;
Tags

Bursa

( 810 )

Bom Waktu Bernama TikTok Shop

KT1 18 Dec 2023 Tempo
KEMBALI beroperasinya TikTok Shop menunjukkan inkonsistensi pemerintah dalam menegakkan aturan yang mereka tetapkan sendiri. Gembar-gembor pemerintah melarang social commerce demi melindungi usaha kecil dan menengah dalam negeri kian jauh panggang dari api.  Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 yang terbit pada akhir September lalu melarang penggunaan media sosial sebagai tempat berjualan. Namun TikTok Shop kembali beroperasi dua bulan kemudian, setelah TikTok, anak perusahaan ByteDance Ltd dari Cina, mengakuisisi 75,01 persen saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dengan nilai Rp 23,42 triliun pada 12 Desember lalu.

Setelah TikTok Shop kembali buka, tak ada perubahan signifikan dalam praktik jual-beli di social commerce tersebut dibanding sebelum penutupan pada 4 Oktober lalu. TikTok masih menggunakan skema lama: platform TikTok Shop sebagai tempat berjualan sekaligus bertransaksi. Hanya ada logo Tokopedia di pojok kanan atasnya.  TikTok Shop mengklaim membutuhkan waktu untuk melakukan uji coba dan transisi layanan jual-belinya ke mitra lokal, Tokopedia. Anehnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan malah langsung mengizinkan TikTok Shop kembali beroperasi, meski dengan embel-embel “proses transisi” selama empat bulan. (yetede)

Pasar IPO Asia-Pasifik 2024 Bakal Bergairah

HR1 16 Dec 2023 Kontan
Para bankir memperkirakan aksi penghimpunan dana di pasar modal lewat initial public offering (IPO) kawasan Asia Pasifik memiliki prospek lebih menarik di tahun 2024. Bankir yang disurvei Reuters optimistis pasar IPO akan membaik, setelah suram sepanjang tahun ini.Menurut data LSEG, seperti dilansir Reuters, Jumat (15/12), nilai penjualan saham oleh perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik merosot seperlima secara tahunan, menjadi US$ 229 miliar sepanjang 2023. Capaian ini merupakan yang terendah sejak 2012.Data LSEG tersebut mencakup penjualan saham pertama dan sekunder, penerbitan obligasi konversi dan block sales. Pelemahan disebabkan berbagai faktor, seperti kenaikan suku bunga, inflasi tinggi, dan ketegangan geopolitik.Tapi kini para bankir menyebut, sentimen equity capital market (ECM) telah membaik dalam beberapa pekan terakhir. Alasannya, tingkat suku bunga di banyak negara telah mencapai puncak. Sejumlah bank sentral, termasuk The Fed, sudah mulai membicarakan potensi penurunan suku bunga di 2024. "Saat ini, pasar melihat prospek makro yang cukup baik yang dapat mendorong para emiten untuk masuk. Pipeline-nya kuat," kata Udhay Furtado, Kepala Pasar Modal Ekuitas Asia Citi. Tanda-tanda membaiknya sentimen penjualan saham terlihat dari sejumlah kesepakatan penjualan borongan saham perusahaan di kawasan Asia Pasifik beberapa minggu terakhir. Salah satunya, Bain Capital berhasil menjual sahamnya di Axis Bank India senilai US$ 448 juta pada Desember ini.Namun, Furtado mengatakan, kondisi pasar IPO akan lebih menantang saat musim pemilu. Ketika aktivitas politik memanas, perusahaan biasanya enggan membuat keputusan-keputusan besar, karena khawatir ada perubahan kebijakan.Pemilihan umum akan digelar di Taiwan bulan depan. Indonesia, Korea Selatan dan India juga akan melakukan pemungutan suara tahun depan.Di skala global, pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS) akan diselenggarakan pada November 2024.

