Pariwisata
( 749 )Ekonomi Kreatif Akan Difasilitasi
Masa depan ekonomi Indonesia terletak, antara lain, pada
ekonomi kreatif. Modal dasar dan potensinya besar, juga tantangan-tantangannya.
Kolaborasi semua pemangku kepentingan guna memperkuat ekosistem menjadi
prasyaratnya. Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan, potensi perkembangan ekonomi
kreatif (ekraf) di Indonesia begitu besar. Kreativitas dan inovasi menjadi
modal utama para pelaku ekraf dalam negeri. ”Orang Indonesia itu (sebagai)
pelaku ekraf dikenal dunia dengan kemampuan berkreasi dan inovasi. Jadi, itu
sudah menjadi core Indonesia. Ini yang harus jadi keunggulan yang kita lebih
pertimbangkan di masa depan,” ujarnya dalam wawancara eksklusif bersama Kompas,
Rabu (6/3) di Jakarta. Ia mengatakan, industri manufaktur dan hilirisasi
tambang memang penting.
Namun, hilirisasi sektor ekraf pun perlu dilakukan. Sebab,
efek pengganda dari produksi barang dan jasa ekraf dapat berkontribusi pada
neraca ekraf untuk mendongkrak perekonomian nasional. Meski demikian, ia mengakui masih ada
hambatan-hambatan yang dihadapi para pelaku ekraf di lapangan, diantaranya isu
pembiayaan dan perubahan teknologi yang dinamis. Oleh sebab itu, pemerintah harus
mendampingi, bukannya meninggalkan. ”Ekosistem harus kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Salah satu caranya, menurut Sandiaga, investasi penuh pada SDM. Kolaborasi
lintas sektor dan kebijakan publik yang mendukung juga mutlak dilakukan. Selain
itu, pemerintah berkomitmen mendukung dari sisi pembiayaan.
Skemanya, antara lain, public private partnership atau kemitraan
pemerintah dan swasta. Sumber dananya berasal dari dana pariwisata Indonesia
(Indonesia Tourism Fund). Ada pula skema lain, termasuk untuk UMKM, yang tertuang
dalam PP No 24 Tahun 2022 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 24 Tahun 2019
tentang Ekonomi Kreatif. Kebijakan ini mengatur mengenai pembiayaan, pemasaran
produk berbasis kekayaan intelektual, infrastruktur, dan insentif untuk pelaku
ekraf. PP ini juga mengamanatkan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam
pengembangan ekraf dengan memfasilitasinya agar ekosistem ekraf dapat berjalan
dengan baik. (Yoga)
Pembatasan Wisman ala Thailand Dinilai Positif
Pemerintah Thailand memperketat kebijakan bagi warga negara
asing yang akan masuk ke negara itu. Upaya ini dinilai sebagai langkah positif
untuk menyeleksi wisatawan sekaligus mencegah perdagangan manusia (human trafficking).
Indonesia bisa meniru langkah ini untuk mendorong pariwisata berkualitas. KBRI
Bangkok, Thailand, menerbitkan imbauan bagi WNI yang melakukan kunjungan bebas
visa ke Thailand. WNI perlu menunjukkan bukti kemampuan finansial untuk menjamin
biaya selama berada di ”Negeri Gajah Putih”. Mengutip laman media sosial KBRI
Bangkok, sejumlah ketentuan harus dipenuhi. Pertama, WNI harus memiliki paspor
yang masa berlakunya paling sedikit enam bulan. Kedua, memiliki bukti tiket
kepulangan, serta bukti pemesanan akomodasi dan bukti finansial selama di
Thailand.
Besarannya tak ditentukan, tetapi diimbau membawa minimal 15.000
baht atau Rp 6,6 juta dengan kurs Rp 438,5 per baht. Ketum Ikatan Cendekiawan
Pariwisata Indonesia Azril Azhari berpendapat, langkah ini merupakan cara Thailand
untuk menyeleksi wisatawan yang berkunjung dan bisa diikuti Indonesia. ”Bukan
pembatasan, tetapi mereka menyeleksi orang-orang yang betul-betul bawa uang,
(wisatawan) berkualitas untuk datang ke Thailand. (Dengan demikian) ini tak menimbulkan
masalah sosial, mengakibatkan masalah hukum, atau kriminalitas,” ujarnya saat
dihubungi dari Jakarta, Sabtu (2/3). Hal serupa disampaikan Ketum Asosiasi Travel
Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno.
