;
Tags

Bursa

( 805 )

MOMENTUM BERBURU BLUE CHIPS

HR1 05 Jun 2024 Bisnis Indonesia (H)

Awan mendung yang menaungi pasar saham Indonesia perlahan memudar pada awal bulan ini. Dus, sinyal awal rebound IHSG pun dapat dimanfaatkan oleh investor untuk berburu saham blue chips di sektor defensif yang memiliki tingkat valuasi atraktif. Dalam dua hari terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) menghijau dengan penguatan harian 0,94% pada Senin (3/6) dan 0,9% pada Selasa (4/6) ke level 7.099,31. Meski demikian, IHSG masih terperosok turun 2,39% secara year-to-date (YtD). Pada saat yang sama, indeks jagoan yang menaungi mayoritas saham blue chips justru mencetak kinerja yang underperform terhadap IHSG. Merujuk data Bursa Efek Indonesia, indeks LQ45 turun 7,7% dan IDX30 melorot 10,52% sepanjang tahun berjalan 2024. Performa dua indeks utama itu terbebani oleh koreksi harga saham big banks,TLKM, ASII, hingga SMGR. Fase bearishLQ45 dan IDX30 juga sejalan dengan arus keluar modal asing yang mengakumulasi net sell Rp6,53 triliun sejak awal tahun. 

Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas) Cheril Tanuwijaya menuturkan sentimen global dari ketidakpastian dari pemangkasan suku bunga The Fed yang memantik outfl ow investor asing menekan laju indeks LQ45 dan IDX30. Secara sektoral, Head of Investor Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyebut konstituen LQ45 dan IDX30 dari sektor teknologi, telekomunikasi, dan perbankan menjadi pemberat dua indeks acuan tersebut. Meski begitu, para analis melihat sejumlah katalis positif yang berpotensi mendorong rebound indeks LQ45 dan IDX30. Cheril menyebut kedua indeks utama itu bisa berbalik ke zona hijau apabila ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat saat perlambatan inflasi AS terjadi secara konsisten dalam beberapa bulan menuju target bank sentral. 

Sependapat, Audi menuturkan potensi pemangkasan suku bunga pada kuartal IV/2024 akan berdampak positif terhadap emiten berkategori cyclical di dua indeks utama tersebut. Selain itu, faktor rebalancing indeks yang dilakukan setiap 3 bulan sekali juga menjadi angin segar karena penyesuaian konstituen terhadap kriteria indeks dilakukan lebih cepat dan up-to-date. Associate Director of Investment and Research Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan terjaganya daya beli dan konsumsi masyarakat, geliat aktivitas perekonomian, dan turunnya harga minyak sehingga inflasi makin terkendali turut membuka ruang apresiasi pasar saham, termasuk indeks LQ45 dan IDX30. Sementara itu, Mega Capital Sekuritas menilai saham di sektor consumer staples dan energi dapat menjadi fokus pelaku pasar dalam waktu dekat a.l. ICBP, UNVR, ADRO, dan ITMG. InvestasiKu menilai valuasi ICBP dan UNVR relatif murah, sedangkan saham-saham berbasis batu bara masih menarik meski volatilitasnya tinggi. Dari kacamata manajer investasi, Senior Portofolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma menilai terjadinya koreksi IDX30 dan LQ45 dapat dimanfaatkan investor untuk mendapatkan saham likuid dengan harga diskon.

Berpotensi Koreksi Terbatas

HR1 05 Jun 2024 Kontan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan kenaikan sebesar 0,90% ke angka 7.099,31 pada penutupan perdagangan Selasa (4/6). IHSG diprediksi kembali mengalami koreksi terbatas dengan support 7.036 dan resistance di level 7.171 pada Rabu (5/6). Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyebut, penguatan IHSG di tengah terkoreksinya mayoritas bursa Asia. Menurut dia, penguatan IHSG akibat penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Secara teknikal, Equity Research Analyst Pintraco Sekuritas, Nurwachidah melihat, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan penyempitan negative slope. Sedangkan, Stochastic Relative Strength Index (RSI) berada di area oversold. "Mengindikasikan potensi IHSG menguji kembali level 7.150," kata Nur kepada Kontan, Selasa (4/6). Pasar keuangan global juga menantikan rilis data US Institute for Supply Management (ISM) Services PMI bulan Mei yang diproyeksikan akan menembus zona ekspansif ke level 50,50. Saham-saham pilihan teratas menurut Nur untuk perdagangan Rabu pada (5/6) meliputi JSMR, ASSA, SMRA, INTP, SMGR, dan PNLF

