;
Tags

Bursa

( 805 )

Konsumsi Masyarakat Jadi Penopang Ekonomi AS

HR1 01 Feb 2025 Bisnis Indonesia
Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya investasi bisnis, meskipun belanja konsumen dan pemerintah mendorong pertumbuhan. 

Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, mengatakan, konsumen AS terus mendorong pertumbuhan ekonomi karena lapangan kerja dan kenaikan upah tetap kuat, dan dampak kekayaan dari ekuitas serta nilai rumah mendorong pengeluaran rumah tangga berpenghasilan tinggi.

Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menunda pemangkasan suku bunga, meski  telah memangkasnya sebesar satu poin persentase pada empat bulan terakhir 2024.

Reformasi yang Berbuah Harga Naik

HR1 23 Jan 2025 Kontan
Saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan penguatan signifikan di awal 2025, dengan kenaikan sebesar 20% sejak Januari, sehingga nilai kapitalisasi pasar kembali berada di atas Rp 100 triliun. Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, penguatan ini dipengaruhi oleh peningkatan gross transaction value (GTV), gross merchandise value (GMV), dan total processing value (TPV) GOTO, di mana GTV inti grup naik 74% menjadi Rp 72 triliun pada kuartal III-2024.

Selain itu, efisiensi operasional, seperti pengurangan cash burn dan biaya pemasaran, berhasil mendorong adjusted EBITDA menjadi positif sebesar Rp 137 miliar pada kuartal III-2024, meskipun rugi bersih GOTO masih tercatat Rp 1,69 triliun. Ryan Winipta, Analis Indo Premier Sekuritas, memproyeksikan adjusted EBITDA GOTO akan meningkat menjadi Rp 1,2 triliun hingga Rp 1,5 triliun pada 2025, didorong oleh pertumbuhan GTV sebesar 12% dan margin EBITDA segmen on-demand service yang naik.

Niko Margaronis, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menyoroti potensi efisiensi bisnis on-demand service yang dapat menghasilkan margin EBITDA hingga 1,4%. Ia juga mengapresiasi strategi GOTO dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendorong pertumbuhan bisnis pinjaman melalui Goto Financials (GTF) hingga 20% secara triwulanan.

Komitmen pemegang saham utama, seperti Alibaba, untuk tidak menjual saham selama lima tahun ke depan dan keberlanjutan dana buyback juga turut mendukung stabilitas harga saham GOTO. Menurut Ryan, rekomendasi "buy" diberikan dengan target harga Rp 90 per saham, sedangkan Nafan memberikan target lebih optimistis di Rp 100 per saham.

Dengan prospek yang menjanjikan melalui efisiensi operasional, pertumbuhan bisnis on-demand service, dan inovasi berbasis AI, GOTO diproyeksikan akan terus memperkuat posisinya di pasar pada 2025.

Strategi SRTG: Investasi US$ 150 Juta untuk Perkuat Portofolio

HR1 23 Jan 2025 Kontan
Pada tahun 2025, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) berfokus pada pengembangan portofolio investasi dengan menyiapkan dana investasi sebesar US$ 100 juta - US$ 150 juta. Menurut Devin Wirawan, Direktur Investasi Saratoga, kondisi pasar yang relatif tenang memberikan kesempatan bagi SRTG untuk berinvestasi di perusahaan dengan valuasi yang wajar. Pada 2024, SRTG telah melakukan divestasi pada PT Deltomed Laboratories, meskipun Devin menyebutkan bahwa mereka belum berencana menjual portofolio lainnya pada tahun ini. Beberapa perusahaan portofolio SRTG, seperti MGM Bosco Logistics, ZAP, dan Brawijaya Hospital, masih dalam tahap pengembangan, dan SRTG berharap dapat membawa beberapa perusahaan ini untuk IPO pada waktu yang tepat.

