;
Tags

UMKM

( 688 )

Mataram Bergerak Jadi Kota Ekonomi Kreatif

KT3 26 May 2023 Kompas (H)

Kota Mataram tidak hanya menjadi pusat pemerintahan NTB. Kota berpenduduk 486.700 jiwa itu juga mulai bergerak menjadi kota ekonomi kreatif, yaitu pelaku UMKM tumbuh dan berinovasi. Hafizah (55) memukul pahat dengan palu besi, mengukir motif rumit pada kursi kayu di depannya dengan sangat rapi. Hafizah ditemui pada Jumat (19/5) saat memahat kerajinan cukli di rumahnya di Lendang Re, Kelurahan Sayang-sayang, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Lingkungan itu adalah sentra cukli NTB. Cukli adalah kerajinan kayu yang dipadukan dengan kerang. Kayu dipahat atau dicungkil pada motif yang telah dibuat. Pada cungkilan itu lalu dimasukkan atau ditempelkan potongan-potongan kerang sehingga terbentuk motif baru yang indah.

”Kami memulai kerajinan ini sejak 1990-an. Alhamdulillah, masih bertahan sampai saat ini dengan berbagai pasang surutnya,” kata Zaenudin (55), suami Hafizah, pemilik Anugerah Craft. Menurut Zaenudin, kerajinan cukli saat ini lesu. Berbeda jauh dengan tahun 1990-an hingga 2000-an di mana cukli begitu populer. Saat itu, kerajinan cukli juga diekspor. Paling banyak ke Jepang dalam bentuk asbak, piring, kotak-kotak kecil, serta kursi dan meja. Pesanannya hingga ribuan unit. ”Sekarang sudah jauh berkurang. Kondisi ini mulai terasa pasca peristiwa Bom Bali satu dan dua. Kemudian gempa Lombok 2018, hingga terakhir kemarin, pandemi,” katanya. Zaenudin optimistis usaha cukli membaik karena pandemi yang kian terkendali. Zaenudin terus berinovasi sesuai kebutuhan pasar. ”Di Mandalika, misalnya, ada balap MotoGP. Tahun lalu, kami sudah coba membuat produk cukli dengan tema MotoGP. Tahun ini, jumlahnya akan kami tingkatkan karena peminatnya pasti tinggi,” ujarnya.

Pemilik Maza Handcrafted Pearls and Jewerly di Jalan Gajah Mada, Luberty Budi Utama (43), yang akrab disapa Maza, mengatakan, sebelum pandemi, omzetnya Rp 100 juta per bulan. Namun, saat pandemi, turun 80 %. Ia mengikuti berbagai pelatihan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, termasuk menggunakan Tiktok untuk pemasaran. ”Produk kami juga bersertifikat dan bergaransi. Apalagi merek kami sudah memiliki paten sejak 2020 sehingga dipercaya pelanggan,” kata Maza. UMKM di bidang kuliner, Sate Rembiga Goyang Lidah, berinovasi membuat sate kemasan sejak 2021. Pratiwi Wulandari, penanggung jawab produksi Sate Rembiga Goyang Lidah kemasan, mengatakan, sate rembiga dulu hanya tahan seminggu. Kini, sate rembiga tahan sampai enam bulan. Kabid UMKM Dinas Perindustrian, Koperasi, UKM Kota Mataram Mamluatul Chair mengatakan, ada 5.000 UMKM di Kota Mataram. Dukungan kepada UMKM dimulai dari bantuan modal, peningkatan kapasitas SDM dan produk, pelibatan dalam pameran, hingga fasilitasi legalitas usaha sehingga Mataram ke depan bisa menjadi kota ekonomi kreatif seperti kota-kota besar di daerah lain di Indonesia. (Yoga)


