;

Waspada dalam Euforia

Waspada dalam Euforia

Suasana lantai bursa pada sesi perdagangan sejak Rabu (13/3) sampai kemarin, benar-benar luar biasa. Indeks harga saham gabungan alias IHSG berulangkali menembus rekor tertinggi di tengah gerak bursa Asia yang berfluktuasi. Gerak IHSG bahkan sempat menembus all time high (ATH) sebelum ditutup di posisi 7.433,31, kemarin. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di level 7.380—7.454. gairah panas IHSG mendorong saham-saham emiten turut menghijau. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 13 miliar saham telah beredar dengan nilai Rp10,9 triliun yang dibukukan dari total 1,27 juta transaksi. Kinerja IHSG ditopang oleh 284 saham naik, 247 saham turun, dan 393 stagnan. Di tengah kegembiraan pasar finansial yang bersejarah, dengan IHSG yang menembus angka psikologis 7.436, mata uang kripto Bitcoin juga mencapai puncak baru di level US$72.000 sekeping. Adakah komoditas lain yang berseri-seri? Tentu. Harga emas juga melewati batas US$2.206 per troy ounce. Semua senang berada dalam pasar yang volatile. Namun, di balik euforia itu, para investor sesungguhnya dihadapkan pada dinamika pasar yang menantang. Penawaran SBN ritel seri SR020 juga menjadi titik fokus prospeknya instrumen karena SBN menawarkan alternatif investasi bagi mereka yang mencari keamanan di tengah volatilitas pasar seperti sekarang. Kenaikan jumlah uang beredar di Indonesia, yang mencapai Rp1.051,68 triliun atau naik 9,21% pada Januari 2024 (year-on-year/YoY), menandakan konsumen dan pemerintah, siap tidak siap, akan menghadapi musim belanja besar-besaran dengan harga yang ikut melambung tinggi di kelompok sembako. Di tengah kondisi pasar yang euforia, investor tetap perlu menggunakan akal sehat dan tidak didikte emosi. Salah satunya dengan menerapkan strategi yang seimbang antara ekspansi dan konservasi. Diversifikasi portofolio menjadi kunci, tidak hanya di antara kelas aset yang berbeda tetapi juga dalam aset yang sama untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil. Menimbang fenomena kenaikan IHSG di atas, potensi emas sebagai lindung nilai, dan volatilitas Bitcoin, investor sebaiknya perlu mempertimbangkan komposisi aset yang adaptif terhadap perubahan pasar. Kinerja aset ke depannya akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter The Fed, dinamika pasar global, serta kondisi ekonomi domestik yang dipengaruhi oleh konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri. Proyeksi penurunan suku bunga acuan The Fed pada paruh kedua 2024 dapat memberikan dorongan bagi likuiditas pasar dan memicu apresiasi lebih lanjut pada aset-aset berisiko. Pada intinya, pendekatan yang berhati-hati di tengah euforia pasar dan tetap proaktif akan memungkinkan investor memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan risiko. Diversifikasi, analisis mendalam, dan pemahaman yang kuat tentang dinamika pasar selalu menjadi kunci sukses dalam investasi pada periode yang penuh tantangan ini.

Tags :
#Opini #Bursa
Download Aplikasi Labirin :