Pariwisata
( 747 )Menandingi Singapura?
Berita tentang konser eksklusif Taylor Swift di Singapura
pada awal bulan ini didominasi pernyataan kontroversial pejabat tinggi dari
negara tetangganya. Aspek finansial dari konser dinilai lebih penting ketimbang
yang lain-lain. Sementara, beda politikus dan pengusaha semakin kabur. Seorang
menteri kabinet RI berambisi bikin konser tandingan. Menteri yang lain mencari
peluang menumpang keunggulan Singapura dalam bentuk kerja sama. Sebagian pihak
meragukan kemampuan Jakarta menjadi tuan rumah untuk konser sekelas Taylor
Swift. Kalaupun Jakarta mampu, apakah perlu? Sudah berpuluh tahun dan dalam
berbagai bidang Singapura supergesit dalam kompetisi transaksi global.
Walau unggul dalam sejumlah bidang, Singapura ditakdirkan
hidup dalam keterbatasan. Sumber daya alam dan sumber daya manusia di sana
sangat terbatas. Uniknya, Singapura berhasil membalik keterbatasan itu menjadi pemicu
kerja secara cerdas. Demi bertahan hidup, Singapura sangat bergantung pada tambahan
berbagai sumber daya dari luar. Untuk mendapat tambahan sumber daya unggul,
sejumlah persyaratan harus dipenuhi. Pertama, dibutuhkan jaringan
transportasi-komunikasi-finansial canggih dan andal agar sumber daya dari luar negeri
bisa masuk dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Kedua, Singapura harus memikat
calon mitra kerja dari luar dengan imbalan besar bagi mitra asingnya.
Tak perlu kaget atau kecewa jika pentas Taylor Swift untuk
Asia Tenggara berhari-hari hanya di Singapura. Daripada bikin konser tandingan,
mengapa tidak bersemangat membina universitas dengan kualitas tandingan? Siapa
tahu Indonesia berhasil naik ke urutan setara atau mendekati Singapura dalam
peringkat global universitas dan anak presiden tak perlu jauh-jauh berkuliah di
sana? Mengapa Pemerintah RI tidak terpacu membenahi layanan kesehatan di negeri
sendiri sehingga para menteri yang sakit bisa merasa nyaman dirawat di dalam
negeri? Tenaga kerja Indonesia berbondong-bondong sebagai PRT di Singapura.
Mengapa pejabat tinggi negara tidak bertekad memperbaiki kondisi kerja di Tanah
Air sendiri? Apakah konser tandingan dinilai lebih penting daripada semua hal
itu. (Yoga)
Harmoni Alam di Perdesaan Melbourne
Kawasan Mornington Peninsula, perdesaan di selatan kota
Melbourne, Australia, dihidupi oleh satu semangat yang sama, yaitu kesadaran
bergerak bersama harmoni alam. Ekonomi mereka pun tumbuh. Selain dari hasil bumi
untuk warga lokal, pesona alam yang dijaga lestari menarik pelancong dari berbagai
penjuru dunia. Mornington Peninsula dicapai satu jam perjalanan dengan mobil
dari pusat kota Melbourne, melewati jalan berliku di antara hutan-hutan semak
dan pinggir pantai. Perjalanannya seperti dari Jakarta ke Puncak, tetapi tanpa
kemacetan padahal di akhir pekan, Sabtu (2/3) lalu.
Di balik semak-semak itu, sejumlah usaha pertanian bersemi.
Mulai dari peternakan lebah, produsen minuman anggur, pembuatan minyak zaitun,
hingga pertanian stroberi kompak mengusung semangat kesadaran alam. Pesona
”hijau” di pantai selatan Australia itu ternyata juga menggiurkan dari sisi
bisnis pariwisata. ”Peternakan lebah kami, dari awal sampai sekarang, dikelola
berdasarkan prinsip kelestarian alam,” kata John Winkles, pemilik peternakan lebah,
Pure Peninsula Honey, di Mornington Peninsula. Dengan modal dua ratu lebah
liar, sekarang Winkles memiliki usaha rumahan dengan 30 jenis produk madu
manuka serta turunannya berupa permen, lilin lebah, dan ragam kosmetik berbahan
dasar madu. Jenis madu andalannya adalah manuka yang ia jual Rp 650.000 dalam
gelas kaca ukuran 250 gram.
Manuka adalah jenis tanaman semak-semak yang banyak tumbuh di
Negara Bagian Victoria, Australia. Beragam madu olahan yang dia sediakan
berbahan organik, seperti madu jahe, madu lemon, dan madu kayu manis. Pengunjung
bisa mencicipi beragam madu itu sebelum memutuskan membeli. Selain wisata
pertanian, kawasan Mornington Peninsula ibarat oasis untuk melepas penat warga
Melbourne. Di tengah alam yang hijau, beberapa tempat menyediakan aktivitas
melepas ketegangan. Green Olive at Red Hill, misalnya, adalah sebuah pertanian
anggur, lemon, dan zaitun di kawasan perbukitan di sana yang memadukan wisata
kebun dan restoran.
Ada pula Leo Estate. Restoran bintang empat itu memadukan
wisata pertanian, pembuatan minuman anggur, dan karya seni. Berdiri di punggung
perbukitan di tepi pantai, Leo Estate memiliki taman seni rupa seluas 330
hektar yang berisikan 60 karya seni seniman terkemuka dunia. Satu paket makan
malam di sana dibanderol 165 dollar Australia (Rp 1,7 juta) per orang. Dengan
berbagai keunikannya, para petani dan pengelola wisata Mornington Peninsula konsisten
bergerak bersama harmoni alam. Mereka membuktikan, menjaga alam pun bisa
menggerakkan ekonomi. (Yoga)
Garap Potensi Cuan PON
Pekan Olahraga Nasional atau PON Aceh-Sumut 2024 berpotensi
memberi dampak ekonomi besar. Hal ini selayaknya dimanfaatkan oleh daerah
penyelenggara yang menjadi tuan rumah. Dampak langsung dapat dirasakan oleh
pengusaha perhotelan, restoran, serta UMKM. Puluhan ribu tamu diperkirakan
datang ke Aceh dan Sumut selama perhelatan PON pada 8-20 September mendatang. ”PON
akan memberikan dampak ekonomi besar bagi perekonomian Sumut, terutama untuk
industri hotel dan restoran. Kami bersiap menyambut tamu ajang tersebut,” ujar
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Sumut Denny S Wardhana, Selasa
(19/3).
PON dijadwalkan berlang sung 8 September hingga 20 September
2024.Total 80 arena pertandingan tengah dipersiapkan di kedua daerah. Sebanyak
42 arena berlokasi di 10 kabupaten/kota di Aceh, sedang 38 arena berada di 9
kabupaten/kota di Sumut. Denny mengatakan, jumlah kamar hotel dan restoran di Sumut
lebih dari cukup untuk menyambut 15.000 atlet dan pelatih peserta PON 2024. Di
Medan saja, ada lebih dari 5.000 kamar hotel berbintang. ”Didukung hotel di
daerah penyelenggara lain, antara lain, Kabupaten Karo, Simalungun, dan Toba,
akomodasi di Sumut diyakini tidak akan kewalahan untuk memenuhi kebutuhan kamar
para tamu,” ujarnya. Tingkat keterisian hotel diprediksi sudah tinggi sebelum PON
dan tetap tinggi sesudah ajang tersebut.
Restoran-restoran juga akan mendapatkan dampak ekonomi. ”PON
kali bisa mempercepat kebangkitan ekonomi Sumut yang sempat terpuruk akibat
pandemi Covid-19, terutama di sektor perhotelan dan restoran,” katanya. Dampak
ekonomi PON dipercaya bisa berlangsung panjang jika bisa disikapi dengan cermat
dan tepat. Kalangan UMKM juga akan
merasakan dampak langsung PON edisi ke-21 ini. Lagi pula, Sumut dikenal sebagai
gudangnya produk UMKM, mulai dari berbagai macam kuliner hasil kreasi hingga
kain-kain tradisional. Menurut pengusaha UMKM, Trisna Pardede, ajang olahraga
adalah tempat promosi dan penjualan produk UMKM yang sangat efektif.