MENDULANG CUAN DI PANTAI HINGGA RUANG TERBUKA KOTA MATARAM

KT3 26 May 2023 Kompas

Nurhayati (52) menawarkan dagangan kepada setiap orang yang melintas di depan lapaknya. Mulai pukul 06.00 Wita, Minggu (21/5) Nurhayati membuka lapak di kawasan Jalan Udayana, Kota Mataram. Setiap Minggu, di salah satu jalur utama ibu kota provinsi NTB itu berlangsung kegiatan hari bebas kendaraan bermotor (car free day/CFD). Sejak setahun terakhir, Nurhayati datang ke acara CFD membawa berbagai keripik, seperti keripik bebela atau pegagan, keripik pare, dan keripik bayam. ”Semua keripik ini saya produksi sendiri. Selain berjualan di rumah, saya juga datang ke Udayana setiap minggu,” kata Nurhayati yang berdomisili di lingkungan Jempong, kawasan eks Bandara Selaparang. Acara CFD di Jalan Udayana yang merupakan ruang terbuka hijau di Kota Mataram selalu ramai. Sejak dibuka dari pukul 06.00 hingga 09.00 Wita, pengunjungnya bisa ratusan hingga ribuan orang. Tidak hanya untuk berolahraga seperti jalan kaki, lari, dan bersepeda, warga yang dating juga untuk berburu kuliner, kerajinan, dan produk lainnya.

CFD menjadi tempat yang strategis bagi pelaku UMKM memasarkan produk mereka, seperti Nurhayati. Apalagi untuk usaha, seperti bagi yang tidak memiliki gerai atau toko sendiri untuk usaha kuliner lainnya. Juga bagi mereka yang produknya belum masuk ke toko oleh-oleh. Karena itu, Nurhayati tidak mau melewatkan acara CFD di Udayana. Ibu lima anak itu sejak Kamis hingga Jumat memproduksi keripik yang bahan bakunya ditanam sendiri di pekarangan rumahnya. Lalu pada hari Sabtu, ia dibantu anaknya mengemas keripik itu. ”Hitungan harinya sudah pas, biar keripiknya tetap renyah. Tetapi, sebenarnya, sampai satu bulan pun (keripik itu) bisa tetap renyah,” kata Nurhayati yang sudah lebih dari tujuh tahun berjualan keripik. Setiap hari Minggu, ia membawa 50 bungkus keripik ke Udayana. Satu bungkus keripik dijual Rp 10.000. Kadang, keripiknya ludes terjual. Kadang masih tersisa, lalu ia jual kembali saat berada di rumah. Dengan begitu, setiap minggu, ia bisa mendapat omzet sekitar Rp 500.000.

Deny Hartawan (38), warga Kebon Talo Jaya, Ampenan Utara, Kota Mataram, sering ke acara CFD bersama keluarga untuk berburu berbagai produk jualan UMKM. ”Paling sering kuliner, seperti jajanan tradisional. Anakanak saya suka. Kadang beli produk lain, seperti hari ini (saya) beli sepatu juga,” ujar Deny. Menjelang sore hingga malam, kawasan Udayana kembali ramai. Lapak-lapak sate bulayak mulai dibuka. Sate bulayak adalah sate daging hingga jeroan sapi yang disantap bersama lontong berbungkus daun enau muda. Selain di Udayana, pelaku usaha juga memanfaatkan kegiatan-kegiatan lain di Taman Sangkareang, Taman Loang Baloq, serta di ruang terbuka hijau Pagutan dan Selagas untuk berjualan. Pelaku usaha di Kota Mataram juga memanfaatkan pesisir pantai yang tak pernah sepi pengunjung untuk mendulang cuan. Salah satunya adalah kawasan Pantai Ampenan, 5 km arah barat kawasan Udayana. Di Pantai itu ada pasangan suami istri Muhyidin (64) dan Sahram (54) yang setiap hari berjualan kudapan tradisional, seperti lupis dan serabi. Di Pantai Ampenan, kedua kudapan tersebut dinikmati sambal melihat debur ombak pagi. Setiap hari, mereka mengolah 2 kg tepung beras untuk serabi. Sementara untuk lupis, dari 1,5 kg beras ketan. Jualan mereka selalu ludes oleh pengunjung kawasan Pantai Ampenan. Omzetnya setiap hari sekitar Rp 300.000. (Yoga)


