Bencana
( 266 )Ratusan Hektar Lahan di Pantura Jateng Puso
Banjir di pesisir pantai utara Jawa Tengah akhir tahun 2022 hingga awal 2023 turut merendam 16.972 hektar lahan pertanian. Sebagian lahan yang terendam itu puso. Kerugian yang ditanggung petani mencapai Rp 22 miliar. Dampak banjir itu, kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng Supriyanto, Selasa (10/1) tidak mengganggu pasokan beras di Jateng. (Yoga)
Kerugian Kebakaran Kalianyar Rp 3 Miliar
Kebakaran melanda permukiman padat di Kelurahan Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat, Jumat (30/12/2022) malam. Sedikitnya 219 jiwa kehilangan tempat tinggal. Tiga orang luka akibat kejadian tersebut dan nilai kerugian ditaksir mencapai Rp 3 miliar. Sejumlah bantuan sudah mengalir ke korban kebakaran, seperti diungkapkan Sekretaris RW 005 Kelurahan Kalianyar Sudarto, Sabtu (31/12). (Yoga)
BNPB: 1.979 Juta Jiwa Mengungsi Akibat Awan Panas Semeru
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 1.979 jiwa mengungsi di 11 titik setelah adanya luncuran awan panas guguran (APG) dan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jatim, Minggu (4/122). Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari merinci 11 titik pengungsian itu meliputi 266 jiwa di SDN 4 Supiturang, 217 jiwa di Balai Desa Oro-oro Ombo, 119 jiwa di SDN 2 Sumberurip. “Kemudian, 228 jiwa di Balai Desa Sumberurip, 131 jiwa di Balai Desa Penanggal, 52 jiwa di Pos Gunung Sawur, 216 jiwa di Balai Desa Pasirian, 150 jiwa di Lapangan Candipuro, 600 jiwa di Kantor Kecamatan Candipuro dan sisanya di SMPN 2 Pronojiwo,” kata Muhari dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (4/12).
Gunung Semeru di wilayah Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jatim, memuntahkan awan panas guguran pada Minggu (4/12) sejak pukul 02.46 WIB sejauh tujuh kilometer. Awan panas guguran tersebut berlangsung menerus dan hingga pukul 06.00 WIB jarak luncur mencapai 7 km dari puncak ke arah Besuk Kobokan. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG Hendra Gunawan meminta agar tidak ada aktivitas dalam radius 8 km dari puncak dan sektoral arah tenggara (Besuk Kobokan dan Kali Lanang) sejauh 19 km dari puncak. “Status Gunung Semeru dinaikkan dari Siaga (Level 3) menjadi Awas (Level 4) terhitung hari Minggu 4 Desember 2022 pukul 12.00 WIB,” kata Hendra dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (4/12). (Yoga)
GEMPA CIANJUR Bantuan Rumah Rusak Terealisasi Pekan Depan
Pemkab Cianjur, Jabar, menargetkan bantuan dari pemerintah pusat untuk rumah rusak terdampak gempa mulai terealisasi Senin (5/12). Pemkab menyiapkan sejumlah mekanisme pencairan bantuan untuk penyintas. Hingga Kamis (1/12) sore, survei BNPB mencatat jumlah rumah rusak akibat gempa 24.107 unit. Sebanyak 5.631 di antaranya rusak berat, 7.273 rumah rusak sedang, dan 11.203 rumah rusak ringan. ”Saya sudah tanda tangani SK (surat keputusan) dan saya langsung usulkan kepada BNPB yang diteruskan ke Kemenkeu. Hari Senin sudah bisa direalisasikan, mudah-mudahan,” ujar Bupati Cianjur Herman Suherman. Jumlah rumah yang rusak itu belum final karena pendataan masih berjalan. Jumlah bantuan yang diberikan disesuaikan tingkat kerusakannya. Untuk rumah rusak ringan diberi bantuan Rp 10 juta, rusak sedang Rp 25 juta, dan rusak berat Rp 50 juta. Bantuan bagi rumah terdampak berasal dari pemerintah pusat. Warga yang rumahnya rusak ringan dan rusak sedang mendapatkan uang.
