;
Tags

Bursa

( 810 )

Dorongan Orang Dalam Topang Kinerja Saham

HR1 27 Nov 2024 Kontan
Aksi akumulasi saham oleh "orang dalam" emiten, seperti direksi, komisaris, dan pemegang saham pengendali, ramai terjadi di tengah kondisi pasar yang tertekan. Misalnya, jajaran direksi dan komisaris PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) membeli saham perusahaan mereka. Selain itu, konglomerat Prajogo Pangestu meningkatkan kepemilikan saham di PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Menurut Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, aksi pembelian saham oleh orang dalam sering kali menjadi sinyal kepercayaan terhadap valuasi perusahaan yang dianggap murah dan prospek jangka panjang yang menjanjikan, terutama di tengah ketidakpastian pasar. Praktisi pasar modal Agus Pramono menambahkan bahwa pembelian saham ini menunjukkan keyakinan terhadap kinerja fundamental perusahaan, terlepas dari gejolak pasar.

Fendi Susiyanto, Founder & CEO Finvesol Consulting, menjelaskan bahwa kondisi pasar yang tertekan memberi momentum bagi orang dalam untuk melakukan akumulasi, yang sekaligus menunjukkan komitmen mereka terhadap pengelolaan perusahaan. Daniel Agustinus, Certified Elliott Wave Analyst, menyoroti pentingnya sosok yang melakukan aksi tersebut, karena reputasi mereka dapat mempengaruhi sentimen pasar.

Namun, Daniel mengingatkan agar investor tidak serta-merta mengikuti langkah manajemen tanpa menganalisis fundamental perusahaan. Pendapat ini didukung oleh Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, yang menegaskan bahwa setiap investor harus menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko dan target masing-masing.

Sebagai rekomendasi, Hendra menyarankan speculative buy untuk saham BREN dengan target harga Rp 7.600, serta trading buy untuk saham BMRI dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 6.800 dan Rp 4.800.

IPO dan Saham PUPS AADI: Potensi atau Risiko?

HR1 27 Nov 2024 Kontan
IPO PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menawarkan dua opsi menarik bagi pemegang saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): (1) berpartisipasi dalam Penawaran Umum Pemegang Saham (PUPS) AADI atau (2) hanya menikmati dividen. Pemegang saham ADRO berpotensi menerima dividen sebesar US$ 2,62 miliar (sekitar Rp 1.335 per saham) dan dapat membeli saham AADI melalui skema PUPS dengan rasio 100:23.

Hendriko Gani, Investment Analyst Stockbit Sekuritas, menjelaskan tiga skenario bagi AADI dan ADRO, Skenario dasar terdiri dari PE AADI diproyeksikan 5 kali di harga Rp 10.900, sementara ADRO mencapai 6,6 kali di Rp 1.900, Skenario bullish terdiri dari PE AADI naik menjadi 5 kali, sementara ADRO mencapai 8,9 kali di Rp 2.850, Skenario bearish terdiri dari PE ADRO turun ke 3,8 kali di harga Rp 1.110.

Hendriko menegaskan, investor ADRO yang hanya menerima dividen tanpa berpartisipasi dalam PUPS AADI berpotensi menghadapi penurunan harga saham ADRO tanpa mendapat keuntungan dari kenaikan harga AADI.

Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, melihat peluang kenaikan harga saham AADI usai IPO. Investor yang membeli saham AADI melalui PUPS cenderung mendapatkan volume lebih besar, meskipun ada risiko penurunan harga ADRO setelah cum date dividen.

Indri Liftiany, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, menilai saham AADI berpotensi tinggi diminati pasar, meskipun ada risiko odd lot (jumlah saham kecil) sulit dijual. Ia juga mencatat kemungkinan penurunan laba ADRO pasca-spin-off AADI, yang akan memengaruhi pembagian dividen di masa depan.

Opsi berpartisipasi dalam PUPS AADI dianggap lebih menarik karena potensi kenaikan harga saham AADI, tetapi investor perlu mempertimbangkan risiko penurunan harga saham ADRO.