Kemitraan UMKM Masih Rendah

KT3 24 May 2023 Kompas

Kesiapan UMKM untuk kemitraan dinilai masih rendah. UMKM masih cenderung berjalan sendiri-sendiri dan sulit masuk dalam kemitraan untuk rantai pasok utama industri. Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Kerakyatan Muhammad Riza Damanik mengemukakan, jumlah UMKM di Indonesia sekitar 64 juta unit usaha. Namun, partisipasi kemitraan UMKM masih cenderung rendah. Sebagian besar UMKM merupakan usaha mikro yang sangat rentan dengan perubahan lingkungan. Data dari Bank Pembangunan Asia 2021, partisipasi kemitraan UMKM Indonesia dengan rantai produksi global baru 4,1 % dari total unit usaha. Bappenas pada 2020 mencatat, jalinan kemitraan usaha menengah kecil dan usaha menengah besar baru 7 %.

Persoalan mendasar selama ini, lanjut Riza, usaha yang dijalankan UMKM cenderung sendiri-sendiri dalam skala terbatas sehingga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas usaha tidak berjalan dengan baik. Di sisi lain, praktik kemitraan dengan industri di masa lalu kerap hanya menguntungkan usaha besar, sementara alih teknologi berjalan lambat. Kemitraan industri dengan UMKM cenderung bukan mendorong UMKM tersebut untuk masuk ke rantai pasok atau menghasilkan produk turunan dari industri. ”Apabila UMKM terus dibiarkan tumbuh sendiri-sendiri, tidak terhubung dengan rantai pasok industri  nasional dan BUMN, maka sulit untuk bisa naik kelas, apalagi mau masuk ke dalam pasar global,” kata Riza, saat dihubungi, Selasa (23/5) di Jakarta. (Yoga)


SISI LAIN KTT ASEAN, Seberangi Lautan demi Meriahkan Pesta Rakyat

KT3 13 May 2023 Kompas (H)

Sejumlah perempuan perajin di Kabupaten Lembata, NTT, tampak piawai menenun di bawah tenda yang berdiri di balik puluhan gerai di pameran Pesta Rakyat di Lapangan Waekesambi, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Minggu (7/5). Terhalang di sudut lapangan, letak tenda nyaris tidak terlihat pengunjung kala memasuki pameran. Diadakan untuk memanggungkan budaya dan karya kreatif masyarakat lokal, pameran itu turut memeriahkan KTT Ke-42 ASEAN. Proses pembuatan tenun ikat dimunculkan dalam pameran untuk mengangkat kekayaan budaya tenun di NTT. Diperkirakan, ada 700 motif tenun di NTT. ”Supaya tamu dari luar negeri bisa menyaksikan proses ini,” ujar Bernadus Keytimu, koordinator kelompok tenun dari Lembata. Untuk menghasilkan satu helai kain tenun ikat alami ukuran 1x2 meter membutuhkan waktu hampir dua tahun. Satu helai dibanderol paling murah Rp 30 juta.

Tingginya semangat memperkenalkan tenun mendorong Bernadus bersama sembilan perempuan penenun dating jauh-jauh dari Lembata ke Labuan Bajo. Lembata ada di seberang timur Pulau Flores, sedang Labuan Bajo di sisi barat Flores, berjarak 723 kilometer. Mereka berlayar selama 3,5 jam ke Pelabuhan Larantuka di Kabupaten Flores Timur, dilanjutkan dengan kendaraan ke Maumere, Kabupaten  ikka, selama 4 jam. Lalu, menumpang kapal ke Labuan Bajo selama 15 jam. Ironis, tiba di Labuan Bajo, mereka tidak kebagian stan pameran. Mereka lantas menyewa tenda dengan tarif Rp 400.000 per hari. Di tenda itu pula, mereka tidur lantaran semua hotel dan penginapan di Labuan Bajo terisi tamu KTT Ke-42 ASEAN. Pameran itu pun hanya digelar satu hari. ”Kami datang jauh-jauh, tetapi pameran hanya  dibuka satu hari. Kalau seperti ini, bagaimana orang bisa melihat produk kami,” kata Bernadus mengungkapkan kekecewaan.