Peluang dari Ekspor Sarung Tangan

HR1 16 Dec 2023 Kontan
Pengusaha asal Sumatera Utara, Hansen Jap kembali memboyong perusahaan miliknya ke lantai bursa. Setelah PT Haloni Jane Tbk (HALO), Hansen membawa PT Maja Agung Latexindo Tbk go public. Keduanya sama-sama bergelut di bisnis manufaktur sarung tangan lateks. Maja Agung Latexindo sendiri telah berdiri selama 35 tahun dan baru tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Desember 2023. Perusahaan yang menggunakan kode saham SURI ini berdiri sejak 1988 di Sumatera Utara. Direktur SURI, Engel Stefen mengatakan, kendati dikendalikan oleh pihak yang sama, secara operasional HALO dan SURI punya fokus berbeda. Target pasar HALO adalah penjualan dalam negeri, meskipun ada pula ekspor. "Kalau SURI fokusnya 100% ke pasar ekspor," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (13/12). Produk-produk sarung tangan lateks SURI menggunakan merek Shamrock, baik untuk segmen kesehatan, industri, dan sarung tangan khusus. Pasar yang dituju adalah Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Engel memaparkan, untuk pasar Amerika, SURI menyasar Amerika Serikat (AS) dan Amerika Selatan, seperti Paraguai, Brazil, dan Meksiko. Sedangkan di pasar Eropa, SURI fokus masuk ke Jerman lantaran standarisasi negara-negara Eropa berkiblat pada Jerman. Sementara fokus di Timur Tengah adalah Dubai. Dengan menjadi perusahaan terbuka, SURI punya peluang lebih besar untuk mendorong penetrasi pasar. Sebab go public dapat meningkatkan kelas perusahaan dengan good corporate government (GCG) dan mempermudah calon konsumen mengakses profil perusahaan. Dalam hajatan initial public offering (IPO), SURI melepas sebanyakbanyaknya 1,27 miliar saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dari aksi korporasi ini, SURI memperoleh dana IPO Rp 215,36 miliar. Rencananya sekitar 49,45% dana IPO akan digunakan untuk belanja modal (capex). Lalu, sebesar 20,26% untuk pengembangan bangunan gudang, pabrik, dan kantor. Kemudian, 24,55% sisanya akan digunakan untuk penambahan dan remodifikasi mesin produksi yang dimiliki. Dengan membaiknya kondisi pengiriman, SURI juga menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun depan. Engel menyebut, SURI membidik pertumbuhan 30%-40% dari tahun ini. Dengan kata lain, pendapatan SURI tahun depan bisa mencapai Rp 140 miliar. Selain fokus pada penetrasi pasar, SURI juga berencana meningkatkan kapasitas produksi. Engel menyebut, saat ini perusahaan tengah membidik lokasi di daerah Kalimantan yang memiliki sumber daya karet yang besar.