”Jadi, lebih terseleksi, terkurasi karena membawa uang cash
(sekitar) Rp 6,5 juta sebenarnya upaya imigrasi Thailand untuk profiling,”
katanya. Sebelum penerapan kebijakan ini, banyak WNI menjadi tenaga kerja Ilegal,
terutama di Kamboja dan negara-negara lain, dengan berkedok wisatawan. Selama
ini mereka mencari celah melewati negara-negara tetangga perbatasan, di
antaranya Thailand, untuk masuk ke Kamboja dan Myanmar.Data KBRI Bangkok menunjukkan,
pergerakan WNI ke Thailand meningkat. Sekitar 762.000 kunjungan tercatat dari
Indonesia ke Thailand pada 2023, meningkat dua kali lipat dibandingkan
kunjungan pada 2022 yang sebesar 355.000 kunjungan. (Yoga)
Puluhan Triliun Pesona Taylor Swif
Pada 2-4 Maret 2024, konser bintang dunia Taylor Swift
digelar di Stadion Nasional Singapura. Konser bertajuk The Eras Tour ini
berlanjut di sana pada 7-9 Maret 2024. Tiket satu-satunya konser Swift di Asia
Tenggara ini diburu sejak pertengahan 2023. Tiket bahkan ludes terjual dalam
beberapa jam lewat ”pertempuran sengit”. Harganya mulai dari 88 dollar
Singapura hingga 1.228 dollar Singapura, setara Rp 1 juta hingga Rp 14,4 juta
dengan kurs Rp 11.703 per dollar Singapura. Tiket hanya salah satu aspek penggerak
ekonomi yang menimbulkan efek pengganda. Aspek lain, sebagian besar penonton
berpikir untuk tampil berbeda. Pernak-pernik dan pakaian demi tampil cantik saat
menonton konser pun dipilih penuh pertimbangan.
”Sayang jika hanya berpakaian biasa karena bakal foto.
Akhirnya, aku cari baju karena Taylor Swift identik dengan sesuatu yang blink-blink
(bekerlip),” ujar Lourentia Kinkin, di Jakarta, Kamis (29/2). Swifties alias
penggemar Swift dalam konser biasanya berpakaian sesuai tema yang dipilih dari 10
era yang diwakili setiap album Swift, mulai album debut Taylor Swift (2006)
hingga Midnights (2022). Kinkin, tak hanya belanja baju, tas, dan aksesori. Ia
juga berencana menghias kuku untuk merepresentasikan 10 album Swift. Kuku
setiap jari memiliki warna berbeda dengan anggaran Rp 200.000. Ia juga membeli
stiker wajah Rp 12.000. Kinkin juga akan berpartisipasi dalam friendship
bracelet, tradisi Swifties di seluruh dunia yang menyepakati membuat gelang
persahabatan yang ditukarkan saat konser berlangsung, dengan anggaran Rp 60.000.
Konser Taylor Swift tak hanya memberi suguhan musik, tetapi
juga memberi wadah bagi pemburu cendera mata (merchandise), seperti kaus, jaket
bertudung (hoodie), gelang, tas, dan poster. Nominalnya pubervariasi,
bergantung pada jenis barang. Antrean para pemburu itu mengular. Tak heran,
dari The Eras Tour sepanjang 2023, Swift menghasilkan 200 juta USD atau Rp 3,1
triliun dengan kurs Rp 15.673 per USD hanya dari penjualan suvenir. Dari
penjualan tiket, penyanyi itu mengantongi 1,04 miliar USD atau Rp 16,3 triliun.
Angka ini memecahkan rekor sebagai tur pertama yang mengantongi lebih dari 1
miliar USD, seperti dikutip Forbes.
Mengutip The Straits Times, tepat setelah tiket konser Swift habis
terjual, beragam hotel, maskapai, dan operator agen perjalanan mengantisipasi
ledakan perjalanan ke Singapura pada Maret 2024. Harga pun terkerek naik
seiring melonjaknya jumlah pesanan. Kepala pemasaran dan komersial Pan Pacific
Hotels Group Cinn Tan mengatakan, pesanan kamar Hotel Parkroyal Collection
Pickering naik 200 % pada periode 2-9 Maret 2024. Mayoritas pesanan berasal
dari Australia, Indonesia, Taiwan, dan Korsel. Kenaikan pencarian akomodasi di
Singapura juga naik hingga 160 kali di platform perjalanan digital Agoda.
