenderung merespons negatif saham yang turun ke papan pengembangan, apalagi jika penurunannya terkait faktor fundamental. Pendiri WH-Project William Hartanto juga melihat saham yang naik ke papan utama hanya menguat sejenak.  Pasar bisa memanfaatkan momentum itu untuk trading pada saham tersebut. Sementara untuk saham yang turun ke papan pengembangan, William menyarankan wait and see.

Awas, Bursa Saham Masih Bisa Tertekan

HR1 22 May 2024 Kontan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu bertengger lama di area 7.300-an. Setelah terbang 3,22% pada pekan lalu, IHSG kembali merosot ke bawah level 7.200 usai berbalik melemah dalam dua hari beruntun di awal pekan ini. Pada perdagangan Senin (20/5) IHSG anjlok 1,11% ke posisi 7.186,03 pada Selasa (21/5). Tergerusnya indeks sejalan dengan kembali hengkangnya investor asing. Kemarin, tercatat net sell investor asing sebesar Rp 1,06 triliun. Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki menyoroti lima sentimen yang  memengaruhi performa pasar saham. Pertama, tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang mulai naik kembali. Kedua, tensi politik China dan Taiwan usai pelantikan presiden baru Taiwan. Ketiga, pelaku pasar menunggu data ekonomi dan kebijakan moneter AS di pekan ini. Keempat, arah kebijakan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Kelima, posisi kurs rupiah yang masih berada di ambang Rp 16.000 per dolar AS.

Jika lanjut melemah, rupiah berpotensi melemah ke posisi Rp 16.100 hingga Rp 16.250 per dolar AS. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi sepakat, pekan pendek menjelang libur bursa ikut memengaruhi performa pasar. Para investor juga mengantisipasi rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed dan arah kebijakan BI. Meski begitu, Audi memandang kondisi ini belum mengubah tren jangka panjang IHSG yang masih bergerak di atas support 7.076. Dalam skenario bearish, IHSG berpotensi turun ke area support kuat tersebut sebelum menyentuh level psikologis 7.000. Sedangkan hingga akhir Mei, Audi memprediksi IHSG akan cenderung bergerak sideways dalam rentang 7.080 - 7.360.  Sebelum libur dan cuti bersama, pada perdagangan Rabu (22/5) kecenderungan IHSG masih akan tertekan meski sudah mulai terbatas, dengan uji support jangka pendek di level 7.150.

Menggairahkan Bursa Karbon

KT1 22 May 2024 Investor Daily (H)

Sudah lebih dari enam bulan sejak peluncuran bursa karbon, namun bursa ini belum memperlihatkan perannya dalam membantu mencapai target penurunan emisi karbon nasional. Kesimpulan ini terlihat dari sepinya transaksi di bursa karbon yang berakibat tidak terjadinya proses pembentukan harga. Keberadaan bursa karbon seharusnya tidak hanya memenuhi formalitas sebatas cheklist kelengkapan terkait perangkat dalam mencapai tercapai  penurunan karbon nasional.

Bursa karbon memiliki peran strategis dalam mendorong pelaku usaha (terutama pada sektor penghasil emisi karbon kelas berat) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari aktivitas  operasinya. Peran strategis tersebut dapat terpenuhi jika bursa karbon yang aktif terbentuk. Logika pembentukan bursa karbon sangatlah sederhana  dan mudah dipahami. Masalah perubahan iklim yang saat ini terjadi merupakan bentuk kondisi eksternalitas. Secara sederhana eksternalitas terjadi saat pihak yang melakukan tindakan negatif tidak menanggung konsekuensi secara langsung dampak negatif dari tindakannya. (Yetede)