SRTG juga mengharapkan kinerja yang lebih baik dengan adanya IPO PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), yang diperkirakan dapat meningkatkan net asset value (NAV) mereka pada akhir 2024. Meskipun Paulus Jimmy, Deputy Head of Research Sucor Sekuritas, memproyeksikan pendapatan dividen SRTG sedikit lebih rendah pada 2025, AADI dan MPMX diharapkan dapat menyokong pendapatan dividen.

Steven Prasetya, Equity Research Analyst di Samuel Sekuritas, menilai bahwa SRTG berpotensi memperoleh keuntungan lebih lanjut dari investasi di AADI, yang sejak IPO telah mengalami kenaikan signifikan. Berdasarkan analisis ini, Samuel Sekuritas merekomendasikan untuk membeli saham SRTG dengan target harga Rp 3.000, sementara Sucor Sekuritas memberikan target harga Rp 2.500.

Optimisme Baru di Pasar Perdagangan Karbon

HR1 21 Jan 2025 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Direktur Utama Iman Rachman meluncurkan Perdagangan Karbon Internasional pertama di Indonesia melalui Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) pada Senin (20/1). Ini menjadi tonggak sejarah dalam perdagangan karbon nasional, dengan dua produk karbon yang diperdagangkan, yaitu Authorized Indonesian Tech Based Solution (IDTBSA) senilai Rp 96.000 per ton dan IDTBSA Renewable Energy (IDTBSA-RE) senilai Rp 144.000 per ton. Harga ini lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya, Rp 59.200 per ton.

Pada debut perdagangan internasionalnya, IDXCarbon mencatat volume transaksi sebesar 41.822 ton setara CO2 (tCO2e) dari lima proyek, sembilan pengguna jasa, dan sembilan pembeli. Hingga 17 Januari 2024, total volume perdagangan karbon di Indonesia mencapai 1,131 juta tCO2e dengan nilai transaksi Rp 58,868 miliar. BEI menargetkan pertumbuhan volume transaksi karbon domestik dan internasional mencapai 500.000-750.000 tCO2e dengan 200 pengguna jasa pada 2025.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyebutkan pihaknya telah menerbitkan 5 juta tCO2e sertifikat melalui Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI), meskipun baru 1,78 juta tCO2e yang dipasarkan. Perdagangan karbon ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam pengurangan emisi gas rumah kaca dan mendukung upaya mitigasi perubahan iklim di Indonesia.

Strategi Hemat Emiten Besar

HR1 17 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)
Beberapa emiten besar seperti PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) masih menyisakan sebagian besar dana dari hasil IPO mereka, yang menimbulkan kekhawatiran di pasar terkait efisiensi dan realisasi rencana penggunaan dana. Contohnya, BUKA masih memiliki sisa dana IPO sebesar Rp 9,3 triliun dari total Rp 21,3 triliun, meskipun telah tiga tahun sejak IPO. Victor Putra Lesmana, Direktur BUKA, menyatakan sisa dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja, pengembangan anak usaha, pembelian aset, serta investasi, sambil mencermati kondisi pasar dan politik yang dinamis.

Di sisi lain, CMRY, menurut Direktur Bharat Shah Joshi, menyimpan dana IPO sebesar Rp 2,19 triliun dalam obligasi dan deposito untuk periode jangka pendek hingga menengah. Adapun, beberapa emiten seperti PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) telah sepenuhnya mengalokasikan dana IPO mereka, yang dianggap lebih positif di mata pasar.

Menurut Novi Vianita, Research Associate Panin Sekuritas, penghematan penggunaan dana IPO oleh emiten dapat memberikan sentimen negatif di pasar. Hal ini disebabkan oleh ketidaksesuaian antara rencana awal penggunaan dana yang dijanjikan dalam prospektus dan realisasi aktualnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyusun regulasi baru untuk memperketat pengawasan dana IPO agar lebih transparan dan sesuai dengan rencana awal. Saptono Adi Junarso, Senior Advisor to Listing Directorate BEI, menegaskan bahwa BEI terus membantu OJK dalam mengawasi kesesuaian laporan penggunaan dana oleh emiten.

