;
Tags

Bursa

( 805 )

Menggairahkan Bursa Karbon

KT1 22 May 2024 Investor Daily (H)

Sudah lebih dari enam bulan sejak peluncuran bursa karbon, namun bursa ini belum memperlihatkan perannya dalam membantu mencapai target penurunan emisi karbon nasional. Kesimpulan ini terlihat dari sepinya transaksi di bursa karbon yang berakibat tidak terjadinya proses pembentukan harga. Keberadaan bursa karbon seharusnya tidak hanya memenuhi formalitas sebatas cheklist kelengkapan terkait perangkat dalam mencapai tercapai  penurunan karbon nasional.

Bursa karbon memiliki peran strategis dalam mendorong pelaku usaha (terutama pada sektor penghasil emisi karbon kelas berat) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari aktivitas  operasinya. Peran strategis tersebut dapat terpenuhi jika bursa karbon yang aktif terbentuk. Logika pembentukan bursa karbon sangatlah sederhana  dan mudah dipahami. Masalah perubahan iklim yang saat ini terjadi merupakan bentuk kondisi eksternalitas. Secara sederhana eksternalitas terjadi saat pihak yang melakukan tindakan negatif tidak menanggung konsekuensi secara langsung dampak negatif dari tindakannya. (Yetede)

BPR Diharapkan Bergabung ke Bursa

KT3 21 May 2024 Kompas

Bursa Efek Indonesia (BEI) menanti bergabungnya penyalur kredit berupa bank perekonomian rakyat ke  pasar modal. Kesempatan ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan kapasitas industri tersebut. BEI telah membuka peluang bagi bank perekonomian rakyat (BPR), termasuk yang berbasis syariah (BPRS), untuk menggalang dana melalui penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di pasar modal Indonesia, sesuai ketentuan Peraturan OJK (POJK) No 7 Tahun 2024 tentang BPR dan BPRS yang diterbitkan 25 April 2024. Namun, peluang itu belum dimanfaatkan oleh lebih dari 1.500 BPR yang eksis di Indonesia. “Mungkin karena peraturan IPO untuk BPR dan BPRS ini masih relatif baru, dapat kami informasikan bahwa saat ini belum terdapat permohonan pencatatan dari BPR dan BPRS yang disampaikan kepada BEI,” ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna kepada wartawan, Senin (20/5).

Sesuai ketentuan yang ada, baik BPR maupun BPRS yang dapat melakukan penawaran umum perdana saham melalui pasar modal Indonesia wajib memiliki persyaratan, antara lain, modal inti minimum Rp 80 miliar dan penilaian tata kelola dengan predikat paling rendah peringkat 2, penilaian profil risiko paling rendah peringkat 2, dan tingkat kesehatan paling rendah peringkat komposit (PK)-2, serta keseluruhannya dinilai dalam dua periode terakhir. OJK mengingatkan agar BPR dan BPRS dapat berpartisipasi di pasar modal dalam upaya mengembangkan industri secara berintegritas, adaptif, dan berdaya saing. Hal ini guna berkontribusi dalam menyediakan layanan keuangan kepada masyarakat, terutama pelaku usaha mikro dan kecil di wilayahnya. (Yoga)


IHSG Berpeluang lanjutkan Tren Penguatan

KT1 20 May 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang melanjutkan  penguatan di pekan ini, setelah hattrick kenaikan selama tiga hari berturut-turut pada Minggu lalu ke posisi 7.317. Pergerakan IHSG akan merespon hasil pidato kepala The Fed Jerome Powell dan rapat dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), di tengah jam perdagangan yang pendek akibat libur panjang. "Pergerakan IHSG di awal pekan akan merefleksikan pidato terbaru kepada The Fed Jerome Powell pada Senin (20/5/2024) dini hari, dan keputusan RGD BI di hari terakhir perdagangan pekan ini (22/05/2024). IHSG diperkirakan menemui strong resitance di 7.330-7.350 pada pekan ini," kata Senior Equity Reseach Analyst Phintraco Securities Valdy Kurniawan.  Valdy memperkirakan, peluang penguatan IHSG  cukup  terbuka, yang di dorong dari beberapa sentimen positif. (Yetede)

IHSG Hattrick, Asing Serbu Saham Bank dan Emiten Prajogo Pangestu

KT1 18 May 2024 Investor Daily

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak hattrick dengan kenaikan berturut-turut dalam  tiga hari perdagangan, ke posisi 7.317 pada penutupan Jumat (17/5/2024). Peningkatan IHSG tidak lepas dari aksi beli bersih (net buy) asing yang mencapai Rp 869 miliar, dengan saham yang banyak diburu adalah saham perbankan (banking) dan saham emiten Prajogo pangestu. Indo Prem naik + 70,54 basis poin ke 7.317, dengan nilai transaksi pasar mencapai Rp 13,42 triliun dan volume transaksi 213,6 juta saham. Asing masih terus masuk pasar, diindikasikan dari besarnya  net foreign buy di seluruh pasar yang mencapai Rp 866,61 miliar.  Saham-saham yang paling banyak dibeli asing adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 337,2 miliar, disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp176,8, saham emiten Prajogo pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp 176,8 miliar, serta saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp132,8 miliar. Saham-saham banking seperi BBCA,BBRI,BMRI serta saham emiten Prajogo Pangestu lainnya, PT barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga menjadi penggerak IHSG, kemarin. (Yetede)