Saat Kejuaraan Dunia Perahu Motor Formula 1 (F1H2O) di Kabupaten
Toba, Februari lalu, misalnya, Trisna banyak menjual kopi arabika khas Sumut. PON
2024 juga diperkirakan bisa mengungkit perekonomian Aceh yang terkungkung oleh efek
konflik berkepanjangan di masa lalu. Dosen Ilmu Ekonomi dari Universitas Syiah
Kuala Banda Aceh, Rustam Effendi, Selasa (12/3), mengatakan, PON jangan hanya dipandang
sebagai ajang olahraga, tetapi juga sebagai peluang ekonomi. Semakin ramai tamu
yang datang ke Aceh, salah satunya melalui PON, semakin besar dampak ekonomi
yang bisa dirasakan Aceh. ”Saya memperkirakan, selama PON, uang miliaran rupiah
akan beredar di Aceh. Ini peluang besar yang harus ditangkap oleh para pelaku
usaha,” katanya. (Yoga)
INDUSTRI PARIWISATA : Urat Nadi Udara Lombok—Makassar
Kehadiran rute penerbangan Lombok—Makassar diyakini bakal meningkatkan industri pariwisata di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Rencananya, rute tersebut bakal dilayani oleh maskapai Lion Air dengan menggunakan pesawat Boeing 737-900ER dengan kapasitas 215 kursi mulai 27 Maret 2023. Hal itu diungkapkan oleh General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (Bandara Lombok) Minggus E.T. Gandeguai. Lion Air, imbuhnya, bakal melayani rute tersebut dengan frekuensi penerbangan tiga kali dalam sepekan, yakni pada hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Untuk penerbangan perdana, Lion Air dengan nomor penerbangan JT 840 akan berangkat dari Lombok pukul 14.45 WITA, dan dijadwalkan tiba di Makassar pukul 15.55 WITA. Dari Makassar, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 841 akan lepas landas pukul 12.35 WITA, dan mendarat di Lombok pukul 13.50 WITA.
Minggus berharap bahwa kehadiran rute penerbangan ini akan makin meningkatkan jumlah wisatawan yang selanjutnya dapat memberikan dorongan bagi ekonomi lokal dan sektor pariwisata, baik di Lombok maupun Makassar. Lombok, imbuhnya, adalah salah satu destinasi wisata favorit Indonesia yang setiap tahunnya menjadi tuan rumah ajang balap MotoGP.
Perputaran Uang Wisata Halal Berpotensi Naik 25 %
Perputaran uang dari pariwisata halal Indonesia
berpotensi meningkat 25 % tahun ini. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi
yang membaik pasca pandemi Covid-19. Menparekraf Sandiaga Uno menerangkan,
Indonesia merupakan destinasi wisata halal yang sangat diminati dunia. Apalagi
Indonesia telah berhasil mendapatkan predikat Top Muslim Friendly Destination
of The Year 2023 dalam Mastercard Crescent Rating Global Muslim Travel Index
(GMTI) di tahun 2023.
“Ini meningkat luar biasa, signifikan. Kami
memetakan ada potensi peningktan sampai 25 % tahun ini. Sejalan dengan
berakhirnya Covid di tahun 2023 lalu. Peningkatan ini kita pantau ada pada
konsumsi rumah tangga yang bertumbuh dengan sehat,” kata dia, Minggu (17/3). (Yetede)
"Swift-nomics”
Berkaitan dengan konser enam hari penyanyi pop AS, Taylor
Swift, di Singapura. Wartawan The Sydney Morning Herald mengangkat isu itu
dengan PM Singapura Lee Hsien Loong saat jumpa pers bersama PM Australia
Anthony Albanese di Melbourne. PM Lee menjelaskan bahwa pemerintahannya melakukan
kesepakatan bisnis dengan manajemen Swift. Singapura mengharapkan bisa
mendapatkan konser eksklusif di Asia Tenggara dan bersedia membayar kompensasi
untuk itu. Penentuan mau atau tidaknya Swift memberikan ”konser eksklusif”
selama enam kali di Singapura berada sepenuhnya pada pihak artis. Kalau
kemudian Swift memutuskan itu, bukan berarti Singapura berniat merugikan negara
ASEAN lain dengan tak bisa menggelar konser dari artis yang paling banyak
pengikutnya itu. Sebab, pendekatan ini bisa juga diterapkan negara lain.
Singapura memang menangguk untung dari penyelenggaraan konser
berkelas dunia itu. Hampir semua pencinta Swift dari seluruh penjuru dunia
datang ke Singapura untuk menyaksikan penampilan bintang idola mereka. Ada yang
menyatakan bahwa nilai ekonomi yang didapatkan Singapura ratusan kali lebih besar
dari investasi yang ditanamkan. Baik Coldplay, Taylor Swift, maupun artis-artis
yang lain menjadi fenomena ekonomi yang luar biasa. Tidak keliru juga kalau
dikatakan Swift-nomics karena penampilan seorang artis bisa memberikan manfaat
ekonomi yang luar biasa kepada sebuah negara. Singapura bisa melakukan ini
karena mereka memiliki visi ekonomi yang panjang dan ekosistem yang mendukung.