Di stan pameran lain, Erlin Owa (33) bersama dua rekannya datang dari Kabupaten Nagekeo, NTT. Membawa hasil olahan berupa kacang goreng, keripik pisang, dan pisang cokelat, mereka datang menggunakan kapal dengan waktu tempuh 19 jam. Mereka juga tidak kebagian stan sehingga harus menyewa tenda. ”Kami tidak terlalu peduli berapa banyak uang yang kami dapatkan dari pameran ini, tetapi yang paling penting adalah produk kami diketahui orang,” ujarnya. Tapi, Bony Oldam Romas yang menjabat Ketua Kadin Kabupaten Manggarai kebagian stan. Sebanyak empat pengusaha kopi ikut. Selama momentum KTT ASEAN berlangsung, ia memperkirakan penghasilan setiap pengusaha kopi mencapai lebih dari Rp 20 juta. Ia berharap pameran seperti itu dapat digelar lebih dari satu hari agar ruang pengenalan lebih lama. Waktu pelaksanaan pameran yang hanya satu hari dinilai tidak cukup. Padahal, ribuan orang tengah berkunjung ke Labuan Bajo. (Yoga)


Harga Beras Tekan Usaha Warung Nasi

KT3 05 May 2023 Kompas

Tingginya harga beras turut menekan pedagang warung nasi. Sejumlah pedagang yang mayoritas berskala UMKM serta melayani pekerja sektor informal sebagai pelanggan memilih untuk menanggung kenaikan harga. Namun, sebagian lainnya terpaksa menaikkan harga atau mengurangi porsi nasi yang dijual. Berdasarkan data Panel Harga Bapanas per Kamis (4/5) rata-rata nasional harga beras medium ditingkat pedagang eceran senilai Rp 11.900 per kg, sedangkan beras premium Rp 13.620 per kg. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, rata-rata nasional harga beras medium Rp 10.810 per kg dan beras premium Rp 12.340 per kg. Sejumlah pelaku UMKM, khususnya warung nasi, mengandalkan beras sebagai bahan baku.

Mereka antara lain pelaku usaha warung tegal, nasi padang, nasi goreng, nasi uduk, nasi kuning, nasi kucing, dan nasi rames. Ada juga dagangan lain yang mengandalkan beras, seperti ketupat, lontong, dan arem-arem. Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorinny, Kamis (4/5), mengatakan, sejumlah pelaku UMKM pedagang warung nasi sudah menaikkan harga. Dia mencontohkan, terdapat pedagang yang menaikkan harga nasi dari Rp 3.000 per porsi pada tahun lalu jadi Rp 4.000 per porsi. Adapun bagi pedagang yang tidak menaikkan harga, pilihannya adalah mengurangi porsi nasi yang dijual. Oleh sebab itu, untuk mengatasi kesulitan pedagang warung nasi, Hermawati berharap pemerintah dapat meredam harga beras, karena ada tambahan pasokan dari impor. Pasokan ini diharapkan dapat segera membanjiri pasar. (Yoga)


Semangat Pagi di Pasar Darfuar

KT3 30 Apr 2023 Kompas

Sebuah minibus berwarna biru perlahan memasuki area terminal yang berada di sisi utara Pasar Darfuar di Distrik Samofa, Biak Numfor, Papua, Rabu (19/4). Sejumlah buruh angkut yang telah menunggu bergegas mendekat ke minibus. Salah seorang di antaranya naik ke atap untuk menurunkan muatan satu per satu. Barang-barang yang dikemas dalam karung tersebut adalah milik mama-mama Papua yang akan berjualan di Pasar Darfuar. Setelah diturunkan, karung-karung tersebut kemudian dipindahkan ke troli. Sebagian besar adalah hasil kebun, seperti ubi jalar, ubi kayu, cabai, tomat, pisang, dan pinang. Buruh angkut lantas mendorong troli menuju lapak yang ditempati para mama Papua berjualan di dalam pasar. Untuk sekali mengantarkan barang, para buruh angkut menerima upah Rp 5.000 dengan jarak hanya 50 meter dari lokasi bongkar muat menuju ke lapak-lapak pedagang di dalam pasar.