Prajogo Pangestu Penguasa Bursa

HR1 18 May 2024 Kontan

Emiten milik grup konglomerasi masih menguasai Bursa Efek Indonesia (BEI). Kali ini, juaranya adalah Grup Barito milik Prajogo Pangestu yang sejumlah saham miliknya berhasil menembus rekor harga tertinggi (all time high) pekan ini. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masih membetot perhatian publik dengan level harga yang sudah menyentuh Rp 10.750. BREN kokoh di puncak emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di BEI, senilai Rp 1.438,20 triliun. Saudara sekandung BREN, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ikut melejit dan menjadi emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp 787,26 triliun.

Lompatan harga juga dialami tiga saham Prajogo Pangestu lainnya PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)  dan PT Petrosea Tbk (PTRO). Hitungan KONTAN market cap gabungan dari lima saham Praogo Pangestu ini menyentuh Rp 2.455,62 triliun. Jumlah itu setara dengan 19,77% dari total gabungan dari lima saham Praogo Pangestu ini menyentuh Rp 2.455,62 triliun. Jumlah itu setara dengan 19,77% dari total market cap emiten BEI sebesar Rp 12.420 triliun hingga akhir pekan ini. Selain berada di puncak konglomerat terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu menjadi taipan terkaya ke-23 di dunia.

Cuan Prajogo juga mengalir ke pasar saham, yang datang dalam wujud lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Punya bobot yang jumbo, kenaikan saham-saham Prajogo signifikan mendongkrak IHSG yang selama pekan ini mengakumulasi penguatan 3,22% ke level 7.317,23. Secara bersamaan, pesta pora saham Prajogo membawa rotasi di jajaran konglomerasi penguasa bursa. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, rotasi saham di jajaran top market cap cukup volatil sejak April 2024. Saham big banks merosot imbas aksi profit taking dan kinerja yang di bawah ekspektasi. Sementara saham Prajogo terus menanjak. Ini berkat sejumlah sentimen positif. Termasuk aksi akuisisi dan masuknya TPIA di Indeks Standar Global Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

Head of Research Mega Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya mengamini, rotasi market cap seringkali dipengaruhi oleh sentimen terkini. Selain dari ekspansi, branding Prajogo sebagai orang terkaya di Indonesia dan masuk ke jajaran konglomerat dunia turut menambah daya tarik. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto juga sepakat, sentimen konglomerat yang sedang bersinar secara psikologis membawa optimisme. Hanya saja, William mengingatkan pelaku pasar perlu waspada lantaran lonjakan harga saham dan market cap tak selalu mencerminkan performa fundamentalnya. 

Sentimen Kocok Ulang MSCI Cuma Sementara

HR1 16 May 2024 Kontan

Kocok ulang indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali terjadi. MSCI Indonesia mengumumkan rebalancing  MSCI Global Standard Index dan MSCI Small Cap Index. Kocok ulang indeks MSCI ini akan berlaku pada penutupan tanggal 31 Mei 2024. Kemudian indeks tersebut mulai berlaku efektif per per 1 Juni 2024. Dalam kocok ulang indeks MSCI tersebut, salah satu emiten Grup Barito yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) masuk ke dalam daftar MSCI Global Standard Index. Sementara PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) harus tergeser dari indeks tersebut dan masuk ke kategori MSCI Small Cap Index. Selain itu, PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Compa Tbk (ULTJ) juga masuk dalam jajaran MSCI Small Cap Index. Sementara PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) keluar dari indeks tersebut. 

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menjelaskan, hasil perombakan MSCI  merupakan hal yang wajar terjadi secara berkala. Menurutnya ini mencerminkan dinamika pasar modal dan perubahan kinerja perusahaan yang terdaftar. Pasca kocok ulang  indeks MSCI tersebut, Sukarno melihat prospek jangka pendek saham yang masuk indeks MSCI cukup positif. Dan ini sudah direspons pelaku pasar, tercermin dari kenaikan saham yang signifikan. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy sependapat TPIA layak masuk MSCI Global Standard Index. Sebab kapitalisasi pasar TPIA sudah berada di angka Rp 789,42 triliun. Selain kapitalisasi pasar, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta melihat, aksi korporasi dari TPIA saat ini juga tengah  dicermati oleh para investor. Langkah tersebut menurutnya merupakan upaya manajemen TPIA untuk menjaga kepercayaan para investor.

