;
Tags

Bursa

( 805 )

BEI Perluas Saham

KT1 03 Dec 2024 Investor Daily (H)

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas deretan saham yang dapat ditransaksikan saat pre opening atau sebelum pembukaan perdagangan pukul 9 pagi hari. Menurut Direktur BEI Irvan Sudandy, peraturan tersebut diterapkan untuk memperluas kesempatan bagi saham-saham lain agar dapat berada pada harga terbaiknya pada pembukaan perdagangan. "Pertimbangan BEI unuk memperluas saham-saham dalam sesi pre opening adalah untuk memberikan kesempatan bagi kelompok di luar konstituen indeks LQ45 untuk melakukan price discovery, sehingga harga pembukaaan saham berada pada harga terbaik sesuai dengan informasi pasar sebelum sesi perdagangan dimulai, " kata Irvan.

Awalnya, peraturan penjualan saham pada waktu pre opening hanya diperbolehkan pada saham-saham yang termasuk dalam indeks bergengsi LQ45. Namun, saat ini, selain saham-saham yang bergabung dalam LQ45, ada juga saham-saham papan utama, new economy, dan papan pengembangan yang diperbolehkan. (Penerapan perluasan jumlah saham yang masuk ke dalam sesi pre opening diharapkan dapat membantu mendistribusikan jumlah order secara merata terhadap jumlah order masuk ke dalam sistem perdagangan bursa (JATS) pada detik awal pembukaan sesi satu perdangan, sehingga dapat mengurangi tekanan pada sistem di detik-detik awal sesi perdagangan, Juga menyelaraskan dengan paraktek umum pembukaan perdgangan di bursa regional lainnya," terang dia. (Yetede)

Peluang Window Dressing Kian Memudar

HR1 02 Dec 2024 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia mengalami penurunan signifikan pada bulan November 2024, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 6,7%, mencatatkan kinerja terburuk dalam 20 tahun terakhir. Namun, ada harapan untuk kenaikan IHSG pada bulan Desember, terutama karena potensi window dressing oleh manajer investasi besar. Secara historis, IHSG sering mengalami koreksi pada November, tetapi cenderung menguat pada Desember, dengan probabilitas tinggi untuk kenaikan di bulan tersebut.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, memperkirakan IHSG akan berada di kisaran 7.150-7.300 pada akhir Desember, dengan kemungkinan kenaikan sekitar 2,61%. Meski ada potensi kenaikan, Nico mengingatkan bahwa pergerakan IHSG cenderung terbatas karena faktor makro ekonomi dan ketidakpastian yang muncul setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, yang dapat memengaruhi kebijakan moneter global.

Hans Kwee, pengamat pasar modal, juga mencatat sentimen negatif akibat kebijakan tarif Trump yang berpotensi mendorong inflasi dan membatasi pemotongan suku bunga oleh The Fed. Ia memprediksi IHSG akan mengalami konsolidasi dengan support di 7.100 - 7.000 dan resistance di 7.250 hingga 7.340.

Di sisi lain, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, lebih optimistis, menganggap IHSG memiliki peluang untuk menguat akibat window dressing dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan menguat pada kuartal IV-2024. Ia memproyeksikan IHSG akan menguji level resistance di 7.300, dan jika berhasil menembus level tersebut, IHSG bisa naik lebih jauh ke 7.600.

Kinerja Lesu, Emiten Turun Kasta

HR1 29 Nov 2024 Kontan
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perubahan papan pencatatan bagi 11 emiten, yang efektif berlaku Jumat (29/11). Hanya PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) yang berhasil naik dari papan pengembangan ke papan utama, sedangkan 10 emiten lainnya turun dari papan utama ke pengembangan. Kenaikan kelas CSRA dinilai mencerminkan kinerja operasional dan keuangan yang positif.

Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, menjelaskan bahwa perpindahan CSRA ke papan utama menunjukkan stabilitas keuangan perusahaan. Perubahan ini diharapkan meningkatkan likuiditas saham CSRA dan menarik minat investor institusi, sehingga berpotensi memberikan dorongan harga dalam jangka pendek hingga menengah. Miftahul merekomendasikan trading buy saham CSRA dengan target harga Rp 690, mengingat sentimen positif seperti kenaikan harga CPO global dan valuasi yang masih wajar.

Namun, untuk 10 emiten yang turun kelas, Miftahul menilai hal ini mencerminkan perlambatan atau penurunan kinerja, yang biasanya berdampak pada likuiditas dan kapitalisasi sahamnya.

Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai perpindahan papan pencatatan ini sudah dianggap priced in oleh pasar. Ia mengamati bahwa sebagian besar emiten yang berpindah papan mengalami pergerakan saham dalam tren yang acak (random), seperti CSRA, AXIO, CMNT, dan lainnya. Sementara saham seperti BANK, CBUT, dan SDRA sedang dalam fase koreksi.

Saham CSRA dinilai masih menarik untuk dicermati karena didukung kinerja positif, likuiditas yang meningkat, dan sentimen dari pasar CPO global.

