;
Tags

Bursa

( 805 )

BEI meluncurkan produk kontrak berjangka saham atau single stock futures

KT3 13 Nov 2024 Kompas

BEI meresmikan peluncuran produk kontrak berjangka saham atau single stock futures. Tiga anggota bursa siap memperdagangkan produk derivatif tersebut. Produk ini diharapkan dapat meningkatkan transaksi di pasar modal. BEI dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta OJK menyelenggarakan grand launching produk tersebut di Jakarta, Selasa (12/11). Dirut BEI, Iman Rachman, dalam sambutannya, menjelaskan, single stock futures (SSF) merupakan produk derivatif berupa perjanjian atau kontrak di antara dua belah pihak untuk menjual atau membeli suatu saham di masa depan dengan harga dan waktu yang telah ditentukan.

Adapun transaksi SSF dapat diselesaikan secara tunai dalam waktu satu hari bursa (T+1). ”Investor dapat mengambil posisi beli (long) ketika pasar sedang bullish atau posisi jual (short) ketika pasar sedang bearish untuk memperoleh potensi keuntungan,” kata Iman. Nasabah yang memegang kontrak pembelian atau long akan mendapatkan keuntungan jika harga aset dari saham tertentu yang menjadi dasar kontrak future tersebut naik, karena nasabah telah mengunci harga yang lebih rendah dibanding harga di pasar (spot). Sebaliknya, para pemegang kontrak penjualan atau short akan mendapatkan keuntungan jika harga di spot turun.

Sebelumnya, investor yang memegang kontrak penjualan telah mengunci harga aset yang menjadi dasar kontrak tersebut pada harga yang lebih tinggi dibanding harga spot. Jika dalam investasi saham perlu modal 100 % dari nilai transaksi untuk membeli suatu saham, SSF dapat dibeli dengan modal minimal 4 % dari nilai transaksi atau harga saham underlying. Persentase keuntungan yang didapatkan dari SSF berpotensi lebih besar karena biaya investasi lebih sedikit walaupun risiko lebih besar dari perdagangan saham. ”Saat ini akan terdapat 15 seri produk dari SSF, yang terdiri lima saham konstituen indeks LQ45, yaitu BBCA, BBRI, TLKM, ASII, dan MDKA. Masing-masing terdiri dari tiga produk kontrak dalam jangka waktu 1 bulan, 2 bulan, dan 3 bulan,” ujar Iman. (Yoga)


Optimisme Pasar Saham Lokal Menguat

HR1 13 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), berhasil melewati dua momentum besar dalam waktu 30 hari terakhir, yang masing-masing berhubungan dengan transisi pemerintahan dan perkembangan politik global.

Momentum pertama adalah transisi pemerintahan dari Presiden Joko Widodo ke Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024, yang berjalan lancar tanpa banyak menggoyahkan pasar saham. Pembentukan Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo, yang sebagian besar mempertahankan struktur perekonomian yang ada, dilihat oleh pelaku pasar sebagai kebijakan yang ramah terhadap pasar (friendly market). Hal ini tercermin dari kenaikan IHSG sebesar 3,47% pada 22 Oktober 2024. Meskipun setelah itu terjadi aksi ambil untung, pasar tetap mencatatkan tren positif.

Momentum kedua terjadi setelah kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 5 November 2024, yang memberikan dorongan sementara terhadap IHSG, meskipun hanya terungkit tipis sebesar 0,17%. Kemenangan Trump juga memengaruhi sentimen pasar, mengingat pengalaman sebelumnya yang menunjukkan kebijakan luar negeri Trump yang cenderung menghadirkan ketegangan perdagangan, terutama dengan China. Namun, langkah-langkah bank sentral global, seperti penurunan suku bunga oleh The Fed, dan keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 6%, turut mendukung optimisme pasar.

Selain faktor eksternal, sektor korporasi Indonesia juga menunjukkan kinerja positif, terutama di sektor perbankan besar, sementara pemain baru seperti anak usaha PT Adaro Energy yang akan melakukan IPO semakin memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap prospek pasar saham domestik.

Namun, meskipun ada optimisme, pelaku pasar diingatkan untuk berhati-hati terhadap potensi ketegangan global yang bisa mempengaruhi arah ekonomi domestik. Proyeksi untuk IHSG hingga akhir tahun 2024 masih berada di kisaran 7.900-8.000, dengan peluang untuk mencapainya dalam sisa waktu 1,5 bulan terakhir.


