;

Ekraf Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Ekonomi Yoga 13 Mar 2024 Kompas
Ekraf Jadi Sumber
Pertumbuhan Baru

Gegap gempita dan gemerlap konser Taylor Swift selama enam hari di Singapura, 2-9 Maret 2024, baru saja lewat. Sekarang, pemerintah, penyelenggara, semua pemangku kepentingan terkait, dan berbagai elemen yang kecipratan manfaat barangkali sedang menghitung jumlah cuan yang masuk. Dari perspektif ekonomi kreatif (ekraf), sukses kolaborasi berbagai pihak dan aspek dalam perhelatan itu menjadi bukti dahsyatnya kekuatan ekraf. Dalam penerimaan pariwisata saja, Singapura diperkirakan meraup 260 juta USD hingga 375 juta USD atau Rp 4 triliun hingga Rp 5,8 triliun. Event itu juga bisa menjadi benchmark bagaimana seharusnya menggarap ekonomi kreatif. Ini tidak sebatas pada konser musik, tetapi untuk semua cabang ekraf.

Untuk Indonesia, Titik tolak yang barangkali bisa menjadi konsensus bersama sekaligus klise adalah ekraf Indonesia punya potensi besar, tetapi perkembangannya belum optimal. Berbagai kajian menyimpulkan, peran ekraf vital sebagai sumber pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda luas dalam perekonomian suatu negara. Petikan wawancara Kompas dengan Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, di Jakarta, Rabu (6/3) mengungkapkan, ”Swiftonomics” kini banyak dikaji akademisi dan analis. Salah satu ekonom menyampaikan, dari setiap konser (Taylor Swift) TS di Singapura, 70 % penonton berasal dari luar Singapura. Dana yang dihabiskan mulai dari 350 juta USD hingga 500 juta USD. Konon kabarnya, rahasia ”dapur” mereka, (pemerintah) mendukung 15 juta USD atau Rp 235,8 miliar (kurs Rp 15.723 per USD). Maka, nominal ini sudah kembali dengan cepat berkali-kali lipat.

Ini sebuah langkah kemampuan yang harus kita miliki, kombinasi kemampuan menghadirkan venue berskala internasional, menghadirkan kebijakan yang kondusif, dan dana pendamping yang tersedia. Maka, kita harus mengembangkan infrastruktur, mempermudah perizinan penyelenggaraan event. Kita harus kolaborasi dengan stakeholders. Pemerintah harus hadir, harus bisa mendampingi. Misalnya, nanti Indonesia mendapat kesempatan menghadirkan the next TS, kita harus mampu menyediakan bukan hanya konser, hotel, produk-produk kuliner, dan suvenir. Namun, kita juga harus cari produk-produk yang bisa dijual dan unggul dari Indonesia sebagai adidaya seni dan budaya, ekonomi hijau. Kita harus mengambil peran yang lebih kuat lagi ke depannya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :