Bursa
( 805 )PERGERAKAN BURSA : ANOMALI SAHAM PENCETAK REKOR
Investor disarankan untuk cermat dan selektif dalam menyikapi lonjakan harga saham sejumlah emiten yang menyentuh rekor tertinggi pada tahun ini. Faktor valuasi yang terlampau tinggi dan risiko koreksi harga dinilai perlu diwaspadai.
Sepanjang tahun berjalan 2023, beberapa saham yang baru melakukan pencatatan di Bursa Efek Indonesia mampu mencetak all-time-high(ATH) a.l. saham-saham milik Prajogo Pangestu dan Grup Salim. Berdasarkan catatan Bisnis, beberapa perusahaan tersebut adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang menyentuh ATH Rp11.350 dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang menembus ATH ke level Rp8.050.Saham lainnya milik Prajogo Pangestu yang menyentuh ATH adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) ke level Rp4.780, dan PT Barito Pacifi c Tbk. (BRPT) yang naik ke level ATH pada Rp1.755Selain saham milik Prajogo Pangestu, saham milik kongsi taipan Grup Salim, Medco, dan Agus Projosasmito PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sempat naik kencang hingga menyentuh ATH ke level Rp7.775.Emiten lain yang menyentuh ATH adalah PT Pelita Teknologi Global Tbk. (CHIP) dengan level ATH pada Rp2.820.Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy menuturkan investor perlu waspada terhadap saham-saham pendatang baru yang menyentuh rekor harga tertinggi. Menurutnya, suatu saham yang naik dengan cepat memiliki potensi untuk turun lebih cepat juga.
Di luar saham-saham tersebut, beberapa saham perbankan dengan kapitalisasi pasar besar juga sempat menyentuh ATH tahun ini. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sempat menyentuh ATH pada harga Rp5.700, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik ke level ATH Rp9.400, hingga PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang naik ke level ATH Rp6.125.
Di sektor perbankan, saham BBRI dan BBCA menjadi jagoan Mirae Asset Sekuritas.
Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan performa indeks LQ45 dan IDX80 yang naik 1,97% dan 0,45% underperform terhadap IHSG yang melompat 4,75% secara year-to-date (YtD) ke level 7.176,01 per Kamis (14/12).
“Fenomena BREN, CUAN, dan AMMN ada potensi pergerakan IHSG tertahan karena investor asing merasa tidak nyaman dengan gapantara LQ45 dan IHSG,” ujarnya.
Saham Perdana Menopang Bursa di Tahun 2023
IPO Paling Boncos dari Emiten Skala Kecil
Emiten Prajogo Merajai Bursa
Prajogo Pangestu kian kokoh di posisi orang terkaya di Indonesia dan dunia.
Forbes
mencatat, kemarin (8/12), pria 79 tahun ini memiliki harta sekitar US$ 58,3 miliar atau sekitar Rp 903,65 triliun. Ia berada di posisi 23 orang terkaya sejagat raya.
Pendorong utama kenaikan kekayaan Prajogo adalah lonjakan harga saham lima emiten yang dia kendalikan. Kini, nilai kapitalisasi pasar (
market cap
) emiten-emiten milik Prajogo Pangestu mencapai Rp 1.788,81 triliun atau menopang 15,51% total market cap Bursa Efek Indonesia (BEI) yang senilai Rp 11.506,11 triliun pada akhir perdagangan, Jumat (8/12).
Lima saham tersebut terdiri dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT) PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BRPT), dan PT Petrosea Tbk (PTRO). Kini, empat dari lima emiten itu memiliki market cap di atas Rp 100 triliun.Bahkan kemarin (8/12), BREN sempat memiliki market cap Rp 1.090,36 triliun dan di posisi jawara terbesar menggeser posisi BBCA. Namun di penutupan bursa saham,
market cap
BREN kembali turun ke posisi kedua dengan nilai Rp 1.076,98 triliun.
Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud mengatakan, jika kapitalisasi pasar emiten Prajogo dikeluarkan, BEI bisa oleng bagai pesawat terbang di hampa udara. "Pemegang saham yang beruntung memiliki perusahaan milik Prajogo Pangestu ikut terangkat ke tingkat lebih tinggi secara materi," kata Hasan.
Yang pusing tujuh keliling dengan melejitnya harga saham milik Prajogo adalah manajer investasi.MI menghadapi dilema. Saham BREN bukan LQ45, tapi kapitalisasi pasarnya mendekati Bank Central Asia Tbk (BBCA). "Banyak MI tidak mengoleksi saham ini, kinerjanya di bawah pasar," kata Budi.
CEO Pinnacle Investment Indonesia. Guntur Putra membuka peluang menambah saham BREN dan saham lain. Hanya saja, BREN atau CUAN belum masuk portofolio. "Kami mengedepankan prinsip kehati-hatian terhadap potensi risiko dan return," jelas Guntur.
PENGUATAN MODAL FINTECH : OJK RESTUI PINJOL MELANTAI DI BURSA
Otoritas Jasa Keuangan merestui platform financial technology peer-to-peer lending atau pinjaman online melakukan initial public offering di Bursa Efek Indonesia untuk memperkuat permodalannya. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa penguatan permodalan di industri financial technology atau fintech peer-to-peer lending dapat dilakukan oleh pemegang saham. “Tidak ditutup kemungkinan melalui IPO di Bursa Efek Indonesia, dan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya, dikutip Jumat (8/12). Berdasarkan data OJK per 30 November 2023, masih terdapat 23 penyelenggara pinjaman online atau pinjol yang belum memenuhi ketentuan pemenuhan ekuitas minimum sebesar Rp2,5 miliar. Di sisi lain, Agusman menyebut bahwa sejauh ini belum ada pemain peer-to-peer lending yang mengajukan diri untuk melantai di Bursa. “Sampai dengan saat ini belum ada peer-to-peer lending yang melakukan IPO melalui bursa efek,” ujarnya. Dalam kesempatan terpisah, Edi Setijawan, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK mengatakan bahwa sejauh ini sebagian besar sumber pendanaan perusahaan fintech masih berasal dari investor korporasi, sehingga regulator mendorong pemain untuk meraih pendanaan dari investor ritel. “ we’ll see. Ada , we’ll see. Tergantung market-nya, karena kami maunya evaluasinya kami apa adanya,” kata Direktur Utama AdaKami Bernardino M. Vega beberapa waktu lalu. Meski demikian, Dino —panggilan akrabnya— enggan membeberkan kapan AdaKami akan melantai di pasar modal. Sebab, kata dia, untuk melantai di pasar modal memerlukan banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Berdasarkan catatan Bisnis, usai OJK mengumumkan induk usaha fintech PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran), PT Akselerasi Usaha Indonesia Tbk. (AKSL) telah mengantongi pernyataan pra-efektif per 27 Juni 2023, manajemen AKSL memutuskan untuk menunda IPO hingga Juni 2024. Saat itu, perusahaan menyatakan tengah menjalani proses penawaran umum perdana saham dan berencana untuk menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Agustus 2023. Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengungkapkan bahwa penundaan IPO tersebut dikarenakan perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk mendapatkan strategic investor yang tepat untuk dapat mendukung rencana perusahaan di masa mendatang. Adapun, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut industri fintech lending membutuhkan momentum agar dapat melantai di pasar modal. Momentum itu pun dapat terlihat dari sisi kualitas pinjaman fintech yang harus menunjukkan perbaikan.
Trio The Barito's Menggocek Bursa
Saham tiga emiten Grup Barito alias The Barito's, terus menggoyang Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Kamis (7/12), saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi
top gainers, sementara kapitalisasi pasar (market cap) PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mampu menembus Rp 1.000 triliun.
Lonjakan harga saham-saham milik taipan Prajogo Pangestu itu turut mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menutup perdagangan Kamis (7/12), IHSG melompat 47,22 poin atau 0,67% ke level 7.134,62.
Yang menyedot perhatian, dengan lonjakan harga saham kemarin,
market cap
BREN pun menembus Rp 1.036,84 triliun. Kini, trio The Barito's memiliki
market cap
Rp 1.563,78 triliun atau setara 13,7%
market cap
BEI. Porsi itu makin besar jika ditambah dengan
market cap
CUAN, afiliasi Grup Barito.
Pengamat Pasar Modal &
Founder
WH-Project William Hartanto menilai, lonjakan harga saham Grup Barito mirip ketika terjadi
booming
sektor teknologi dan bank digital tahun 2020. Kala itu, saham teknologi dan bank digital menjadi penggerak utama IHSG.
William mengingatkan, perlu dicermati lagi sentimen pendorong harga Grup Barito pada masing-masing sahamnya. Memang, prospek bisnis sektor energi terbarukan menjadi katalis positif. Namun, William melihat lonjakan saham Grup Barito lebih disebabkan efek euforia pasar terhadap Prajogo Pangestu yang menjadi daya tarik.
William melihat, emiten The Barito's masih berpotensi menguat lagi. "Indikator MA5 dan MA20, selama kondisi ini masih terpenuhi,
trend following
bisa terus dilakukan. Semua tren pasti ada akhirnya. Jadi perlu selalu waspada dengan kemungkinan
profit taking
dan berakhirnya tren," terang William. Guna meminimalkan risiko, bisa dipertimbangkan
hold
atau
sell on strength
untuk merealisasikan cuan..
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai saham Grup Barito masih layak untuk
speculative buy
atau
trading buy.
Perlambatan Ekonomi Global Membayangi IPO Tahun Depan
Asing Waspada Pemilu, Bursa Saham Tetap Melaju
Otoritas Tunda Papan Pemantauan Khusus
Meredam Pesimisme 2024 di Pasar Modal
Pesta demokrasi Pemilihan Umum 2024 yang siap digelar pada Februari, selain membawa optimisme atas tata kelola pemerintahan yang lebih baik, rupanya juga membawa dampak lain yang membuat kalangan pasar modal bersikap wait and see. Tidak seperti masa-masa jauh sebelum pemilu, ketika otoritas keuangan selalu membuka lembar kalender baru dengan penuh optimisme. Kali ini, sikap itu seakan-akan berkebalikan. Optimisme pasar modal seakan-akan sudah hanyut ditelan kegaduhan kampanye para kandidat presiden dan wakil presiden. Asumsi ini jelas terlihat dari target penggalangan dana di lantai bursa yang tidak terlalu muluk pada tahun depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagai the guardian of investors’ trust, memilih sedikit konservatif dengan menetapkan target penggalangan dana di pasar modal berkisar Rp175 triliun—Rp200 triliun. Sebagai target baru untuk tahun depan, jumlah itu sangatlah peanut. Alasannya, target 2024 yang dipatok OJK rupanya lebih rendah dari realisasi penghimpunan dana di pasar modal tahun ini, yang hingga 30 November saja sudah mencapai Rp230,59 triliun. Penggalangan dana ini berasal dari 197 aksi korporasi. Lebih terperinci, OJK mencatat ada 71 IPO degan nilai total Rp52,99 triliun pada tahun ini. Apalagi, berbasis pada kondisi pada tahun ini, situasi di pasar modal relatif stabil. Bahkan, jumlah emiten pada tahun ini memecahkan sepanjang sejarah keberadaan BEI. Meski tampak ada riak-riak kecil seperti adanya penurunan kualitas IPO dari sejumlah emiten baru, pada sisi lain, ini membuktikan partisipasi emiten di lantai bursa sepanjang 2023 meningkat. Selain itu, penghimpunan rights issue sudah mencapai Rp50,99 triliun, emisi surat utang korporasi Rp10,47 triliun, dan penawaran umum berkelanjutan Rp116,14 triliun. Menurut OJK, masih ada 96 rencana aksi korporasi dalam pipeline dengan estimasi nilai penggalangan dana Rp41,11 triliun pada tahun ini. Luar biasa. Belum lagi ketika mengintip pasar saham. Tanda-tanda penguatan makin terlihat dari laju IHSG sebesar 4,17% (YtD) ke level 7.132,57. Ini level tertinggi pada 2023. Hal itu terdorong oleh arus modal asing yang mulai kembali ke pasar modal pada bulan lalu menjelang window dressing.
Pilihan Editor
-
KKP Dorong Pengusaha Ekspor Perikanan ke Timteng
02 Aug 2021 -
Indef: APBN Memiliki Masalah Berat
02 Aug 2021 -
Transaksi E-Commerce Diprediksi Rp 395 Triliun
30 Jul 2021









