;

Menimbang Dampak Kebijakan FCA Bursa

Ekonomi Yoga 05 Jun 2024 Kompas
Menimbang Dampak
Kebijakan FCA Bursa

Beberapa karangan bunga berdiri di jalur masuk pengunjung ke kantor Bursa Efek Indonesia pada akhir Mei 2024. Pada papan karangan bunga dengan hiasan berwarna dan tulisan cerah itu tertulis ucapan seperti ”Rest in Peace Kebijakan FCA BEI” atau ”Yth Pimpinan BEI, tolong ubah FCA, enggak kondusif buat market”. Pemberi ucapan adalah individu yang kemungkinan investor pasar modal. Kebijakan FCA atau full periodic call auction sejauh ini menjadi salah satu aturan baru BEI yang menuai penolakan dari sebagian investor ritel. Sejak diresmikan pada 20 Maret 2024, beberapa influencer atau pemengaruh pasar modal dalam negeri menyuarakan kritik mereka terkait aturan ini. Sebuah petisi daring juga sempat muncul untuk mengumpulkan 25.000 investor yang ikut menuntut penghapusan peraturan FCA.

Hingga Selasa (4/6) petisi itu baru ditandatangani 15.134 orang. Peraturan FCA ini pada dasarnya melengkapi aturan perdagangan saham yang masuk ke dalam papan pemantauan khusus, yang setidaknya mengalami satu dari 11 kriteria, antara lain berkaitan dengan masalah likuiditas rendah, ekuitasnya negatif, dituntut pailit, atau tak memenuhi persyaratan bursa. Jika sebelumnya aturan ini hanya berlaku bagi saham perusahaan tercatat dengan likuiditas perdagangan rendah, saat ini CA berlaku penuh bagi seluruh saham yang dipantau khusus. Aturan ini juga mengubah batas minimum autorejection harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 per lembar saham. Berbeda dengan saham umum yang pembentukan harganya dapat dipantau setiap saat, saham dalam pemantauan khusus hanya diperdagangkan secara lelang di pasar negosiasi dalam beberapa sesi sehari.

Aspek inilah yang menjadi bahan protes sejumlah investor. Pengamat pasar modal Lanjar Nafi membaca, reaksi negatif terhadap kebijakan FCA cenderung datang dari investor berpengalaman yang merasa bahwa sistem ini membatasi fleksibilitas dan dinamika perdagangan saham yang selama ini mereka ikuti. Kebijakan FCA juga berpotensi membatasi likuiditas karena perdagangan hanya dilakukan pada waktu tertentu dan tidak secara terus-menerus sepanjang hari perdagangan. Hal ini bisa membuat investor kesulitan untuk melakukan transaksi segera. ”Padahal, tujuan utama kebijakan ini agar dapat mengurangi risiko perdagangan yang terlalu spekulatif dan meningkatkan pemahaman investor pemula tentang investasi yang aman,” ujarnya, Selasa (4/6). (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :