;
Tags

Bursa

( 805 )

Bayangan Trump di Pasar Modal

HR1 08 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 memicu kekhawatiran di banyak negara, termasuk Indonesia, terkait dengan potensi kebijakan ekonomi yang lebih agresif, khususnya dalam hal tarif impor. Trump telah mengisyaratkan untuk menerapkan tarif universal 10% terhadap seluruh barang impor, dengan tarif 60% khusus untuk barang dari China. Kebijakan ini dapat memicu perang dagang lebih lanjut, terutama antara AS dan China, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk ekonomi Indonesia yang bergantung pada kedua negara tersebut sebagai mitra dagang utama.

Jika kebijakan ini benar-benar dijalankan, dampak langsung bagi Indonesia dapat terlihat dalam perlambatan ekspor, terutama ke China dan AS, yang akan menyulitkan sektor manufaktur domestik. Selain itu, tarif yang lebih tinggi akan mengarah pada inflasi global, yang berisiko meningkatkan suku bunga di banyak negara, termasuk Indonesia. Suku bunga yang tinggi berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah melambat, tercermin dari angka pertumbuhan PDB yang hanya mencapai 4,95% pada kuartal III/2024.

Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah antisipatif jangka panjang, terutama dalam kebijakan ekspor. Perluasan kemitraan dagang dengan negara-negara non-tradisional dapat menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada mitra dagang utama yang terpengaruh kebijakan Trump. Selain itu, Indonesia juga perlu meningkatkan daya saing untuk menarik lebih banyak investasi asing langsung, meskipun dengan kebijakan proteksionisme Trump, investasi dari AS kemungkinan akan terbatas.

Secara keseluruhan, Indonesia harus menavigasi ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik dengan langkah-langkah strategis, seperti diversifikasi mitra dagang dan meningkatkan daya tarik investasi, agar tetap menjaga stabilitas ekonomi dan pertumbuhan di tengah situasi yang penuh tantangan.



Sektor Energi Terimbas Efek Trump

HR1 08 Nov 2024 Kontan
Saham sektor energi dan tambang mineral logam di sektor barang baku menghadapi tekanan signifikan, seperti tercermin dari koreksi indeks sektor energi sebesar 0,91% ke 2.681,44 dan indeks sektor barang baku yang anjlok 3,47% ke 1.340,66 pada Kamis (7/11). Penurunan ini turut membebani Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang melemah 1,90% ke level 7.243,86. Analis menilai volatilitas ini dipengaruhi oleh sentimen global, terutama kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

Miftahul Khaer, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa volatilitas saham berbasis komoditas dipengaruhi oleh perubahan harga emas dan respons pasar terhadap kebijakan Trump. Muhamad Heru Mustofa, Research Analyst Phintraco Sekuritas, menjelaskan bahwa kemenangan Trump mendorong investor untuk beralih dari aset safe haven seperti emas ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi, yang menyebabkan penurunan harga emas ke level US$ 2.670 per ons troi. Produksi minyak AS yang meningkat dan stabilisasi pasokan global juga memberikan tekanan pada harga minyak dan gas. Harga batubara melandai akibat produksi China, namun berpotensi naik karena permintaan musim dingin dan kebijakan Trump yang mendukung energi berbasis fosil.

Ayu Dian dari Reliance Sekuritas menilai kebijakan Trump yang pro-energi fosil dapat menjadi katalis positif bagi sektor energi. Emil Fajrizki dari Stocknow.id menyarankan strategi trading saham dengan rekomendasi beli saham MDKA dan ADRO, sementara investor diminta untuk menunggu momentum pada saham seperti TINS. Heru Mustofa merekomendasikan buy on support untuk MDKA dan ANTM, tetapi menyarankan wait and see untuk saham INCO dan INDY. Miftahul Khaer mengusulkan trading buy untuk ANTM dan UNTR, serta wait and see untuk saham seperti MDKA dan ITMG.

