Pariwisata
( 747 )Pantai-pantai yang Mengubah Gunungkidul
Hingga setahun lalu, Digo (20) masih buram menatap masa
depannya setelah lulus SMK. Pemuda di pelosok Gunungkidul, DI Yogyakarta, itu
bahkan telah bersiap merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Namun,
kehadiran sebuah sanggraloka mengubah jalan hidupnya. ”Alhamdulillah, saya
tidak perlu jauh-jauh mencari kerja. Bekerja dekat dengan rumah jelas lebih
enak,” ujar warga Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul, saat ditemui di
tempat kerjanya, Rabu (24/1). Digo bekerja sebagai koordinator public area di
Jungwok Blue Ocean, sanggraloka tepi laut yang beroperasi sejak Mei 2023 di
Desa Jepitu, Girisubo yang bertetangga dengan desa tempat tinggal Digo.
Dengan gaji Rp 2,05 juta, sesuai upah minimum kabupaten, Digo
bisa menghidupi dirinya yang masih lajang, juga membantu perekonomian
orangtuanya yang bekerja sebagai petani di wilayah ujung timur Gunungkidul
tersebut. Digo hanyalah satu dari ribuan warga yang menikmati dampak langsung
dari pesatnya pertumbuhan sanggraloka, hotel, dan vila di Gunungkidul 10 tahun
terakhir, seiring kian populernya kabupaten itu di mata wisatawan, terutama
perihal kemolekan pantai-pantainya. Gunungkidul kini menjadi primadona
pariwisata di DIY. Pintu-pintu ekonomi baru pun terbuka lebar bagi warga di
daerah yang sebelumnya lekat dengan imaji kemiskinan, kekeringan, dan
keterpencilan tersebut.
Selain diserap industri akomodasi dan amenitas pariwisata,
seperti Digo, banyak warga yang mendulang rezeki wisata dari usaha sendiri
seperti Bahono Putro (56), warga Desa Jepitu, yang berjualan baju di Pantai
Jungwok lima tahun terakhir. ”Tadinya saya sopir travel. Coba-coba jualan baju pantai
karena melihat banyak wisatawan. Ternyata penghasilannya lumayan,” ujarnya. Bahono
bisa mengantongi omzet Rp1juta-Rp 1,5 juta setiap akhir pekan. Pada musim
liburan, seperti Lebaran, omzetnya melambung hingga Rp 5 juta per hari.
”Penghasilan bersih saya sekarang setidaknya Rp 3 juta sebulan. Waktu jadi
sopir travel, bawa pulang separuh jumlah itu saja susah,” katanya. Selain Girisubo,
rezeki pariwisata juga dirasakan wilayah lain yang berbatasan dengan laut. Di
Kecamatan Tepus, hotel, vila, rumah makan, hingga kios suvenir dan oleh-oleh dengan
mudah ditemui. Hal itu, terlihat di sepanjang Pantai Indrayanti hingga Pantai
Sundak Timur di Desa Tepus, salah satu yang menikmati booming pariwisata pantai
Gunungkidul sejak awal. (Yoga)
KUNJUNGAN WISMAN 2024 : TARGET TAK MUDAH PARIWISATA
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dipandang perlu melakukan sejumlah strategi promosi dan penebaran insentif kepada pelaku industri untuk mencapai target kunjungan wisatawan asing pada 2024.
Pakar Strategi Pariwisata Indonesia Taufan Rahmadi menilai kunjungan wisatawan mancanegara yang dipatok Kemenparekraf pada tahun ini cukup berat. Kedatangan pelancong asing pada tahun ini ditargetkan menyentuh 14,3 juta kunjungan. Bidikan tersebut meningkat sekitar 22,54% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu di level 11,67 juta kunjungan.