Pasar Darfuar merupakan pasar tradisional yang juga berperan sebagai pasar induk untuk memasarkan hasil bumi dan komoditas pangan yang dihasilkan oleh warga setempat. Para mama Papua inilah yang membawa sendiri dan menjual langsung komoditas pertanian dan perkebunan mereka di pasar. Mereka mulai berjualan sejak pagi hingga malam atau pulang setelah barang-barang laku terjual. Ina Krar (52) menuturkan, dirinya sejak pukul 07.00 sudah berada di pasar. Ina yang berjualan sayur dan pinang sering berjualan hingga menjelang petang. Terkadang ia baru pulang setelah pukul 19.00 ketika hasil kebun yang dibawanya belum laku terjual. (Yoga)


Mendorong UMKM Masuk Rantai Pasok Industri

KT3 25 Apr 2023 Kompas

Dace (44) akhirnya putus hubungan dengan tengkulak. Ia tak lagi menerima ijon dari orang-orang yang mengelilingi Desa Tanjungsari di Kabupaten Bogor, Jabar, untuk menawar kopi para petani dengan harga murah, berkat program KUR mikro berbasis kluster yang diterima Dace secara simbolis dari Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Rabu (12/4). Ia membawa pulang pinjaman Rp 50 juta yang bisa dipakai hingga setahun ke depan untuk mengolah 2 hektar kebun kopi robusta miliknya. ”Ini untuk tambah modal sehari-hari urus kopi. KUR ini sangat membantu untuk beli bibit sama panen. Kalau pakai modal sendiri, petani enggak akan bisa,” kata Dace saat ditemui di selasar kantor Kemenkop dan UKM di Jakarta. Dana KUR itu ia dapat dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Dalam program KUR berbasis kluster itu, Dace dinaungi PT Bogor Kopi Indonesia. Perusahaan itulah yang satu-dua tahun terakhir menggantikan peran tengkulak langganannya sebagai pembeli tetap (offtaker) hasil panen Dace.

Dace hanyalah satu dari sekian petani yang kini menjadi pemasok biji hijau bagi PT Bogor Indonesia. Realino Daru, penyelia pemasaran BNI Bogor, menyebutkan sedikitnya puluhan petani kopi di desa-desa sekitar Tanjungsari bermitra dengan PT Bogor Kopi Indonesia. Seiring waktu hingga pengajuan KUR, lanjut Realino, para petani itu dibina agar mampu meningkatkan kualitas panen kopi sesuai kebutuhan pabrik. ”Standar kopi petani binaan ini jadi grade A. Kapasitas produksinya juga stabil, bisa 2 ton per tahun,” ujarnya. Program KUR berbasis kluster tahun ini makin didorong pemerintah melalui Kemenkop dan UKM. Lewat skema ini, pelaku UMKM, termasuk petani, diharapkan mampu memperkuat peran dalam rantai pasok industri sebagai penyedia bahan baku. Teten Masduki yakin, jika UMKM menjadi bagian dari industri, kesempatan untuk meningkatkan skala ekonomi bisnis akan lebih besar. Begitu pula kualitas dan standar produknya. (Yoga)


Penciptaan Wirausaha Baru di Pamekasan

KT3 20 Apr 2023 Kompas

Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jatim, mendorong adanya 10.000 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau wirausaha baru. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Pamekasan Harisandi, di Pamekasan, Rabu (19/4) mendukung komitmen pemerintah tersebut. ”Berbagai program dilakukan agar UMKM bisa tumbuh setelah pandemi Covid-19 dan sedang menghadapi resesi ekonomi global,” katanya. (Yoga)