Kenaikan terutama dari negaranegara sekitar Singapura, di- dominasi warga
Filipina. (Yoga)
Festival Sarkem
Pelesiran ke Tempat ”Wisata Mirip” yang Hemat dan Memikat
Sejak 2023, pariwisata memang mulai pulih lagi seperti sebelum
pandemi Covid-19. Hal ini jelas menggembirakan bagi industri pariwisata. Namun,
menyebabkan ketidaknyamanan bagi wisatawan. Tak hanya terlalu ramai, tempat
wisata favorit mereka juga menjadi sangat mahal. Jalan keluarnya adalah ”destinasi-destinasi
mirip (destination dupes),” yang merujuk pada tempat-tempat tujuan wisata altenatif
yang mirip dengan lokasi wisata awal yang semula dituju. Di destinasi-destinasi
mirip itu tidak ditemukan monumen ikonik atau museum-museum terkenal. Meski
demikian, pengalaman yang ditawarkan dari kunjungan ke destinasi-destinasi
tiruan itu disebut bisa menghadirkan kejutan dan suasana lebih rileks. Para
pembuat konten atau pemengaruh juga sering kali menyebut kunjungan ke
lokasi-lokasi mirip itu layak dibagikan ke media sosial Instagram (instagramable).
Laman The New York Times pada 31 Januari 2024 melaporkan,
pada 2024 lebih dari separuh warga AS merencanakan pergi ke tempat-tempat dengan
biaya hidup yang lebih murah daripada biaya di kota mereka tinggal. Mengutip
keterangan agen perjalanan daring, Booking.com, Times melaporkan, 60 % warga AS
mencari tujuan wisata mirip atau mencari lokasi alternatif yang lebih murah
daripada pergi ke destinasi mahal. Perusahaan layanan perjalanan Expedia,
seperti dikutip lamanEuronews, mendaftar sejumlah destinasi mirip yang bakal
menjadi tren pada 2024. Contohnya, Barcelona merupakan kota yang sangat ramai
dan paling banyak dikunjungi di Spanyol. Sedemikian membeludak kunjungan
wisatawan, pihak berwenang terpaksa membatasi kegiatan pariwisata dan penumpang
kapal pesiar demi menekan dampak negatif bagi penduduk setempat. Pelancong bisa
memilih Girona yang mirip Barcelona.
Wilayah di timur laut Barcelona ini bisa ditempuh dengan satu
jam berkereta dari Barcelona. Girona memiliki kekayaan arsitektur yang akan
disukai oleh penggemar sejarah. Di Girona, wisatawan bisa menikmati permukiman
Yahudi bak labirin, gedung-gedung bertembok dinding abad pertengahan, dan
gedung katedral yang megah. Girona juga terkenal dengan wisata kuliner dengan
harga 25 % lebih murah daripada di Barcelona. Jika mencari laut, pasir, dan
kemewahan tetapi anggaran terbatas, bisa mempertimbangkan untuk pergi ke Pantai
Turquoise di Turki daripada pergi ke Cote d’Azur di Perancis. Garis pantai
Semenanjung Bodrum yang mirip Saint Tropez (Perancis) penuh dengan resor
berakses langsung ke perairan jernih. Di Bodrum, Anda bisa memilih menginap di
hotel-hotel ternama atau di tempat-tempat penginapan yang ramah dompet. (Yoga)
Izin Seni Pertunjukan Perlu Perbaikan
Menparekraf Sandiaga Uno mengakui, proses dan skema perizinan
di Indonesia masih perlu diperbaiki. Tak hanya itu, pendampingan bagi para
promotor musik juga perlu dilakukan. ”Teman-teman event organizer/EO (promotor)
harus difasilitasi, terutama sejalan dengan disetujuinya Indonesia Tourism Fund
(ITF) yang kami harapkan bisa jadi sebuah langkah pendampingan bagi para EO,”
ujarnya dalam konferensi pers mingguan di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin
(26/2). Berkaca dari penyelenggaraan konser musik internasional bintang dunia,
Taylor Swift di Singapura, Indonesia mempunyai potensi yang sama dengan negara
itu. Pemerintah Singapura mampu mengalokasikan sekitar Rp 250 miliar untuk
memberi dana tunjangan dalam konser Taylor Swift yang berlangsung 2-4 Maret
2024 dan 7-9 Maret 2024.