Sementara penyaluran bantuan rumah rusak berat terbagi dua mekanisme. Bagi warga yang mampu, pemerintah akan memberikan uang Rp 50 juta sebagai stimulan membangun rumahnya. Sementara penyintas yang berpenghasilan rendah akan dibuatkan rumah layak huni tipe 36 dan antigempa. Pemkab juga masih mengkaji rencana relokasi bagi warga yang daerahnya hancur. Menurut rencana, warga yang direlokasi berasal dari Sarampad, Cijedil, dan Cicadas. Ada tiga lokasi yang diusulkan menjadi daerah relokasi, yaitu kecamatan Cilaku, Mande, dan Pacet. Daerah di Cilaku, tepatnya di Desa Sirnagalih, seluas 2,5 hektar, Mande 4 ha, dan Pacet 10 ha. Mendagri Tito Karnavian mengeluarkan surat edaran tentang Bantuan Keuangan kepada Pemkab Cianjur dalam Rangka Penanganan Masyarakat Terdampak Bencana Alam. Gubernur, bupati, dan wali kota diharapkan memberikan bantuan keuangan kepada Pemkab Cianjur dari APBD sesuai kemampuan keuangan daerah, tertuang dalam surat edaran No 900.1.1/8479/SJ yang dikeluarkan Senin (28/11). Surat ditujukan kepada semua gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia. (Yoga)
Korban Gempa Darurat Air dan Sanitasi Bersih
Hingga hari keenam pascagempa, ada warga terdampak di Kabupa- ten Cianjur, Jawa Barat, yang mengungsi di tenda tak layak, bahkan di kandang kambing. Sebagian penyintas tak memiliki akses ke air bersih dan sanitasi memadai. Akibatnya, ribuan korban bencana kini tertular berbagai penyakit. Mimin (50), warga Kampung Sindangpalai RT 002 RW 002, Talaga, Cugenang, Cianjur, Sabtu (26/11) menceritakan, anaknya, Najla Jamila (11) gatal-gatal. Najla menunjukkan punggung tangan-nya yang terdapat titik-titik putih. Sesekali, anak perempuan itu juga batuk-batuk. Tim sukarelawan kesehatan sudah mengecek kondisi Najla di pengungsian. Petugas mengatakan, mereka belum memiliki obat untuk Najla dan akan dicarikan dulu. Sanitasi buruk di antaranya dihadapi Muhaimin (50), warga RT 003 RW 004, Gasol, Cugenang. Toilet sementara di dekat tendanya hanya untuk mandi. ”Kalau mau buang air besar di sawah,” ucapnya. Ivan Susanto (37) di Kampung Garogol, Cibulakan, Cugenang, kini menggunakan air PAM yang bocor dan tergenang di lubang aspal jalan untuk mandi sehari-hari.
Di tanah lapang seluas 10 x 25 meter, tenda darurat warga RT 002 dan RT 004 RW 006, Desa Pakuon, Sukaresmi, Cianjur, didirikan. Sekitar 500 orang tersebar di tenda-tenda yang cukup berdekatan di tanah lapang itu. ”Kalau nyuci-nyuci atau mandi di sungai,” kata Imas Nurhasanah (38), salah satu warga terdampak, kemarin. Sungai kecil yang dimaksud berjarak 50 meter dari posko darurat warga. Arusnya yang tak cukup deras dimanfaatkan untuk mandi, cuci, ataupun buang hajat di antara sampah yang mengambang. Kondisi tak laik ditemukan pula di sejumlah posko mandiri milik warga di RT 003. Nur Nurijah (38) beserta 14 kerabat, misalnya, memanfaatkan kandang kambing untuk hunian sementara. Untungnya majikan yang menawarkan (kandang kambing) ini,” kata Nur. ”Hingga saat ini, 1.576 warga di pengungsian mengidap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), 902 warga gastritis, dan 313 warga diare. Data ini dihimpun dari 12 kecamatan terdampak gempa Cianjur,” ujar Sekretaris Dinkes Kabupaten Cianjur Isman Faisal. Ia menyebutkan, penyakit-penyakit itu sering terjadi di pengungsian, utamanya pada kondisi lingkungan yang tidak bersih. Mayoritas juga terjadi pada anak-anak. (Yoga)
