Tags
Bursa
( 805 )Meraup Rezeki Dari Makan Bergizi
HR1
10 Jan 2025 Kontan
Pemerintah memulai program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional pada 6 Januari 2025, namun dampaknya terhadap saham emiten sektor pangan belum signifikan. Pandhu Dewanto, Analis Investindo Nusantara Sekuritas, menilai bahwa meskipun ada peluang peningkatan pendapatan emiten di sektor susu dan unggas, margin keuntungan mereka diprediksi tidak banyak berubah karena daya beli masyarakat masih lambat pulih.
Sementara itu, Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, menyebut beberapa emiten seperti PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Ultrajaya Milk Industry Tbk (ULTJ), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) berpotensi mendapat tambahan pendapatan dari program MBG. Uji coba program yang menyasar 600.000 orang menunjukkan potensi dampak lebih besar jika program meluas dan emiten terlibat dalam kemitraan langsung.
Sentimen positif dari program MBG terhadap saham sektor pangan diperkirakan mulai terlihat setelah kinerja kuartal I-2025 dirilis. Pandhu menyarankan strategi buy on weakness, terutama untuk saham sektor ini yang valuasinya dianggap murah. Ekky merekomendasikan mencermati JPFA dengan target harga Rp 2.200–Rp 2.300 dan HOKI dengan target harga Rp 150.
Ketahanan Emiten Tetap Teruji
HR1
09 Jan 2025 Kontan
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi pilihan menarik bagi investor di tengah kondisi pasar yang volatil dan likuiditas yang ketat. Menurut Andrey Wijaya, Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, pertumbuhan pinjaman BBCA yang mencapai Rp 875,78 triliun per November 2024, naik 15,47% secara tahunan, serta laba bersih sebesar Rp 50,47 triliun (naik 14,31% yoy), menunjukkan kinerja yang solid. Manajemen BBCA bahkan menaikkan target pertumbuhan pinjaman 2024 menjadi 10%-12%.
James Stanley Widjaja dari Buana Capital Sekuritas menilai, koreksi harga saham BBCA sebesar 6,52% dalam sebulan terakhir adalah peluang untuk akumulasi. Dengan profil pertumbuhan laba yang tetap kuat, margin bunga bersih (NIM) sebesar 6,2%, dan kualitas aset terbaik, BBCA memiliki daya tahan di tengah ketatnya likuiditas.
Sementara itu, menurut Harsh Wardhan Modi dari JP Morgan Sekuritas, likuiditas ketat akibat penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) lebih berdampak pada bank BUMN dibandingkan BBCA. Dengan pendapatan yang konsisten, BBCA diproyeksikan tetap mencetak kinerja lebih baik dari bank lain dan diperdagangkan dengan harga premium.
Ketiga analis, yakni Andrey, James, dan Harsh, memberikan rekomendasi "buy" untuk saham BBCA dengan target harga masing-masing Rp 12.060, Rp 12.400, dan Rp 12.000 per saham. Strategi BBCA, seperti program BCA Expoversary dan BCA UMKM Fest, serta kekuatan fundamentalnya, mendukung optimisme terhadap emiten ini.
Pasar Saham Indonesia Masih Mengalami Tekanan
KT3
08 Jan 2025 Kompas
Fenomena kenaikan harga saham pada bulan Januari yang dinantikan oleh investor belum terlihat di awal tahun 2025. Pasar saham Indonesia masih mengalami tekanan akibat keluarnya dana asing yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (6/1/2025), ditutup di level 7.080. Padahal, pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat(3/1), IHSG ditutup positif di level 7.164 atau menguat 1,82 persen dalam seminggu, sementara pada periode sama aktivitas jual bersih oleh investor asing sebesar Rp 817,08 miliar. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Dimas Krisna Ramadhani, dalam analisisnya mengatakan, IHSG memiliki potensi penguatan hingga level 7.290-7.300. Sayangnya, gagalnya IHSG masuk ke posisi itu membuka peluang IHSG untuk melanjutkan tren penurunan sejak September 2024.
