;
Tags

Bursa

( 810 )

Tuai Kontroversi, OJK & BEI Kaji Ulang FCA

HR1 07 Jun 2024 Kontan
Beleid papan pemantauan khusus dengan skema full periodic call auction (FCA) terus menuai protes kalangan investor. Sejauh ini, otoritas bursa tetap bergeming dan hanya berjanji akan mengkaji aturan nan kontroversial tersebut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) misalnya, menyatakan terus memantau dinamika penerapan mekanisme FCA di papan pemantauan khusus. Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK, Antonius Hari Prasetyo Moerdianto mengatakan, OJK dan self regulatory organization (SRO) terus berkoordinasi mengenai kebijakan pasar modal, termasuk soal mekanisme FCA. OJK tak menampik papan pemantauan khusus dengan mekanisme FCA memicu gejolak di pasar saham. OJK akan meninjau kembali implementasi papan pemantauan khusus ini. "Kami lihat dulu apakah seluruh investor merasa tidak dilindungi atau hanya sebagian. Kami masih akan melihat hasil implementasinya, sesuai dengan tujuan atau tidak," kata Anton. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik menandaskan, semua peraturan dan kebijakan pasti dikaji ulang untuk mengukur efektivitas, termasuk papan pemantauan khusus. "Review sedang berjalan dan sedang menunggu hasilnya," kata Jeffrey. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, volatilitas saham kian naik dan transaksi harian turunjika FCA masih diterapkan. Ia berharap, BEI mencabut aturan FCA di papan pemantauan khusus.

Waspada IHSG Bisa Terkapar Lebih Dalam

HR1 06 Jun 2024 Kontan (H)

Awan mendung masih enggan beranjak dari pasar modal Tanah Air. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian muram dan kemarin kembali tersungkur ke bawah 7.000. Tak tanggung-tanggung, IHSG terjun bebas 2,14% dalam satu hari ke level 6.947,67, Rabu (5/6). Ada banyak faktor yang menekan perfoma indeks. Salah satu yang paling dominan adalah nilai tukar rupiah yang jeblok 0,41% ke Rp 16.287 per dolar Amerika Serikat (AS). Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, maju-mundurnya rencana bank sentral AS Federal Reserve dalam kebijakan suku bunga, membuat outflow asing masih terus terjadi. Hal ini juga membuat rupiah melemah di hadapan dollar AS. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus juga mengatakan, asing juga masih hengkang dari saham-saham perbankan big caps.

Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada juga menilai, pasar masih akan bergerak fluktuatif di bulan ini. Secara historis, IHSG di bulan Juni sejatinya punya kinerja lebih baik dari bulan sebelumnya. Beberapa katalis yang bisa menjadi harapan pembalikan arah IHSG ialah rilis dividen, dan membaiknya data makroekonomi. Kemarin, saham BREN kembali menyentuh batas bawah auto reject. Yang jadi masalah, saham-saham Prajogo Pangestu lainnya seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga ikut-ikutan turun cukup dalam. Karena bobotnya juga besar terhadap IHSG, ketiga saham Prajogo Pengestu ini kompak menjadi laggard IHSG. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia. Budi Frensidy mengatakan, sejak BREN masuk ke papan pemantauan khusus, terjadi anomali dalam pergerakan di IHSG. Hitungan Budi, hingga akhir Juni nanti, sebenarnya IHSG masih bisa tetap berada di kisaran level 7.000. Tapi, karena BREN masih berada di papan pemantauan khusus, IHSG berpeluang ambrol ke level 6.500. Di tengah fluktuasi besar IHSG, Nico masih meyakini kalau strategi beli saham ketika koreksi masih akan lebih baik dibandingkan dengan membeli saat di pucuk.

Perlu Strategi Jitu di Papan Akselerasi

HR1 05 Jun 2024 Kontan

Barisan saham di papan akselerasi tetap mendaki saat pasar sedang berfluktuasi. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat di awal bulan Juni 2024, saham di papan akselerasi masih mampu mengikuti. Pada perdagangan Selasa (4/6), indeks saham yang dihuni oleh emiten skala aset kecil-menengah ini menguat 1,14%. Pekan lalu, saat IHSG terjun 3,48% dan hampir seluruh indeks melorot, papan akselerasi masih melaju 0,33%. Pendiri WH-Project, William Hartanto mengamati pergerakan saham-saham di papan akselerasi tidak otomatis berlawanan ataupun searah dengan IHSG.  Menurut William, papan akselerasi menarik sebagai pilihan para trader. Dus, kecenderungan saham di papan akselerasi yang anggotanya identik dengan kategori saham lapis ketiga ini memiliki fluktuasi yang sangat  tinggi.