Menimbang Dampak Kebijakan FCA Bursa

KT3 05 Jun 2024 Kompas

Beberapa karangan bunga berdiri di jalur masuk pengunjung ke kantor Bursa Efek Indonesia pada akhir Mei 2024. Pada papan karangan bunga dengan hiasan berwarna dan tulisan cerah itu tertulis ucapan seperti ”Rest in Peace Kebijakan FCA BEI” atau ”Yth Pimpinan BEI, tolong ubah FCA, enggak kondusif buat market”. Pemberi ucapan adalah individu yang kemungkinan investor pasar modal. Kebijakan FCA atau full periodic call auction sejauh ini menjadi salah satu aturan baru BEI yang menuai penolakan dari sebagian investor ritel. Sejak diresmikan pada 20 Maret 2024, beberapa influencer atau pemengaruh pasar modal dalam negeri menyuarakan kritik mereka terkait aturan ini. Sebuah petisi daring juga sempat muncul untuk mengumpulkan 25.000 investor yang ikut menuntut penghapusan peraturan FCA.

Hingga Selasa (4/6) petisi itu baru ditandatangani 15.134 orang. Peraturan FCA ini pada dasarnya melengkapi aturan perdagangan saham yang masuk ke dalam papan pemantauan khusus, yang setidaknya mengalami satu dari 11 kriteria, antara lain berkaitan dengan masalah likuiditas rendah, ekuitasnya negatif, dituntut pailit, atau tak memenuhi persyaratan bursa. Jika sebelumnya aturan ini hanya berlaku bagi saham perusahaan tercatat dengan likuiditas perdagangan rendah, saat ini CA berlaku penuh bagi seluruh saham yang dipantau khusus. Aturan ini juga mengubah batas minimum autorejection harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 per lembar saham. Berbeda dengan saham umum yang pembentukan harganya dapat dipantau setiap saat, saham dalam pemantauan khusus hanya diperdagangkan secara lelang di pasar negosiasi dalam beberapa sesi sehari.

Aspek inilah yang menjadi bahan protes sejumlah investor. Pengamat pasar modal Lanjar Nafi membaca, reaksi negatif terhadap kebijakan FCA cenderung datang dari investor berpengalaman yang merasa bahwa sistem ini membatasi fleksibilitas dan dinamika perdagangan saham yang selama ini mereka ikuti. Kebijakan FCA juga berpotensi membatasi likuiditas karena perdagangan hanya dilakukan pada waktu tertentu dan tidak secara terus-menerus sepanjang hari perdagangan. Hal ini bisa membuat investor kesulitan untuk melakukan transaksi segera. ”Padahal, tujuan utama kebijakan ini agar dapat mengurangi risiko perdagangan yang terlalu spekulatif dan meningkatkan pemahaman investor pemula tentang investasi yang aman,” ujarnya, Selasa (4/6). (Yoga)


Sistem Lelang di Papan Khusus Bikin Komplikasi

HR1 03 Jun 2024 Kontan (H)

Papan pemantauan khusus tahap II alias  full call auction (FCA) sudah berjalan lebih dari dua bulan. Akhirnya terbukti, alih-alih melindungi investor, kini mekanisme itu menimbulkan komplikasi dan dinilai merugikan investor di bursa. Awalnya, gejolak FCA ini tidak begitu besar, mengingat emiten yang masuk kriteria ini relatif kecil. Namun, masuknya saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memicu tsunami di pasar. Selama periode 27-31 Mei 204, kapitalisasi pasar bursa saham menguap Rp 538 triliun atau 4,35% menjadi Rp 11.825 triliun dari Rp 12.363 triliun pada pekan lalu. Sedangkan kapitalisasi pasar BREN tergerus Rp 405 triliun. Jumat (31/5), BREN ambles 9,86% ke level Rp 8.225. Pelemahan saham emiten Prajogo Pangestu ini pun menggerus IHSG sebesar 35,08 poin. Yang ironis, total nilai transaksi perdagangan saham BREN dalam tiga hari pertama di papan pemantauan khusus  hanya sekitar Rp 44 miliar.

Nilai tersebut jauh di bawah rata-rata perdagangan BREN selama di papan utama yang di atas Rp 100 miliar per hari. Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia melihat tekanan ke saham BREN memicu kepanikan karena emiten ini masuk papan pemantauan khusus. Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menyarankan, seharusnya implementasi papan pemantauan khusus dengan skema FCA ini bisa dikomunikasikan ke investor dan dievaluasi efektivitasnya. Investment Consultant Reliance Sekuritas Reza Priyambada menilai, ide awal  papan pemantauan khusus ini positif, yakni membangunkan lagi saham tidur. Masalahnya, pelaku pasar memandang negatif setiap saham yang masuk ke papan pemantauan khusus sebagai saham bermasalah, serta merugikan investornya. Direktur Keuangan dan SDM Bursa Efek Indonesia (BEI), Risa Rustam mengakui, masuknya BREN ke papan pemantauan mempengaruhi  IHSG. Tapi, masuknya BREN ke papan itu belum berefek pada rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham secara keseluruhan.