”Indonesia ini jangan hanya jadi pasar, tapi kita juga harus
mampu jadi host dari konser-konser besar dan event-event berkelas internasional,”
kata Sandiaga. Menurut Co-Founder PK Entertainment Harry Sudarma, promotor-promotor
Indonesia menghadapi dua tantangan besar ketika berencana mendatangkan bintang
papan atas dunia. Pertama, promotor memperhitungkan dana yang harus dikeluarkan
dan pada akhirnya dana itu bisa menghasilkan kembali, seperti prinsip dasar bisnis.
Saat menggelar acara besar, risiko yang besar itu menjadi hambatan yang harus ditanggung.
”Ada artis-artis tertentu yang hitungannya tak masuk (anggaran). Jadi, kami
berat juga kalau harus bawa (artis), kemudian harus rugi, misalnya,” ujar
Harry. Isu kedua, birokrasi dan infrastruktur di Indonesia belum mendukung.
Negara-negara lain memiliki birokrasi dan infrastruktur yang bisa diakses lebih
mulus, baik dalam hal perizinan maupun lokasi. (Yoga)
Sutrisno Memajukan Desa dengan Buah Naga
Di sudut Desa Pekunden, Banyumas, Jateng, Sutrisno (57)
merintis budidaya buah naga sejak 2017. Meski diawali dengan cibiran dan
keraguan orang-orang sekitarnya, kini kebun itu menjadi salah satu primadona
wisata desa sekaligus edukasi bagi para pengunjungInilah kebun buah naga yang
dikelola Sutrisno yang turut mengubah wajah Desa Pekunden. Ilmu dan tips
membudidayakan buah naga diperoleh Sutrisno dari sahabatnya, Sugito, yang
merupakan petani buah naga dari Banyuwangi, Jatim. Ia berguru kepada Sugito
selama satu pekan. Pulang dari sana, ia menanam 140 rumpun tanaman buah naga di
Banyumas yang ditopang dengan kayu randu sebagai batang pokok penopang rumpun. Per
rumpun berisi tiga tanaman buah naga. ”Saat itu banyak yang mencibir, mulai dari
teman-teman juga keluarga. Semua membuat (saya) kecil hati, tetapi saya tetap
semangat,” kata Sutrisno saat dijumpai di kebunnya, Minggu (25/2).
Menurut Sutrisno, tanaman buah naga yang dibudidayakan di
Banyuwangi banyak ditanam di dekat pantai dengan ketinggian permukaan tanah 50
mdpl. Adapun di Pekunden, Banyumas, kebunnya memiliki ketinggian sekitar 46
mdpl. Karena itu, dia berkeyakinan buah
naga bisa hidup di desanya. Setelah enam bulan, keyakinan Sutrisno menjadi
kenyataan. Ia berhasil memetik panen perdana buah naga yang ditanamnya.
Selanjutnya kebun itu terus menghasilkan panen yang baik. Hasilnya makin baik
setelah ia memasang 130 lampu untuk merangsang pembungaan tanaman buah naga
pada malam hari. Setiap dua pekan sekali dia bisa memanen 10-20 buah naga dari
satu rumpun. Bobotnya 3-5 ons per buah. ”Berapa pun buah yang dipanen, alhamdulillah
selalu habis (terserap pasar),” kata ayah dari dua anak ini. Selama ini
Sutrisno selalu mengupayakan pemberian pupuk organik, baik dari kotoran hewan
maupun dari limbah jerami yang ada di sekitar kebunnya, untuk tanaman buah
naga.
Keberhasilannya membudidayakan tanaman buah naga tidak ia
nikmati seorang diri. Ia bermurah hati memberikan buah naga kepada para
tetangga saat panen melimpah. ”Alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah ada
yang mencuri buah naga di sini. Lingkungan saling menjaga,” kata Sutrisno. Ia
juga mempekerjakan tiga tetangganya sebagai penggarap di kebunnya. Upahnya Rp 60.000,
termasuk makan siang dan rokok, per hari. Mereka bekerja di kebun buah naga itu
pukul 07.00-13.00. Selain itu, ia juga dengan senang hati berbagi pengalaman
dan pengetahuannya dalam budidaya buah naga kepada orang lain, terutama
generasi muda. Ia ingin generasi muda mencintai pertanian demi keberlanjutan
ketahanan pangan di Indonesia. Langkah Sutrisno terus berlanjut. Sejak tiga
tahun terakhir, ia membuka kebunnya untuk kunjungan wisata yang bisa menopang
program desa wisata. Pengunjung bisa berwisata petik buah naga di kebun
Sutrisno sekaligus melihat pembuatan makanan ringan khas Banyumas di desa ini. Dalam
sebulan tidak kurang dari 500 orang berkunjung ke kebun buah naga ini. Pengunjungnya
mulai anak-anak hingga orang dewasa. Tiket per orang dipatok Rp 5.000 untuk kunjungan
edukasi wisata. Dari tiket itu, Rp 3.000 merupakan pemasukan kebun dan Rp 2.000
untuk kelompok sadar wisata. (Yoga)
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Daya Tarik Mandalika Menjadi Magnet Pariwisata NTB
Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Kuta, Pujut, Lombok
Tengah, NTB, semakin menjadi magnet bagi pariwisata daerah setempat sekaligus NTB.