Selain itu, eksekutif perlu memberikan insentif kepada maskapai penerbangan luar negeri yang banyak membawa wisman, hingga pembenahan pada sejumlah destinasi wisata terkait kenyamanan dan keamanan turis. “[Pemerintah juga harus membenahi] sumber daya manusia, infrastruktur ke destinasi wisata, dan tiket pesawat murah,” kata Taufan kepada Bisnis, Jumat (2/2). Di samping itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Industri Pariwisata (Gipi) Hariyadi B. Sukamdani menilai, wacana pemerintah membentuk Indonesia Tourism Fund atau dana abadi pariwisata tidak cukup maksimal untuk mempromosikan sektor parekraf dalam negeri.
Menurut informasi yang diterima Hariyadi dari kementerian tersebut salah satu dana abadi pariwisata akan diambil dari dana Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Artinya, anggaran tersebut terbatas hanya untuk event bertema lingkungan. Sumber lainnya yakni dari dana BUMN.
GIPI menilai pemerintah perlu menganggarkan dana Rp6 triliun untuk promosi kegiatan Parekraf.
Sepanjang tahun lalu, sebagian besar wisman masuk ke Indonesia melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali dengan proporsi sebesar 44,94% dan rata-rata lama tinggal wisman di Indonesia hingga 8,5 malam. Pada tahun ini, Kemenparekraf masih menargetkan Bali sebagai destinasi unggulan dengan cakupan hingga 50% dari target wisman yang ditetapkan pemerintah.
Turis yang berkunjung ke Bali sebelumnya diwajibkan membayar biaya retribusi wisata senilai Rp150.000 atau setara dengan US$10. Pemberlakuan retribusi Wisata ini merupakan inisiatif baru oleh pemerintah provinsi untuk membantu melestarikan alam dan budaya Bali melalui pelestarian, revitalisasi, dan konservasi.
Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menargetkan sebanyak 406.470 wisatawan mancanegara (wisman) asal Amerika Serikat (AS) berkunjung ke Indonesia di 2024. Target tersebut meningkat 226% dari target 2023 yang tercatat sebesar 124.700 kunjungan.
Pergerakan Ekonomi KEN 2023 Capai Rp 12,38 T
WAJAH BARU PARIWISATA TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS
Setelah lebih dari dua tahun ditutup akibat pandemi Covid- 19,
Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur, Lampung, kembali dibuka
untuk umum. Pariwisata TNWK kali ini mengedepankan kesejahteraan satwa, pemberdayaan
masyarakat, dan keberlanjutan. Adila Zakia (10) mengelus belalai gajah dengan
lembut di area Pusat Latihan Gajah, TNWK, Kamis (18/1/). Ia lantas memandikan
seekor gajah jinak dengan selang air, didampingi sang pawang. Adila yang datang
jauh-jauh dari Riau mengaku senang bisaberkunjung ke TNWK dan melihat
gajah-gajah jinak di sana. Sang ayah, Sunu Istiqomah Danu (47), mengatakan,
keluarganya sengaja berwisata ke TNWK untuk melihat gajah-gajah jinak yang
dipelihara di taman nasional tersebut.
Ia penasaran mendengar kabar TNWK buka dengan konsep baru.
”Kami kebetulan sedang pulang kampung ke Lampung. Kami ke sini karena ingin
mengenalkan anak-anak dengan alam,” kata Sunu. Sunu dan keluarganya membeli
beberapa paket wisata di TNWK, seperti memandikan gajah seharga Rp 150.000 per orang
dan paket berfoto dengan gajah Rp 20.000 per orang. Selain itu, wisatawan juga
membayar tiket masuk ke dalam TNWK Rp 5.000 per orang. Sunu senang bisa
mengajak anaknya berwisata ke TNWK. Meski begitu, ia merasa fasilitas yang
disediakan di TNWK masih terbatas, antara lain, tempat bersantai untuk
wisatawan masih terbatas. Ia berharap, pengelola TNWK bisa meningkatkan sarana
dan prasarana agar wisatawan lebih nyaman.