Emiten di papan ini mudah naik dan turun dalam waktu cepat. Saham-saham di papan akselerasi bisa menjadi alternatif saat IHSG sedang melandai atau bergerak dalam volatilitas yang kencang. Tapi, tetap hati-hati. Saran William, barengi dengan diversifikasi, setidaknya dengan saham-saham di lapis kedua. Analis Stocknow.id, Emil Fajrizki menambahkan, ketika pasar sedang sepi, saham-saham lapis ketiga seperti saham di papan akselerasi lebih ramai diperdagangkan. "Saham-saham akselarasi ini lebih cocok untuk day trade saja, karena tingkat volatilitas serta rawan aksi goreng saham yang tinggi," ungkap Emil. Maka, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyarankan pelaku pasar lebih memperhatikan faktor teknikal termasuk volume dan fluktuasi harganya. Pilihannya trading buy PT Arsy Buana Travelindo Tbk (HAJJ) dan PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO).

Waspada Boleh, Panik Jangan

HR1 05 Jun 2024 Bisnis Indonesia

Indeks harga saham gabungan (IHSG) memerah 2,39%. Sepanjang 2024 atau year-to-date, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih sebesar Rp6,53 triliun per Selasa (4/6). Dari sekitar 44 indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia, hampir sebagian besar kinerjanya secara year-to-date merah merona. Hanya ada sembilan indeks yang menghijau, yaitu Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) yang tumbuh 2,09%, Jakarta Islamix Index 70 (0,35%), IDX Value30 (2,20%), IDX ESG Leaders (0,94%), Development Board (1,56%), Acceleration Board (33,03%), IDX Sector Energy (9,50%), IDX Sector Basic Materials (8,85%), dan IDX Sector Healthcare (1,15%). Sementara itu, IDX Sector Technology, IDX Sector Transportation & Logistic, dan IDX Sector Properties & Real Estate terpuruk dengan penurunan masing-masing minus 24,48%, minus 20,76%, dan minus 13,48%. Adapun, kinerja IHSG dibandingkan dengan bursa-bursa lainnya di dunia masuk dalam sebagian kecil bursa dunia yang kinerjanya tengah tertekan, seperti bursa saham Qatar yang turun 12,53%, Meksiko (-9,72%), Brasil (-9,06%), Thailand (-5,61%), Arab Saudi (-2,08%), Uni Emirat Arab (-1,89%), Filipina (-0,99%), dan India (-0,57%). Sebaliknya, hampir sebagian besar bursa-bursa di dunia, kinerjanya sepanjang 2024 menghijau. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2024 terpantau tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi IHK Mei 2024 tercatat deflasi sebesar 0,03% (MtM), sehingga secara tahunan menurun menjadi 2,84% (YoY) dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 3,00% (YoY). Secara tahunan, inflasi inti Mei 2024 tercatat sebesar 1,93% (YoY), meningkat dari inflasi inti bulan sebelumnya sebesar 1,82% (YoY). Ke depan, Bank Indonesia bahkan meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025. Guna memastikan sasaran inflasi tersebut, Bank Indonesia pun mempertahankan BI-Rate sebesar 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 7%. Di tengah kondisi ekonomi global yang masih terus dibayangi oleh tekanan geopolitik, pertumbuhan ekonomi lebih dari 5% tentu cukup menjanjikan. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi global sendiri hanya diproyeksikan sebesar 3,2% oleh IMF. Bahkan, OECD dan Bank Dunia memproyeksi di angka yang lebih rendah yaitu 2,9% dan 2,4%. Untuk itu, investor dapat memanfaatkan kondisi saat ini untuk mengalkulasi kembali strategi investasi dan portofolio yang dimilikinya, termasuk prospek sejumlah emiten dan industrinya ketika kelak kondisi perekonomian berangsur pulih. Waspada boleh, tetapi tak perlu panik.