Pertama, pemerintah yang berorientasi pasar dan memahami pasar.
Pemerintah tak berpikir ekonomi jangka pendek, tetapi
berjangka panjang. Pemerintah Singapura mau turun tangan untuk berbicara dengan
manajemen artis.. Kompensasi untuk menghadirkan artis besar tak memikirkan
keuntungan (return) secara langsung. Yang jauh lebih diperhatikan pemerintah
adalah dampak ekonomi yang didapatkan untuk jangka panjang. Dengan konser yang
dikunjungi jutaan fans mancanegara, ekonomi Singapura akan bertumbuh. Kalaupun
ada dampak langsung yang bisa dirasakan adalah pajak barang dan jasa (goods and
services tax/GST) dari berbagai transaksi yang kemudian terjadi. Kepuasan dari para
fans menyaksikan konser menambah kredibilitas dan popularitas Singapura.
Miliaran pembicaraan di media sosial merupakan promosi yang
nilainya tak terkira, priceless. Para penonton tak pernah kapok datang ke
Singapura karena mereka tak perlu kebingungan untuk datang dan pulang dari
tempat konser karena fasilitas transportasi yang bagus. Mereka tak harus
kelaparan dan kehausan sebab di mana-mana bisa mudah didapatkan tempat makan
dan minum. Fasilitas sanitasi seluruh kota keadaannya prima. Dan, keamanan
sangat terjamin karena nyaris tidak ada pencuri dan pencopet. Perlu cara
pandang berbeda jika ingin menyaingi Singapura. Indonesia Incorporated yang
didengung-dengungkan masih tahap wacana, sementara Singapore Incorporated
setiap saat dijalankan (Yoga)
Ekraf Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Gegap gempita dan gemerlap konser Taylor Swift selama enam
hari di Singapura, 2-9 Maret 2024, baru saja lewat. Sekarang, pemerintah,
penyelenggara, semua pemangku kepentingan terkait, dan berbagai elemen yang
kecipratan manfaat barangkali sedang menghitung jumlah cuan yang masuk. Dari
perspektif ekonomi kreatif (ekraf), sukses kolaborasi berbagai pihak dan aspek dalam
perhelatan itu menjadi bukti dahsyatnya kekuatan ekraf. Dalam penerimaan
pariwisata saja, Singapura diperkirakan meraup 260 juta USD hingga 375 juta USD
atau Rp 4 triliun hingga Rp 5,8 triliun. Event itu juga bisa menjadi benchmark
bagaimana seharusnya menggarap ekonomi kreatif. Ini tidak sebatas pada konser
musik, tetapi untuk semua cabang ekraf.
Untuk Indonesia, Titik tolak yang barangkali bisa menjadi
konsensus bersama sekaligus klise adalah ekraf Indonesia punya potensi besar,
tetapi perkembangannya belum optimal. Berbagai kajian menyimpulkan, peran ekraf
vital sebagai sumber pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda
luas dalam perekonomian suatu negara. Petikan wawancara Kompas dengan
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, di Jakarta, Rabu (6/3) mengungkapkan, ”Swiftonomics”
kini banyak dikaji akademisi dan analis. Salah satu ekonom menyampaikan, dari
setiap konser (Taylor Swift) TS di Singapura, 70 % penonton berasal dari luar
Singapura. Dana yang dihabiskan mulai dari 350 juta USD hingga 500 juta USD. Konon
kabarnya, rahasia ”dapur” mereka, (pemerintah) mendukung 15 juta USD atau Rp
235,8 miliar (kurs Rp 15.723 per USD). Maka, nominal ini sudah kembali dengan
cepat berkali-kali lipat.
Ini sebuah langkah kemampuan yang harus kita miliki, kombinasi
kemampuan menghadirkan venue berskala internasional, menghadirkan kebijakan
yang kondusif, dan dana pendamping yang tersedia. Maka, kita harus mengembangkan
infrastruktur, mempermudah perizinan penyelenggaraan event. Kita harus
kolaborasi dengan stakeholders. Pemerintah harus hadir, harus bisa mendampingi.