Harga Saham Banyak Dijual, Jangan Terburu Diskon

HR1 08 Nov 2024 Kontan (H)
Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat memberikan dampak negatif pada pasar saham Indonesia, terutama dengan meningkatnya aksi jual oleh investor asing. Total nilai jual bersih asing mencapai Rp 1,62 triliun, dengan saham-saham bank berkapitalisasi besar menjadi target utama. Saham Bank Central Asia (BBCA) mencatat net sell terbesar senilai Rp 551,04 miliar, menyebabkan penurunan harga saham sebesar 2,63% ke level Rp 10.175. Selain itu, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mengalami aksi jual asing sebesar Rp 385,35 miliar, dengan harga saham turun 1,09% ke Rp 4.550. Saham lainnya seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) juga dilepas dengan nilai masing-masing Rp 268,48 miliar dan Rp 86,51 miliar.

Meski demikian, Bank Syariah Indonesia (BRIS) tetap menunjukkan kenaikan harga saham sebesar 63,79% sejak awal tahun, meskipun mengalami aksi jual asing senilai Rp 12,35 miliar kemarin. Menurut Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, dampak aksi jual ini hanya sementara, karena kinerja bank besar secara umum masih positif.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa kemenangan Trump dapat memengaruhi kebijakan moneter AS, dengan kemungkinan suku bunga Federal Reserve tetap tinggi. Jika Trump benar-benar menurunkan tarif pajak perusahaan, inflasi AS mungkin tidak dapat dinormalisasi sepenuhnya, yang mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Saat ini, Fed Fund Rate berada di kisaran 4,75%-5,00%, dan pasar memperkirakan penurunan suku bunga hingga akhir 2025.

Audi merekomendasikan beberapa saham perbankan seperti BBCA, BMRI, dan BRIS untuk dikoleksi. Ia menilai saham BRIS menarik karena pembiayaannya meningkat 15,32% per September 2024, meskipun telah naik tajam sejak awal tahun. Target harga yang direkomendasikan untuk BRIS adalah Rp 3.140 per saham, sementara BBCA dan BMRI masing-masing ditargetkan di Rp 11.150 dan Rp 7.200.

Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, juga mendukung pembelian saham-saham bank KBMI 4, termasuk BNGA, BRIS, dan ARTO, dengan syarat fundamental yang kuat. Namun, ia mengingatkan pentingnya memastikan valuasi saham untuk potensi jangka panjang.

Adityo menyarankan investor untuk berhati-hati dan mengambil pendekatan wait and see, terutama jika kondisi pasar eksternal tetap tidak stabil hingga akhir tahun. Capital outflow yang terus berlanjut dapat memberikan tekanan tambahan pada pasar saham domestik.

Mempersiapkan Diri Menghadapi Gejolak Bursa

HR1 08 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 memicu ketidakpastian baru di pasar modal global, termasuk di Indonesia. Kemenangan Trump menciptakan gejolak pasar yang ditandai dengan aksi jual besar-besaran oleh investor asing, yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami penurunan signifikan. Menurut Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy, kebijakan proteksionisme Trump dan kemungkinan perang dagang dengan China dapat berdampak pada ekonomi Indonesia, mengingat hubungan dagang yang erat dengan kedua negara tersebut.

Namun, meskipun ada ketidakpastian, beberapa analis masih melihat peluang dalam kebijakan ekonomi Trump yang berfokus pada penguatan ekonomi domestik AS. Misalnya, Head of Research NH Korindo Sekuritas, Liza Camelia, berpendapat bahwa Trump kemungkinan akan menaikkan suku bunga dan menerapkan kebijakan yang bisa meningkatkan inflasi dan daya beli masyarakat AS. Selain itu, kebijakan proteksionis Trump yang mungkin menaikkan tarif impor terhadap produk Indonesia juga bisa membatasi ekspor ke AS.

Sementara itu, ekonom lain, seperti Maximilianus Nicode-muus dari Pilarmas Investindo, mencatat bahwa kebijakan Trump yang kontroversial, seperti proteksionisme, dapat mengganggu pemulihan ekonomi global dan menyebabkan aliran dana asing keluar dari pasar Indonesia. Meski demikian, masih ada harapan pada kebijakan ekonomi dalam negeri yang dapat menjaga stabilitas, serta program-program dari pemerintah Indonesia yang dapat mendukung kepercayaan pasar.