MOMENTUM BERBURU BLUE CHIPS

HR1 05 Jun 2024 Bisnis Indonesia (H)

Awan mendung yang menaungi pasar saham Indonesia perlahan memudar pada awal bulan ini. Dus, sinyal awal rebound IHSG pun dapat dimanfaatkan oleh investor untuk berburu saham blue chips di sektor defensif yang memiliki tingkat valuasi atraktif. Dalam dua hari terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) menghijau dengan penguatan harian 0,94% pada Senin (3/6) dan 0,9% pada Selasa (4/6) ke level 7.099,31. Meski demikian, IHSG masih terperosok turun 2,39% secara year-to-date (YtD). Pada saat yang sama, indeks jagoan yang menaungi mayoritas saham blue chips justru mencetak kinerja yang underperform terhadap IHSG. Merujuk data Bursa Efek Indonesia, indeks LQ45 turun 7,7% dan IDX30 melorot 10,52% sepanjang tahun berjalan 2024. Performa dua indeks utama itu terbebani oleh koreksi harga saham big banks,TLKM, ASII, hingga SMGR. Fase bearishLQ45 dan IDX30 juga sejalan dengan arus keluar modal asing yang mengakumulasi net sell Rp6,53 triliun sejak awal tahun. 

Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas) Cheril Tanuwijaya menuturkan sentimen global dari ketidakpastian dari pemangkasan suku bunga The Fed yang memantik outfl ow investor asing menekan laju indeks LQ45 dan IDX30. Secara sektoral, Head of Investor Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyebut konstituen LQ45 dan IDX30 dari sektor teknologi, telekomunikasi, dan perbankan menjadi pemberat dua indeks acuan tersebut. Meski begitu, para analis melihat sejumlah katalis positif yang berpotensi mendorong rebound indeks LQ45 dan IDX30. Cheril menyebut kedua indeks utama itu bisa berbalik ke zona hijau apabila ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat saat perlambatan inflasi AS terjadi secara konsisten dalam beberapa bulan menuju target bank sentral. 

Sependapat, Audi menuturkan potensi pemangkasan suku bunga pada kuartal IV/2024 akan berdampak positif terhadap emiten berkategori cyclical di dua indeks utama tersebut. Selain itu, faktor rebalancing indeks yang dilakukan setiap 3 bulan sekali juga menjadi angin segar karena penyesuaian konstituen terhadap kriteria indeks dilakukan lebih cepat dan up-to-date. Associate Director of Investment and Research Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan terjaganya daya beli dan konsumsi masyarakat, geliat aktivitas perekonomian, dan turunnya harga minyak sehingga inflasi makin terkendali turut membuka ruang apresiasi pasar saham, termasuk indeks LQ45 dan IDX30. Sementara itu, Mega Capital Sekuritas menilai saham di sektor consumer staples dan energi dapat menjadi fokus pelaku pasar dalam waktu dekat a.l. ICBP, UNVR, ADRO, dan ITMG. InvestasiKu menilai valuasi ICBP dan UNVR relatif murah, sedangkan saham-saham berbasis batu bara masih menarik meski volatilitasnya tinggi. Dari kacamata manajer investasi, Senior Portofolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma menilai terjadinya koreksi IDX30 dan LQ45 dapat dimanfaatkan investor untuk mendapatkan saham likuid dengan harga diskon.

Berpotensi Koreksi Terbatas

HR1 05 Jun 2024 Kontan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan kenaikan sebesar 0,90% ke angka 7.099,31 pada penutupan perdagangan Selasa (4/6). IHSG diprediksi kembali mengalami koreksi terbatas dengan support 7.036 dan resistance di level 7.171 pada Rabu (5/6). Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyebut, penguatan IHSG di tengah terkoreksinya mayoritas bursa Asia. Menurut dia, penguatan IHSG akibat penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Secara teknikal, Equity Research Analyst Pintraco Sekuritas, Nurwachidah melihat, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan penyempitan negative slope. Sedangkan, Stochastic Relative Strength Index (RSI) berada di area oversold. "Mengindikasikan potensi IHSG menguji kembali level 7.150," kata Nur kepada Kontan, Selasa (4/6). Pasar keuangan global juga menantikan rilis data US Institute for Supply Management (ISM) Services PMI bulan Mei yang diproyeksikan akan menembus zona ekspansif ke level 50,50. Saham-saham pilihan teratas menurut Nur untuk perdagangan Rabu pada (5/6) meliputi JSMR, ASSA, SMRA, INTP, SMGR, dan PNLF