Bursa Saham Masih Rentan Tertekan

HR1 03 Jun 2024 Kontan
Mengakhiri bulan Mei 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai titik terendah sepanjang bulan lalu ke level 6.970,74 pada Jumat (31/5). Dengan pelemahan 3,48% pada pekan lalu, IHSG diproyeksi menyambut awal Juni dengan kecenderungan fluktuatif di area level 6.900-7.000. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang melihat, terdapat pelebaran negative slope pada Moving Average Convergence/Divergence (MACD) bersamaan dengan terbentuknya pola three black crows pada IHSG. Menurutnya, dengan adanya pola tersebut perlu diwaspadai sebab mengindikasikan potensi bearish continuation. Misalnya data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur bulan Mei 2024 di AS. Data ini, diwaspadai pelaku pasar sebab data PMI pada April dalam zona kontraksi di angka 49,2 atau berada di bawah level 50. Ini mengindikasikan pelemahan pada sektor manufaktur di AS. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menilai, ada potensi koreksi lanjutan IHSG dalam rentang 6.907-7.080. Sedangkan analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksi, IHSG berpeluang menguat terbatas di 6.947-7.036. Herditya mencermati saham GOTO dengan target harga Rp 70–Rp 77, ITMG berkisar di level Rp 25.500–Rp 26.000, dan ARTO di harga Rp 2.490–Rp 2.600.

Tantangan Berat Kembali ke 7.000

HR1 03 Jun 2024 Kontan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini tengah berjuang kembali ke level psikologis di 7.000. IHSG menutup bulan Mei dengan terkoreksi 0,90% ke level 6.970,73, Jumat (31/5). Sepanjang Mei, IHSG sudah melemah 3,64% atau turun 263,46 poin. Beberapa saham menjadi pemberat langkah IHSG. Yakni  Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII) yang masing-masing menggerus IHSG 91,59 poin, 64,74 poin dan 38,99 poin. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mencermati penurunan BREN akan menghantui pergerakan IHSG sepanjang Juni 2023. Mengingat BREN akan masuk papan pemantauan khusus selama 30 hari kalender. Pergerakan IHSG di Juni ini akan dipengaruhi sentimen global.

Terutama rilis berbagai data inflasi Amerika Serikat (AS), data ketenagakerjaan AS dan pertemuan The Fed pada 12 Juni 2024. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mencermati, di awal Juni, sudah ada beberapa sentimen positif mulai datang. Namun Nico memprediksi, volatilitas IHSG akan tinggi dan bergantung pada rilis data ekonomi setiap minggunya. Proyeksi Pilarmas Sekuritas, IHSG bergerak di kisaran 6.960-7.050. Nafan merekomendasikan accumulative buy ADMR dengan target di Rp 1.510. Kemudian accumulative buy ADRO, BSDE dan ITMG dengan target harga masing-masing  di Rp 2.800, Rp 975 dan Rp 24.875. 

Kebijakan Full Call Auction Kembali Tuai Kontroversi

KT1 30 May 2024 Investor Daily (H)
Kebijakan penerapan metode lelang berkala secara penuh (Full Periodic Call Auction/FCA) di papan pemantauan khusus yang mulai diberlakukan 25 Maret 2024, kembali menuai kontroversi dan kritik dari pelaku pasar. Padahal kebijakan ini di klaim bertujuan untuk   meningkatkan likuiditas dan perlindungan bagi investor di pasar modal Indonesia. Terbaru, adalah pemberlakuan FCA untuk saham PT Barito Renewabless Energy Tbk (BREN) mulai Rabu (29/5/2024). Berawal dari saham BREN yang dilakukan penghentian sementara perdagangan (suspensi) sejak sesi 1 perdagangan Senin (27/5/2024) hingga Selasa (28/5/2024). Suspesi saham BREN kembali dibuka pada sesi 1 perdagangan Rabu (29/5/2024), tetapi pada waktu yang bersamaan, saham emiten energi baru terbarukan   ini juga masuk dalam pemantauan khusus diperdagangkan secara periodic all auction yang terdiri atas lima sesi periodic call auction dalam satu hari. (Yetede)

Rebound, IHSG Kembali Mengarah ke 7.300

KT1 29 May 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil rebound +1,08% ke level 7.253 pada perdagangan Selasa (12/6/2024). Langkah positif IHSG diyakini masih bisa berlanjut  dan mengarah kembali ke 7.300-an hingga akhir semester satu mendatang. "Potensi penguatan masih ada, tergantung pada data ekonomi yang keluar. Isu penurunan suku bunga makin kuat, dan ini bisa menjadi katalis positif untuk IHSG," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Daily, Selasa (28/5/2024). Nico mengungkapkan, pihaknya melihat pelang IHSG untuk kembali ke 7.300 masih cukup terbuka di penutupan  paruh pertama tahun ini. Sementara hingga akhir 2024, langkah IHSG berpotensi mengarah ke 7.350-7.460. (Yetede)

Saham Papan Atas Makin Terbatas

HR1 25 May 2024 Kontan (H)

Jumlah saham yang berada di papan utama berkurang drastis. Itulah yang tampak dari  hasil rotasi anggota papan utama yang dilakukan oleh manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam evaluasi kali ini, otoritas bursa mengangkat 10 saham ke papan utama (lihat infografik). Kemudian BEI menurunkan 109 saham dari papan utama ke level papan pengembangan.Perubahan ini berlaku akhir Mei 2024 ini. Beberapa saham yang terdepak ke papan pengembangan cukup mengejutkan. Sebut saja PT Adira Finance Tbk (ADMF), HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan Bank Permata Tbk (BNLI). Ada juga emiten yang terafiliasi orang penting terdepak dari papan utama. Sebut saja emiten milik Keluarga Tanoko,  PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk (DEPO). Emiten saham milik Tommy Soeharto,  PT GTS Internasional Tbk (GTSI), dan PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) milik Grup Salim, hingga emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), juga tergusur dari papan utama. Sementara emiten saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya yang turun kelas yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Presisi Tbk (PPRE), PT Phapros Tbk (PEHA), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM).

Sebagai gambaran, merujuk data BEI, saat ini ada 926 emiten tercatat di BEI. Dari jumlah itu, 347 emiten atau 37,47% berada di papan utama, dan 320 emiten atau 34,55% di papan pengembangan. Usai  perubahan tersebut, 248 emiten atau 26,78%  di papan utama , sementara 419 emiten atau 45,24% di papan pengembangan. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengungkapkan, beleid perpindahan papan pencatatan ini bertujuan memberi klasifikasi yang jelas ke investor mengenai kondisi emiten berdasarkan kinerja fundamental, kapitalisasi pasar, serta pemenuhan atas peraturan bursa. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat saham yang naik ke papan utama akan mendapat sentimen positif. Sebaliknya, pasar cenderung merespons negatif saham yang turun ke papan pengembangan, apalagi jika penurunannya terkait faktor fundamental. Pendiri WH-Project William Hartanto juga melihat saham yang naik ke papan utama hanya menguat sejenak.  Pasar bisa memanfaatkan momentum itu untuk trading pada saham tersebut. Sementara untuk saham yang turun ke papan pengembangan, William menyarankan wait and see.

Awas, Bursa Saham Masih Bisa Tertekan

HR1 22 May 2024 Kontan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu bertengger lama di area 7.300-an. Setelah terbang 3,22% pada pekan lalu, IHSG kembali merosot ke bawah level 7.200 usai berbalik melemah dalam dua hari beruntun di awal pekan ini. Pada perdagangan Senin (20/5) IHSG anjlok 1,11% ke posisi 7.186,03 pada Selasa (21/5). Tergerusnya indeks sejalan dengan kembali hengkangnya investor asing. Kemarin, tercatat net sell investor asing sebesar Rp 1,06 triliun. Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki menyoroti lima sentimen yang  memengaruhi performa pasar saham. Pertama, tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang mulai naik kembali. Kedua, tensi politik China dan Taiwan usai pelantikan presiden baru Taiwan. Ketiga, pelaku pasar menunggu data ekonomi dan kebijakan moneter AS di pekan ini. Keempat, arah kebijakan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Kelima, posisi kurs rupiah yang masih berada di ambang Rp 16.000 per dolar AS.

Jika lanjut melemah, rupiah berpotensi melemah ke posisi Rp 16.100 hingga Rp 16.250 per dolar AS. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi sepakat, pekan pendek menjelang libur bursa ikut memengaruhi performa pasar. Para investor juga mengantisipasi rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed dan arah kebijakan BI. Meski begitu, Audi memandang kondisi ini belum mengubah tren jangka panjang IHSG yang masih bergerak di atas support 7.076. Dalam skenario bearish, IHSG berpotensi turun ke area support kuat tersebut sebelum menyentuh level psikologis 7.000. Sedangkan hingga akhir Mei, Audi memprediksi IHSG akan cenderung bergerak sideways dalam rentang 7.080 - 7.360.  Sebelum libur dan cuti bersama, pada perdagangan Rabu (22/5) kecenderungan IHSG masih akan tertekan meski sudah mulai terbatas, dengan uji support jangka pendek di level 7.150.