Bencana Ganda Perempuan di Pengungsian
Dunia memperingati Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November. Frida Kurniawati dkk dari badan Riset dan Inovasi Nasional menulis kerentanan perempuan akan kekerasan berbasis gender di lokasi pengungsian bencana alam. Setiap tahun, terjadi ribuan bencana alam di Indonesia dengan jumlah yang terus meningkat. Sepanjang 2021 saja tercatat ada 5.402 bencana alam yang terjadi diseluruh penjuru negeri. Baru-baru ini Indeks Risiko Dunia ( The World Risk Index) 2022 menobatkan Indonesia sebagai negara dengan resiko bencana tertinggi ketiga dari 193 negara, dengan skor 41,46. Dalam situasi bencana seperti itu, beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan, sebagai salah satau kelompok yang termajinalisasi secara struktural, adalah yang paling terkena dampak dan menghadapi tantangan paling berat untuk dapat memulihkan kehidupan mereka pasca-bencana. Salah satu dampak yang dihadapi perempuan pada saat terjadinya bencana adalah kekerasan berbasis gender (KGB). Perempuan lebih rentan menjadi korban KGB saat situasi bencana akibat adanya relasi gender yang timpang. (Yetede)
Distribusi Berjenjang Penyaluran Bantuan
Dengan tergopoh-gopoh, Irsyad Durahman berlari ke tenda pengungsi korban gempa Cianjur yang berada di Kampung Cibereum Kaler, Desa Cibereum, Kecamatan Cugenang, kemarin siang, sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah, pria 43 tahun itu mengabarkan bahwa ada mobil relawan yang datang untuk mengantar tenda dan selimut. Setelah empat hari, akhirnya kami punya tenda yang lebih layak dan ada selimut," kata Irsyad ketika ditemui di posko Kecamatan Cugenang. Pendistribusian berjenjang dari tingkat kabupaten hingga kantor desa itu menjadi upaya pemerintah agar penyaluran bantuan yang diminta kantor desa sebelum pukul 09.00 WIB. Setelah daftar permohonan bantuan diterima, posko bantuan di kabupaten segera mendiskusikan bantuan ke kecamatan hingga pukul 12.00 WIB. Pendistribusian bantuan untuk korban gempa Cianjur yang sudah berjalan selama ini memang dianggap merata. Terutama bagi pengungsi yang berada di perkampungan dan jauh dari jalan raya. (Yetede)
Zona Gempa dan Rumah Tahan Gempa
Gempa bumi M 5,6 yang mengguncang Cianjur dan Sukabumi, Jabar, pada Senin (21/11) dan menewaskan ratusan orang, bukanlah yang pertama dan bisa berulang. Bencana kali ini harus menjadi pelajaran memperkuat mitigasi agar gempa berikutnya tak menelan korban jiwa. Berdasarkan data BMKG, pusat gempa M 5,6 kali ini berada 10 km barat daya Kabupaten Cianjur dan 15 km timur laut Kota Sukabumi. Hiposenter gempa 10,152 km di bawah tanah. Catatan sejarah menunjukkan Kabupaten Cianjur Sukabumi, yang dilalui sesar darat Cimandiri, berulang kali dilanda gempa. Gempa kali ini pun bukan terkuat yang bisa terjadi di jalur sesar ini. Laporan Supartoyo dan tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dalam ”Katalog Gempa Bumi Merusak di Indonesia 1612-2014” menyebutkan, pada 10 Oktober 1834 terjadi gempa yang merusak bangunan dan memicu retakan jalan Bogor-Cianjur. Diperkirakan intensitas guncangannya mencapai VIII-IX modified mercalli intensity (MMI). Setelah kemerdekaan Indonesia, gempa bumi juga berulang kali melanda Cianjur-Sukabumi, pada 2 November 1969 (M 5,4), 26 November 1973 (M 4,3), dan 10 Februari 1982 (M 5,5).