”Jika melihat data foreign flow yang masih mencatatkan outflow di pasar reguler hingga perdagangan terakhir, probabilitas lebih besar untuk IHSG melanjutkan downtrend-nya sejak September,” ujarnya, Selasa (7/1). Investor asing masih menanti data dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Pada Kamis (9/1), bank sentral AS, The Federal Reserve, mengadakan pertemuan yang akan membahas kemungkinan hasil keputusan suku bunga yang akan diumumkan pada 30 Januari mendatang. Umumnya, ketika outlooter hadap kondisi ekonomi AS dan keputusan suku bunga disampaikan pada FOMC Minutes akan berpengaruh terhadap pergerakan market saham, baik di AS maupun global. Data ekonomi AS, seperti data ketenagakerjaan dan Non-Farm Payrolls Desember, akan memberikan gambaran kondisi ekonomi AS. Berdasarkan konsensusnya, jumlah lapangan pekerjaan di luar pertanian untuk bulan Desember akan mencatatkan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan sebelumnya.
Gelombang IPO Mengawali Tahun Ular Kayu
HR1
07 Jan 2025 Kontan (H)
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kinerja yang melemah sejak awal 2025, minat perusahaan untuk melakukan initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap tinggi. Aksi IPO di awal tahun ini diprediksi mendapat respons positif dari pelaku pasar, didukung oleh calon emiten yang menarik dan prospek sektoral yang menjanjikan.
IHSG ditutup melemah 1,17% ke level 7.080,47 pada 6 Januari 2025, dan telah terkoreksi 1,61% dalam sebulan terakhir. Meski demikian, ramainya aktivitas IPO menunjukkan bahwa pasar modal tetap menjadi opsi menarik bagi korporasi untuk mencari pendanaan.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa 22 perusahaan sedang berada di pipeline IPO, dengan mayoritas memiliki aset skala besar di atas Rp 250 miliar. Tiga perusahaan sudah menyelesaikan proses IPO dan siap melantai di bursa pada 8 Januari 2025.
Menurut Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, calon emiten seperti RATU (anak usaha RAJA) dan CBDK (anak usaha PANI) menarik perhatian karena memiliki kapitalisasi pasar besar, dukungan dari induk usaha ternama, dan prospek kinerja yang solid. Saham BRRC juga dijagokan karena menawarkan waran gratis sebagai insentif.
Angga Septianus dari Indo Premier Sekuritas menyebutkan bahwa IPO RATU dan CBDK memberikan sentimen positif kepada emiten induknya. Hal ini didukung oleh sinergi dengan konglomerasi seperti Agung Sedayu Group dan Salim Group.
Research Analyst Arjun Ajwani dari Infovesta Kapital Advisori memfavoritkan emiten seperti KSIX dan HGII yang memiliki harga IPO murah dan rencana ekspansi ke sektor-sektor strategis, seperti energi baru dan terbarukan.
Meskipun kondisi IHSG melemah, antusiasme terhadap IPO awal tahun 2025 menunjukkan optimisme investor terhadap potensi pertumbuhan perusahaan-perusahaan baru di pasar modal, terutama yang didukung oleh fundamental kuat dan prospek sektoral menarik.
Efek Januari: Kilauan Saham Blue Chip
HR1
06 Jan 2025 Kontan (H)
Performa saham blue chip melemah sepanjang tahun 2024, dengan indeks LQ45 turun 14,83% dan IDX30 turun 14,48%, lebih buruk dibanding IHSG yang turun 2,65%. Faktor-faktor seperti capital outflow, depresiasi nilai tukar rupiah, suku bunga tinggi, dan sentimen ekonomi global menjadi penyebab utama pelemahan, sebagaimana dijelaskan oleh Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas.
Menurut Oktavianus Audi, Vice President Kiwoom Sekuritas Indonesia, tahun politik di Indonesia dan Amerika Serikat turut memicu pelepasan saham oleh investor. Namun, di awal tahun 2025, optimisme terhadap January Effect membuka peluang rebound saham blue chip, terutama karena valuasi menarik dan potensi akumulasi investor.
Reyhan Pratama, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, menyoroti peluang rebound melalui akumulasi saham undervalue dan optimisme awal tahun. Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, juga melihat potensi technical rebound jangka pendek pada saham-saham blue chip.