Peluang IHSG untuk Bangkit Kembali

HR1 13 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah menghadapi beberapa tekanan, prospeknya hingga akhir 2024 tetap cerah dengan peluang mencapai level 7.900. Terdapat sejumlah katalis yang diprediksi akan mendukung pergerakan IHSG ke depan, antara lain potensi penurunan suku bunga dari The Federal Reserve dan Bank Indonesia, kinerja emiten yang solid, dan adanya peluang window dressing menjelang akhir tahun.

Pada 12 November 2024, IHSG ditutup pada level 7.321,98, meskipun dalam sebulan terakhir mengalami koreksi sekitar 4%. Meskipun ada tekanan dari euforia kemenangan Donald Trump dalam Pemilu AS, yang memicu capital outflow dan penguatan dolar AS, investor asing tetap menunjukkan minat di pasar domestik dengan net buy YtD mencapai Rp31,11 triliun.

Menurut Rizkia Darmawan, Research Analyst dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, sektor-sektor yang akan mendongkrak IHSG antara lain perbankan, komoditas, dan konsumer, dengan laba bersih emiten-emiten besar yang tumbuh positif. Sektor energi dan perbankan diprediksi akan mendapat dorongan dari stabilitas ekonomi Indonesia dan kebijakan luar negeri AS yang cenderung mendukung penggunaan energi fosil, termasuk batu bara. Selain itu, sektor perkebunan, khususnya CPO, mendapat keuntungan dari harga komoditas yang terus melonjak.

Meskipun terdapat tekanan dari fenomena capital outflow dan penguatan dolar AS, sektor-sektor yang menunjukkan ketahanan seperti perbankan, energi, dan perkebunan memberikan optimisme. Beberapa sekuritas, seperti Maybank Sekuritas, memproyeksikan IHSG akan mencapai 7.900 pada akhir tahun 2024, sementara MNC Sekuritas menargetkan IHSG mencapai 7.700. Selain itu, potensi window dressing di akhir tahun dan rilis emiten jumbo yang berencana melakukan IPO turut meningkatkan prospek pasar saham Indonesia.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif dan adanya katalis yang mendukung, IHSG berpeluang mencatatkan performa solid hingga tutup buku 2024, meskipun tantangan eksternal masih perlu diwaspadai.


Seleksi Ketat dalam Memilih Saham BUMN

HR1 13 Nov 2024 Kontan
Kinerja saham BUMN, khususnya yang tergabung dalam indeks IDX BUMN20, mengalami tekanan sepanjang tahun 2024 dengan koreksi 9,98% secara year to date (ytd). Meskipun demikian, secara fundamental, beberapa BUMN tetap mencatatkan performa keuangan yang solid. Kementerian Keuangan melaporkan bahwa setoran dividen BUMN ke kas negara mencapai Rp 79,7 triliun per Oktober 2024, meningkat 7,5% secara tahunan.

Rizkia Darmawan dari Mirae Asset Sekuritas menyebut keluarnya dana asing sebagai penyebab utama tekanan pada saham BUMN, terutama sektor perbankan, yang memiliki bobot besar di IDX BUMN20. Selain perbankan, saham Telkom Indonesia (TLKM), Semen Indonesia (SMGR), dan Bukit Asam (PTBA) juga mengalami tekanan jual, dipengaruhi sentimen eksternal seperti hasil Pilpres AS.

Namun, Darma memprediksi sentimen negatif ini bersifat sementara. Sektor keuangan diperkirakan menjadi yang pertama pulih saat dana asing kembali masuk, diikuti sektor konsumer dan ritel. Ia merekomendasikan saham-saham seperti BMRI, BBRI, BBNI, dan PTBA dengan target harga Rp 2.500 untuk PTBA.

Fath Aliansyah dari Maybank Sekuritas menilai koreksi harga saham BUMN sebagai peluang pembelian secara bertahap, terutama untuk saham-saham bluechip. Sedangkan Pandhu Dewanto dari Investindo Nusantara Sekuritas melihat koreksi pada saham seperti BBRI dan TLKM memberikan kesempatan buy on weakness, mengingat potensi perbaikan kinerja atau valuasi yang lebih murah.

