Bencana
( 266 )Pengusaha Dukung Pencapaian Net Sink Sektor Kehutanan
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) siap mendukung target penyerapan karbon lebih tinggi dibanding emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor hutan dan penggunaan lahan (Net Sink FoLU). Pada 2030 sebagaimana ditetapkan pemerintah untuk mendukung pencapain Net Sink, pelaku usaha mengimplementasikan skema multiusaha kehutanan. Ketua APHI Indroyono Soesilo menyatakan, berdasarkan skema tersebut, usaha perhutanan tidak hanya fokus pada hasil hutan kayu tetapi juga pada pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.
Chief Sustainability Officer APP Sinar Mas Elim Sritaba menyatakan, APP Sinar Mas dan mitranya dengan dukungan Pemerintah Indonesia berkomitmen berkontribusi dalam pencapaian target pengurakan emisi GRK seperti tertuang dalam Nationally Determined Contribution. Sementara itu, Direktur Usaha Hutan Produksi KLHK Istanto menambahkan, saat ini ada sekitar 33.20 juta ha hektar produksi yang dibebani konsep PBPH.
Sedangkan Sekretaris Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (karhutla) KLHK Sugeng Priyanto mengatakan, mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan sudah menjadi prioritas pemerintah dan merupakan salah satu upaya dalam menurunkan emisi GRK dari sektor FoLU. Pencegahan karhutla harus melibatkan pihak swasta dan masyrakat sekitar hutan , agar pencegahan berjalan optimal maka diperlukan penegakan hukum sehingga menimbulkan efek jera kepada pelaku. (Yetede)
Pengusaha Dukung Pencapaian Net Sink Sektor Kehutanan
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) siap mendukung target penyerapan karbon lebih tinggi dibanding emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor hutan dan penggunaan lahan (Net Sink FoLU). Pada 2030 sebagaimana ditetapkan pemerintah untuk mendukung pencapain Net Sink, pelaku usaha mengimplementasikan skema multiusaha kehutanan. Ketua APHI Indroyono Soesilo menyatakan, berdasarkan skema tersebut, usaha perhutanan tidak hanya fokus pada hasil hutan kayu tetapi juga pada pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.
Chief Sustainability Officer APP Sinar Mas Elim Sritaba menyatakan, APP Sinar Mas dan mitranya dengan dukungan Pemerintah Indonesia berkomitmen berkontribusi dalam pencapaian target pengurakan emisi GRK seperti tertuang dalam Nationally Determined Contribution. Sementara itu, Direktur Usaha Hutan Produksi KLHK Istanto menambahkan, saat ini ada sekitar 33.20 juta ha hektar produksi yang dibebani konsep PBPH.
Sedangkan Sekretaris Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (karhutla) KLHK Sugeng Priyanto mengatakan, mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan sudah menjadi prioritas pemerintah dan merupakan salah satu upaya dalam menurunkan emisi GRK dari sektor FoLU. Pencegahan karhutla harus melibatkan pihak swasta dan masyrakat sekitar hutan , agar pencegahan berjalan optimal maka diperlukan penegakan hukum sehingga menimbulkan efek jera kepada pelaku. (Yetede)
PBB: Jumlah Orang di Ambang Kelaparan Meningkat Tajam
Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau WFP pada Senin (8/11) menyatakan jumlah orang yang berada diambang kelaparan di 43 negara telah meningkat menjadi 45 juta jiwa. Angka tersebut dilaporkan saat kelaparan akut melonjak di seluruh dunia. Lonjakan dari 42 juta orang diawal tahun sebagian besar oleh penilaian ketahanan pangan yang mendapati tiga juta orang lainnya menghadapi kelaparan di Afganistan. "Puluhan juta orang menatap kedalam jurang. Kita menghadapi konflik, perubahan iklim, dan Covid-19 menaikkan jumlah orang yang sangat lapar," Kata Direktur Exkecutif WFP David Beasley, Senin (8/11)
Data terbaru sekarang menunjukkan ada lebih dari 45 juta orang berbaris menuju ambang kelaparan. Beasley mengatakan, setelah perjalanan ke Afganistan, WFP meningkatkan dukungan untuk hampir 23 juta orang. "Biaya bahan bakar, harga pangan melonjak, pupuk lebih mahal,dan semua ini menjadi sumber krisis baru seperti yang terjadi sekarang di Afganistan, serta keberadaan darurat yang sudah berlangsung lama seperti Yaman dan Suriah," tambahnya.
WFP mengatakan biaya untuk mencegah kelaparan secara global sekarang mencapai US$7 miliar. Naik dari US$6,6 miliar diawal tahun. Tetapi ia mengingatkan bahwa aliran pendanaan tradisional terlalu berlebihan. Keluarga yang mengalami kerawanan pangan dipaksa untuk membuat pilihan yang menghancurkan, katanya menikahkan anak-anak lebih awal, menarik mereka keluar dari sekolah atau memberi mereka makan belalang, daun liar, atau kaktus. (Yetede)
BPK: Kelebihan Bayar Insentif Nakes karena Duplikasi Data
Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Agung Firman mengungkapkan, telah terjadi kelebihan pembayaran insentif tenaga kesehatan (Nakes) yang menangani pandemi Covid-19 dengan nilai bervariasi, Mulai dari Rp 178 ribu hingga Rp 50 juta. Ini terjadi pada kurun waktu Januari-Agustus 2021 untuk 8.961 nakes. "Masih terdapat sisa kelebihan pembayaran insentif nakes dimana ditemukan pembayaran pada 8.961 nakes, kelebihannya antara Rp 178.000 hingga Rp 50 juta," ujar Agung dalam konferensi pers, Senin (1/11).
Menurut dia, Kementerian Kesehatan (kemenkes) melewatkan langkah pembersihan data atau data cleansing ketika melakukan rotasi pembayaran insentif dari semula berbasis pemda dan rumah sakit menjadi berbasis aplikasi. "Teman-teman harusnya tahu tugas kami di BPK bukan cari-cari salah atau sampai naudzubillahi midzalik sampai mendzolimi nakes dan sebagainya. Tetapikan memang harus dilihat apakah datanya (ada tapi nakesnya) sudah tidak ada lagi dan sebagainya" ujar dia.
Sementara itu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta tenaga kesehatan (nakes) tidak perlu khawatir karena pemerintah tidak akan menarik kembali kelebihan penyaluran dana insentif tenaga kesehatan yang di terima 8.961 tenaga kesehatan pada proses transfer periode Januari hingga Agustus 2021. Namun demikian, kelebihan dana yang diterima nakes akan dihitung sebagai kompensasi pada pembayaran insentif di bulan selanjutnya. (Yetede)
Krisis Pangan Dialamai Oleh Seluruh Rakyat Afganistan
Badan-badan dibawah naungan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mengingatkan pada Senin (25/10) bahwa Afganistan berada dibawah ambang salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia karena lebih dari separuh penduduk di negara itu dihadapkan pada kekurangan pangan akut. Menurut mereka, lebih dari 22 warga Afganistan bakal menderita kerawanan pangan di musim dingin ini. Pasalnya kekeringan yang didorong oleh perubahan iklim semakin memperparah gangguan yang disebabkan oleh pengambilalihan negara yang kacau oleh Taliban.
"Musim dingin ini, jutaan warga Afganistan akan dipaksa untuk memilih antara imigrasi dan kelaparan, kecuali kita dapat meningkatkan bantuan penyelamatan jiwa kita," ujar Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (World Food Programme), David Beasley yang dikutip AFP. "Afganistan sekarang berada diantara krisis kemanusiaan terburuk di dunia-jika bukan yang terburuk- dan ketahanan pangan telah runtuh. Kita sedang menghitung mundur bencana total ditangan kita," kata Beasley dalam pernyataannya. Para pejabat mengungkapkan kepada APF bahwa Afganistan menghadapi krisis fase 3 atau 4 darurat kekurangan pangan.
"Sangat mendesak bagi kami untuk bertindak secara efisien dan efektif untuk mempercepat dan meningkatkan pengiriman kami di Afganstan sebelum musim dingin memotong sebagian besar negara, dengan jutaan orang-termasuk petani, wanita, anak-anak dan orang tua- kelaparan di musim dingin yang membekukan." demikian penjelasan Direktur Jendral FAO Qu Dongyu. Seperti diketahui bahwa pada Agustus, kelompok islam garis keras Taliban menggulingkan rezim yang didukung AS, dan mendeklarsikan pemerintah sementara. Merekapun sudah bersumpah untuk memulihkan stabilitas. (Yetede)
Krisis Pangan Dialamai Oleh Seluruh Rakyat Afganistan
Badan-badan dibawah naungan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mengingatkan pada Senin (25/10) bahwa Afganistan berada dibawah ambang salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia karena lebih dari separuh penduduk di negara itu dihadapkan pada kekurangan pangan akut. Menurut mereka, lebih dari 22 warga Afganistan bakal menderita kerawanan pangan di musim dingin ini. Pasalnya kekeringan yang didorong oleh perubahan iklim semakin memperparah gangguan yang disebabkan oleh pengambilalihan negara yang kacau oleh Taliban.