Prospek Cerah Dari Emiten Farmasi

HR1 16 Jan 2025 Kontan
Sejumlah emiten farmasi optimis menghadapi tantangan di tahun 2025 dengan menargetkan pertumbuhan kinerja tinggi. PT Brigita Biofarmaka (OBAT) yang baru terdaftar di Bursa Efek Indonesia memproyeksikan pertumbuhan laba sebesar 20%, setelah mencatatkan pendapatan Rp 100 miliar dan laba bersih Rp 30 miliar pada 2024.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menargetkan pertumbuhan kinerja low double digit dengan fokus memperluas distribusi dan menghadirkan produk herbal untuk generasi muda. Sementara itu, PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) juga menargetkan pertumbuhan kinerja 20%, didukung rencana ekspansi yang telah direncanakan.

Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas, menilai prospek sektor farmasi tetap menjanjikan, terutama karena peningkatan konsumsi obat dan vitamin akibat virus Human Metapneumovirus (HMPV) dan peralihan musim. Namun, ia mengingatkan risiko pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang bisa meningkatkan biaya bahan baku impor.

Meski demikian, SIDO dinilai lebih tangguh menghadapi fluktuasi nilai tukar karena penggunaan bahan baku herbal lokal. Peningkatan harga jual rata-rata produk SIDO juga menjadi faktor pendukung. Azis merekomendasikan trading buy untuk saham TSPC dengan target harga Rp 2.520–Rp 2.580 per saham.

Meski ada tantangan eksternal seperti nilai tukar, emiten farmasi tetap optimis dengan strategi inovasi produk, ekspansi distribusi, dan peningkatan efisiensi untuk mendorong kinerja positif di tahun 2025.

Saham Blue Chip Kehilangan Daya Tarik

HR1 14 Jan 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia sedang mengalami tekanan, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,02% ke level 7.016,88 pada Senin (13/1). Saham-saham blue chip, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), melemah meskipun memiliki fundamental yang baik dan valuasi yang murah. Hal ini didorong oleh aksi jual investor asing, meskipun investor lokal masih menunjukkan minat pada saham-saham ini.

Sementara itu, saham-saham growth stock seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan kenaikan harga signifikan meskipun valuasinya sudah mahal. Direktur Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus, menjelaskan bahwa saham-saham ini cenderung lebih stabil karena partisipasi publik yang rendah dan minimnya pengaruh dana asing.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, mencatat bahwa kehadiran market maker memengaruhi pergerakan harga saham growth stock seperti BREN. Di sisi lain, saham blue chip seperti ASII tidak memiliki mekanisme serupa, sehingga harga sahamnya lebih dipengaruhi oleh faktor pasar umum.

Maximilianus Nico Demus, dari Pilarmas Investindo Sekuritas, menyarankan investor untuk memanfaatkan kombinasi analisis fundamental dan teknikal, sambil mempertimbangkan jangka waktu dan profil risiko masing-masing. Daniel Agustinus juga memprediksi bahwa saham-saham blue chip akan kembali pulih saat investor asing kembali masuk, terutama jika The Fed mulai menurunkan suku bunga.

Menguji Ketahanan di Batas Psikologis

HR1 14 Jan 2025 Kontan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,02% ke level 7.016,88 pada Senin (13/1) akibat pelemahan saham-saham kapitalisasi besar (big cap), terutama di sektor perbankan, serta keluarnya dana asing senilai Rp 383,46 miliar. Valdy Kurniawan, Head of Research Phintraco Sekuritas, menjelaskan bahwa penurunan ini diperparah oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai Rp 16.283 per dolar AS. Hal ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS usai rilis data tenaga kerja AS.