Saham Populer Tunggu Momentum Kenaikan

HR1 29 Nov 2024 Kontan
Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBRI, BBNI, BMRI, TLKM, ASII, dan SIDO mengalami kenaikan jumlah pemegang saham meskipun harga sahamnya turun sejak awal tahun. Daniel Agustinus, Direktur Kanaka Hita Solvera, menjelaskan bahwa investor cenderung membeli saham-saham fundamental kuat yang sedang mengalami penurunan harga, dengan harapan terjadi kenaikan di masa depan. Daniel merekomendasikan saham BBRI (target harga Rp 4.800), ASII (Rp 5.500), dan TLKM (Rp 3.200).

Hendra Wardhana, pendiri Stocknow.id, menambahkan bahwa saham populer seperti BBRI, TLKM, BBCA, dan GOTO menarik minat investor ritel karena likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, dan rekam jejak dividen yang konsisten. Saham ini juga sering masuk indeks unggulan seperti LQ45 atau IDX30, sehingga menarik perhatian pasar.

Namun, jumlah pemegang saham yang besar tidak selalu mencerminkan kinerja positif. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menyebut fenomena "dead money," di mana investor bertahan meski saham tidak memberikan return yang menjanjikan, sering terjadi pada emiten seperti GOTO dan FREN yang belum mencapai titik profitabilitas.

Sebaliknya, saham dengan jumlah pemegang kecil seperti BREN dan PANI menunjukkan lonjakan harga signifikan meski memiliki risiko likuiditas yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor pada fundamental emiten dan aksi korporasi menjadi faktor utama yang menentukan pilihan investasi.

Window Dressing, Harapan Akhir Tahun Pasar Saham

HR1 29 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Meskipun terdapat harapan akan terjadinya window dressing dan beberapa aksi besar di pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini cenderung lesu. Pada bulan November, IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 4,94%, meskipun secara tahunan (YoY) masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,33%. Perdagangan yang lesu ini mencerminkan penurunan gairah investor dan transaksi pasar yang melambat, dengan rata-rata transaksi harian yang jauh di bawah target Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, terdapat optimisme karena aksi window dressing yang biasanya dilakukan oleh manajer investasi di penghujung tahun, serta adanya dua IPO jumbo yang diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi pasar. Kedua emiten besar tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang keduanya berpotensi meraup dana besar melalui IPO mereka, masing-masing sekitar Rp4,59 triliun dan Rp4,71 triliun.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia menjelang tutup tahun.


IPO Jumbo Hadapi Rintangan Berat

HR1 29 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan besar terkait dengan Initial Public Offering (IPO) di penghujung tahun ini. Meskipun dua emiten besar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), telah mengumumkan rencana IPO, langkah ini menjadi pertaruhan besar mengingat kondisi pasar yang tengah lesu. Sepanjang tahun ini, kebanyakan IPO didominasi oleh emiten kecil dan menengah dengan nilai emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu, yang mencatatkan 79 emiten baru. Selain ketidakpastian pasar yang mendorong calon emiten menunda IPO, kualitas IPO juga menjadi sorotan, terutama terkait dengan tindakan oknum yang mencoreng citra pasar modal, yang mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk lebih selektif dalam meloloskan emiten baru.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) sebagai dua calon emiten besar yang tengah menyambut kesempatan untuk melaksanakan IPO di tengah situasi pasar yang penuh tantangan.



Dorongan Orang Dalam Topang Kinerja Saham

HR1 27 Nov 2024 Kontan
Aksi akumulasi saham oleh "orang dalam" emiten, seperti direksi, komisaris, dan pemegang saham pengendali, ramai terjadi di tengah kondisi pasar yang tertekan. Misalnya, jajaran direksi dan komisaris PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) membeli saham perusahaan mereka. Selain itu, konglomerat Prajogo Pangestu meningkatkan kepemilikan saham di PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Menurut Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, aksi pembelian saham oleh orang dalam sering kali menjadi sinyal kepercayaan terhadap valuasi perusahaan yang dianggap murah dan prospek jangka panjang yang menjanjikan, terutama di tengah ketidakpastian pasar. Praktisi pasar modal Agus Pramono menambahkan bahwa pembelian saham ini menunjukkan keyakinan terhadap kinerja fundamental perusahaan, terlepas dari gejolak pasar.

Fendi Susiyanto, Founder & CEO Finvesol Consulting, menjelaskan bahwa kondisi pasar yang tertekan memberi momentum bagi orang dalam untuk melakukan akumulasi, yang sekaligus menunjukkan komitmen mereka terhadap pengelolaan perusahaan. Daniel Agustinus, Certified Elliott Wave Analyst, menyoroti pentingnya sosok yang melakukan aksi tersebut, karena reputasi mereka dapat mempengaruhi sentimen pasar.

Namun, Daniel mengingatkan agar investor tidak serta-merta mengikuti langkah manajemen tanpa menganalisis fundamental perusahaan. Pendapat ini didukung oleh Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, yang menegaskan bahwa setiap investor harus menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko dan target masing-masing.

