Tags
Bursa
( 805 )Kinerja Reksadana Saham Masih Lemah
HR1
04 Nov 2024 Kontan
Kinerja indeks reksadana mengalami tekanan sepanjang Oktober 2024, dengan hanya reksadana pasar uang yang mencatatkan kinerja positif sebesar 0,38% secara bulanan. Secara year-to-date (ytd), reksadana pendapatan tetap dan pasar uang tetap unggul dengan return masing-masing 3,32% dan 3,9%. Sebaliknya, reksadana saham mencatatkan kinerja negatif sebesar -2,51% ytd.
Hanif Mantiq, Direktur Utama Surya Timur Alam Raya Asset Management (STAR AM), menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh sikap pasar yang cenderung wait and see, terutama terkait kinerja saham blue-chip seperti ASII, BBRI, TLKM, dan UNVR, yang mencatat penurunan signifikan dalam sebulan terakhir. Sentimen global juga memengaruhi, terutama ketidakpastian terkait Pilpres AS. Hanif memprediksi, kemenangan Donald Trump dapat mendorong arus dana ke pasar negara berkembang, sedangkan kemenangan Kamala Harris berpotensi menguntungkan instrumen pendapatan tetap karena kebijakan fiskal yang lebih konservatif.
Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment, menambahkan bahwa kepemimpinan Trump yang tidak terduga bisa membawa risiko ketidakstabilan pada pasar saham global, termasuk pasar domestik. Namun, reksadana pasar uang tetap menjadi pilihan stabil karena portofolionya yang fokus pada investasi jangka pendek seperti deposito dan obligasi korporasi di bawah satu tahun.
Secara keseluruhan, kinerja reksadana saat ini menghadapi tantangan dari faktor global dan ketidakpastian politik, namun instrumen pasar uang tetap menawarkan stabilitas di tengah volatilitas.
Laba Meroket, Prospek Emiten Energi Terbarukan Cerah
HR1
02 Nov 2024 Kontan
Laporan kinerja emiten sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan laba meski pendapatan sedikit tertekan. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten EBT dengan kapitalisasi pasar terbesar, mengalami penurunan pendapatan 0,89% secara tahunan menjadi USD 441,29 juta, tetapi berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 1,87% menjadi USD 86,05 juta. Direktur Utama BREN, Hendra Soetjipto Tan, menyatakan bahwa gangguan pada segmen panas bumi yang memengaruhi output telah diatasi pada September 2024, sehingga ada peluang peningkatan kinerja ke depan.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) juga mencatat kinerja serupa, dengan pendapatan yang sedikit menurun tetapi laba bersih masih bertumbuh. Hendra Wardana, pendiri Stocknow.id, menilai bahwa pertumbuhan laba di tengah penurunan pendapatan menunjukkan kemampuan perusahaan EBT dalam mengelola efisiensi dan menjaga profitabilitas.
Miftahul Khaer, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, optimistis dengan prospek jangka panjang sektor EBT, terutama karena potensi dukungan kebijakan dari pemerintahan baru yang mendorong swasembada energi melalui EBT. Namun, ia mengingatkan investor untuk waspada terhadap valuasi yang cenderung overvalue pada beberapa saham EBT, sementara William Wibowo dari Kanaka Hita Solvera dan Hendra memberikan rekomendasi beli untuk beberapa saham EBT, seperti PGEO dan ARKO.
Regulasi Baru untuk Super Holding BUMN
HR1
31 Oct 2024 Kontan (H)
Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk super holding BUMN melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) semakin mendekati realisasi. Pemerintah merencanakan revisi terhadap sekitar 14 undang-undang terkait BUMN melalui omnibus law sebagai landasan hukum pembentukan super holding ini, yang bertujuan untuk mengonsolidasikan aset BUMN dan menciptakan ekosistem investasi yang kuat dan transparan.
Kepala BPI Danantara, Muliaman Darmansyah Hadad, telah bertemu dengan Presiden Prabowo di Istana Presiden untuk membahas persiapan peluncuran badan ini. BPI Danantara diharapkan menjadi super holding yang mirip dengan Temasek Holdings di Singapura dan Khazanah Nasional Berhad di Malaysia. Dalam pernyataannya, Muliaman menekankan pentingnya transformasi dan sinergi untuk meningkatkan nilai tambah aset negara melalui tata kelola yang baik.
Wakil Menteri Keuangan III Anggito Abimanyu mendukung rencana ini, menyatakan bahwa super holding akan mengonsolidasikan aset berbagai BUMN seperti saham Pertamina dan PLN untuk meningkatkan leverage aset negara. Menurutnya, upaya ini dapat membuat BUMN lebih efisien dalam mencapai tujuan investasi nasional.
