"Swift-nomics”
Berkaitan dengan konser enam hari penyanyi pop AS, Taylor
Swift, di Singapura. Wartawan The Sydney Morning Herald mengangkat isu itu
dengan PM Singapura Lee Hsien Loong saat jumpa pers bersama PM Australia
Anthony Albanese di Melbourne. PM Lee menjelaskan bahwa pemerintahannya melakukan
kesepakatan bisnis dengan manajemen Swift. Singapura mengharapkan bisa
mendapatkan konser eksklusif di Asia Tenggara dan bersedia membayar kompensasi
untuk itu. Penentuan mau atau tidaknya Swift memberikan ”konser eksklusif”
selama enam kali di Singapura berada sepenuhnya pada pihak artis. Kalau
kemudian Swift memutuskan itu, bukan berarti Singapura berniat merugikan negara
ASEAN lain dengan tak bisa menggelar konser dari artis yang paling banyak
pengikutnya itu. Sebab, pendekatan ini bisa juga diterapkan negara lain.
Singapura memang menangguk untung dari penyelenggaraan konser
berkelas dunia itu. Hampir semua pencinta Swift dari seluruh penjuru dunia
datang ke Singapura untuk menyaksikan penampilan bintang idola mereka. Ada yang
menyatakan bahwa nilai ekonomi yang didapatkan Singapura ratusan kali lebih besar
dari investasi yang ditanamkan. Baik Coldplay, Taylor Swift, maupun artis-artis
yang lain menjadi fenomena ekonomi yang luar biasa. Tidak keliru juga kalau
dikatakan Swift-nomics karena penampilan seorang artis bisa memberikan manfaat
ekonomi yang luar biasa kepada sebuah negara. Singapura bisa melakukan ini
karena mereka memiliki visi ekonomi yang panjang dan ekosistem yang mendukung.
Pertama, pemerintah yang berorientasi pasar dan memahami pasar.
Pemerintah tak berpikir ekonomi jangka pendek, tetapi
berjangka panjang. Pemerintah Singapura mau turun tangan untuk berbicara dengan
manajemen artis.. Kompensasi untuk menghadirkan artis besar tak memikirkan
keuntungan (return) secara langsung. Yang jauh lebih diperhatikan pemerintah
adalah dampak ekonomi yang didapatkan untuk jangka panjang. Dengan konser yang
dikunjungi jutaan fans mancanegara, ekonomi Singapura akan bertumbuh. Kalaupun
ada dampak langsung yang bisa dirasakan adalah pajak barang dan jasa (goods and
services tax/GST) dari berbagai transaksi yang kemudian terjadi. Kepuasan dari para
fans menyaksikan konser menambah kredibilitas dan popularitas Singapura.
Miliaran pembicaraan di media sosial merupakan promosi yang
nilainya tak terkira, priceless. Para penonton tak pernah kapok datang ke
Singapura karena mereka tak perlu kebingungan untuk datang dan pulang dari
tempat konser karena fasilitas transportasi yang bagus. Mereka tak harus
kelaparan dan kehausan sebab di mana-mana bisa mudah didapatkan tempat makan
dan minum. Fasilitas sanitasi seluruh kota keadaannya prima. Dan, keamanan
sangat terjamin karena nyaris tidak ada pencuri dan pencopet. Perlu cara
pandang berbeda jika ingin menyaingi Singapura. Indonesia Incorporated yang
didengung-dengungkan masih tahap wacana, sementara Singapore Incorporated
setiap saat dijalankan (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023