Emiten Teknologi Belum Unjuk Gigi

HR1 15 May 2024 Kontan

Sempat menghijau, laju indeks sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terkoreksi Selasa (14/5). Indeks sektor teknologi ditutup melemah 1,14%. Sejak awal tahun, indeks ini tergerus 23,52%. Situasi ini berbeda dengan saham teknologi di bursa Amerika Serikat (AS). Malah, saham-saham teknologi menjadi salah satu sektor penopang utama laju saham di Dow Jones. Ini dikarenakan saham-saham teknologi di negeri Paman Sam sudah diibaratkan sebagai salah satu safe haven. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta melihat, saham teknologi masih sulit mencapai titik profitabilitas. Penyebabnya, dinamika sektor teknologi di Indonesia dan AS amat berbeda.

Di AS, para pelaku sektor teknologi selalu berupaya melakukan inovasi. Tujuannya adalah agar produk mereka bisa dipakai di pasar global. Di sisi lain, para emiten di sektor teknologi masih melakukan bakar duit untuk penetrasi pasar. Baik itu dalam melakukan promosi atau program diskon. Sementara Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat, indeks teknologi  masih menjadi beban laju pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Secara teknikal indeks tersebut menunjukkan pergerakan yang melandai kemarin (14/5). Ramalannya, indeks ini masih rawan koreksi untuk menguji di 3.304 – 3.356. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda melihat, salah satu faktor adanya penguatan  indeks ini adanya  aksi buy back GOTO pekan lalu. Pasar pun menyambut positif yang secara teknikal sempat membuat indeks ini menguat.

Reksadana Campuran Menanti Arah Bunga Acuan

HR1 15 May 2024 Kontan

Kinerja reksadana campuran masih belum menunjukkan tajinya. Berdasarkan data Infovesta, secara industri kinerja reksadana campuran masih mencatatkan return negatif 1,99% secara bulanan (mom) di April 2024. Sementara sejak awal 2024  kinerjanya juga minus 1,12%. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi mengatakan, lemahnya kinerja reksdana campuran dipengaruhi arus keluar dana asing pada akhir Maret 2024. Sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah dan menyebabkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Faktor global seperti perang Israel-Iran dan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi, mempengaruhi kebijakan suku bunga," ujarnya, Selasa (14/5).

Kondisi tersebut turut menekan kinerja produk reksadana campuran HPAM, salah satunya HPAM Flexi Plus yang turun 1,62% mom. Namun, produk tersebut masih mampu tumbuh 2,24% year to date (ytd). Sementara sejumlah produk reksadana campuran Panin Asset Management (Panin AM) masih mampu mencetak kinerja positif sepanjang tahun ini. Misalnya, Panin Sumber Berkat yang tumbuh 2,95% ytd, Panin Dana Syariah Berimbang tumbuh 0,19% ytd, dan Panin Dana Bersama 2,64% sejak awal tahun. Direktur Panin AM, Rudiyanto mengatakan, perusahaan senantiasa berfokus pada pendekatan value investing dan analisis emiten secara individu. Panin AM mencari dan menilai perusahaan yang undervalue namun secara fundamental memiliki prospek yang baik ke depannya.

Korporasi Antre IPO Total Rp 11,38 Triliun

HR1 14 May 2024 Kontan
Rencana penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) masih akan ramai. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, ada sekitar 80 rencana IPO dalam pipeline OJK. Nilainya mencapai Rp 11,38 triliun. Kepala Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan, penghimpunan dana di pasar modal masih dalam tren yang positif. "Per 30 April 2024, nilai penawaran umum sudah mencapai Rp 77,64 triliun dengan 17 emiten baru," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (13/5). "Ini menunjukan tren penggalangan dana masih tinggi," tandasnya.

Menjaring Saham Saat Indeks Loyo

HR1 14 May 2024 Kontan

Usai libur panjang akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,15% ke level 7.099,26 Senin (13/5). Laju IHSG diikuti mayoritas indeks, termasuk indeks saham blue chip LQ45 dan IDX30.LQ45 menguat 0,24% dan IDX30 hanya naik tipis 0,06% secara harian. Namun sejak awal tahun, kinerja kedua indeks ini masih suram dengan level pelemahan  jauh lebih dalam dari IHSG. Saat IHSG dalam posisi -2,39%, LQ45 anjlok -7,73% dan IDX30 ambles -8,39%. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyoroti sejumlah faktor yang membuat LQ45 melorot.

Pertama, rilis kinerja kuartal I-2024 sudah priced in dan emiten yang telah membagikan dividen cenderung mengalami tekanan harga. Kedua, tekanan suku bunga di level tinggi yang berpotensi bertahan dalam waktu lebih panjang. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus sependapat, belum adanya tanda penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi katalis negatif pasar saham. Soal kinerja LQ45 dan IDX30 yang anjlok, Daniel lebih menyoroti kontribusi dari emiten perbankan big caps yang sedang melandai. Menurut Daniel, investor bisa memanfaatkan "diskon"  saham BBRI, BBNI dan TLKM, serta EXCL untuk jangka pendek. Secara teknikal, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova juga melirik saham emiten perbankan dan telekomunikasi.