IHSG BEI Menanti Windows Dressing

KT1 25 Nov 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menanti window dressing untuk menguatkan dan menepis maraknya sentimen negatif global. Kalangan analis memprediksi window dressing terjadi pada Desember mendatang. Window dressing adalah aksi memoles portfolio oleh fund manager, manajer investasi, dan investor institusi agar bisa berkinerja baik pada tutup tahun. Selama window dressing, terjadi aksi borong saham, sehingga bakal mendongkrak IHSG. Pekan lalu, indeks turun hingga  ke level 7.195. Pada pekan ini atau terakhir pada November, IHSD diperkirakan masih fluktuatif untuk mencoba tetap bertahan di atas level 7.150. "Belum tampak indikasi window dressing hingga akhir November 2024. Oleh sebab itu, IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam rentang 7.150-7.230 pada pekan ini," kata Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan. Valdy mengungkapkan, kondisi eksternal memicu capital outflow dari pasar modal Indonesia. Hal itu membuat momentum window dressing yang biasanya terjadi pada dua bulan terakhir di penghujung tahun belum terlihat. (Yetede)

Pasar Saham Masih Diliputi Ketidakpastian

HR1 25 Nov 2024 Kontan (H)
Kondisi pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global, seperti ketegangan geopolitik dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, masih penuh tantangan. Hal ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.195,56 pada 22 November 2024, dengan penjualan bersih investor asing mencapai Rp 8 triliun dalam dua pekan terakhir.

Adrian Joezer, Head of Equity Market Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas, menyebut kondisi ini sebagai "The Waiting Game," di mana investor memilih menunggu kepastian global dan domestik. IHSG diprediksi berpotensi mencapai level 8.150 di akhir 2025, dengan sektor konsumsi, pangan, properti, telekomunikasi, transportasi, dan ritel sebagai sektor favorit.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, mencatat bahwa investor juga melirik pasar saham China karena stimulus yang diberikan pemerintah China dan peluang di bursa AS setelah terpilihnya Trump. Nico memperkirakan IHSG dapat naik hingga 7.500 pada Desember 2024 jika sentimen window dressing mendukung, dengan support di level 7.120.

Erindra Krisnawan, Kepala Divisi Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, menilai IHSG secara valuasi sudah menarik dengan forward PE sebesar 11,9 kali. Meski demikian, risiko masih ada akibat potensi pelebaran yield obligasi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Target IHSG di 2025 dipatok pada level 7.448, dengan skenario bullish di 7.700 dan bearish di 7.200.

Meski ada peluang kenaikan, pasar modal menghadapi volatilitas yang tinggi. Investor diharapkan memiliki strategi sektoral yang fokus, terutama pada sektor perbankan, otomotif, dan ritel di kuartal II 2025.

Saham Baru Bersinar dengan Potensi Keuntungan Tinggi

HR1 22 Nov 2024 Kontan
Beberapa saham pendatang baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan performa luar biasa, dengan 10 saham mencetak kenaikan hingga ratusan persen dari harga IPO. Contohnya, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) melonjak 371,59% dalam waktu singkat sejak debutnya pada 11 November 2024. Saham lain seperti PT Remala Abadi Tbk (DATA), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), dan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) juga mencatatkan kenaikan signifikan.

Menurut Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, volatilitas saham baru sangat tinggi dan dipengaruhi oleh momentum euforia, prospek emiten, valuasi, serta kualitas manajemen. Namun, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa lonjakan ini biasanya hanya bertahan dalam jangka pendek akibat euforia IPO. Valuasi yang tinggi sering kali memicu aksi jual, sehingga harga saham berisiko terkoreksi.

Dari 39 emiten baru tahun ini, 17 saham justru jatuh di bawah harga IPO, seperti PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) dan PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk (MPIX), yang turun masing-masing 78,42% dan 76,49%. Nafan mencatat bahwa penurunan tajam ini sering terjadi pada emiten dengan fundamental lemah, menjadikannya lebih cocok untuk trading jangka pendek daripada investasi.

Miftahul mengingatkan bahwa saham IPO memiliki risiko tinggi, sehingga kurang cocok untuk investor pemula. Ia menyarankan investor berhati-hati terhadap saham dengan valuasi yang terlalu tinggi. Namun, DAAZ dianggap masih menarik untuk dicermati di antara saham-saham pendatang baru lainnya.

