;

Meredam Pesimisme 2024 di Pasar Modal

Meredam Pesimisme 2024 di Pasar Modal

Pesta demokrasi Pemilihan Umum 2024 yang siap digelar pada Februari, selain membawa optimisme atas tata kelola pemerintahan yang lebih baik, rupanya juga membawa dampak lain yang membuat kalangan pasar modal bersikap wait and see. Tidak seperti masa-masa jauh sebelum pemilu, ketika otoritas keuangan selalu membuka lembar kalender baru dengan penuh optimisme. Kali ini, sikap itu seakan-akan berkebalikan. Optimisme pasar modal seakan-akan sudah hanyut ditelan kegaduhan kampanye para kandidat presiden dan wakil presiden. Asumsi ini jelas terlihat dari target penggalangan dana di lantai bursa yang tidak terlalu muluk pada tahun depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagai the guardian of investors’ trust, memilih sedikit konservatif dengan menetapkan target penggalangan dana di pasar modal berkisar Rp175 triliun—Rp200 triliun. Sebagai target baru untuk tahun depan, jumlah itu sangatlah peanut. Alasannya, target 2024 yang dipatok OJK rupanya lebih rendah dari realisasi penghimpunan dana di pasar modal tahun ini, yang hingga 30 November saja sudah mencapai Rp230,59 triliun. Penggalangan dana ini berasal dari 197 aksi korporasi. Lebih terperinci, OJK mencatat ada 71 IPO degan nilai total Rp52,99 triliun pada tahun ini. Apalagi, berbasis pada kondisi pada tahun ini, situasi di pasar modal relatif stabil. Bahkan, jumlah emiten pada tahun ini memecahkan sepanjang sejarah keberadaan BEI. Meski tampak ada riak-riak kecil seperti adanya penurunan kualitas IPO dari sejumlah emiten baru, pada sisi lain, ini membuktikan partisipasi emiten di lantai bursa sepanjang 2023 meningkat. Selain itu, penghimpunan rights issue sudah mencapai Rp50,99 triliun, emisi surat utang korporasi Rp10,47 triliun, dan penawaran umum berkelanjutan Rp116,14 triliun. Menurut OJK, masih ada 96 rencana aksi korporasi dalam pipeline dengan estimasi nilai penggalangan dana Rp41,11 triliun pada tahun ini. Luar biasa. Belum lagi ketika mengintip pasar saham. Tanda-tanda penguatan makin terlihat dari laju IHSG sebesar 4,17% (YtD) ke level 7.132,57. Ini level tertinggi pada 2023. Hal itu terdorong oleh arus modal asing yang mulai kembali ke pasar modal pada bulan lalu menjelang window dressing.

Download Aplikasi Labirin :