Dari perspektif kelembagaan, Toto Pranoto dari BUMN Research Group FEB UI menilai bahwa struktur yang memungkinkan Kepala BPI Danantara bertanggung jawab langsung kepada Presiden sangat tepat untuk menjaga otonomi dan tata kelola BUMN tanpa banyak intervensi. Toto juga menyarankan agar fungsi regulasi Kementerian BUMN dipisahkan, sehingga BPI Danantara bisa berfungsi sebagai pelaksana langsung sesuai dengan amandemen UU No. 19/2003 tentang BUMN.
Kenaikan Beban Keuangan Menekan Laba TLKM
HR1
31 Oct 2024 Kontan
Laba bersih PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tertekan sepanjang periode Januari-September 2024 meski pendapatannya tumbuh sebesar 0,88% menjadi Rp 112,21 triliun. Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan terbesar berasal dari data, internet, dan jasa teknologi informasi senilai Rp 70,55 triliun. Namun, beban operasional yang meningkat, termasuk biaya pemeliharaan, penyusutan, dan beban karyawan, menekan profitabilitas TLKM. Laba usaha turun 7,24% menjadi Rp 32,45 triliun, dan laba bersih turun 9,35% menjadi Rp 17,67 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja TLKM ini disambut negatif oleh pasar, dengan sahamnya terkoreksi 1,35% dalam sepekan terakhir. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst di Mirae Asset Sekuritas, menilai saham TLKM berada dalam tren bearish pada jangka pendek namun bergerak sideways dalam tren jangka panjang. Meskipun demikian, Nafan masih merekomendasikan akumulasi beli saham TLKM, dengan target harga jangka pendek di Rp 3.010, dan target jangka menengah hingga panjang masing-masing di Rp 3.420 dan Rp 3.700 per saham.
Peluang Saham Utama di Indeks Kompas100
HR1
30 Oct 2024 Kontan
Di tengah evaluasi minor terhadap bobot saham Indeks Kompas100, Bursa Efek Indonesia (BEI) belum mengubah konstituen indeks ini hingga akhir Januari 2025. Indeks Kompas100 tetap relevan sebagai acuan investasi karena didominasi oleh emiten dengan fundamental kuat, seperti yang diungkapkan oleh Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas. Miftahul menambahkan bahwa dengan volatilitas pasar yang tinggi, investor disarankan untuk menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA) pada saham dengan kinerja solid dan valuasi yang masih menarik.
Namun, Edwin Sebayang, Direktur Purwanto Asset Management, mencatat ada beberapa saham di Kompas100 yang kurang berkembang, seperti di sektor otomotif, media, rokok, semen, dan telekomunikasi. Penurunan saham sektor-sektor ini disebabkan oleh tantangan pertumbuhan dalam industri yang dianggap "masa senja," sehingga beberapa fund manager cenderung menghindarinya. Edwin menyarankan untuk fokus pada sektor perbankan, ritel, konsumer, properti, poultry, dan energi dalam Kompas100, yang dinilai masih berpotensi bertumbuh.
Sebagai rekomendasi spesifik, Miftahul menyarankan saham SMRA dengan target harga Rp 800 dan BSDE Rp 1.450 per saham, sementara Kiwoom Sekuritas merekomendasikan BBRI dengan target harga Rp 6.000 dalam tiga hingga enam bulan mendatang.
Asing Lepas Saham, Lanskap Blue Chip Berubah
HR1
30 Oct 2024 Kontan (H)
Euforia pasar terhadap pemerintahan baru Prabowo Subianto mulai memudar, yang terlihat dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama lima hari berturut-turut, IHSG melemah, dengan penurunan terakhir 0,37% pada level 7.606,60. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terkait intervensi Prabowo dalam kasus pailit Sritex, yang menimbulkan kekhawatiran moral hazard.
Beberapa saham besar (big cap) seperti DSSA, BBRI, BBCA, ASII, TPIA, dan TLKM mengalami penurunan, menyebabkan rotasi dalam jajaran top 10 kapitalisasi pasar. Saham BBRI, misalnya, tersingkir dari posisi tiga besar, digantikan oleh saham TPIA. Perubahan ini mencerminkan pergerakan dan konsolidasi saham big cap, yang menurut Agung Ramadoni dari Berdikari Manajemen Investasi, tidak selalu berkaitan dengan performa fundamental emiten.
Dimas Krisna Ramadhani dari Indo Premier Sekuritas menambahkan bahwa rotasi dalam kapitalisasi pasar disebabkan oleh aksi korporasi dan sentimen yang memengaruhi emiten. Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menyatakan bahwa saham big cap sangat sensitif terhadap aliran dana asing, yang saat ini masih menunggu arah kebijakan pemerintahan baru serta kebijakan suku bunga The Fed. Jika pemangkasan suku bunga Fed terjadi, potensi masuknya dana asing ke saham big cap dapat meningkat.
Bursa Saham Lakukan Revisi Indeks Unggulan
HR1
29 Oct 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan evaluasi terhadap beberapa indeks utama, seperti LQ45, IDX30, dan IDX80, dengan mengganti beberapa konstituen saham. Dalam indeks LQ45, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (AMDR) dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menggantikan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM). Sementara itu, IDX30 kini memasukkan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), menggantikan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Untuk IDX80, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) masuk, menggantikan PT Siloam Hospitals Tbk (SILO) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).