Sebagai rekomendasi, Hendra menyarankan speculative buy untuk saham BREN dengan target harga Rp 7.600, serta trading buy untuk saham BMRI dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 6.800 dan Rp 4.800.

IPO dan Saham PUPS AADI: Potensi atau Risiko?

HR1 27 Nov 2024 Kontan
IPO PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menawarkan dua opsi menarik bagi pemegang saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): (1) berpartisipasi dalam Penawaran Umum Pemegang Saham (PUPS) AADI atau (2) hanya menikmati dividen. Pemegang saham ADRO berpotensi menerima dividen sebesar US$ 2,62 miliar (sekitar Rp 1.335 per saham) dan dapat membeli saham AADI melalui skema PUPS dengan rasio 100:23.

Hendriko Gani, Investment Analyst Stockbit Sekuritas, menjelaskan tiga skenario bagi AADI dan ADRO, Skenario dasar terdiri dari PE AADI diproyeksikan 5 kali di harga Rp 10.900, sementara ADRO mencapai 6,6 kali di Rp 1.900, Skenario bullish terdiri dari PE AADI naik menjadi 5 kali, sementara ADRO mencapai 8,9 kali di Rp 2.850, Skenario bearish terdiri dari PE ADRO turun ke 3,8 kali di harga Rp 1.110.

Hendriko menegaskan, investor ADRO yang hanya menerima dividen tanpa berpartisipasi dalam PUPS AADI berpotensi menghadapi penurunan harga saham ADRO tanpa mendapat keuntungan dari kenaikan harga AADI.

Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, melihat peluang kenaikan harga saham AADI usai IPO. Investor yang membeli saham AADI melalui PUPS cenderung mendapatkan volume lebih besar, meskipun ada risiko penurunan harga ADRO setelah cum date dividen.

Indri Liftiany, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, menilai saham AADI berpotensi tinggi diminati pasar, meskipun ada risiko odd lot (jumlah saham kecil) sulit dijual. Ia juga mencatat kemungkinan penurunan laba ADRO pasca-spin-off AADI, yang akan memengaruhi pembagian dividen di masa depan.

Opsi berpartisipasi dalam PUPS AADI dianggap lebih menarik karena potensi kenaikan harga saham AADI, tetapi investor perlu mempertimbangkan risiko penurunan harga saham ADRO.

IHSG BEI Menanti Windows Dressing

KT1 25 Nov 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menanti window dressing untuk menguatkan dan menepis maraknya sentimen negatif global. Kalangan analis memprediksi window dressing terjadi pada Desember mendatang. Window dressing adalah aksi memoles portfolio oleh fund manager, manajer investasi, dan investor institusi agar bisa berkinerja baik pada tutup tahun. Selama window dressing, terjadi aksi borong saham, sehingga bakal mendongkrak IHSG. Pekan lalu, indeks turun hingga  ke level 7.195. Pada pekan ini atau terakhir pada November, IHSD diperkirakan masih fluktuatif untuk mencoba tetap bertahan di atas level 7.150. "Belum tampak indikasi window dressing hingga akhir November 2024. Oleh sebab itu, IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam rentang 7.150-7.230 pada pekan ini," kata Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan. Valdy mengungkapkan, kondisi eksternal memicu capital outflow dari pasar modal Indonesia. Hal itu membuat momentum window dressing yang biasanya terjadi pada dua bulan terakhir di penghujung tahun belum terlihat. (Yetede)

Pasar Saham Masih Diliputi Ketidakpastian

HR1 25 Nov 2024 Kontan (H)
Kondisi pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global, seperti ketegangan geopolitik dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, masih penuh tantangan. Hal ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.195,56 pada 22 November 2024, dengan penjualan bersih investor asing mencapai Rp 8 triliun dalam dua pekan terakhir.

Adrian Joezer, Head of Equity Market Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas, menyebut kondisi ini sebagai "The Waiting Game," di mana investor memilih menunggu kepastian global dan domestik. IHSG diprediksi berpotensi mencapai level 8.150 di akhir 2025, dengan sektor konsumsi, pangan, properti, telekomunikasi, transportasi, dan ritel sebagai sektor favorit.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, mencatat bahwa investor juga melirik pasar saham China karena stimulus yang diberikan pemerintah China dan peluang di bursa AS setelah terpilihnya Trump. Nico memperkirakan IHSG dapat naik hingga 7.500 pada Desember 2024 jika sentimen window dressing mendukung, dengan support di level 7.120.

Erindra Krisnawan, Kepala Divisi Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, menilai IHSG secara valuasi sudah menarik dengan forward PE sebesar 11,9 kali. Meski demikian, risiko masih ada akibat potensi pelebaran yield obligasi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Target IHSG di 2025 dipatok pada level 7.448, dengan skenario bullish di 7.700 dan bearish di 7.200.

Meski ada peluang kenaikan, pasar modal menghadapi volatilitas yang tinggi. Investor diharapkan memiliki strategi sektoral yang fokus, terutama pada sektor perbankan, otomotif, dan ritel di kuartal II 2025.