;
Tags

Bursa

( 805 )

Siap Melantai 21 Perusahaan di Bursa RI

KT3 02 Jan 2025 Kompas
Sebanyak 21 perusahaan dalam daftar calon perusahaan tercatat baru di Bursa Efek Indonesia kemungkinan akan melantai tahun 2025 ini. Otoritas bursa menargetkan 66 perusahaan melaksanakan penawaran saham perdana di tahun baru ini setelah melalui tahun 2024 yang menantang. Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (31/12/2024), menyampaikan hingga akhir penutupan perdagangan BEI tahun 2024, Senin (30/12/2024), terdapat 21 perusahaan dalam daftar prospek penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). ”Dari jumlah itu, tiga perusahaan di antaranya merupakan lighthouse (perusahaan berkapital besar).

Adapun mayoritas berasal dari sektor-sektor prospektif tersebut, menandakan optimisme pemulihan minat IPO di tahun mendatang,” ujarnya. Secara rinci, ia menyebutkan, ada 18 perusahaan aset berskala besar atau di atas Rp 250 miliar. Kemudian, dua perusahaan aset skala menengah di antaraRp 50 miliar sampai Rp 250 miliar, dan satu perusahaan aset kecil di bawah Rp 50 miliar. Jumlah ini akan menyumbang sepertiga target IPO 2025 yang sebanyak 66 perusahaan. Target tersebut lebih besar dari pencapaian di 2024 yang hanya mencatatkan sebanyak 41 perusahaan baru dengan total dana yang dihimpun sebanyak Rp 14,3 triliun. Jumlah ini turun drastis dari 79 kegiatan IPO di 2023 yang berhasil menghimpun dana hingga Rp 54,1 triliun.

Sementara itu, tahun ini, otoritas pasar modal menilai prospek IPO pada tahun 2025 diharapkan tetap menarik, terutama untuk perusahaan di sektor konsumen dan energi yang tahun lalu melakukan banyak aksi IPO. Harapan itu juga diperkuat optimisme akan stabilitas ekonomi domestik dengan target pertumbuhan ekonomi dan proyeksi inflasi yang terkendali. Selain target IPO, BEI juga menetapkan peningkatan target jumlah penerbitan beragam efek, seperti saham, obligasi, sukuk, waran terstruktur, dana tukar dagang atau exchange traded fund (ETF), dana investasi real estat (DIRE), dana investasi infrastruktur (DINFRA), efek beragun aset (EBA) dari 340 penerbitan di 2024 menjadi sebanyak 407 penerbitan sepanjang 2025. (Yoga)

Tutup Tahun, Bursa dan Rupiah Kurang Menggembirakan

KT3 31 Dec 2024 Kompas
Kinerja bursa saham dan nilai tukar rupiah pada akhir 2024 kurang menggembirakan. Rupiah ditutup melemah dan tembus ke level Rp 16.000 per dollar AS. Sementara itu, kinerja bursa saham pada hari perdagangan terakhir melemah 2,56 persen dibandingkan pada awal tahun ini. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (30/12/2024) ditutup sebesar Rp 16.162 perdollar AS. Meski cenderung menguat 89 poin dibandingkan hari sebelumnya, rupiah tercatat melemah 1,61 persen dibandingkan pembukaan awal Desember 2024 yang berada dilevel Rp 15.905 per dollar AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Edi Susiato menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah terjadi seiring menguatnya mata uang dollar AS. Dalam beberapa bulan terakhir, indeks dollar AS (DXY) menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, baik mata uang negara utama maupun terhadap mata uang negara berkembang. ”Penguatan DXY tersebut didorong oleh faktor-faktor, antara lain adanya divergensi ekonomi. Di satu sisi ekonomi Amerika Serikat cukup berdaya tahan, sementara di sisi lain ekonomi negara-negara Eropa dan China cenderung melambat.

Resiliensi ekonomi AS menyebabkan agresivitas pemangkasan suku bunga menurun,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin. Selain itu, terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS atau dikenal sebagai fenomena Trump 2.0 juga menambah ketidakpastian global seiring dengan penerapan kebijakan tarifnya. Kemudian, isu geopolitik di Suriah serta kondisi politik di Perancis dan Korea Selatan turut menyebabkan ketidakpastian. Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam berpendapat, pelemahan nilai tukar rupiah cen- derung dipengaruhi oleh faktor global, yakni menguatnya dollar AS. Penguatan kurs dollar AS tersebut tidak lepas dari kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan Trump. ”Sebenarnya bukan rupiah yang melemah, melainkan dollar AS yang menguat dan semua mata uang dunia juga melemah. Itu karena ekspektasi terhadap kebijakan Trump yang diperkirakan lebih mementingkan AS,” tuturnya. Oleh sebab itu, Piter melanjutkan, rupiah diperkirakan dapat kembali menguat seiring dengan perkembangan dinamika global ke depan. Hal itu terkait dengan pelantikan Trump sebagai presiden AS dan kejelasan arah kebijakannya. Ditengah ketidakpastian global tersebut, arah kebijakan pemerintah RI di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto justru belum menunjukkan upaya untuk meyakinkan pasar. (Yoga)

Badai Pasar Saham Belum Berlalu

KT1 31 Dec 2024 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 2,65% ke level 7.079 sepanjang 2024, terpuruk di Asean. Indeks terpukul oleh maraknya sentimen negatif global terutama labilnya kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Federal Funds Rate (FFR). Berdasarkan data BEI, indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI Index naik 12,58% tahun ini, sedangkan PSEi Index 1,22%, Strait Times Index 1714%, SET Index turun 1,1% dan VN Index 12,95%. Di Asia, IHSG merupakan terburuk kedua setelah Kopsi Korea Selatan yang turun 9,63%. Memasuki 2025, badai pasar saham diprediksi belum berlalu.

Bahkan tantangan ke depan makin berat. Selain situasi global yang belum kondusif, dari dalam negeri, daya tahan indeks diuji oleh imbas kenaikan PPN 12% mulai 1 Januari 2025. Namun, masih ada secercah harapan di tahun depan. Syaratnya, pemerintah bisa meramu kebijakan tepat untuk menjaga fundamental ekonomi yang ada angun segar dari AS. Beberapa analis mematok IHSG akhir 2025 di level 8.000, berdasarkan skenaripo optimistis. Founder Stock.id Hendra Wardana menyatakan, PPN 12% diperkirakan membawa dampak signifikan pada berbagai sektor ekonomi, terutama yang bergantung pada  konsumsi domestik, seperti ritel, otomotif, dan properti. Kenaikan PPN akan menjadi pukulan keras bagi daya beli masyarakat. (Yetede)

Peluang Window Dressing Masih Terbuka di Penghujung 2024

KT1 28 Dec 2024 Investor Daily (H)
Peluang window dressing masih terbuka di penghujung 2024, seiring banyaknya saham big cap yang sedang murah. Ini tak lepas dari aksi jual besar-besaran asing terhadap saham big cap, terutama bank besar. Merujuk data RTI, asing net sell Rp 2,4 triliun di semua pasar dalam sepekan terakhir, sedangkan sepanjang 2024 masih net buy Rp15,2 triliun. Akibatnya, pasar saham sulit keluar dari zona merah, karena asing banyak memegang saham berkapitalisasi pasar besar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah, 0,41% ke level 7.036,57, kemarin, dan turun 1% dalam sepekan terakhir. Sejumlah faktor global dan domestik terus menekan indeks. 

Founder Stocknow.id Hendra Wardana optimistis terhadap potensi penguatan IHSG pada perdagangan Senin pekan depan, didukung oleh aksi window dressing. IHSG berpeluang menguat dengan resistance di level 7.120 dan support di level  7.120 dan support di level 7.000. "Selama window dressing, manager investasi menerapkan strategi untuk mempercantik kinerja portfolio menjelang penutupan akhir tahun," tutur dia. 

Kebijakan Pasar Saham untuk Daya Saing

HR1 18 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)
Investor pasar saham saat ini menantikan kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia (BI) dan The Fed, yang menjadi sentimen utama akhir 2024. Bank Indonesia diproyeksikan mempertahankan suku bunga BI Rate di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG), sementara The Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,25%-4,50%.

Menurut Martha Christina dari Mirae Asset Sekuritas, keputusan BI Rate akan berdampak pada stabilitas rupiah, yang saat ini melemah hingga Rp16.101 per dolar AS. Sementara itu, keputusan The Fed dinilai lebih signifikan memengaruhi pasar saham dibandingkan BI Rate.

Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas menjelaskan bahwa penurunan BI Rate akan memberikan sentimen positif bagi sektor properti, perbankan, dan barang konsumsi, karena biaya pinjaman yang lebih rendah. Sebaliknya, kenaikan suku bunga akan berdampak negatif, terutama pada saham yang berorientasi pada utang tinggi.