BPR Diharapkan Bergabung ke Bursa

KT3 21 May 2024 Kompas

Bursa Efek Indonesia (BEI) menanti bergabungnya penyalur kredit berupa bank perekonomian rakyat ke  pasar modal. Kesempatan ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan kapasitas industri tersebut. BEI telah membuka peluang bagi bank perekonomian rakyat (BPR), termasuk yang berbasis syariah (BPRS), untuk menggalang dana melalui penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di pasar modal Indonesia, sesuai ketentuan Peraturan OJK (POJK) No 7 Tahun 2024 tentang BPR dan BPRS yang diterbitkan 25 April 2024. Namun, peluang itu belum dimanfaatkan oleh lebih dari 1.500 BPR yang eksis di Indonesia. “Mungkin karena peraturan IPO untuk BPR dan BPRS ini masih relatif baru, dapat kami informasikan bahwa saat ini belum terdapat permohonan pencatatan dari BPR dan BPRS yang disampaikan kepada BEI,” ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna kepada wartawan, Senin (20/5).

Sesuai ketentuan yang ada, baik BPR maupun BPRS yang dapat melakukan penawaran umum perdana saham melalui pasar modal Indonesia wajib memiliki persyaratan, antara lain, modal inti minimum Rp 80 miliar dan penilaian tata kelola dengan predikat paling rendah peringkat 2, penilaian profil risiko paling rendah peringkat 2, dan tingkat kesehatan paling rendah peringkat komposit (PK)-2, serta keseluruhannya dinilai dalam dua periode terakhir. OJK mengingatkan agar BPR dan BPRS dapat berpartisipasi di pasar modal dalam upaya mengembangkan industri secara berintegritas, adaptif, dan berdaya saing. Hal ini guna berkontribusi dalam menyediakan layanan keuangan kepada masyarakat, terutama pelaku usaha mikro dan kecil di wilayahnya. (Yoga)


IHSG Berpeluang lanjutkan Tren Penguatan

KT1 20 May 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang melanjutkan  penguatan di pekan ini, setelah hattrick kenaikan selama tiga hari berturut-turut pada Minggu lalu ke posisi 7.317. Pergerakan IHSG akan merespon hasil pidato kepala The Fed Jerome Powell dan rapat dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), di tengah jam perdagangan yang pendek akibat libur panjang. "Pergerakan IHSG di awal pekan akan merefleksikan pidato terbaru kepada The Fed Jerome Powell pada Senin (20/5/2024) dini hari, dan keputusan RGD BI di hari terakhir perdagangan pekan ini (22/05/2024). IHSG diperkirakan menemui strong resitance di 7.330-7.350 pada pekan ini," kata Senior Equity Reseach Analyst Phintraco Securities Valdy Kurniawan.  Valdy memperkirakan, peluang penguatan IHSG  cukup  terbuka, yang di dorong dari beberapa sentimen positif. (Yetede)

IHSG Hattrick, Asing Serbu Saham Bank dan Emiten Prajogo Pangestu

KT1 18 May 2024 Investor Daily

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak hattrick dengan kenaikan berturut-turut dalam  tiga hari perdagangan, ke posisi 7.317 pada penutupan Jumat (17/5/2024). Peningkatan IHSG tidak lepas dari aksi beli bersih (net buy) asing yang mencapai Rp 869 miliar, dengan saham yang banyak diburu adalah saham perbankan (banking) dan saham emiten Prajogo pangestu. Indo Prem naik + 70,54 basis poin ke 7.317, dengan nilai transaksi pasar mencapai Rp 13,42 triliun dan volume transaksi 213,6 juta saham. Asing masih terus masuk pasar, diindikasikan dari besarnya  net foreign buy di seluruh pasar yang mencapai Rp 866,61 miliar.  Saham-saham yang paling banyak dibeli asing adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 337,2 miliar, disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp176,8, saham emiten Prajogo pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp 176,8 miliar, serta saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp132,8 miliar. Saham-saham banking seperi BBCA,BBRI,BMRI serta saham emiten Prajogo Pangestu lainnya, PT barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga menjadi penggerak IHSG, kemarin. (Yetede)

Prajogo Pangestu Penguasa Bursa

HR1 18 May 2024 Kontan

Emiten milik grup konglomerasi masih menguasai Bursa Efek Indonesia (BEI). Kali ini, juaranya adalah Grup Barito milik Prajogo Pangestu yang sejumlah saham miliknya berhasil menembus rekor harga tertinggi (all time high) pekan ini. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masih membetot perhatian publik dengan level harga yang sudah menyentuh Rp 10.750. BREN kokoh di puncak emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di BEI, senilai Rp 1.438,20 triliun. Saudara sekandung BREN, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ikut melejit dan menjadi emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp 787,26 triliun.