Investor dengan orientasi jangka menengah hingga panjang dapat memanfaatkan peluang dividend yield dan capital gain, seperti yang disarankan oleh Ratih Mustikoningsih. Namun, investor juga harus berhati-hati terhadap faktor eksternal, termasuk kebijakan The Fed dan Donald Trump sebagai presiden AS yang baru. Strategi seperti buy on weakness dan dollar cost averaging dapat membantu memitigasi risiko.
Daya Beli Masih Jadi Kunci Kebangkitan Ekonomi
HR1
06 Jan 2025 Kontan
Saham sektor barang konsumsi primer diprediksi akan mencatat kinerja positif pada tahun 2025. Natalia Sutanto, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menyebut beberapa faktor pendorongnya, seperti kenaikan upah minimum sebesar 6,5%, program makan bergizi gratis, serta insentif tarif PPh final 0,5% untuk UMKM. Faktor-faktor ini meningkatkan daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, yang diperkirakan akan mendorong pertumbuhan pendapatan sektor ini sebesar 6,8% yoy pada 2025.
Natalia juga memperkirakan adanya penyesuaian harga jual rata-rata (ASP) sebesar 1,7% karena peningkatan biaya input. Meski harga jual naik, margin sektor ini tetap terjaga, dengan pertumbuhan laba inti diproyeksikan mencapai 9,3% yoy pada 2025.
Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan program B40 juga dapat menjadi katalis positif bagi sektor ini, meskipun implementasinya harus dilakukan dengan maksimal.
Namun, Willy Goutama, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, menilai kenaikan upah minimum tidak signifikan dalam mendorong daya beli karena inflasi dan tantangan di pasar tenaga kerja. Oleh karena itu, Willy merekomendasikan saham emiten dengan kepemimpinan pasar yang kuat dan strategi bisnis unggul, seperti ICBP dan MYOR.
Dengan volume penjualan yang solid dan kontribusi pasar ekspor yang besar, MYOR diproyeksikan dapat mengimbangi fluktuasi margin akibat biaya input. Sementara ICBP akan menyesuaikan harga jual untuk mendukung pertumbuhan.
January Effect Diprediksi akan Memompa Penguatan Pasar Lebih Lanjut
KT1
04 Jan 2025 Investor Daily (H)
Pasar saham RI berpotensi menguat memasuki awal Januari 2025. Tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di teritori hijau plus dukungan data makro ekonomi yang terjaga positif. January Effect diprediksi akan memompa penguatan pasar lebih lanjut. IHSG menutup perdagangannya pada Jumat (3/1/2024) dengan ending yang manis. Terpantau, terjadi penguatan tipis sebanyak 1,22 poin (0,017) ke posisi 7.164 setelah dibuka di level 7,163. Nilai transaksi mencapai Rp7,8 triliun melibatkan 19,82 miliar saham yang beralih tangan tangan sebanyak 1.000,876 kali. Kenaikan tipis itu sekaligus mengakumulasi penguatan IHSG selama 10 hari terakhir menjadi 7,39% setelah terkoreksi 7,73% selama sembilan hari perdagangan terakhir. Direktur Utama PT Anugrah Mega Investasi Hans Kwee berkepanjangan bahwa pasar saham RI pada Januari 2025 memiliki peluang untuk rebound. Ini tidak lepas dari adanya potensi Wall Street yang kembali rally. Dengan catatan, presiden terpilih AS, Donald Trump, yang dilantik pada 20 Januari mendatang tidak menerbitkan kebijakan atau pernyataan-pernyataan ekstrim. (Yetede)
Reksadana Pendapatan Tetap: Pilihan Investasi yang Menjanjikan
HR1
04 Jan 2025 Bisnis Indonesia
Penurunan suku bunga pada 2025 diyakini akan mendukung kinerja positif reksa dana pendapatan tetap, meskipun terdapat tantangan dari sentimen geopolitik dan kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sepanjang 2024, reksa dana pendapatan tetap mencatat kenaikan imbal hasil sebesar 3,3% secara year-to-date (YtD), sementara reksa dana campuran turun 1,05% dan reksa dana saham terkoreksi hingga 8,87% YtD.
Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito, memperkirakan reksa dana pendapatan tetap tetap unggul pada 2025, didukung oleh tren penurunan suku bunga meskipun tidak sebesar ekspektasi awal. Investor institusi seperti dana pensiun dan asuransi masih cenderung menghindari saham, memberikan peluang lebih besar bagi reksa dana jenis ini.
Sentimen global yang memengaruhi kinerja reksa dana tahun ini mencakup kebijakan protektif Trump, melambatnya penguatan dolar AS, dan pelemahan minat terhadap saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, pasar saham Eropa dan negara maju selain AS menunjukkan peningkatan permintaan.
Secara domestik, faktor seperti hasil kerja kabinet, kebijakan ekspor komoditas, dan daya beli masyarakat yang melemah juga menjadi penentu arah pasar reksa dana. Dengan tantangan global dan domestik tersebut, reksa dana pendapatan tetap diproyeksikan tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari stabilitas.
BEI Bertekad untuk Menjadikan Pasar Modal Nasional Menjadi Makin Inklusif
KT1
03 Jan 2025 Investor Daily (H)
Busa Efek Indonesia (BEI) bertekad untuk menjadikan pasar modal nasional menjadi makin inklusif dengan menargetkan pencatatan 66 perusahaan atau emiten baru lewat penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham serta tambahan dua juta investor baru pada 2025. Peningkatan jumlah emiten dan investor itu sekaligus akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi nasional. Jumlah investor pasar modal Indonesia 2024 mencapai 14,84 juta Single Investor Identification (SID), melonjak 22% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 12,17 juta SID. Namun dari total 14,84 juta SID, investor saham pada 2024 tercatat baru 6,37 juta SID yang mengalami peningkatan 1 juta SID dibandingkan akhir tahun 2023. Jumlah tersebut baru, 2,26% dari total penduduk Indonesia. Rasio itu jauh di bawah negara-negara Asean lain yang pada 2022 saja, seperti Vietnam sudah memiliki investor 2,2% dari jumlah penduduk, Thailand 5%, dan Malaysia 8,7%, dan Singapura 16,2%. Begitupun dengan kapitalisasi pasar saham Indonesia, saat ini masih di 56%, dari produk domestik bruto. Sementara kapitalisasi pasar saham India sebesar 106%, Thailand sebesar 101%, dan Malaysia sebesar 97%, masing-masing dari PDB. (Yetede)
Efek Januari: Pasar Saham Mulai Bersinar
HR1
02 Jan 2025 Kontan (H)
Fenomena January Effect, yakni lonjakan pasar saham di bulan Januari, diharapkan terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini. Reyhan Pratama, Analis BRI Danareksa Sekuritas, memproyeksikan bahwa IHSG memiliki peluang mengalami technical rebound, dengan pergerakan di area support 6.931 dan resistance 7.210 selama Januari. Lonjakan ini didorong oleh optimisme pelaku pasar, akumulasi saham undervalued, dan aksi korporasi emiten, serta kebijakan kenaikan PPN 12% yang hanya berlaku untuk barang dan jasa mewah, menjaga daya beli masyarakat.
Namun, efek ini tidak konsisten setiap tahun. Hendra Wardana, Pendiri Stocknow.id, dan Daniel Agustinus, Certified Elliott Wave Analyst, mengingatkan bahwa arus dana asing yang masih keluar dapat membatasi potensi penguatan IHSG. Daniel memprediksi IHSG akan bergerak di rentang 6.800-7.200 pada Januari, sementara Oktavianus Audi, Vice President Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas, menilai peluang penguatan terbatas dengan rentang support 6.925 dan resistance 7.255.
Secara historis, peluang January Effect terjadi hanya sekitar 44%. Audi menyarankan investor fokus pada saham blue chip seperti TLKM (target harga Rp 3.200) dan BMRI (target harga Rp 7.250). Hendra menjagokan saham sektor barang konsumsi primer seperti JPFA (Rp 2.030), ICBP (Rp 12.225), dan MYOR (Rp 2.910), mengingat prospek positif dalam sektor ini. Investor diingatkan untuk tetap berhati-hati, mengingat risiko tekanan eksternal, termasuk arah kebijakan The Fed dan arus modal asing.
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022