Menurut Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas, jika BI Rate tetap, pasar akan merespons sesuai ekspektasi, tetapi kenaikan suku bunga dapat memicu penurunan penyaluran kredit dan konsumsi meskipun rupiah menguat. Arfan F. Karniody dari KISI Asset Management memperkirakan bahwa BI Rate pada 2025 akan turun ke 5%, dengan IHSG bergerak bullish hingga level 8.000.

Di sisi lain, Ike Widiawati dari Sinarmas Sekuritas menyarankan aksi "buy on weakness" pada saham-saham potensial seperti BBRI, ASII, dan GOTO di tengah tren pelemahan IHSG. Adapun skenario optimis 2025 adalah IHSG mencapai 8.185, didorong oleh stabilitas kebijakan dan sentimen positif dari The Fed.

Saham Defensif Masih Berpeluang Positif

HR1 18 Dec 2024 Kontan (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan dengan koreksi empat hari berturut-turut, ditutup di level 7.157,73 pada 17 Desember 2024. Penurunan ini dipicu oleh derasnya arus dana asing keluar (capital outflow), yang mencapai Rp 1,63 triliun, memicu panic selling di pasar. Bahkan, sektor defensif seperti barang konsumsi primer dan kesehatan turut tertekan.

Menurut William Hartanto, praktisi pasar modal dan pendiri WH-Project, panic selling menyebabkan tekanan menyebar ke berbagai sektor saham tanpa terkecuali. Sementara itu, Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas Indonesia menekankan pentingnya mencermati sentimen yang memengaruhi masing-masing saham, karena tidak semua saham defensif aman dari tekanan pasar.

Sarkia Adelia Lukman, Junior Research Analyst Panin Sekuritas, menyebut bahwa meskipun sektor defensif terkena dampak negatif dalam jangka pendek, kinerjanya masih stabil jika dilihat dalam rentang waktu bulanan. Namun, empat sentimen negatif, yaitu harga bahan baku tinggi, pelemahan daya beli, kenaikan PPN menjadi 12%, dan pengetatan industri asuransi, memberikan tekanan tambahan pada sektor defensif.

Ezaridho Ibnutama, Chief Economist NH Korindo Sekuritas Indonesia, menyarankan pelaku pasar untuk lebih selektif dalam memilih saham defensif, dengan fokus pada emiten yang memiliki pasar nyata dan dikombinasikan dengan analisis teknikal. Di sisi lain, Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisori merekomendasikan strategi wait and see sampai ada tanda pemulihan yang jelas.

Sebagai tambahan, Sarkia menyarankan saham dari sektor perbankan, perunggasan, consumer goods, dan rumah sakit sebagai alternatif defensif yang patut dipertimbangkan oleh investor.

Penggalangan Dana akan Marak Tahun Depan

HR1 14 Dec 2024 Kontan
Penghimpunan dana dari pasar modal diproyeksikan meningkat pada tahun 2025, dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 133 rencana penawaran umum, termasuk 97 perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan initial public offering (IPO). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menyebut nilai indikatif dari pipeline ini mencapai Rp 58,34 triliun, mencakup IPO, penerbitan efek utang, dan penawaran umum berkelanjutan.

Sofiyan Adhi Kusumah, Kepala Unit Pengembangan Calon Perusahaan Tercatat 2 Bursa Efek Indonesia (BEI), optimistis tren IPO akan membaik pada 2025 seiring stabilisasi politik dan pemulihan ekonomi global, dengan mengacu pada peningkatan aktivitas IPO di pasar global seperti AS dan Hong Kong.

Catatan BEI menunjukkan hingga 6 Desember 2024, terdapat 40 emiten baru dengan total dana Rp 10,19 triliun, masih di bawah target 62 emiten untuk tahun tersebut. Saat ini, 24 perusahaan sedang dalam antrean IPO, termasuk PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY), yang berpotensi meraup Rp 4,15 triliun.

Direktur Utama Surya Fajar Sekuritas, Steffen Fang, menilai tren penghimpunan dana di pasar modal tetap menjanjikan, dengan fokus pada perusahaan berfundamental solid. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menambahkan bahwa tahun 2025 menjadi momentum yang lebih baik bagi calon emiten dengan kualitas yang lebih tinggi, didukung oleh stabilitas politik.