Namun, penambahan paket wisata harus terus dilakukan untuk memberi banyak
pengalaman baru bagi wisatawan yang datang. Sepanjang Februari 2024, kawasan
Mandalika masih ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan. Wisatawan
domestik dan mancanegara terlihat menyebar ke berbagai area di kawasan Mandalika.
Selain di area sirkuit, kawasan pantai menjadi favorit, seperti Pantai Kuta
Mandalika.
”Mandalika saat ini menjadi magnet wisatawan yang berkunjung ke Lombok. Khususnya sirkuit, baik
itu yang ingin masuk ke dalam maupun cukup di area luar sirkuit,” kata pemandu
wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia DPC Lombok Tengah, Hanatan Sugiono,
saat dihubungi dari Mataram, Selasa (20/2). Menurut Hanatan, awal bulan ini,
wisatawan yang datang ke Lombok terpantau ramai. Dalam sehari pernah ada tujuh bus
wisatawan yang datang via Bandara Lombok. Belum lagi wisatawan yang datang
dengan kapal dari Pelabuhan Lembar di Lombok Barat. Kunjungan ke Mandalika sampai
saat ini, lanjut Hanatan, masih menjadi bagian dari paket wisata yang
ditawarkan agen wisata ke wisatawan untuk dikunjungi. ”Selain ke Mandalika,
biasanya juga ada paket wisata ke Gili dan tur di kota,” kata Hanatan.
Daya tarik Mandalika secara langsung tidak hanya berdampak
pada usaha jasa pariwisata, seperti perjalanan wisata dan akomodasi, tetapi
juga UMKM di Mandalika. Edi Suharto (58), juru parker sekaligus penyedia
penyewaan toilet di Mandalika, mengatakan, di hari normal, ia mendapat
pendapatan Rp 150.000. ”Jika libur panjang, terutama Sabtu dan Minggu, sehari, bisa
sampai Rp 300.000,” kata Edi yang sudah sejak dua tahun terakhir berada di
Mandalika. Menurut Edi, Pantai Kuta Mandalika yang berada di sisi barat KEK
Mandalika menjadi salah satu favorit wisatawan. Ada berbagai aktivitas yang
bisa mereka lakukan dari bersantai di pantai hingga berenang, berkeliling
kawasan dengan berjalan kaki atau menyewa sepeda listrik. (Yoga)
INDUSTRI PARIWISATA : Pemilu Bakal Topang 35% Wisnus
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memprediksi ajang Pemilihan Umum 2024 mampu menopang pergerakan wisatawan Nusantara sebesar 30%—35% dari total pergerakan turis lokal sepanjang tahun ini. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan proyeksi itu mengacu peningkatan mobilitas masyarakat selama pesta demokrasi tahun ini. “Jadi, kuartal pertama 2024 ini mungkin kita bisa menyasar 30%—35% dari total pergerakan wisatawan Nusantara,” ujarnya di Jakarta seperti dikutip Antara, Rabu (14/2). Sepanjang tahun ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkeraf) menargetkan kunjungan sebanyak 1,2 miliar—1,5 miliar pergerakan wisnus.
Pemilu 2024 meliputi pemilihan presiden dan wakil presiden, anggota DPR, anggota DPD, anggota DPRD provinsi, serta anggota DPRD kabupaten/kota dengan daftar pemilih tetap (DPT) tingkat nasional sebanyak 204.807.222 pemilih.
Pemilihan presiden dan wakil presiden diikuti tiga pasangan yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dan Ganjar Pranowo-Mahfud Md.
Pilihan Editor
-
Volume Perdagangan Kripto Rp 859,4 Triliun
19 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
KKP Gencar Promosikan Kontrak Penangkapan Ikan
19 Feb 2022