Peluang dari Ekspor Sarung Tangan

HR1 16 Dec 2023 Kontan
Pengusaha asal Sumatera Utara, Hansen Jap kembali memboyong perusahaan miliknya ke lantai bursa. Setelah PT Haloni Jane Tbk (HALO), Hansen membawa PT Maja Agung Latexindo Tbk go public. Keduanya sama-sama bergelut di bisnis manufaktur sarung tangan lateks. Maja Agung Latexindo sendiri telah berdiri selama 35 tahun dan baru tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Desember 2023. Perusahaan yang menggunakan kode saham SURI ini berdiri sejak 1988 di Sumatera Utara. Direktur SURI, Engel Stefen mengatakan, kendati dikendalikan oleh pihak yang sama, secara operasional HALO dan SURI punya fokus berbeda. Target pasar HALO adalah penjualan dalam negeri, meskipun ada pula ekspor. "Kalau SURI fokusnya 100% ke pasar ekspor," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (13/12). Produk-produk sarung tangan lateks SURI menggunakan merek Shamrock, baik untuk segmen kesehatan, industri, dan sarung tangan khusus. Pasar yang dituju adalah Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Engel memaparkan, untuk pasar Amerika, SURI menyasar Amerika Serikat (AS) dan Amerika Selatan, seperti Paraguai, Brazil, dan Meksiko. Sedangkan di pasar Eropa, SURI fokus masuk ke Jerman lantaran standarisasi negara-negara Eropa berkiblat pada Jerman. Sementara fokus di Timur Tengah adalah Dubai. Dengan menjadi perusahaan terbuka, SURI punya peluang lebih besar untuk mendorong penetrasi pasar. Sebab go public dapat meningkatkan kelas perusahaan dengan good corporate government (GCG) dan mempermudah calon konsumen mengakses profil perusahaan. Dalam hajatan initial public offering (IPO), SURI melepas sebanyakbanyaknya 1,27 miliar saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dari aksi korporasi ini, SURI memperoleh dana IPO Rp 215,36 miliar. Rencananya sekitar 49,45% dana IPO akan digunakan untuk belanja modal (capex). Lalu, sebesar 20,26% untuk pengembangan bangunan gudang, pabrik, dan kantor. Kemudian, 24,55% sisanya akan digunakan untuk penambahan dan remodifikasi mesin produksi yang dimiliki. Dengan membaiknya kondisi pengiriman, SURI juga menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun depan. Engel menyebut, SURI membidik pertumbuhan 30%-40% dari tahun ini. Dengan kata lain, pendapatan SURI tahun depan bisa mencapai Rp 140 miliar. Selain fokus pada penetrasi pasar, SURI juga berencana meningkatkan kapasitas produksi. Engel menyebut, saat ini perusahaan tengah membidik lokasi di daerah Kalimantan yang memiliki sumber daya karet yang besar.

PERGERAKAN BURSA : ANOMALI SAHAM PENCETAK REKOR

HR1 15 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Investor disarankan untuk cermat dan selektif dalam menyikapi lonjakan harga saham sejumlah emiten yang menyentuh rekor tertinggi pada tahun ini. Faktor valuasi yang terlampau tinggi dan risiko koreksi harga dinilai perlu diwaspadai. Sepanjang tahun berjalan 2023, beberapa saham yang baru melakukan pencatatan di Bursa Efek Indonesia mampu mencetak all-time-high(ATH) a.l. saham-saham milik Prajogo Pangestu dan Grup Salim. Berdasarkan catatan Bisnis, beberapa perusahaan tersebut adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang menyentuh ATH Rp11.350 dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang menembus ATH ke level Rp8.050.Saham lainnya milik Prajogo Pangestu yang menyentuh ATH adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) ke level Rp4.780, dan PT Barito Pacifi c Tbk. (BRPT) yang naik ke level ATH pada Rp1.755Selain saham milik Prajogo Pangestu, saham milik kongsi taipan Grup Salim, Medco, dan Agus Projosasmito PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sempat naik kencang hingga menyentuh ATH ke level Rp7.775.Emiten lain yang menyentuh ATH adalah PT Pelita Teknologi Global Tbk. (CHIP) dengan level ATH pada Rp2.820.Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy menuturkan investor perlu waspada terhadap saham-saham pendatang baru yang menyentuh rekor harga tertinggi. Menurutnya, suatu saham yang naik dengan cepat memiliki potensi untuk turun lebih cepat juga. Di luar saham-saham tersebut, beberapa saham perbankan dengan kapitalisasi pasar besar juga sempat menyentuh ATH tahun ini. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sempat menyentuh ATH pada harga Rp5.700, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik ke level ATH Rp9.400, hingga PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang naik ke level ATH Rp6.125. Di sektor perbankan, saham BBRI dan BBCA menjadi jagoan Mirae Asset Sekuritas. Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan performa indeks LQ45 dan IDX80 yang naik 1,97% dan 0,45% underperform terhadap IHSG yang melompat 4,75% secara year-to-date (YtD) ke level 7.176,01 per Kamis (14/12). “Fenomena BREN, CUAN, dan AMMN ada potensi pergerakan IHSG tertahan karena investor asing merasa tidak nyaman dengan gapantara LQ45 dan IHSG,” ujarnya.

Saham Perdana Menopang Bursa di Tahun 2023

HR1 13 Dec 2023 Kontan (H)
Sejumlah saham pendatang baru unjuk gigi sejak debut perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga jelang tutup tahun 2023 ini. Beberapa emiten baru ini bahkan memberi cuan multibagger dengan kenaikan harga ratusan hingga ribuan persen. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menduduki puncak klasemen sebagai emiten baru pemberi return tertinggi, yakni naik 4.877% dari harga perdananya. Lalu disusul oleh PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Nama besar di balik IPO boleh jadi penambah daya tarik calon investor untuk mengoleksi saham pendatang baru. Misalnya, nama Prajogo Pangestu yang membuat minat investor di saham CUAN dan BREN cukup tinggi. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan, saham BREN juga didorong oleh sentimen Energi Baru Terbarukan (EBT) dan fundamental bisnis yang kuat. "Sementara kenaikan harga AMMN sudah diantisipasi dari lama sebelum IPO sehingga setelah melantai di BEI pembelinya semakin ramai," kata dia, Selasa (12/12). Founder CTA Saham, Andri Zakaria mengatakan, kenaikan harga saham-saham yang baru IPO ini juga banyak dipengaruhi oleh euforia sesaat. Biasanya, banyak pelaku pasar yang mengambil posisi jangka pendek untuk memanfaatkan kenaikan harga saham IPO saat debut perdana. Nah, jelang akhir tahun ini, gelaran IPO mulai sepi. Sepanjang Desember, baru ada satu perusahaan yang melantai di BEI. Teranyar ada PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) yang baru memulai masa penawaran awal, kemarin. Bisa jadi, ini karena sudah banyak investor yang siap merealisasikan keuntungan menjelang libur akhir tahun. Sehingga, calon emiten lebih memilih untuk IPO tahun depan. Direktur Utama Surya Fajar Sekuritas, Steffen Fang mengatakan, para calon emiten cenderung memilih mengeksekusi IPO di awal tahun depan likuiditas di pasar saham lebih tinggi. Sedangkan MNC Sekuritas memproyeksikan penawaran awal IPO masih akan ramai pada pekan depan. Mengingat masa berlaku laporan keuangan Juni akan habis di Desember. Heri Herdiyanto, Direktur Investment Banking MNC Sekuritas mengatakan, di sisa tahun ini akan ada beberapa calon emiten yang akan melakukan bookbuilding dan melakukan penawaran saham pada awal Januari 2024.

IPO Paling Boncos dari Emiten Skala Kecil

HR1 13 Dec 2023 Kontan
Jumlah emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini memang tokcer. Bahkan, telah mencapai rekor terbanyak, yakni 79 emiten baru. Tapi nyatanya, tak semuanya punya prospek bagus. Memang belakangan, BEI mendorong perusahaan dengan aset kecil dan menengah untuk melakukan initial public offering (IPO). Namun nyatanya, saham emiten menengah-kecil yang sahamnya dicatatkan di papan akselerasi ini banyak yang mangkrak, bahkan ambles. Catatan KONTAN, dari 79 emiten baru yang listing di BEI tahun ini, ada 14 emiten saham yang berkubang di kisaran Rp 50-an per saham. Lalu, sembilan emiten harganya di bawah gocap. Saham PT Lavender Bina Cendikia Tbk (BMBL) menjadi saham IPO tahun 2023 yang paling boncos, dengan penurunan harga hingga 90,43% dari harga IPO. Emiten jasa bimbingan akademik ini mulanya memasang harga IPO di harga Rp 188 per saham. Tapi per Selasa (12/12) harganya tersisa Rp 18 per saham. Produsen makanan bayi, PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) juga sahamnya ambles 85% dari Rp 100 menjadi Rp 15. Kemudian ada saham PT Mitra Tirta Buwana Tbk (SOUL) dan PT Menn Teknologi Indonesia Tbk (MENN) masing-masing anjlok 80,91% dan 80,77% dari harga IPO. Muhammad Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengatakan, secara garis besar ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan harga saham-saham IPO tersebut. Pertama, penurunan kinerja keuangan emiten. Faktor kedua yang menekan ialah minimnya aksi korporasi yang dilakukan emiten-emiten ini. "Lalu, faktor ketiga ialah kurangnya implementasi good corporate governance (GCG) dari emiten pasca IPO," ucap Nafan saat Selasa (12/12). Head of Research Retail Sinarmas Sekuritas, Ike Widiati mengatakan, di tengah banyaknya saham-saham baru yang memiliki kinerja buruk, maka pelaku pasar sebaiknya lebih selektif dan bijaksana dalam melakukan investasi saham. "Jangan terjebak fear of missing out (FOMO) semata," kata Ike. Di sisi lain, saham-saham IPO yang telah turun ini bukan berarti tak punya peluang naik. Founder CTA Saham Andri Zakaria mengatakan, investor yang berani mengambil risiko dan tertarik untuk melirik saham di level gocap atau di bawahnya, tetap harus mencermati beberapa hal penting. Di antaranya, saham-saham itu harus didukung isu fundamental positif dan volume transaksi yang meningkat.