Gempa bumi berkekuatan M 5,1 terjadi pada 12 Juli 2000. Supartoyo melaporkan, di Sukabumi 35 orang mengalami luka-luka, 365 bangunan rusak berat, dan 633 bangunan rusak ringan. Gempa juga menyebabkan kerusakan RS Cibadak. Rangkaian gempa di Cianjur-Sukabumi ini pada umumnya berkekuatan skala menengah. Bahaya gempa bumi yang sumbernya sesar darat bukan hanya kekuatannya, juga kedekatan sumber gempa dengan permukiman. Sekalipun kekuatannya relatif kecil, pusat gempa yang dangkal membuat efek guncangannya lebih kuat. Berdasarkan rekaman intensity meter BMKG, gempa di Cianjur-Sukabumi ini memiliki getaran terkuat VII dalam skala MMI, lebih kecil dibandingkan intensitas gempa pada 1834, sebagaimana dilaporkan Supartoyo. Skala MMI ini merekam efek guncangan gempa di tanah yang bisa direspons bangunan. Selain dipengaruhi kekuatan gempa dan kedalamannya, juga jalur penjalaran gelombang dan kondisi tanah setempat.
Risiko gempa bumi di jalur Cianjur-Sukabumi sebenarnya telah disadari sejak zaman Belanda. Menurut kesaksian astronom sepuh Bambang Hidayat (88), Belanda dulu melarang masyarakat di Cianjur dan Sukabumi membangun rumah tembok serta merekomendasikan penggunaan bahan kayu dan bambu. Di kawasan Cugenang, yang dalam gempa kali ini mengalami longsor dan banyak menelan korban jiwa, keberadaan hunian tidak diperbolehkan. Bambang yang pernah menjadi Kepala Observatorium Bosscha dan Guru Besar Departemen Astronomi ITB mengatakan, larangan itu kemungkinan terkait dengan keberulangan gempa. Setelah kemerdekaan, larangan membangun rumah tembok dianggap sebagai politik Belanda untuk merendahkan martabat masyarakat Indonesia. Bangunan tembok dianggap simbol kemakmuran, sebaliknya rumah kayu dan bambu simbol ketertinggalan. Padahal, rumah tembok lebih rentan terhadap guncangan gempa, sekalipun bisa direkayasa agar tahan gempa. Sementara itu, secara tradisional, masyarakat Indonesia sebenarnya telah memiliki kemampuan membangun rumah kayu dan bambu yang tahan gempa. (Yoga)
Jalur Berliku Distribusi Logistik
CIANJUR-Sejumlah kendaraan TNI hilir mudik di sepanjang jalan menuju Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu kemarin.Kendaraan itu berusaha membuka akses jalan ke sejumlah kampung di Cugenang yang tertutup tanah longsor dan reruntuhan bangunan akibat gempa Cianjur, Senin lalu. Pendiri Sekolah Relawan Bayu Gawtama, mengatakan banyak donatur dan relawan yang membawa bantuan untuk korban gempa terperangkap dalam kemacetan di jalur alternatif Desa Gasol, Kecamatan Cugenang. Mereka melintasi jalan alternatif ke Cugenang ini karena jalur utama ke kecamatan tersebut kembali ditutup akibat longsor susulan. Menurut Bayu, lokasi yang seharusnya mendapat bantuan adalah wilayah seperti Gasol dan beberapa wilayah di Cugenang. Sebab hampir seluruh bangunan di wilayah ini roboh akibat gempa. Warga setempat juga terpaksa mengungsi di tenda darurat yang dibuat secara mandiri. "Mereka juga kekurangan makanan," katanya. (Yetede)
Terhambat Evakuasi dan Bantuan
JAKARTA-Hamdan, 40 tahun, sepanjang hari berjibaku membantu membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan rumah yang ambruk akibat gempa, Jawa Barat, bermagnitudo 5,6 tersebut. Sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) 04 di Desa Cibereum, Cianjur, Jawa Barat, Hamdan merasa bertanggung jawab terhadap warga-warganya yang masih tertimbun tanah dan belum mendapat pertolongan, "Kami temukan 13 jenazah yang tertimbun dan diperkirakan masih banyak lagi," kata dia ketika ditemui pada Selasa, 22, November 2022. Hamdan menceritakan, yang yang berlangsung siang bolong pada Senin lalu itu merobohkan sedikitnya 50 rumah di kampungnya. Dari jumlah tersebut, terdapat enam titik kawasan terparah. Ketika gempa berlangsung, masyarakat mendengar deru dan dentuman keras, diiringi bumi yang bergoyang. Lalu ribuan bangunan runtuh seketika. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat 6.570 rumah rusak berat dan mengakibatkan 58.362 warga mengungsi. Jumlah korban juga terus bertambah dari 162 jiwa kini menjadi 268 jiwa, (Yetede)
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