Dalam jangka menengah, Satria Sambijantoro dari Bahana Sekuritas optimis bahwa Trump mungkin akan mencapai kesepakatan geopolitik yang dapat menurunkan harga minyak dan inflasi global, yang pada gilirannya bisa menurunkan suku bunga The Fed. Investor disarankan untuk fokus pada saham defensif dan perusahaan berpenghasilan dolar AS, sementara saham-saham seperti BBCA, ADRO, dan MYOR diprediksi akan unggul di pasar.

Secara keseluruhan, meskipun kemenangan Trump memunculkan tantangan dan ketidakpastian, masih ada peluang bagi Indonesia untuk mengelola dampaknya melalui kebijakan domestik yang tepat dan strategi investasi yang hati-hati.



Perubahan Indeks MSCI Disorot Investor

HR1 08 Nov 2024 Kontan
Hasil evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk indeks Global Standard, Small Cap, dan Micro Cap Index menunjukkan rotasi yang memengaruhi tiga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Avia Avian Tbk (AVIA) masuk ke dalam MSCI Indonesia Small Cap Index, sementara PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dikeluarkan dari indeks tersebut. Perubahan ini akan berlaku efektif pada 26 November 2024.

Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, peningkatan likuiditas dan kinerja fundamental AVIA yang solid menjadi faktor utama masuknya emiten cat milik taipan Surabaya Hermanto Tanoko ini ke dalam indeks MSCI. Dampaknya, saham AVIA melonjak 4,34% menjadi Rp 505 pada perdagangan 7 November 2024.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menambahkan bahwa rotasi ini menarik perhatian investor asing. Meski AVIA sempat mencatat aksi jual asing pekan lalu, prospek pembelian kembali oleh investor institusi asing menjadi lebih besar setelah masuknya saham ini ke MSCI. Sebaliknya, BTPS dan SCMA menghadapi tekanan jual jangka pendek karena investor yang berorientasi pada indeks MSCI kemungkinan akan mengurangi kepemilikan mereka.

Masuknya AVIA ke MSCI Indonesia Small Cap mencerminkan kinerja fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan di sektor konstruksi. Menurut Budi Frensidy, perubahan ini dapat meningkatkan minat investor asing dan domestik pada saham AVIA. Sebaliknya, keluarnya BTPS dan SCMA dari MSCI menciptakan tekanan jual jangka pendek, tetapi kedua saham ini tetap memiliki prospek jangka panjang yang menarik menurut Hendra Wardana. Rebalancing indeks MSCI menunjukkan pentingnya evaluasi kinerja fundamental dan likuiditas dalam menarik perhatian investor institusi.

Dividen Jadi Andalan di Tengah Ketidakpastian Bursa

HR1 07 Nov 2024 Kontan

Musim pembagian dividen interim bergulir usai rilis laporan keuangan periode sembilan bulan 2024. Aksi ini bisa menjadi pemanis di tengah bursa saham yang sedang menukik cukup dalam. Terbaru, ada tiga emiten yang mengumumkan pembayaran dividen interim. Pertama, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) yang akan membagikan dividen sebesar Rp 20 per saham. Selanjutnya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang akan membayar dividen interim Rp 5 per saham. Selain itu, ada PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) dengan dividen interim senilai Rp 0,75 per saham. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi untuk ketiga emiten itu dijadwalkan pada 14 November 2024. Selain deretan deviden interim tersebut, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang akan menebar tambahan dividen tunai final dengan jumlah jumbo. Totalnya mencapai US$ 2,63 miliar atau sekitar Rp 41,42 triliun. Selanjutnya ada PT Pelayaran Kurnia Lautan Semesta Tbk (KLAS) yang akan membagikan dividen saham dengan rasio 12:1. Artinya, setiap 12 saham lama akan mendapat 1 saham baru. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengatakan, pembagian dividen maupun dividen saham umumnya bakal menjadi sentimen positif yang bisa mendongkrak harga saham emiten tersebut. Hanya saja, dampak saat ini kemungkinan tidak akan langsung terasa. Bima menambahkan, pelaku pasar akan lebih memperhatikan pembagian dividen sekaligus aksi korporasi yang dilakukan ADRO. 