Lompatan harga juga dialami tiga saham Prajogo Pangestu lainnya PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)  dan PT Petrosea Tbk (PTRO). Hitungan KONTAN market cap gabungan dari lima saham Praogo Pangestu ini menyentuh Rp 2.455,62 triliun. Jumlah itu setara dengan 19,77% dari total gabungan dari lima saham Praogo Pangestu ini menyentuh Rp 2.455,62 triliun. Jumlah itu setara dengan 19,77% dari total market cap emiten BEI sebesar Rp 12.420 triliun hingga akhir pekan ini. Selain berada di puncak konglomerat terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu menjadi taipan terkaya ke-23 di dunia.

Cuan Prajogo juga mengalir ke pasar saham, yang datang dalam wujud lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Punya bobot yang jumbo, kenaikan saham-saham Prajogo signifikan mendongkrak IHSG yang selama pekan ini mengakumulasi penguatan 3,22% ke level 7.317,23. Secara bersamaan, pesta pora saham Prajogo membawa rotasi di jajaran konglomerasi penguasa bursa. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, rotasi saham di jajaran top market cap cukup volatil sejak April 2024. Saham big banks merosot imbas aksi profit taking dan kinerja yang di bawah ekspektasi. Sementara saham Prajogo terus menanjak. Ini berkat sejumlah sentimen positif. Termasuk aksi akuisisi dan masuknya TPIA di Indeks Standar Global Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

Head of Research Mega Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya mengamini, rotasi market cap seringkali dipengaruhi oleh sentimen terkini. Selain dari ekspansi, branding Prajogo sebagai orang terkaya di Indonesia dan masuk ke jajaran konglomerat dunia turut menambah daya tarik. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto juga sepakat, sentimen konglomerat yang sedang bersinar secara psikologis membawa optimisme. Hanya saja, William mengingatkan pelaku pasar perlu waspada lantaran lonjakan harga saham dan market cap tak selalu mencerminkan performa fundamentalnya. 

Sentimen Kocok Ulang MSCI Cuma Sementara

HR1 16 May 2024 Kontan

Kocok ulang indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali terjadi. MSCI Indonesia mengumumkan rebalancing  MSCI Global Standard Index dan MSCI Small Cap Index. Kocok ulang indeks MSCI ini akan berlaku pada penutupan tanggal 31 Mei 2024. Kemudian indeks tersebut mulai berlaku efektif per per 1 Juni 2024. Dalam kocok ulang indeks MSCI tersebut, salah satu emiten Grup Barito yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) masuk ke dalam daftar MSCI Global Standard Index. Sementara PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) harus tergeser dari indeks tersebut dan masuk ke kategori MSCI Small Cap Index. Selain itu, PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Compa Tbk (ULTJ) juga masuk dalam jajaran MSCI Small Cap Index. Sementara PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) keluar dari indeks tersebut. 

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menjelaskan, hasil perombakan MSCI  merupakan hal yang wajar terjadi secara berkala. Menurutnya ini mencerminkan dinamika pasar modal dan perubahan kinerja perusahaan yang terdaftar. Pasca kocok ulang  indeks MSCI tersebut, Sukarno melihat prospek jangka pendek saham yang masuk indeks MSCI cukup positif. Dan ini sudah direspons pelaku pasar, tercermin dari kenaikan saham yang signifikan. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy sependapat TPIA layak masuk MSCI Global Standard Index. Sebab kapitalisasi pasar TPIA sudah berada di angka Rp 789,42 triliun. Selain kapitalisasi pasar, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta melihat, aksi korporasi dari TPIA saat ini juga tengah  dicermati oleh para investor. Langkah tersebut menurutnya merupakan upaya manajemen TPIA untuk menjaga kepercayaan para investor.