Derasnya Arus Asing Masuk Pasar Saham

KT1 05 Dec 2024 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melesat 3,97% dari 7.046 menjadi 7.326 hanya dalam tempo dua hari terakhir, sejalan dengan derasnya arus masuk (inflow) asing ke pasar saham. Tercatat, asing membukukan net buy total Rp2,08 triliun pada Selasa (3/12/2024). Pergerakan IHSG makin diuntungkan dengan dimulainya window dressing pada awal Desember ini. "IHSG sudah menyentuh level psikologisnya kemarin di 7.046, dan berpotensi menuju 7.500-7.600 diakhir tahun ini. Pasar modal Indonesia tetap menarik di mata asing, dan sekarang mereka sudah kembali lagi ke saham," kata Head of investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe kepada Investor Daily. Dalam catatan Kiswoyo, IHSG hanya memerah lima kali dalam 25 tahun terakhir, dan Desember biasanya menjadi bulan terbaik bagi IHSG. Dengan pertimbangan hak tersebut dan melihat perkembangan yang terjadi saat ini, dia optimistis IHSG masih bisa mencatatkan pertumbuhan pada 2024. "Meski, dalam perjalanannya IHSG juga tetap rawan penurunan. Karena kenaikan yang cukup tinggi juga biasanya akan diwarnai koreksi," tuturnya. (Yetede)

Saham Perbankan Tetap Jadi Pilihan Utama

HR1 04 Dec 2024 Kontan (H)
Pergerakan saham perbankan di kuartal akhir 2024 cenderung tertekan meski kinerja fundamental perbankan hingga Oktober 2024 solid. Tim Analis OCBC Sekuritas menilai pelemahan ini lebih disebabkan oleh keluarnya dana asing setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, yang memengaruhi potensi perubahan kebijakan The Fed. Namun, secara fundamental, kredit perbankan diprediksi tumbuh di atas 10% pada 2025.

Sigit Prastowo, Direktur Keuangan Bank Mandiri, optimistis kredit konsolidasi Bank Mandiri dapat tumbuh 16%-18% hingga akhir tahun 2024, dengan segmen wholesale sebagai pendorong utama. Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, juga yakin target pertumbuhan kredit 9,5%-10% akan tercapai, meskipun faktor likuiditas menjadi tantangan besar.

Presiden Direktur BBCA, Jahja Setiaatmadja, dan Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyebut persaingan memperoleh dana pihak ketiga (DPK) semakin berat. Sementara itu, prospek pertumbuhan kredit tetap besar, terutama di segmen kredit korporasi dan konsumer, termasuk proyek hilirisasi. Namun, Lani mengingatkan perlunya menjaga kualitas kredit agar tidak meningkatkan risiko non-performing loan (NPL) dan beban pencadangan (CKPN).

Miftahul Khaer, analis dari Kiwoom Sekuritas, menilai sektor perbankan masih menarik karena mencerminkan pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Ia merekomendasikan akumulasi saham BBRI dengan target harga Rp 4.440 dan BBCA di Rp 10.600, menilai potensi pertumbuhan sektor usaha yang kembali ekspansif.

Meskipun likuiditas menjadi tantangan utama, optimisme pertumbuhan kredit perbankan tetap tinggi dengan harapan belanja pemerintah yang lebih cepat akan meningkatkan peredaran uang dan mendukung pertumbuhan sektor ini di 2025.

BEI Atur Ulang Batas Auto Rejection untuk Waran

HR1 04 Dec 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan aturan baru mengenai auto rejection untuk waran dan waran terstruktur dalam Perubahan Peraturan Bursa No II-A. Aturan ini membagi pembatasan harga waran ke dalam beberapa rentang berdasarkan acuan harga, bertujuan untuk mengendalikan volatilitas harga dan mencegah manipulasi transaksi.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Irvan Susandy, menjelaskan bahwa meskipun transaksi waran tidak ramai, ketentuan ini tetap diperlukan untuk mengatasi perilaku spekulatif yang sering terjadi. Selama 2024, transaksi waran mencapai 4,53 juta kali dengan nilai Rp 3,34 triliun.

Pengamat Pasar Modal Hans Kwee mendukung pembatasan ini, menilai bahwa langkah tersebut penting untuk melindungi investor dari pergerakan harga waran yang tidak wajar, terutama yang sering lebih volatil dibanding saham induknya. Ia menyoroti kasus pergerakan harga waran PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRZ-W) pada 27 Maret 2023 sebagai contoh manipulasi harga yang berujung laporan kepolisian.

Aturan baru ini diharapkan mampu menciptakan pasar yang lebih adil dan aman bagi investor, khususnya individu.