Selain itu, pengalaman yang ditawarkan dalam konsep baru wisata
alam TNWK juga dinilai masih terbatas. Pengelola perlu menyiapkan pengalaman
yang lebih seru untuk wisatawan. Annisa Putri (23), wisatawan asal Lampung
mengatakan ”Sekarang sudah enggak kayak dulu, kita bisa lihat gajah main sirkus
dan atraksi. Sekarang hanya bisa berfoto dengan gajah atau memandikan gajah,”
ucapnya.Ia sebenarnya berharap bisa menaiki gajah jinak yang ada di TNWK.
Namun, ternyata hal itu sudah tidak diperbolehkan karena dianggap tidak
memperhatikan kesejahteraan satwa.
Rudi Hartono (35) warga Desa Labuhan Ratu IX, yang juga
pelaku usaha jasa wisata, mengatakan, dengan konsep baru tersebut, tarif wisata
di TNWK menjadi lebih mahal. Ia mengaku kesulitan menawarkan paket wisata
kepada para agen travel. ”Kalau dulu paket wisata TNWK bisa saya jual Rp 90.000
per orang, sudah termasuk kendaraan, tour guide, makan dan minum, serta paket
wisata berkeliling satu hari di TNWK dan desa penyangga. Kalau sekarang, kita
tawarkan di harga Rp 150.000-Rp 190.000 per orang, tapi belum deal semua, masih
banyak yang pikir-pikir,” kata Rudi. Sukatmoko, Humas TNWK mengatakan, konsep baru
wisata alam di TNWK dilakukan dengan mengintegrasikan wisata desa yang dikelola
oleh masyarakat. Desa-desa penyangga yang ada di sekitar TNWK dilibatkan untuk
menyediakan sarana dan prasarana penunjang pariwisata di TNWK. (Yoga)
Kunjungan Wisman China Ditargetkan Tembus 1 Juta
PRINGGASELA DALAM SENAMPAN KEKAYAAN PANGAN LOKAL
Keriuhan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK
memecah ketenangan sore di Kampung Gubuk Lauq, Pringgasela Selatan, di Kecamatan
Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Rumah ibu Kades Siti Wijayanti
kedatangan para kader PKK desa. Sore itu mereka bergotong royong membuat jajan
pasar. Beraneka ragam bahan pangan disediakan untuk membuat cerorot, jagung
urap, klepon ubi, orog-orog, bantal, dan jajanan lawas lain khas Pringgasela
Selatan. Keseluruhanjajananitu disuguhkan untuk menyambut para tamu yang datang
ke Pringgasela Selatan dalam acara Festival Dongdala pada Desember 2023.
Dongdala berarti pelangi. Dikaruniai tanah yang subur dan air jernih yang
melimpah, Pringgasela Selatan, termasuk Kecamatan Pringgasela, mandiri di
bidang pangan.
Warga tak pernah risau dengan harga cabai yang mahal di
kota-kota besar atau kekeringan seperti daerah lain. Sejauh mata memandang,
hijau sawah, jernihnya air, dan rimbunnya kebun mendominasi pemandangan.
Berdasar data BPS, produksi padi setahun di Pringgasela, termasuk Desa
Pringgasela Selatan 14.000 ton. Ubi kayu 1.700 ton. Jagung 200 ton. Di
perempatan tugu, tengah desa Pringgasela Selatan, setiap pagi hingga sore
banyak berjajar penjual makanan tradisional. Ada jajanan pasar, buah-buahan
lokal, hingga makanan khas kampung tersebut. Dalam kios-kios itu buah local mendominasi.
Ada Manggis, pisang, nanas, alpukat, rambutan, hingga durian. Karena diambil
dari kebun sendiri, harganya sangat terjangkau. Durian lokal, bisa didapatkan
dengan harga Rp 25.000 per buah. ”Bahkan, ada yang harganya hanya 5.000 per
buah,” kata Sri Hartini, warga Gubuk Lauq, Pringgasela Selatan.