"Musim dingin ini, jutaan warga Afganistan akan dipaksa untuk memilih antara imigrasi dan kelaparan, kecuali kita dapat meningkatkan bantuan penyelamatan jiwa kita," ujar Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (World Food Programme), David Beasley yang dikutip AFP. "Afganistan sekarang berada diantara krisis kemanusiaan terburuk di dunia-jika bukan yang terburuk- dan ketahanan pangan telah runtuh. Kita sedang menghitung mundur bencana total ditangan kita," kata Beasley dalam pernyataannya. Para pejabat mengungkapkan kepada APF bahwa Afganistan menghadapi krisis fase 3 atau 4 darurat kekurangan pangan.
"Sangat mendesak bagi kami untuk bertindak secara efisien dan efektif untuk mempercepat dan meningkatkan pengiriman kami di Afganstan sebelum musim dingin memotong sebagian besar negara, dengan jutaan orang-termasuk petani, wanita, anak-anak dan orang tua- kelaparan di musim dingin yang membekukan." demikian penjelasan Direktur Jendral FAO Qu Dongyu. Seperti diketahui bahwa pada Agustus, kelompok islam garis keras Taliban menggulingkan rezim yang didukung AS, dan mendeklarsikan pemerintah sementara. Merekapun sudah bersumpah untuk memulihkan stabilitas. (Yetede)
Krisis Pangan Dialamai Oleh Seluruh Rakyat Afganistan
Badan-badan dibawah naungan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mengingatkan pada Senin (25/10) bahwa Afganistan berada dibawah ambang salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia karena lebih dari separuh penduduk di negara itu dihadapkan pada kekurangan pangan akut. Menurut mereka, lebih dari 22 warga Afganistan bakal menderita kerawanan pangan di musim dingin ini. Pasalnya kekeringan yang didorong oleh perubahan iklim semakin memperparah gangguan yang disebabkan oleh pengambilalihan negara yang kacau oleh Taliban.
"Musim dingin ini, jutaan warga Afganistan akan dipaksa untuk memilih antara imigrasi dan kelaparan, kecuali kita dapat meningkatkan bantuan penyelamatan jiwa kita," ujar Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (World Food Programme), David Beasley yang dikutip AFP. "Afganistan sekarang berada diantara krisis kemanusiaan terburuk di dunia-jika bukan yang terburuk- dan ketahanan pangan telah runtuh. Kita sedang menghitung mundur bencana total ditangan kita," kata Beasley dalam pernyataannya. Para pejabat mengungkapkan kepada APF bahwa Afganistan menghadapi krisis fase 3 atau 4 darurat kekurangan pangan.
"Sangat mendesak bagi kami untuk bertindak secara efisien dan efektif untuk mempercepat dan meningkatkan pengiriman kami di Afganstan sebelum musim dingin memotong sebagian besar negara, dengan jutaan orang-termasuk petani, wanita, anak-anak dan orang tua- kelaparan di musim dingin yang membekukan." demikian penjelasan Direktur Jendral FAO Qu Dongyu. Seperti diketahui bahwa pada Agustus, kelompok islam garis keras Taliban menggulingkan rezim yang didukung AS, dan mendeklarsikan pemerintah sementara. Merekapun sudah bersumpah untuk memulihkan stabilitas. (Yetede)
Krisis Pangan Dialamai Oleh Seluruh Rakyat Afganistan
Badan-badan dibawah naungan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mengingatkan pada Senin (25/10) bahwa Afganistan berada dibawah ambang salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia karena lebih dari separuh penduduk di negara itu dihadapkan pada kekurangan pangan akut. Menurut mereka, lebih dari 22 warga Afganistan bakal menderita kerawanan pangan di musim dingin ini. Pasalnya kekeringan yang didorong oleh perubahan iklim semakin memperparah gangguan yang disebabkan oleh pengambilalihan negara yang kacau oleh Taliban.
"Musim dingin ini, jutaan warga Afganistan akan dipaksa untuk memilih antara imigrasi dan kelaparan, kecuali kita dapat meningkatkan bantuan penyelamatan jiwa kita," ujar Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (World Food Programme), David Beasley yang dikutip AFP. "Afganistan sekarang berada diantara krisis kemanusiaan terburuk di dunia-jika bukan yang terburuk- dan ketahanan pangan telah runtuh. Kita sedang menghitung mundur bencana total ditangan kita," kata Beasley dalam pernyataannya. Para pejabat mengungkapkan kepada APF bahwa Afganistan menghadapi krisis fase 3 atau 4 darurat kekurangan pangan.
"Sangat mendesak bagi kami untuk bertindak secara efisien dan efektif untuk mempercepat dan meningkatkan pengiriman kami di Afganstan sebelum musim dingin memotong sebagian besar negara, dengan jutaan orang-termasuk petani, wanita, anak-anak dan orang tua- kelaparan di musim dingin yang membekukan." demikian penjelasan Direktur Jendral FAO Qu Dongyu. Seperti diketahui bahwa pada Agustus, kelompok islam garis keras Taliban menggulingkan rezim yang didukung AS, dan mendeklarsikan pemerintah sementara. Merekapun sudah bersumpah untuk memulihkan stabilitas. (Yetede)
Krisis Pangan Dialamai Oleh Seluruh Rakyat Afganistan
Badan-badan dibawah naungan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mengingatkan pada Senin (25/10) bahwa Afganistan berada dibawah ambang salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia karena lebih dari separuh penduduk di negara itu dihadapkan pada kekurangan pangan akut. Menurut mereka, lebih dari 22 warga Afganistan bakal menderita kerawanan pangan di musim dingin ini. Pasalnya kekeringan yang didorong oleh perubahan iklim semakin memperparah gangguan yang disebabkan oleh pengambilalihan negara yang kacau oleh Taliban.
"Musim dingin ini, jutaan warga Afganistan akan dipaksa untuk memilih antara imigrasi dan kelaparan, kecuali kita dapat meningkatkan bantuan penyelamatan jiwa kita," ujar Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (World Food Programme), David Beasley yang dikutip AFP. "Afganistan sekarang berada diantara krisis kemanusiaan terburuk di dunia-jika bukan yang terburuk- dan ketahanan pangan telah runtuh. Kita sedang menghitung mundur bencana total ditangan kita," kata Beasley dalam pernyataannya. Para pejabat mengungkapkan kepada APF bahwa Afganistan menghadapi krisis fase 3 atau 4 darurat kekurangan pangan.
"Sangat mendesak bagi kami untuk bertindak secara efisien dan efektif untuk mempercepat dan meningkatkan pengiriman kami di Afganstan sebelum musim dingin memotong sebagian besar negara, dengan jutaan orang-termasuk petani, wanita, anak-anak dan orang tua- kelaparan di musim dingin yang membekukan." demikian penjelasan Direktur Jendral FAO Qu Dongyu. Seperti diketahui bahwa pada Agustus, kelompok islam garis keras Taliban menggulingkan rezim yang didukung AS, dan mendeklarsikan pemerintah sementara. Merekapun sudah bersumpah untuk memulihkan stabilitas. (Yetede)
Menteri LHK: RI Terbebas dari Duet Bencana
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyatakan, Indonesia berhasil mencegah bencana asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama dua tahun berturut-turut. Hal ini mematahkan prediksi banyak pihak tentang bencana ganda yang dialami Indonesia pada 2020 dan 2021. Kita sangat bersyukur, doa dan kerja keras kita dikabulkan Tuhan. Fakta yang terjadi justru sebaliknya, Indonesia bebas asap karhutla selama dua tahun global pandemi," jelas Siti, di Jakarta, Jumat (22/10). menurut Siti Nurbaya, kerja keras semua pihak dalam pencegahan karhutla selama pandemi Covid-19 di seluruh wilayah Indonesia membuahkan hasil. Indonesia berhasil memastikan tidak terjadi duet bencana, yakni tidak ada kebakaran besar yang kabut asap ditengah-tengah gelombang Covid-19. Berdasarkan data dan tren yang didapatkan dari pengecekan lapangan dan pemantauan satelit selama hampir 10 bulan terakhir, serta prediksi hingga akhir bulan ini, Indonesia telah dapat memastikan bebas dari duet bencana tahun ini.Mengacu data monitoring hotspot dari satelit Teraa/Aqua LAPAN sejak 1 Januari-20 Oktober 2021 dengan tingkat keyakinan (Confidence Level 80%), jumlah titik api (hotspot) 1.269 titik. Pada periode sama 2020 tercatat 2.665 titik, artinya (15,37%). Hingga akhir bulan ini, terutama di Sumatera dan Kalimantan yang merupakan titik utama penerapan solusi permanen pencegahan kathutla, secara umum dalam kondisi basah. (yetede)
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022




