Bursa
( 810 )January Effect Diprediksi akan Memompa Penguatan Pasar Lebih Lanjut
Reksadana Pendapatan Tetap: Pilihan Investasi yang Menjanjikan
BEI Bertekad untuk Menjadikan Pasar Modal Nasional Menjadi Makin Inklusif
Efek Januari: Pasar Saham Mulai Bersinar
Siap Melantai 21 Perusahaan di Bursa RI
Tutup Tahun, Bursa dan Rupiah Kurang Menggembirakan
Badai Pasar Saham Belum Berlalu
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 2,65% ke level 7.079 sepanjang 2024, terpuruk di Asean. Indeks terpukul oleh maraknya sentimen negatif global terutama labilnya kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Federal Funds Rate (FFR). Berdasarkan data BEI, indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI Index naik 12,58% tahun ini, sedangkan PSEi Index 1,22%, Strait Times Index 1714%, SET Index turun 1,1% dan VN Index 12,95%. Di Asia, IHSG merupakan terburuk kedua setelah Kopsi Korea Selatan yang turun 9,63%. Memasuki 2025, badai pasar saham diprediksi belum berlalu.
Bahkan tantangan ke depan makin berat. Selain situasi global yang belum kondusif, dari dalam negeri, daya tahan indeks diuji oleh imbas kenaikan PPN 12% mulai 1 Januari 2025. Namun, masih ada secercah harapan di tahun depan. Syaratnya, pemerintah bisa meramu kebijakan tepat untuk menjaga fundamental ekonomi yang ada angun segar dari AS. Beberapa analis mematok IHSG akhir 2025 di level 8.000, berdasarkan skenaripo optimistis. Founder Stock.id Hendra Wardana menyatakan, PPN 12% diperkirakan membawa dampak signifikan pada berbagai sektor ekonomi, terutama yang bergantung pada konsumsi domestik, seperti ritel, otomotif, dan properti. Kenaikan PPN akan menjadi pukulan keras bagi daya beli masyarakat. (Yetede)
Peluang Window Dressing Masih Terbuka di Penghujung 2024
Kebijakan Pasar Saham untuk Daya Saing
Saham Defensif Masih Berpeluang Positif
Pilihan Editor
-
KKP Genjot Revitalisasi Tambak Udang Tradisional
23 Feb 2022 -
Minyak Goreng, Wajah Kemanusiaan Kita
24 Feb 2022