Pandhu menyarankan target harga Rp 5.500 untuk BBRI dan Rp 3.200 untuk TLKM, serta Rp 655 untuk MTEL. Ia juga mencatat pola kenaikan saham MTEL menjelang akhir tahun, yang berpotensi memberikan peluang investasi.

Momentum "window dressing" di bulan Desember bisa menjadi katalis positif bagi investor untuk memanfaatkan valuasi saham BUMN yang tengah terkoreksi dan potensi rebound di awal tahun mendatang.

Produk Derivatif Jadi Opsi Investasi Alternatif

HR1 13 Nov 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan Kontrak Berjangka Saham (KBS) atau single stock futures (SSF) pada 12 November 2024. Produk derivatif ini memulai debut perdagangan dengan membukukan 149 kontrak senilai Rp 84,8 juta. Sejak soft launching Agustus lalu, total transaksi SSF mencapai 1.107 kontrak dengan nilai Rp 749,9 juta.

SSF berbasis lima saham unggulan: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Setiap saham memiliki tiga periode kontrak (1, 2, dan 3 bulan), memberikan total 15 seri SSF yang dapat diperdagangkan.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis BEI, Firza Rizqi Putra, menyatakan bahwa BEI akan fokus pada edukasi dan sosialisasi SSF hingga akhir 2024. Tahun depan, BEI menargetkan 1 juta kontrak dan peningkatan jumlah investor hingga 5% dari total investor saham. Upaya ini didukung dengan penambahan anggota bursa (AB) derivatif, yang saat ini mencakup PT Binaartha Sekuritas, PT Ajaib Sekuritas Asia, dan PT Phintraco Sekuritas. BEI juga memproses izin bagi 12–13 perusahaan sekuritas lainnya.

Presiden Direktur Phintraco Sekuritas, Ferawati, dan Direktur Utama Binaartha Sekuritas, Adi Indarto Hartono, optimistis terhadap potensi pertumbuhan nasabah derivatif. Ferawati menargetkan lebih dari 1.000 investor, sementara Adi menyebut pihaknya sudah memiliki 200 nasabah derivatif.

Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menggarisbawahi manfaat SSF sebagai alternatif investasi yang menawarkan keuntungan melalui capital gain dan perlindungan (hedging) saat pasar bearish. Pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai produk ini akan meningkatkan likuiditas pasar sekaligus memberikan peluang bagi investor agresif. Kehadiran SSF dianggap sebagai langkah positif untuk memperkaya instrumen investasi di Indonesia.

Persaingan Ketat Emiten Farmasi Tingkatkan Kinerja

HR1 12 Nov 2024 Kontan
Mayoritas emiten farmasi mencatatkan kinerja positif selama sembilan bulan pertama tahun 2024, dengan pertumbuhan laba bersih hingga dua digit. PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) mencatatkan kenaikan laba tertinggi sebesar 47,65% secara tahunan, sementara emiten farmasi lain seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga mengalami peningkatan signifikan. Sebaliknya, emiten farmasi BUMN masih tertekan akibat beban utang yang tinggi.

Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan produk kesehatan pasca pandemi, inovasi produk baru, dan ekspansi distribusi menjadi pendorong utama kinerja positif emiten farmasi. Selain itu, efisiensi operasional juga menjadi faktor penting, khususnya pada emiten seperti SIDO dan DVLA yang fokus pada peningkatan margin keuntungan.

Abdul Azis Setyo Wibowo, Researcher Kiwoom Sekuritas, menambahkan bahwa pertumbuhan volume penjualan menjadi motor utama laba bersih emiten farmasi. Ia juga mencatat bahwa meskipun fluktuasi rupiah dapat memengaruhi beban operasional, volume penjualan produk farmasi diperkirakan tetap tumbuh, terutama menjelang musim hujan dan libur akhir tahun.

Hendra dan Azis sama-sama melihat potensi positif dari stimulus pemerintah terhadap sektor kesehatan, yang dapat memberikan dukungan jangka panjang bagi emiten farmasi. Dalam hal investasi, Hendra merekomendasikan buy untuk KLBF dan TSPC, dengan target harga masing-masing Rp 1.770 dan Rp 2.850, serta buy on weakness untuk SIDO di Rp 520 dengan target Rp 625. Sementara itu, Azis merekomendasikan trading buy untuk TSPC dengan target harga Rp 2.760–Rp 2.770 per saham.