Misalnya, nanti Indonesia mendapat kesempatan menghadirkan the next TS, kita
harus mampu menyediakan bukan hanya konser, hotel, produk-produk kuliner, dan
suvenir. Namun, kita juga harus cari produk-produk yang bisa dijual dan unggul
dari Indonesia sebagai adidaya seni dan budaya, ekonomi hijau. Kita harus
mengambil peran yang lebih kuat lagi ke depannya. (Yoga)
Kreativitas Warga Metro Menghidupi Cagar Budaya
Di tangan anak-anak muda, tempat-tempat bersejarah di Kota Metro,
Lampung, difungsikan menjadi ruang kreatif. Bangunan cagar budaya menjadi ikon
baru kota itu. Semangat merawat sejarah lahir dari rasa cinta warga pada kotanya.
Suasana di Rumah Asisten Wedana, salah satu bangunan cagar budaya di Kota
Metro, Provinsi Lampung ramai pengunjung, Sabtu (24/2) siang. Sejumlah orang
bersantai menikmati suguhan makanan dan minuman yang dijual di Wedana Space. Ruang
publik yang berada dalam bangunan cagar budaya itu lahir dari kreativitas anak-anak
muda. Salah satunya Reyza Pribadi Lukita (25), pemuda yang membantu
merealisasikan Rumah Asisten Wedana menjadi ruang kreatif. Luki, lulusan
jurusan arsitektur ITB itu mencurahkan ide secara sukarela membuat
desain interior Rumah Asisten Wedana, berkonsultasi dengan Tim Ahli Cagar
Budaya Kota Metro.
”Saya tidak boleh sembarangan karena ini adalah bangunan cagar
budaya. Jangan sampai desain yang dibuat mengubah bentuk asli atau merusak
struktur bangunannya,” kata Luki. Ruang utama bangunan bersejarah itu dijadikan
tempat untuk menyambut pengunjung. Di tempat itu terdapat beberapa kursi kayu dan
meja yang ditata saling berhadapan. Beberapa foto sejarah transmigrasi di Kota Metro
terpasang di dinding. Di tempat itu terdapat sembilan gerai UMKM yang menjual
berbagai produk, mulai dari makanan, minuman, hingga suvenir. Ada juga ruang
belajar untuk komunitas. Ruang gerak diatur agar pengunjung nyaman berkeliling
dan bisa mampir ke semua gerai. Sebagai warga Kota Metro, Luki terpanggil untuk
berkontribusi merawat dan melestarikan bangunan cagar budaya. Kini, ia bersama
dua rekannya, yakni M Riananda Pratama (27) dan Prasedo Fajar Utomo (25),
menjadi pengelola Rumah Asisten Wedana.
Rumah Asisten Wedana hanyalah satu dari tujuh bangunan atau
benda bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah
Kota Metro. Mayoritas merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Rumah
Asisten Wedana merupakan rumah tinggal sekaligus pusat pemerintahan resmi
Asisten Kawedanan Metro (setingkat camat). Tempat itu didirikan sebagai bagian
dari pembangunan pusat kota oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1935. Bangunan
cagar budaya lain di Kota Metro adalah Rumah Dokter atau Dokterswoning yang
dibangun pada 1939. Kala itu, bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat tinggal
bagi dokter-dokter Belanda yang bertugas di Metro. Sekarang, bangunan cagar
budaya itu difungsikan menjadi Rumah Informasi Sejarah Kota Metro yang ramai
dikunjungi anak-anak sekolah. Bangunan lain yang menjadi cagar budaya adalah
Klinik Santa Maria (1938), Health Center (1958), dan Menara Masjid Taqwa Kota
Metro (1967). (Yetede)
Ekonomi Kreatif Akan Difasilitasi
Masa depan ekonomi Indonesia terletak, antara lain, pada
ekonomi kreatif. Modal dasar dan potensinya besar, juga tantangan-tantangannya.
Kolaborasi semua pemangku kepentingan guna memperkuat ekosistem menjadi
prasyaratnya. Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan, potensi perkembangan ekonomi
kreatif (ekraf) di Indonesia begitu besar. Kreativitas dan inovasi menjadi
modal utama para pelaku ekraf dalam negeri. ”Orang Indonesia itu (sebagai)
pelaku ekraf dikenal dunia dengan kemampuan berkreasi dan inovasi. Jadi, itu
sudah menjadi core Indonesia. Ini yang harus jadi keunggulan yang kita lebih
pertimbangkan di masa depan,” ujarnya dalam wawancara eksklusif bersama Kompas,
Rabu (6/3) di Jakarta. Ia mengatakan, industri manufaktur dan hilirisasi
tambang memang penting.