Menimbang Dampak Kebijakan FCA Bursa

KT3 05 Jun 2024 Kompas

Beberapa karangan bunga berdiri di jalur masuk pengunjung ke kantor Bursa Efek Indonesia pada akhir Mei 2024. Pada papan karangan bunga dengan hiasan berwarna dan tulisan cerah itu tertulis ucapan seperti ”Rest in Peace Kebijakan FCA BEI” atau ”Yth Pimpinan BEI, tolong ubah FCA, enggak kondusif buat market”. Pemberi ucapan adalah individu yang kemungkinan investor pasar modal. Kebijakan FCA atau full periodic call auction sejauh ini menjadi salah satu aturan baru BEI yang menuai penolakan dari sebagian investor ritel. Sejak diresmikan pada 20 Maret 2024, beberapa influencer atau pemengaruh pasar modal dalam negeri menyuarakan kritik mereka terkait aturan ini. Sebuah petisi daring juga sempat muncul untuk mengumpulkan 25.000 investor yang ikut menuntut penghapusan peraturan FCA.

Hingga Selasa (4/6) petisi itu baru ditandatangani 15.134 orang. Peraturan FCA ini pada dasarnya melengkapi aturan perdagangan saham yang masuk ke dalam papan pemantauan khusus, yang setidaknya mengalami satu dari 11 kriteria, antara lain berkaitan dengan masalah likuiditas rendah, ekuitasnya negatif, dituntut pailit, atau tak memenuhi persyaratan bursa. Jika sebelumnya aturan ini hanya berlaku bagi saham perusahaan tercatat dengan likuiditas perdagangan rendah, saat ini CA berlaku penuh bagi seluruh saham yang dipantau khusus. Aturan ini juga mengubah batas minimum autorejection harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 per lembar saham. Berbeda dengan saham umum yang pembentukan harganya dapat dipantau setiap saat, saham dalam pemantauan khusus hanya diperdagangkan secara lelang di pasar negosiasi dalam beberapa sesi sehari.

Aspek inilah yang menjadi bahan protes sejumlah investor. Pengamat pasar modal Lanjar Nafi membaca, reaksi negatif terhadap kebijakan FCA cenderung datang dari investor berpengalaman yang merasa bahwa sistem ini membatasi fleksibilitas dan dinamika perdagangan saham yang selama ini mereka ikuti. Kebijakan FCA juga berpotensi membatasi likuiditas karena perdagangan hanya dilakukan pada waktu tertentu dan tidak secara terus-menerus sepanjang hari perdagangan. Hal ini bisa membuat investor kesulitan untuk melakukan transaksi segera. ”Padahal, tujuan utama kebijakan ini agar dapat mengurangi risiko perdagangan yang terlalu spekulatif dan meningkatkan pemahaman investor pemula tentang investasi yang aman,” ujarnya, Selasa (4/6). (Yoga)


Sistem Lelang di Papan Khusus Bikin Komplikasi

HR1 03 Jun 2024 Kontan (H)

Papan pemantauan khusus tahap II alias  full call auction (FCA) sudah berjalan lebih dari dua bulan. Akhirnya terbukti, alih-alih melindungi investor, kini mekanisme itu menimbulkan komplikasi dan dinilai merugikan investor di bursa. Awalnya, gejolak FCA ini tidak begitu besar, mengingat emiten yang masuk kriteria ini relatif kecil. Namun, masuknya saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memicu tsunami di pasar. Selama periode 27-31 Mei 204, kapitalisasi pasar bursa saham menguap Rp 538 triliun atau 4,35% menjadi Rp 11.825 triliun dari Rp 12.363 triliun pada pekan lalu. Sedangkan kapitalisasi pasar BREN tergerus Rp 405 triliun. Jumat (31/5), BREN ambles 9,86% ke level Rp 8.225. Pelemahan saham emiten Prajogo Pangestu ini pun menggerus IHSG sebesar 35,08 poin. Yang ironis, total nilai transaksi perdagangan saham BREN dalam tiga hari pertama di papan pemantauan khusus  hanya sekitar Rp 44 miliar.