Adityo Nugroho dari Mirae Asset Sekuritas menyatakan bahwa ketiga indeks ini memiliki kontribusi besar terhadap kapitalisasi pasar IHSG. LQ45 menyumbang 47,6% dari IHSG, IDX80 sebesar 55%, dan IDX30 38,1%, dengan sektor keuangan menjadi dominan di ketiga indeks tersebut.
Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menyebut bahwa saham yang baru masuk indeks biasanya akan menunjukkan kinerja positif, terutama karena rebalancing oleh manajer investasi. Ia merekomendasikan saham seperti MAPI dan MIDI dengan target trading buy. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas juga merekomendasikan akumulasi beli saham AMDR dan BUKA.
Peluang di Tengah Musim Laporan Kinerja
HR1
28 Oct 2024 Kontan
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meski musim rilis laporan keuangan kuartal III-2024 telah dimulai. Dimas Krisna Ramadhani, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, menyebut bahwa koreksi IHSG dipicu oleh aksi distribusi investor asing dan pola konsolidasi IHSG yang fluktuatif.
Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, menilai bahwa aksi profit taking pada saham big caps, serta dinamika politik di AS dan konflik Timur Tengah, turut memengaruhi pelemahan IHSG. Investor cenderung beralih ke aset rendah risiko seperti dolar AS.
Oktavianus Audi, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, mencatat bahwa rilis kinerja keuangan emiten big caps seperti BBCA dan BBNI sesuai ekspektasi, sedangkan UNVR di bawah ekspektasi. Pelaku pasar masih menunggu rilis laporan emiten lainnya sebagai sentimen penggerak IHSG.
Eddy Wijaya, Analis Sinarmas Sekuritas, memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang support 7.633–7.595 dan resistance 7.794–7.910. Ia merekomendasikan strategi cicil bertahap dan buy on support untuk saham seperti BBCA, AMRT, ESSA, KKGI, dan TSPC. Dimas merekomendasikan saham PNLF, DSSA, dan AMRT, sedangkan Ratih merekomendasikan buy BMRI dan CPIN, serta buy on weakness ANTM dan TINS.
Secara keseluruhan, pelemahan IHSG dipengaruhi oleh aksi profit taking, sentimen global, dan rilis kinerja emiten yang bervariasi. Pelaku pasar masih cenderung bersikap wait and see menantikan laporan keuangan lainnya.
Sektor Kesehatan Tetap Tangguh
HR1
28 Oct 2024 Kontan
Prospek positif emiten di sektor kesehatan pada 2024, dengan pertumbuhan laba bersih yang solid. Ismail Fakhri dan Wilastita Muthia, analis BRI Danareksa, mencatat bahwa stabilitas intensitas pasien rumah sakit dan strategi optimalisasi biaya akan menjaga margin EBITDA rata-rata sekitar 26% dan mendukung pertumbuhan laba. Mereka memproyeksikan pendapatan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) mencapai Rp 6,6-6,7 triliun dengan margin EBITDA sekitar 28,7%, sedangkan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) diproyeksi bertumbuh 10%-15% dengan margin EBITDA 29%-30%. Pendapatan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) diperkirakan tumbuh 15% menjadi Rp 4,98 triliun.
Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan pertumbuhan emiten rumah sakit melalui optimalisasi biaya dan ekspansi jaringan, meskipun ada tantangan seperti kebijakan yang meningkatkan biaya dan fluktuasi nilai tukar.
Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menyoroti penguatan saham berbasis kesehatan yang didukung program kesehatan gratis Presiden Prabowo Subianto. Program ini diperkirakan meningkatkan jumlah pasien dan pendapatan emiten kesehatan, menciptakan optimisme pasar.
BRI Danareksa merekomendasikan overweight sektor ini, dengan Ismail merekomendasikan buy untuk HEAL dengan target harga Rp 2.000 per saham. Nafan merekomendasikan buy untuk SILO dengan target harga Rp 3.220, seiring fokus berkelanjutan pada manajemen biaya dan perawatan kompleks yang mendorong margin lebih baik dalam jangka panjang.
Kesempatan untuk Masuk dalam Indeks Saham Elite
HR1
25 Oct 2024 Kontan
Potensi rebalancing indeks LQ45 oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode November 2023 - Januari 2024. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, menyebut saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berpeluang masuk LQ45 karena kenaikan harga saham yang didorong oleh kenaikan harga komoditas global seperti batubara dan emas.
Fath Aliansyah, Senior Research Analyst dari Lotus Andalan Sekuritas, memprediksi PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) bisa masuk LQ45, berpotensi menggantikan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), karena fundamental yang kuat dan likuiditas tinggi. Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas Indonesia juga menyoroti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebagai kandidat lain dengan kinerja keuangan dan kapitalisasi pasar yang baik, serta memenuhi syarat free float.
Pilihan Editor
-
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022