Sebagai strategi, Nafan menyarankan memperhatikan volume transaksi sebagai indikator minat pasar. Sementara Miftahul merekomendasikan investor pemula fokus pada saham dengan prospek dan kinerja fundamental yang lebih jelas untuk menghindari risiko besar.

Suku Bunga BI Jadi Penentu Arah Bursa Saham

HR1 20 Nov 2024 Kontan
Pekan ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yang diperkirakan akan tetap dipertahankan di level 6%. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan BI mengenai prospek ekonomi dan strategi menghadapi risiko global yang dapat mempengaruhi arus modal asing. Sukarno Alatas, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai jika BI menurunkan suku bunga, pasar dapat merespons dengan dua skenario: bullish, jika penurunan dianggap mendorong pertumbuhan kredit, atau bearish, jika dikhawatirkan melemahkan nilai tukar rupiah.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, setuju bahwa pelemahan rupiah akan mendorong BI untuk menahan suku bunga guna menjaga stabilitas pasar. Sektor yang diperkirakan menarik jika suku bunga ditahan adalah finansial, konsumer non-cyclical, dan konsumer cyclical. Namun, jika terjadi pemangkasan suku bunga mendadak, sektor finansial, properti, dan otomotif akan lebih cenderung bergerak.

Pandhu Dewanto, analis Investindo Nusantara Sekuritas, mengingatkan potensi window dressing menjelang akhir tahun. Meredanya tekanan jual akibat capital outflow dapat mendorong arus beli, memberikan peluang bagi saham big caps yang telah terkoreksi untuk mencatatkan kenaikan. Secara keseluruhan, meskipun prospek jangka pendek lebih menarik, pelaku pasar cenderung berhati-hati menunggu keputusan BI terkait suku bunga.

BEI Permudah Investor dengan Penurunan Nilai NAB ETF

HR1 20 Nov 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini menerbitkan pembaruan Peraturan Nomor I-C yang bertujuan untuk memperkuat ekosistem reksadana di pasar modal Indonesia. Salah satu perubahan utama adalah penurunan nilai minimum Nilai Aktiva Bersih (NAB) awal reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang unit penyertaannya diperdagangkan di BEI, dari yang sebelumnya Rp 5 miliar menjadi Rp 1 miliar. Langkah ini diharapkan dapat mendorong Manajer Investasi (MI) untuk lebih aktif menerbitkan produk reksadana berbentuk Exchange-Traded Fund (ETF) yang akan memberikan lebih banyak pilihan bagi investor.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan bahwa aturan baru ini, yang mulai berlaku pada 15 November 2025, juga mencakup pengaturan tentang multi kelas pada ETF. Dengan demikian, diharapkan dapat memperkaya produk investasi yang tersedia dan meningkatkan diversifikasi portofolio bagi investor.

Reza Fahmi, Head of Business Development PT Henan Putihrai Asset Management, menyambut baik perubahan ini karena memberi fleksibilitas bagi MI dalam mengembangkan produk baru. Namun, ia juga mengingatkan akan potensi risiko jika terlalu banyak produk yang dikeluarkan, yang dapat berdampak negatif pada kualitas dan kinerja ETF tersebut.

Pembaruan regulasi ini merupakan langkah positif untuk mendukung pertumbuhan pasar modal Indonesia, meski membutuhkan perhatian terhadap pengelolaan produk yang bijaksana agar tidak merugikan investor.

Saham Blue Chip Tunggu Sentimen Window Dressing

HR1 19 Nov 2024 Kontan
Saham-saham blue chip mengalami penurunan seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang tercermin dari anjloknya indeks LQ45 sebesar 0,45% pada 18 November 2024. Penyebab utama penurunan ini adalah aksi jual atau capital outflow investor asing, terutama terhadap saham-saham bank besar seperti BBRI, BBCA, dan BMRI, yang terus terjadi sejak Mei 2024. Dimas Krisna Ramadhani, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, mengungkapkan bahwa arah pergerakan saham blue chip sangat bergantung pada aksi pembelian atau penjualan oleh investor asing.