IHSG Kembali Mengalami Koreksi 0,28% ke Level 7.266

KT1 12 Nov 2024 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi 0,28% ke level 7.266 pada penutupan perdagangan Senin (11/11/2024), setelah sempat menyentuh level terendah di 7.182. Penurunan ini dianggap  sejumlah analis sebagai peluang baik investor untuk masuk dan mengakumulasi saham-saham LQ45 berfundamental kuat yang kini terdiskon banyak. Dalam satu pekan terakhir, saham-saham papan atas seperti PT bank Central Asia Tbk (BBCA) telah terkoreksi 3,31%, PT Bank mandiri Tbk (BMRI) melemah  5,93%, PT telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 3,92%, dan anjlok PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) anjlok 8,2%.

Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai bahwa IHSG sebenarnya menunjukkan tanda-tanda perlawanan setelah menyentuh level 7.186, yang berpotensi menjadi titik bottom sementara. "Rebound dari level tersebut dan penutupan di 7.186. Ini bisa menjadi batas bawah pergerakan IHSG dalam jangka pendek, kecuali muncul sentimen negatif tambahan," ujar Hendra. Dengan koreksi IHSG saat ini, menurut dia, beberapa saham dalam indeks LQ45 tetap menarik bagi investor jangka panjang yang memanfaatkan peluang rebound. Saham Bank Mandiri (BMRI) misalnya, direkomondasikan untuk dibeli dengan target harga Rp6.600 Saham Bank BUMN ini telah terkoreksi 5,93% dalam satu pekan terakhir, dengan valuasi yang menarik di PBV 2,18x dan PER 10,58x. "BRI memilih fundamental kuat dan posisi yang kokoh di sektor perbankan nasional," ujar Hendra. (Yetede)

Berburu Saham Unggulan untuk Cuan

HR1 11 Nov 2024 Kontan (H)
Aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing terus mendominasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal III-2024, dengan total nilai mencapai Rp 4,50 triliun pekan lalu. Penjualan ini terutama menargetkan saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) yang tergabung dalam indeks Kompas100, seperti saham sektor perbankan BBRI, BMRI, BBCA, dan BRIS. Saham-saham non-bank juga tak luput dari aksi ini, yang menyebabkan indeks Kompas100 turun 4,42% sejak awal tahun ke level 1.120,75.

Meski tekanan jual meningkat, saham Kompas100 tetap menarik karena didominasi emiten dengan fundamental kuat. Miftahul Khaer, Equity Research Analyst dari Kiwoom Sekuritas, menilai indeks Kompas100 masih relevan karena mayoritas emiten dalam indeks tersebut memimpin pasar di sektornya masing-masing.

Optimisme terhadap pemulihan indeks Kompas100 tetap ada. Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas, memprediksi indeks ini akan menguat hingga rentang 1.180-1.200 pada akhir 2024. Hal ini didukung oleh prospek keuangan emiten yang lebih positif di kuartal IV-2024. Sektor keuangan dan konsumer menjadi sektor yang menjanjikan, sementara saham teknologi dan properti cenderung memberatkan indeks akibat tingginya suku bunga yang menekan daya beli masyarakat.

Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menyebut sektor media seperti SCMA akan mendapat dorongan dari peningkatan belanja iklan. Sementara itu, Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa momentum Pilkada 2024, libur Natal, dan kebijakan moneter The Fed yang berpotensi melonggar akan menjadi katalis positif bagi kinerja emiten Kompas100.

Dengan kondisi ini, saham-saham diskon dalam indeks Kompas100 dapat menjadi peluang investasi menarik, terutama bagi sektor keuangan dan konsumer yang stabil.

Laju Bursa Dipengaruhi Arah Kebijakan Suku Bunga

HR1 11 Nov 2024 Kontan
Pemangkasan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 bps ke level 4,5%-4,75% pada pertemuan FOMC 6-7 November 2024 memberikan sentimen positif bagi pasar saham Indonesia. IHSG berhasil rebound sebesar 0,60% ke level 7.287,19 pada Jumat (8/11). Namun, tekanan jual asing yang menghasilkan net sell sebesar Rp 4,50 triliun sepanjang pekan lalu tetap menjadi pemberat, menyebabkan IHSG mencatat penurunan mingguan 2,91%.

Menurut Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas, pemangkasan FFR membuka peluang arus dana asing kembali ke pasar saham Indonesia. Ia juga memproyeksikan kemungkinan The Fed memangkas FFR lebih lanjut sebesar 25-50 bps pada akhir 2024. Namun, ketidakpastian ekonomi global, terutama setelah kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS, dapat menahan FFR di level tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar.

Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, menilai pelemahan IHSG pekan lalu merupakan yang terdalam di Asia Tenggara, meski masih unggul dari PSEi Filipina. Ia memprediksi IHSG akan bergerak dalam rentang support 7.150 dan resistance 7.370 pada pekan ini.

William Hartanto, Praktisi Pasar Modal, memperkirakan IHSG akan bergerak mixed dengan potensi pelemahan terbatas. Ia mematok support pada 7.195 dan resistance di 7.400. Menurutnya, efek kemenangan Trump terhadap IHSG diperkirakan minimal, karena saat kepemimpinan Trump sebelumnya, pasar saham hanya terdampak secara signifikan akibat pandemi Covid-19.

Audi menambahkan bahwa fluktuasi harga komoditas, terutama minyak dan permintaan dari China, akan menjadi faktor kunci pergerakan IHSG. Ia merekomendasikan saham big bank yang masih undervalued sebagai pilihan menarik bagi investor.

Sentimen Negatif IHSG atas Kemenangan Trump

KT3 08 Nov 2024 Kompas

Kemenangan Partai Republik di AS dalam Pilpres 2024 menjadi sentiment negatif pasar keuangan di dalam negeri. IHSG terjerembap karena persepsi pasar akan kebijakan calon presiden yang unggul dalam penghitungan tak resmi, Donald Trump, yang dapat merugikan Indonesia nanti. Trump telah mengklaim kemenangannya atas Capres dari Partai Demokrat, Kamala Harris, pada Pilpres, Selasa (5/11). Kabar itu membuat pasar keuangan Indonesia bergejolak hingga Kamis (7/11). IHSG dibuka di posisi 7.383 setelah pada Rabu (6/11) rontok 1,4 % dalam satu hari perdagangan, kemudian melanjutkan penurunan, dan ditutup di 7.243,86. Posisi ini membuat pertumbuhan IHSG sejak awal 2024 nyaris 0 %. Mengutip situs RTI Business, koreksi sehari lalu dipicu larinya modal asing dengan nilai jual bersih Rp 1,15 triliun.

Eastspring Investments Indonesia, perusahaan manager investasi, menganalisis, pasar finansial Indonesia tidak luput dari sentimen negatif terpilihnya Trump, yang dinilai berpotensi menyebabkan kenaikan imbal hasil surat utang AS atau US Treasury dan nilai mata uang USD. Di tengah sentimen ini, pasar saham berjangka AS telah menguat, demikian dengan imbal hasil US Treasury melonjak 16 basis poin menjadi 4,41 % dan indeks USD naik lebih dari 2 % atau mengalami kenaikan harian tertinggi sejak Maret 2020. Kemenangan Trump dinilai berpotensi menyebabkan kenaikan imbal hasil US Treasury dan USD lebih lanjut akibat beberapa pendekatan kebijakan yang diantisipasi, seperti pemangkasan pajak, peningkatan belanja pemerintah, serta tarif dan kebijakan perdagangan.

Namun, menurut Eastspring, perekonomian Indonesia yang berorientasi pada konsumsi domestik akan lebih terlindungi dari dampak negatif tersebut. Tameng lainnya adalah rasio ekspor terhadap PDB Indonesia merupakan salah satu yang terendah di kawasan Asia. Membaiknya stabilitas eksternal selama beberapa tahun terakhir, yang terlihat dari penurunan defisit transaksi berjalan, peningkatan cadangan devisa, dan terkendalinya tingkat utang, membuat Indonesia lebih siap menghadapi potensi guncangan pasar global. ”Dalam jangka panjang, fundamental akan menjadi pendorong utama kinerja pasar finansial. Kami yakin bahwa outlook perekonomian Indonesia akan tetap positif,” ujar tim analis Eastspring. (Yoga)