Bersemi karena Kenaikan Konsumsi

KT1 20 Apr 2023 Tempo

Sepekan menjelang Lebaran, Nuraeni, 47 tahun, sibuk menyelesaikan pembuatan tunik terakhirnya. Pakaian wanita itu jadi produk kesembilan yang ia buat sejak dua bulan lalu. "Semuanya pesanan buat Lebaran," tuturnya kepada Tempo, kemarin. Penjahit asal Brebes ini tak menyangka bisa memproduksi pakaian sebanyak itu di rumahnya. Sejak dua bulan lalu, permintaan masuk bergantian. Kondisi tahun ini jelas jauh berbeda dengan Ramadan tiga tahun terakhir, di mana Nuraeni mengaku sangat sulit mendapatkan order jahitan. "Waktu pandemi, (membeli atau menjahit) baju kan bukan pilihan utama masyarakat."

Kenaikan permintaan juga dirasakan pengusaha bingkisan Lebaran alias hampers, Dinda Audriene. Selama Ramadan ini, pesanan paket makanan dan minuman berdatangan hingga wanita berusia 30 tahun ini mengantongi omzet lebih dari Rp 30 juta. "Angkanya naik berkali lipat dibanding tahun lalu," ujarnya. Selain karena ada kenaikan daya beli, pertumbuhan penjualan tersebut berkat upaya Audriene mengembangkan pasarnya. Akun instagram @jajandirumah yang ia gunakan untuk berdagang menjangkau semakin banyak pengguna. Tahun ini dia bahkan menerima pesanan pembuatan hampers dari salah satu BUMN.

Ramadan kali ini diperkirakan menjadi musim semi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menggenjot pemasukan, setelah tiga tahun terakhir usaha mereka lesu dihantam pandemi. Head of Mandiri Institute, Teguh Yudo Wicaksono, mengatakan momentum Ramadan selalu memicu kenaikan permintaan dan konsumsi. (Yetede)


PEMBERDAYAAN WARGA, Masyarakat Jadi Produsen Sandal Hotel

KT3 13 Apr 2023 Kompas

Masyarakat permukiman padat penduduk di Kampung Bedeng, Jalan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, diberdayakan melalui pelatihan pembuatan sandal hotel. Sandal tersebut disalurkan ke hotel-hotel yang telah menjalin kerja sama dengan Kemensos. Mensos Tri Rismaharini mengatakan, dirinya diminta untuk memperhatikan permukiman padat penduduk dan kumuh di Kampung Bedeng.Bantuan berupa pelatihan menjahit dan pembuatan sandal hotel kemudian diberikan ke warga melalui Koperasi Cempaka Sejahtera Berkemajuan. Ada 20 warga yang bersedia dilatih. Pelatihan berlangsung selama lima hari, 24-28 Maret 2023. Selain pelatihan, warga juga diberi bantuan empat mesin jahit dan bahan pembuatan sandal senilai Rp 45,5 juta. Sebanyak 20 penerima manfaat program pemberdayaan ini juga menerima bantuan modal usaha senilai Rp 30.592.000 serta tiga motor senilai Rp 97.522.800. Bantuan itu agar digunakan membuat usaha kuliner dan toko kelontong.

”Kenapa kita bentuk koperasi? Karena nanti kalau koperasi ini ada keuntungan, maka keuntungan juga diberikan kepada anggotanya. Jadi, mereka menerima keuntungan setiap tahun atau akhir tahun setelah RAT (rapat anggota tahunan) sesuai UU Perkoperasian,” kata Risma, di Jakarta, Rabu (12/4/2023). Sandal hotel yang diproduksi selanjutnya didistribusikan ke hotel-hotel di bawah naungan PT Prima Hotel Indonesia. Perusahaan tersebut membawahi sembilan hotel di Jakarta dan Tangerang, antara lain Ashley dan Yellow Bee. Direktur Operasional PT Prima Hotel Indonesia Ade Noerwenda mengatakan, perusahaannya membutuhkan 50.000 pasang sandal per bulan. Sebanyak 10 % dari kebutuhan itu akan dibeli dari produsen di Kampung Bedeng. (Yoga)