Emiten Prajogo Merajai Bursa

HR1 09 Dec 2023 Kontan (H)

 Prajogo Pangestu kian kokoh di posisi orang terkaya di Indonesia dan dunia. Forbes mencatat, kemarin (8/12), pria 79 tahun ini memiliki harta sekitar US$ 58,3 miliar atau sekitar Rp 903,65 triliun. Ia berada di posisi 23 orang terkaya sejagat raya. Pendorong utama kenaikan kekayaan Prajogo adalah lonjakan harga saham lima  emiten yang dia kendalikan. Kini, nilai kapitalisasi pasar ( market cap ) emiten-emiten milik Prajogo Pangestu  mencapai Rp 1.788,81 triliun atau menopang 15,51% total market cap Bursa Efek Indonesia (BEI) yang senilai Rp 11.506,11 triliun pada akhir perdagangan, Jumat (8/12). Lima saham tersebut terdiri dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT) PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BRPT), dan PT Petrosea Tbk (PTRO). Kini, empat dari lima emiten itu memiliki market cap di atas Rp 100 triliun.Bahkan kemarin (8/12), BREN sempat memiliki market cap Rp 1.090,36 triliun dan di posisi jawara terbesar menggeser posisi BBCA. Namun di penutupan bursa saham, market cap BREN kembali turun ke posisi kedua dengan nilai Rp 1.076,98 triliun. Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud mengatakan, jika  kapitalisasi pasar emiten Prajogo dikeluarkan, BEI bisa oleng bagai pesawat terbang di hampa udara.  "Pemegang saham yang beruntung memiliki perusahaan milik Prajogo Pangestu ikut terangkat ke tingkat lebih tinggi secara materi," kata Hasan. Yang pusing tujuh keliling dengan melejitnya harga saham milik Prajogo adalah manajer investasi.MI menghadapi dilema. Saham BREN bukan LQ45, tapi kapitalisasi pasarnya mendekati Bank Central Asia Tbk (BBCA). "Banyak MI tidak mengoleksi saham ini,  kinerjanya di bawah pasar," kata Budi. CEO Pinnacle Investment Indonesia. Guntur Putra membuka peluang menambah saham BREN dan saham lain. Hanya saja, BREN atau CUAN belum masuk portofolio. "Kami mengedepankan prinsip kehati-hatian  terhadap potensi risiko dan return," jelas Guntur.

