Ekraf Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Gegap gempita dan gemerlap konser Taylor Swift selama enam
hari di Singapura, 2-9 Maret 2024, baru saja lewat. Sekarang, pemerintah,
penyelenggara, semua pemangku kepentingan terkait, dan berbagai elemen yang
kecipratan manfaat barangkali sedang menghitung jumlah cuan yang masuk. Dari
perspektif ekonomi kreatif (ekraf), sukses kolaborasi berbagai pihak dan aspek dalam
perhelatan itu menjadi bukti dahsyatnya kekuatan ekraf. Dalam penerimaan
pariwisata saja, Singapura diperkirakan meraup 260 juta USD hingga 375 juta USD
atau Rp 4 triliun hingga Rp 5,8 triliun. Event itu juga bisa menjadi benchmark
bagaimana seharusnya menggarap ekonomi kreatif. Ini tidak sebatas pada konser
musik, tetapi untuk semua cabang ekraf.
Untuk Indonesia, Titik tolak yang barangkali bisa menjadi
konsensus bersama sekaligus klise adalah ekraf Indonesia punya potensi besar,
tetapi perkembangannya belum optimal. Berbagai kajian menyimpulkan, peran ekraf
vital sebagai sumber pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda
luas dalam perekonomian suatu negara. Petikan wawancara Kompas dengan
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, di Jakarta, Rabu (6/3) mengungkapkan, ”Swiftonomics”
kini banyak dikaji akademisi dan analis. Salah satu ekonom menyampaikan, dari
setiap konser (Taylor Swift) TS di Singapura, 70 % penonton berasal dari luar
Singapura. Dana yang dihabiskan mulai dari 350 juta USD hingga 500 juta USD. Konon
kabarnya, rahasia ”dapur” mereka, (pemerintah) mendukung 15 juta USD atau Rp
235,8 miliar (kurs Rp 15.723 per USD). Maka, nominal ini sudah kembali dengan
cepat berkali-kali lipat.
Ini sebuah langkah kemampuan yang harus kita miliki, kombinasi
kemampuan menghadirkan venue berskala internasional, menghadirkan kebijakan
yang kondusif, dan dana pendamping yang tersedia. Maka, kita harus mengembangkan
infrastruktur, mempermudah perizinan penyelenggaraan event. Kita harus
kolaborasi dengan stakeholders. Pemerintah harus hadir, harus bisa mendampingi.
Misalnya, nanti Indonesia mendapat kesempatan menghadirkan the next TS, kita
harus mampu menyediakan bukan hanya konser, hotel, produk-produk kuliner, dan
suvenir. Namun, kita juga harus cari produk-produk yang bisa dijual dan unggul
dari Indonesia sebagai adidaya seni dan budaya, ekonomi hijau. Kita harus
mengambil peran yang lebih kuat lagi ke depannya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023