Nilai tersebut jauh di bawah rata-rata perdagangan BREN selama di papan utama yang di atas Rp 100 miliar per hari. Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia melihat tekanan ke saham BREN memicu kepanikan karena emiten ini masuk papan pemantauan khusus. Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menyarankan, seharusnya implementasi papan pemantauan khusus dengan skema FCA ini bisa dikomunikasikan ke investor dan dievaluasi efektivitasnya. Investment Consultant Reliance Sekuritas Reza Priyambada menilai, ide awal  papan pemantauan khusus ini positif, yakni membangunkan lagi saham tidur. Masalahnya, pelaku pasar memandang negatif setiap saham yang masuk ke papan pemantauan khusus sebagai saham bermasalah, serta merugikan investornya. Direktur Keuangan dan SDM Bursa Efek Indonesia (BEI), Risa Rustam mengakui, masuknya BREN ke papan pemantauan mempengaruhi  IHSG. Tapi, masuknya BREN ke papan itu belum berefek pada rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham secara keseluruhan.

Bursa Saham Masih Rentan Tertekan

HR1 03 Jun 2024 Kontan
Mengakhiri bulan Mei 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai titik terendah sepanjang bulan lalu ke level 6.970,74 pada Jumat (31/5). Dengan pelemahan 3,48% pada pekan lalu, IHSG diproyeksi menyambut awal Juni dengan kecenderungan fluktuatif di area level 6.900-7.000. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang melihat, terdapat pelebaran negative slope pada Moving Average Convergence/Divergence (MACD) bersamaan dengan terbentuknya pola three black crows pada IHSG. Menurutnya, dengan adanya pola tersebut perlu diwaspadai sebab mengindikasikan potensi bearish continuation. Misalnya data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur bulan Mei 2024 di AS. Data ini, diwaspadai pelaku pasar sebab data PMI pada April dalam zona kontraksi di angka 49,2 atau berada di bawah level 50. Ini mengindikasikan pelemahan pada sektor manufaktur di AS. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menilai, ada potensi koreksi lanjutan IHSG dalam rentang 6.907-7.080. Sedangkan analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksi, IHSG berpeluang menguat terbatas di 6.947-7.036. Herditya mencermati saham GOTO dengan target harga Rp 70–Rp 77, ITMG berkisar di level Rp 25.500–Rp 26.000, dan ARTO di harga Rp 2.490–Rp 2.600.

Tantangan Berat Kembali ke 7.000

HR1 03 Jun 2024 Kontan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini tengah berjuang kembali ke level psikologis di 7.000. IHSG menutup bulan Mei dengan terkoreksi 0,90% ke level 6.970,73, Jumat (31/5). Sepanjang Mei, IHSG sudah melemah 3,64% atau turun 263,46 poin. Beberapa saham menjadi pemberat langkah IHSG. Yakni  Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII) yang masing-masing menggerus IHSG 91,59 poin, 64,74 poin dan 38,99 poin. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mencermati penurunan BREN akan menghantui pergerakan IHSG sepanjang Juni 2023. Mengingat BREN akan masuk papan pemantauan khusus selama 30 hari kalender. Pergerakan IHSG di Juni ini akan dipengaruhi sentimen global.

Terutama rilis berbagai data inflasi Amerika Serikat (AS), data ketenagakerjaan AS dan pertemuan The Fed pada 12 Juni 2024. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mencermati, di awal Juni, sudah ada beberapa sentimen positif mulai datang. Namun Nico memprediksi, volatilitas IHSG akan tinggi dan bergantung pada rilis data ekonomi setiap minggunya. Proyeksi Pilarmas Sekuritas, IHSG bergerak di kisaran 6.960-7.050. Nafan merekomendasikan accumulative buy ADMR dengan target di Rp 1.510. Kemudian accumulative buy ADRO, BSDE dan ITMG dengan target harga masing-masing  di Rp 2.800, Rp 975 dan Rp 24.875.