PENGUATAN MODAL FINTECH : OJK RESTUI PINJOL MELANTAI DI BURSA

HR1 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Otoritas Jasa Keuangan merestui platform financial technology peer-to-peer lending atau pinjaman online melakukan initial public offering di Bursa Efek Indonesia untuk memperkuat permodalannya. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa penguatan permodalan di industri financial technology atau fintech peer-to-peer lending dapat dilakukan oleh pemegang saham. “Tidak ditutup kemungkinan melalui IPO di Bursa Efek Indonesia, dan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya, dikutip Jumat (8/12). Berdasarkan data OJK per 30 November 2023, masih terdapat 23 penyelenggara pinjaman online atau pinjol yang belum memenuhi ketentuan pemenuhan ekuitas minimum sebesar Rp2,5 miliar. Di sisi lain, Agusman menyebut bahwa sejauh ini belum ada pemain peer-to-peer lending yang mengajukan diri untuk melantai di Bursa. “Sampai dengan saat ini belum ada peer-to-peer lending yang melakukan IPO melalui bursa efek,” ujarnya. Dalam kesempatan terpisah, Edi Setijawan, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK mengatakan bahwa sejauh ini sebagian besar sumber pendanaan perusahaan fintech masih berasal dari investor korporasi, sehingga regulator mendorong pemain untuk meraih pendanaan dari investor ritel. “ we’ll see. Ada , we’ll see. Tergantung market-nya, karena kami maunya evaluasinya kami apa adanya,” kata Direktur Utama AdaKami Bernardino M. Vega beberapa waktu lalu. Meski demikian, Dino —panggilan akrabnya— enggan membeberkan kapan AdaKami akan melantai di pasar modal. Sebab, kata dia, untuk melantai di pasar modal memerlukan banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Berdasarkan catatan Bisnis, usai OJK mengumumkan induk usaha fintech PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran), PT Akselerasi Usaha Indonesia Tbk. (AKSL) telah mengantongi pernyataan pra-efektif per 27 Juni 2023, manajemen AKSL memutuskan untuk menunda IPO hingga Juni 2024. Saat itu, perusahaan menyatakan tengah menjalani proses penawaran umum perdana saham dan berencana untuk menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Agustus 2023. Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengungkapkan bahwa penundaan IPO tersebut dikarenakan perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk mendapatkan strategic investor yang tepat untuk dapat mendukung rencana perusahaan di masa mendatang. Adapun, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut industri fintech lending membutuhkan momentum agar dapat melantai di pasar modal. Momentum itu pun dapat terlihat dari sisi kualitas pinjaman fintech yang harus menunjukkan perbaikan.

Trio The Barito's Menggocek Bursa

HR1 08 Dec 2023 Kontan

Saham tiga emiten Grup Barito alias The Barito's, terus menggoyang Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Kamis (7/12), saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi top gainers, sementara kapitalisasi pasar (market cap) PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mampu menembus Rp 1.000 triliun. Lonjakan harga saham-saham milik taipan Prajogo Pangestu itu turut mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menutup perdagangan Kamis (7/12), IHSG melompat 47,22 poin atau 0,67% ke level 7.134,62. Yang menyedot perhatian, dengan lonjakan harga saham kemarin, market cap BREN pun menembus Rp 1.036,84 triliun. Kini, trio The Barito's memiliki market cap Rp 1.563,78 triliun atau setara 13,7% market cap BEI. Porsi itu makin besar jika ditambah dengan market cap CUAN, afiliasi Grup Barito. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menilai, lonjakan harga saham Grup Barito mirip ketika terjadi booming sektor teknologi dan bank digital tahun 2020. Kala itu, saham teknologi dan bank digital menjadi penggerak utama IHSG. William mengingatkan, perlu dicermati lagi sentimen pendorong harga Grup Barito pada masing-masing sahamnya. Memang, prospek bisnis sektor energi terbarukan menjadi katalis positif. Namun, William melihat lonjakan saham Grup Barito lebih disebabkan efek euforia pasar terhadap Prajogo Pangestu yang menjadi daya tarik. William melihat, emiten The Barito's masih berpotensi menguat lagi. "Indikator MA5 dan MA20, selama kondisi ini masih terpenuhi, trend following bisa terus dilakukan. Semua tren pasti ada akhirnya. Jadi perlu selalu waspada dengan kemungkinan profit taking dan berakhirnya tren," terang William. Guna meminimalkan risiko, bisa dipertimbangkan hold atau sell on strength untuk merealisasikan cuan.. Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai saham Grup Barito masih layak untuk speculative buy atau trading buy.