Namun, hilirisasi sektor ekraf pun perlu dilakukan. Sebab,
efek pengganda dari produksi barang dan jasa ekraf dapat berkontribusi pada
neraca ekraf untuk mendongkrak perekonomian nasional. Meski demikian, ia mengakui masih ada
hambatan-hambatan yang dihadapi para pelaku ekraf di lapangan, diantaranya isu
pembiayaan dan perubahan teknologi yang dinamis. Oleh sebab itu, pemerintah harus
mendampingi, bukannya meninggalkan. ”Ekosistem harus kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Salah satu caranya, menurut Sandiaga, investasi penuh pada SDM. Kolaborasi
lintas sektor dan kebijakan publik yang mendukung juga mutlak dilakukan. Selain
itu, pemerintah berkomitmen mendukung dari sisi pembiayaan.
Skemanya, antara lain, public private partnership atau kemitraan
pemerintah dan swasta. Sumber dananya berasal dari dana pariwisata Indonesia
(Indonesia Tourism Fund). Ada pula skema lain, termasuk untuk UMKM, yang tertuang
dalam PP No 24 Tahun 2022 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 24 Tahun 2019
tentang Ekonomi Kreatif. Kebijakan ini mengatur mengenai pembiayaan, pemasaran
produk berbasis kekayaan intelektual, infrastruktur, dan insentif untuk pelaku
ekraf. PP ini juga mengamanatkan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam
pengembangan ekraf dengan memfasilitasinya agar ekosistem ekraf dapat berjalan
dengan baik. (Yoga)
Pembatasan Wisman ala Thailand Dinilai Positif
Pemerintah Thailand memperketat kebijakan bagi warga negara
asing yang akan masuk ke negara itu. Upaya ini dinilai sebagai langkah positif
untuk menyeleksi wisatawan sekaligus mencegah perdagangan manusia (human trafficking).
Indonesia bisa meniru langkah ini untuk mendorong pariwisata berkualitas. KBRI
Bangkok, Thailand, menerbitkan imbauan bagi WNI yang melakukan kunjungan bebas
visa ke Thailand. WNI perlu menunjukkan bukti kemampuan finansial untuk menjamin
biaya selama berada di ”Negeri Gajah Putih”. Mengutip laman media sosial KBRI
Bangkok, sejumlah ketentuan harus dipenuhi. Pertama, WNI harus memiliki paspor
yang masa berlakunya paling sedikit enam bulan. Kedua, memiliki bukti tiket
kepulangan, serta bukti pemesanan akomodasi dan bukti finansial selama di
Thailand.
Besarannya tak ditentukan, tetapi diimbau membawa minimal 15.000
baht atau Rp 6,6 juta dengan kurs Rp 438,5 per baht. Ketum Ikatan Cendekiawan
Pariwisata Indonesia Azril Azhari berpendapat, langkah ini merupakan cara Thailand
untuk menyeleksi wisatawan yang berkunjung dan bisa diikuti Indonesia. ”Bukan
pembatasan, tetapi mereka menyeleksi orang-orang yang betul-betul bawa uang,
(wisatawan) berkualitas untuk datang ke Thailand. (Dengan demikian) ini tak menimbulkan
masalah sosial, mengakibatkan masalah hukum, atau kriminalitas,” ujarnya saat
dihubungi dari Jakarta, Sabtu (2/3). Hal serupa disampaikan Ketum Asosiasi Travel
Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno.
”Jadi, lebih terseleksi, terkurasi karena membawa uang cash
(sekitar) Rp 6,5 juta sebenarnya upaya imigrasi Thailand untuk profiling,”
katanya. Sebelum penerapan kebijakan ini, banyak WNI menjadi tenaga kerja Ilegal,
terutama di Kamboja dan negara-negara lain, dengan berkedok wisatawan. Selama
ini mereka mencari celah melewati negara-negara tetangga perbatasan, di
antaranya Thailand, untuk masuk ke Kamboja dan Myanmar.Data KBRI Bangkok menunjukkan,
pergerakan WNI ke Thailand meningkat. Sekitar 762.000 kunjungan tercatat dari
Indonesia ke Thailand pada 2023, meningkat dua kali lipat dibandingkan
kunjungan pada 2022 yang sebesar 355.000 kunjungan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