Pringgasela Selatan identic dengan makanan tradisional. Kedai
LHC yang jadi favorit warga untuk berbelanja makanan, menjual berkeranjang-keranjang
jajanan tradisional. Harganya pun ramah di kantong, mulai Rp 1.000 per makanan.
Pada pagi hari, jajanan penuh mengisi etalase, menjelang siang mulai berkurang,
dan ludes terjual di sore hari. Begitu seterusnya siklus jual beli makanan
tradisional di kedai itu. Barry Perdana Putra, pemilik Aranka guest house,
selalu memperkenalkan kuliner lokal kepada tamunya dari mancanegara. Mereka
dijamu dengan lumpia, singkong goreng, pisang goreng, serta suguhan teh serai, wedang
jahe, teh bunga telang, hingga pinacolada yang dibuat dari pangan lokal
Pringgasela. ”Semua yang terhidang di sini diambil dari sini juga,” katanya.Mia
Lee (30), tamu asal Australia, terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya. Ini
pertama kali ia datang ke Lombok dan mencicip teh serai dengan kudapan singkong
goreng serta lumpia. ”Saya rasa petualangan di kaki Rinjani mulai dari gorengan
ini,” katanya. (Yoga)
Kini, Siapa Saja Bisa ke Stasiun Luar Angkasa
Sebanyak empat astronot, tiga di antaranya berasal dari
Turki, Swedia, dan Italia, meluncur ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)
dari pangkalan Kennedy Space Center Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA)
di Cape Canaveral, Florida, AS, Kamis (18/1) sore waktu setempat. Mereka melesat
dengan penerbangan komersial Axiom Space, menggunakan pesawat luar angkasa SpaceX,
Crew Dragon, milik Elon Musk. Empat astronot itu berlatar belakang pilot
militer. Mereka akan berada di luar angkasa selama 14 hari untuk melakukan 30
eksperimen dengan fokus pada dampak penerbangan luar angkasa terhadap kesehatan
dan penyakit manusia. Perjalanan antariksa mereka merupakan misi penerbangan komersial
kolaboratif untuk ketiga kalinya antara Axiom Space, NASA, dan SpaceX selama
dua tahun terakhir.
Yang berbeda kali ini, penumpangnya bukan orang kaya raya,
seperti pada penerbangan sebelumnya. Tiga dari empat astronot kali ini dibiayai
pemerintah masing-masing dengan harga tiket 55 juta USD atau Rp 860 miliar. Pesawat
Crew Dragon yang membawa empat astronot tersebut akan menempuh perjalanan 36
jam dan diperkirakan tiba di stasiun luar angkasa Sabtu (20/1). Crew Dragon
akan berlabuh di pos terdepan yang mengorbit 400 km di atas Bumi. Saat ini,
stasiun luar angkasa internasional dihuni oleh tujuh awak tetap. Mereka terdiri
dari dua warga AS dari NASA, satu astronot dari Jepang, satu astronot dari Denmark,
dan tiga kosmonot Rusia. Axiom Space yang berbasis di Houston, AS, menjalankan bisnis
komersial mengirimkan astronot ke orbit Bumi dengan disponsori pemerintah asing
atau perusahaan swasta.
Misi Axiom dirancang untuk menawarkan penerbangan ke ISS kepada
siapa pun yang mampu membeli tiket. Dua misi Axiom sebelumnya diterbangkan pada
2022 dan 2023, membawa penumpang campuran antara pebisnis kaya dan astronot
yang dibiayai pemerintahnya. Penerbangan kali ini menjadi misi Axiom pertama
yang semua tiket kursinya dibeli pemerintah atau NASA. Harian The New York Times,
Kamis (18/1), menyebut penerbangan ini merupakan bagian dari era baru di mana negara-negara
tak lagi harus membuat roket dan pesawat ruang angkasa sendiri untuk
menjalankan program penerbangan luar angkasa berawak. Kini, mereka cukup
membeli tiket dari perusahaan penerbangan luar angkasa komersial, hampir sama
seperti membeli tiket pesawat biasa. (Yoga)
INDUSTRI PARIWISATA : Meredam Kisruh Pajak Hiburan
Aturan mengenai tarif pajak untuk jasa hiburan khusus sebesar 40%—75% yang sebelumnya dikeluhkan oleh sejumlah pelaku usaha akhirnya dibahas dalam rapat Presiden Joko Widodo bersama para menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Jumat (19/1). Pemerintah pun bergerak cepat agar ribut-ribut ihwal kebijakan penaikan pajak hiburan tersebut tidak berkembang menjadi isu yang kian meresahkan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pemerintah daerah bisa memberlakukan pajak yang lebih rendah dari 40% atau pun 70%, sesuai dengan ketentuan masing-masing daerah. Penetapan besaran pajak untuk jasa hiburan khusus itu juga bisa disesuaikan dengan insentif yang diberikan terkait dengan sektor yang nantinya akan diperinci. Menurut Airlangga, instruksi itu disampaikan oleh Presiden Jokowi kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dalam rapat internal soal pajak hiburan. “Mudah mudahan masalah ini bisa selesai. Surat edaran bersama Menkeu dan Mendagri akan lebih menjelaskan hal ini karena di dalam UU sifatnya diskresi sehingga tentu kita tidak ingin ada moral hazard maka dipayungi aturan. Dan, segera , sosialisasi segera juga,” kata Airlangga di kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (19/1).
Dia menjelaskan bahwa tarif pajak hiburan bisa diterapkan lebih rendah karena ketentuan dalam sejumlah pasal Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD) memberi ruang untuk pengurangan tersebut. Pemerintah melihat sektor pariwisata baru pulih sehingga disiapkan insentif PPh badan untuk sektor pariwisata secara keseluruhan atau lebih kepada seluruh sektornya dan dipertimbangkan untuk dikaji. Sebagaimana diketahui, Asosiasi Pengusaha Indonesia sebelumnya mengungkapkan bahwa pengenaan pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) yaitu diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap/spa sebesar 40%—75% per 5 Januari 2024 memberatkan dunia usaha. Itu sebabnya, Apindo menyarankan kepada pemerintah daerah untuk menunda pemberlakuan pajak hiburan khusus tersebut.
Pengusaha Hiburan Butuh Hiburan
Pebisnis hiburan agaknya perlu hiburan. Betapa tidak, baru sejenak bisa bernafas lega setelah kena hantam pandemi Covid-19, industi hiburan di Tanah Air harus kembali menerima pukulan berat, yakni pajak tinggi. Mulai tahun ini, pajak hiburan melonjak dari 25% menjadi 40% hingga 75%. Biangnya adalah Undang-Undang Nomor 1/2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD) yang mulai berlaku Januari 2024. Merujuk Pasal 58 ayat (2), tarif pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) atas jasa hiburan pada diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap atau spa paling rendah 40% dan paling tinggi 75%. Sejumlah daerah pun mematok tarif pajak hiburan dengan angka maksimal 75%. Toh, pemerintah berkelit.
Bagi pemerintah, tarif pajak hiburan hingga 75% sudah ada sejak lama. "Ini sama pada saat mereka mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 28/2009, mereka sudah memberikan tarif 75%," kata Lydia Kurniawati Christyana, Direktur Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, Selasa (16/1). Yang terang, berdasarkan reportase KONTAN ke sejumlah tempat hiburan di Jakarta, pengusaha hiburan menolak tegas kenaikan pajak hiburan. "Tarif pajak 40% hingga 75% akan menambah beban usaha.
Selama ini, pengusaha hiburan harus menyetorkan pajak yang cukup besar ke kantong negara," ungkap Alexander Nayoan, Ketua Bidang Pelatihan dan Pendidikan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) kepada KONTAN, Jumat (19/1). Apalagi, Ketua Wellness Healthcare Entrepreneur Association (WHEA) Agnes Lourda Hutagulung mengungkapkan, selain harus membayar pajak, pengusaha hiburan kudu setor duit keamanan ke sejumlah oknum. Setali tiga uang, pebisnis bar juga teriak. "Banyak pengunjung yang tadinya menghabiskan waktu di bar, jadi lebih memilih minum di rumah atau beli online ketimbang harus minum di tempat yang pajaknya besar dan harganya tidak masuk akal," sebut Bhian, Board of Directors Odin Senopati.
Merespons protes yang marak dari pelaku usaha hiburan, pemerintah pun angkat bicara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, pemerintah akan mengeluarkan surat edaran mengenai aturan pajak hiburan sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Surat edaran tersebut kelak memuat mengenai insentif fiskal serta keringanan dalam penerapan tarif pajak hiburan khusus sebesar 40%-75%. "Pemerintah akan keluarkan surat edaran terkait dengan Pasal 101," ungkapnya, Jumat (19/1).
Magnet Baru di Kota Matahari Terbenam
Ruang terbuka hijau di Kota Kupang, NTT, menghadirkan kebahagiaan baru bagi warga. Mulai dari tempat piknik hingga ladang cuan. Matahari tampak bergerak turun ditelan horizon. Mahakarya semesta itu menjadi magnet bagi mereka yang datang ke pesisir Pantai Kupang. Magnet yang hanya ada kala senja menjemput malam. Seperti pada awal Januari 2024, Fritz Soares (24) bersama teman perempuannya menghabiskan waktu tiga jam di Pantai Tedis, kompleks Kota Lama. Mereka datang pukul 17.30 Wita agar tidak tertinggal menyaksikan momen detik-detik matahari seolah tenggelam ke dalam laut. Sambil menikmati momen itu, mereka bercengkerama menyeruput cokelat panas dan menyantap jagung bakar. Di sepanjang talud di garis pantai sejauh 100 meter itu, duduk pula beberapa pasangan muda-mudi, kelompok remaja, dan orangtua bersama anaknya.
Mereka baru bubar setelah cahaya matahari tak terlihat. Mereka datang memang hanya untuk melihat momen matahari terbenam. Pantai Tedis menjadi salah satu tempat favorit bagi warga Kupang atau wisatawan yang menyinggahi kota itu. Di pengujung tahun lalu, ruang terbuka yang berada dekat titik nol Kupang itu penuh sesak pengunjung. Pantai Tedis menjadi ruang publik bagi kota berpenduduk 465.000 jiwa itu. Pada 2021, Kementerian PUPR memulai proyek penataan Pantai Tedis dan Pantai Kelapa Lima. Total anggaran Rp 81 miliar. Pada 24 Maret 2023, Presiden Jokowi meresmikan proyek tersebut disaksikan ribuan warga. Ia berharap ruang terbuka itu mengubah wajah Kota Kupang, sekaligus mengubah wajah destinasi wisata. Dengan demikian, pengunjung merasa makin nyaman.
Di dua tempat itu berdiri gazebo khas suku Timor, pentas
terbuka, dan tempat berjualan yang dapat menampung 40 pedagang. Ada juga sarana
air bersih dan toilet. Wisatawan yang datang bisa merasakan denyut kehidupan
warga yang beragam. Mulai petang hingga malam, ratusan warga setempat berada di
sana. Data Dinas Pariwisata Provinsi NTT menyebutkan, setelah pandemi Covid-19,
kunjungan wisatawan pulih. Kota Kupang menjadi daerah kedua di NTT dengan jumlah
pengunjung wisatawan mancanegara tertinggi. Dua tahun terakhir, jumlahnya
melampaui 7.000 orang. Peringkat pertama diduduki Labuan Bajo. Penataan kawasan
pesisir membuat ekonomi setempat menggeliat, ditandai dengan banyaknya pedagang
makanan ringan di sekitar tempat itu. Banyak yang mendapatkan penghasilan
hingga Rp 200.000 per malam. Belum lagi penyewa kendaraan mainan anak. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Orang Kaya Singapura Akan Dikenai Pajak
19 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022