Sementara itu, Pandhu Dewanto, Analis Investindo Nusantara Sekuritas, mencatat bahwa investor juga masih cenderung berhati-hati menunggu kebijakan pemerintah baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, yang turut mempengaruhi sentimen pasar. William Hartanto, Pengamat Pasar Modal, memperingatkan bahwa meski ada harapan saham blue chip bisa menguat, pelaku pasar harus tetap selektif dan berhati-hati, mengingat IHSG masih dalam fase pengujian level support.

Di sisi positif, Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, melihat potensi window dressing yang bisa mengangkat saham-saham blue chip, dengan suku bunga acuan BI yang berpotensi memberikan sentimen positif, terutama bagi sektor perbankan dan barang konsumsi. Para analis menyarankan untuk buy on weakness pada saham-saham seperti BBRI, BMRI, INDF, dan BBCA, dengan memperhatikan sentimen pasar yang mulai mereda dan volume perdagangan yang menunjukkan tekanan jual berkurang.

Incar Dana di Detik-detik Akhir Tahun

HR1 18 Nov 2024 Kontan (H)
Menjelang akhir tahun 2024, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal Indonesia semakin ramai, baik melalui IPO, rights issue, maupun private placement. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat hingga saat ini sudah ada 39 emiten baru dengan total nilai emisi IPO mencapai Rp 5,86 triliun, menjadikan total emiten di BEI sebanyak 942 perusahaan. Emiten yang baru melantai termasuk PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), dan PT Adiwarna Anugerah Abadi Tbk (NAIK), dengan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menyusul.

Di sisi lain, aksi rights issue juga mendominasi, salah satunya oleh PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan nilai Rp 4,49 triliun. Hingga awal Oktober 2024, nilai total rights issue telah mencapai Rp 34,42 triliun dari 15 emiten, dengan beberapa emiten besar lainnya, seperti PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), bersiap menyusul. Selain itu, beberapa perusahaan seperti PT Bakrie & Brothers dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga merencanakan private placement untuk mendukung modal kerja.

Menurut Agus Pramono, praktisi pasar modal, lonjakan aktivitas penghimpunan dana ini mencerminkan persiapan emiten menghadapi ketidakpastian ekonomi di tahun 2025. Strategi ini memungkinkan perusahaan memiliki modal yang cukup untuk melaksanakan rencana bisnisnya.

Reza Priyambada, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, menilai langkah ini sebagai upaya emiten memanfaatkan momentum akhir tahun untuk memudahkan implementasi strategi bisnis tahun depan. Sementara itu, Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menyoroti pentingnya prospek sektor dan dukungan investor besar dalam menarik minat pasar.

Rekomendasi saham dengan prospek menarik di akhir tahun, menurut para ahli, termasuk MBMA dengan target harga Rp 615, TOWR di Rp 800, serta FILM, SMMT, dan BUMI untuk strategi akumulasi.

Optimisme di Tengah Potensi Pasar Saham

HR1 16 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 15 November, disebabkan oleh aksi jual investor asing yang berfokus pada ketidakpastian global, terutama terkait Pemilu AS dan kebijakan proteksionisme yang mungkin diambil oleh Presiden AS, Donald Trump. Meskipun demikian, Rizky Hidayat, Investment Specialist dari Schroders Indonesia, menilai bahwa valuasi pasar saham Indonesia saat ini masih menarik dengan PE ratio 14 kali, yang terdiskon dibandingkan dengan pasar saham AS, Jepang, atau India. Oleh karena itu, Schroders tetap optimis terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia, meskipun kondisi makroekonomi saat ini lebih mempengaruhi sentimen investor.

Selain itu, analis dari Maybank Sekuritas Indonesia merevisi target IHSG untuk 2024 menjadi 7.900, dengan proyeksi pertumbuhan laba yang solid. MNC Sekuritas juga mencatat dampak kebijakan proteksionisme AS terhadap aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, sementara Mirae Asset Sekuritas menganggap sentimen positif dari data ekonomi AS bisa membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter.

Para analis juga memberikan rekomendasi saham yang berpotensi stabil meskipun pasar sedang tertekan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Dengan adanya ketidakpastian global, mereka menekankan pentingnya pemilihan saham yang selektif dan lebih oportunistik dalam menghadapi fluktuasi pasar.