PERGERAKAN BURSA : ANOMALI SAHAM PENCETAK REKOR
Investor disarankan untuk cermat dan selektif dalam menyikapi lonjakan harga saham sejumlah emiten yang menyentuh rekor tertinggi pada tahun ini. Faktor valuasi yang terlampau tinggi dan risiko koreksi harga dinilai perlu diwaspadai.
Sepanjang tahun berjalan 2023, beberapa saham yang baru melakukan pencatatan di Bursa Efek Indonesia mampu mencetak all-time-high(ATH) a.l. saham-saham milik Prajogo Pangestu dan Grup Salim. Berdasarkan catatan Bisnis, beberapa perusahaan tersebut adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang menyentuh ATH Rp11.350 dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang menembus ATH ke level Rp8.050.Saham lainnya milik Prajogo Pangestu yang menyentuh ATH adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) ke level Rp4.780, dan PT Barito Pacifi c Tbk. (BRPT) yang naik ke level ATH pada Rp1.755Selain saham milik Prajogo Pangestu, saham milik kongsi taipan Grup Salim, Medco, dan Agus Projosasmito PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sempat naik kencang hingga menyentuh ATH ke level Rp7.775.Emiten lain yang menyentuh ATH adalah PT Pelita Teknologi Global Tbk. (CHIP) dengan level ATH pada Rp2.820.Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy menuturkan investor perlu waspada terhadap saham-saham pendatang baru yang menyentuh rekor harga tertinggi. Menurutnya, suatu saham yang naik dengan cepat memiliki potensi untuk turun lebih cepat juga.
Di luar saham-saham tersebut, beberapa saham perbankan dengan kapitalisasi pasar besar juga sempat menyentuh ATH tahun ini. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sempat menyentuh ATH pada harga Rp5.700, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik ke level ATH Rp9.400, hingga PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang naik ke level ATH Rp6.125.
Di sektor perbankan, saham BBRI dan BBCA menjadi jagoan Mirae Asset Sekuritas.
Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan performa indeks LQ45 dan IDX80 yang naik 1,97% dan 0,45% underperform terhadap IHSG yang melompat 4,75% secara year-to-date (YtD) ke level 7.176,01 per Kamis (14/12).
“Fenomena BREN, CUAN, dan AMMN ada potensi pergerakan IHSG tertahan karena investor asing merasa tidak nyaman dengan gapantara LQ45 dan IHSG,” ujarnya.
Tags :
#BursaPostingan Terkait
Sinyal Kuat Kebangkitan IHSG
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Duo Investor Raksasa Dibalik RS Hermina
Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
ICBP–INDF Tebar Dividen Besar
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023