Di samping besaran dividen yang jumbo, investor kemungkinan akan tertarik mengikuti Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) dalam proses divestasi AAI. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menilai, kemungkinan pelaku pasar akan lebih selektif. Di tengah musim pembagian dividen interim, ada sentimen eksternal yang perlu dicermati. Mulai efek Pemilihan Presiden Amerika Sertikat (AS) hingga harga komoditas. Investor dapat memanfaatkan momentum pembagian dividen dan potensi penguatan harga pada saham-saham tersebut. Rekomendasinya speculative buy ASSA dan TAPG dengan target harga Rp 770 dan Rp 1.000. Kemudian trading buy MARK untuk target Rp 1.220. Founder WH Project, William Hartanto mengingatkan, pembagian dividen tidak selalu meningkatkan minat pelaku pasar. Apalagi jika dividend yield -nya mini. Ada beberapa saham yang harganya naik sesaat, seperti PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Ada juga yang sebelumnya sudah naik signifikan seperti KLAS. Kemudian, ada saham yang sedang melandai seperti SCMA. Nah, dengan adanya pembagian dividen, William melihat SCMA berpeluang naik hingga ke level Rp 145.

Trump Uji Ketahanan Pasar

HR1 07 Nov 2024 Kontan (H)

Kabar terbaru dari Amerika Serikat (AS) menyebabkan para pelaku pasar keuangan di Tanah Air kembali waspada. Donald Trump, kandidat presiden dari Partai Republik, dipastikan memenangkan pemilihan presiden AS tahun 2024. Trump meraup 277 suara elektoral yang dibutuhkan untuk memenangkan kursi Presiden Negeri Uwak Sam. Kabar kemenangan Trump membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol 1,44% ke 7.383,87 pada Rabu (6/11). Dari pasar keuangan, rupiah terpental ke Rp 15.830 per dolar AS. Ini karena indeks dolar menguat sekitar 1,28% hingga penutupan sesi perdagangan di Kawasan Asia. Dana asing pun kembali hengkang. Kemarin, asing tercatat melakukan aksi jual dengan nilai bersih Rp 1,09 triliun di pasar saham reguler. Dalam sebulan, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) turun Rp 4,06 triliun. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, kemenangan Trump dalam Pilpres AS 2024 membawa sejumlah dampak signifikan bagi perekonomian dan pasar keuangan Indonesia, khususnya terkait kebijakan proteksionis, hubungan dagang AS-China, dan potensi penguatan dolar AS. 

Josua menuturkan, sekalipun Federal Reserve tetap melanjutkan penurunan suku bunga, kemenangan Trump kali ini akan membuat bank sentral lebih berhati-hati. Sementara treasury bank Eropa d Singapura melihat, tekanan rupiah bukan cuma faktor AS. "Tahun 2025 utang jatuh tempo besar, jadi harus prudent," katanya, kemarin. Ia memperkirakan rupiah di akhir tahun 2024 berada di level Rp 16.100 per dolar AS. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana mengatakan, sepanjang dolar AS masih berotot, investor akan mengalihkan dana ke negara tersebut. Setali tiga uang, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, kemenangan Trump bakal memperkuat ekonomi AS. "Sehingga meyakinkan pasar berinvestasi di AS," paparnya. Nico meramal pasar saham dalam negeri bakal bergerak lebih volatil usai kabar ini. Target IHSG tidak terlalu optimistis lagi. Kinerja emiten Indonesia yang tumbuh moderat tak bisa banyak mengangkat IHSG. Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project, William Hartanto memperkirakan, IHSG di 7.850-7.900 pada akhir 2024.

Dana Asing Menguap Rp 8 Miliar

HR1 06 Nov 2024 Kontan
Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan akibat aliran dana asing yang keluar cukup besar selama sebulan terakhir, dengan nilai jual bersih asing mencapai Rp 8,56 triliun. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di bawah level psikologis 7.500, dengan saham perbankan, infrastruktur, dan pertambangan menjadi sektor yang paling banyak dilepas investor asing.