Valdy memproyeksikan IHSG akan menguji support psikologis di level 7.000 pada Selasa (14/1), mengingat adanya pola negatif pada indikator teknikal, seperti death cross pada MACD. Sementara itu, Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas, memperkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan support di 6.953 dan resistance di 7.080. Herditya juga mencatat, perhatian investor saat ini tertuju pada data producer price index (PPI) AS dan yield US Treasury 10 tahun yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga The Fed.

Dalam situasi ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Sementara Herditya menyarankan untuk memperhatikan saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebagai opsi perdagangan di area tertentu.

Menggali Peluang dari Emiten Baru

HR1 14 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Minat tinggi investor terhadap aksi Initial Public Offering (IPO) pada awal tahun 2025, yang tercermin dari oversubscription pada beberapa emiten besar, fenomena ini belum cukup untuk mengerek aktivitas transaksi harian di pasar modal Indonesia. Sejumlah IPO seperti PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) berhasil menarik dana jumbo dan mencatatkan lonjakan harga saham signifikan. Namun, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, dan IHSG pun menunjukkan penurunan.

Faktor eksternal seperti kebijakan moneter global dan penguatan dolar AS turut mempengaruhi pergerakan pasar, dengan investor asing tercatat melakukan net sell. Meskipun IPO menawarkan alternatif investasi yang menarik, terutama pada emiten yang terafiliasi dengan konglomerasi besar, sebagian investor lebih memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan pasar lebih lanjut.

Pakar pasar seperti Irvan Susandy dan Fath Aliansyah mengungkapkan bahwa meskipun IPO menarik minat, tantangan utama adalah sentimen pasar yang lemah, terutama dalam pasar sekunder, serta tekanan dari faktor eksternal. Oleh karena itu, meskipun IPO menunjukkan potensi, keberlanjutan kenaikan pasar tergantung pada faktor-faktor ekonomi dan sentimen pasar yang lebih luas.



Emiten Migas: Tantangan di Tengah Ketidakpastian Permintaan

HR1 13 Jan 2025 Kontan
Kinerja sektor minyak dan gas (migas) diproyeksikan tetap positif meskipun dihadapkan pada tantangan global dan domestik. Christian Sitorus, analis MNC Sekuritas, menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan energi global akibat penutupan pipa gas Rusia sebagai pendorong potensi kenaikan harga minyak mentah. Namun, lemahnya permintaan minyak dari Tiongkok dan kebijakan transisi energi global menekan prospek harga minyak.

Organisasi OPEC+ mempertahankan pemangkasan produksi hingga Desember 2024 untuk menjaga stabilitas harga, sementara Bank Dunia memperkirakan harga minyak global akan turun hingga 8,8% pada 2025 akibat kelebihan pasokan. Sementara itu, harga gas alam diproyeksikan meningkat, terutama di Eropa dan AS, sebagai dampak dari ketidakpastian geopolitik.

Di Indonesia, pemerintah berupaya meningkatkan investasi migas melalui skema bagi hasil (gross split) yang dinilai lebih menguntungkan. Analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta, menilai skema ini positif bagi emiten seperti Medco Energi International Tbk (MEDC). Ryan merekomendasikan buy MEDC dengan target harga Rp 1.700 per saham, sementara Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mendapat rekomendasi hold dengan target harga Rp 1.500 per saham.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya, menurunkan peringkat sektor migas menjadi netral karena revisi harga minyak yang diprediksi turun menjadi US$ 75 per barel pada 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh surplus pasokan, lemahnya konsumsi Tiongkok, dan potensi peningkatan produksi minyak di AS.

Di sisi lain, Indonesia berkomitmen memperkuat ketahanan energi dengan target lifting minyak 605.000 barel per hari pada 2025 dan produksi 1 juta barel per hari pada 2030, serta mempercepat transisi energi bersih. Meski demikian, potensi pelebaran defisit perdagangan migas masih menjadi tantangan besar.