Menurut Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, arus keluar dana asing dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga sekali lagi, serta ketidakpastian hasil pemilihan presiden AS. Jika Donald Trump menang, kebijakan ketat terkait imigrasi dan perdagangan dengan China bisa memicu inflasi global, tetapi dampaknya pada pasar domestik diperkirakan hanya bersifat jangka pendek.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menilai volatilitas ini tidak akan berlangsung lama karena fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Nico juga mencatat peluang pemangkasan suku bunga The Fed, yang jika terjadi dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), hanya akan sebesar 25 basis poin.

Meski IHSG tertekan, window dressing di akhir tahun memberikan harapan masuknya kembali dana asing. Martha menyarankan investor tetap hati-hati dan memegang uang tunai untuk memanfaatkan peluang saham di harga rendah. Sementara itu, Nico merekomendasikan saham di sektor keuangan, konsumen primer, properti, energi, serta transportasi dan logistik, yang secara historis menunjukkan penguatan menjelang akhir tahun.

Kekhawatiran Pasar Terhadap Pemilu AS

HR1 06 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 2,46% sepanjang pekan lalu, dipengaruhi oleh keluarnya dana asing yang cukup besar dari pasar saham Indonesia. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa pemodal asing mencatatkan jual bersih senilai Rp2,65 triliun antara 28 Oktober hingga 1 November 2024, yang turut memperburuk aliran dana keluar yang telah mencapai Rp12,58 triliun sepanjang bulan Oktober. Meskipun demikian, IHSG masih menunjukkan ketahanan atau resiliensi, meskipun pergerakannya fluktuatif.

Tantangan selanjutnya datang dari ketidakpastian politik global, khususnya terkait dengan Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat yang semakin mendekati hasil akhirnya. Pasar cenderung merespons negatif terhadap ketidakpastian ini, terutama jika hasil pemilu memunculkan ketegangan atau kemenangan tipis antara kandidat Kamala Harris dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik. Situasi politik yang tidak stabil dapat meningkatkan volatilitas pasar saham global, termasuk di Indonesia.

Perekonomian Indonesia, meskipun dipengaruhi oleh dinamika global, harus tetap fokus pada penguatan fundamental ekonomi domestik agar dapat meningkatkan resiliensi pasar modal di dalam negeri. Meskipun ada risiko yang terkait dengan kebijakan ekonomi yang berbeda antara kedua calon presiden AS, stabilitas politik dan kebijakan ekonomi yang pro-pasar menjadi faktor yang sangat ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar. Oleh karena itu, Indonesia perlu terus memantau perkembangan ini dan memperkuat daya tahan ekonomi untuk menghadapi ketidakpastian global.


Bursa Hadirkan Produk Derivatif Lebih Beragam

HR1 04 Nov 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang memperluas pengembangan produk derivatif untuk meningkatkan variasi dan daya tarik pasar modal Indonesia. Salah satu produk yang tengah dirancang adalah Foreign Index Futures, yang memungkinkan investor mengakses pergerakan indeks saham luar negeri, seperti Hang Seng di Hong Kong dan Nikkei 225 di Jepang. Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, menjelaskan bahwa produk ini diharapkan memperluas eksposur investor dan meningkatkan diversifikasi investasi. Namun, penerbitan produk ini masih tergantung pada persetujuan lisensi dari pemilik indeks di negara tujuan.

Selain Foreign Index Futures, BEI juga sedang mempersiapkan peluncuran produk derivatif Single Stock Futures (SSF) yang direncanakan diresmikan pada November 2024. SSF sudah mulai diperdagangkan secara terbatas sejak Juli 2024 melalui PT Binaartha Sekuritas dan baru-baru ini melibatkan PT Ajaib Sekuritas Asia serta PT Phintraco Sekuritas.

Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, kehadiran produk derivatif baru dapat meningkatkan likuiditas pasar dan menjadi sarana lindung nilai (hedging) bagi investor. Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa produk ini memberikan variasi strategi bagi investor untuk menghadapi fluktuasi pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa investasi di produk derivatif memerlukan pengalaman karena melibatkan leverage dan risiko tinggi, meskipun potensi imbal hasilnya juga besar.

Dengan adanya inovasi ini, BEI berharap bisa menarik minat lebih banyak investor, baik domestik maupun internasional, sekaligus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia.