UMKM
( 686 )Target Tinggi Pembiayaan UMKM
JAKARTA-Perbankan terus berupaya meningkatkan porsi penyaluran kredit bagi usaha UMKM. Bank Indonesia melaporkan, hingga akhir 2022, total penyaluran kredit segmen UMKM sebesar Rp1.351,2 triliun, naik 10,45% dibanding pada 2021. Berdasarkan skala usaha mikro mencatat porsi terbesar, yaitu Rp 532,72 triliun, diikuti usaha kecil sebesar Rp466,71 trilun dan usaha menengah sebesar Rp351,82 triliun. Adapun berdasarkan peruntukannya, sebanyak Rp 1.015,6 triliun digunakan untuk modal kerja dan Rp335,6 triliun untuk investasi. Bank dengan penyaluran kredit UMKM terbesar adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tk atau BRI. Sepanjang 2022, BRI menyalurkan kredit secara konsolidasi senilai Rp1.139,08 triliun, dimana sebanyak 84,74 % merupakan kredit UMKM (Yetede)
Teknologi Majukan Perempuan NTT
Penggunaan teknologi ikut mendorong kemajuan usaha di Nusa Tenggara Timur. Beragam teknologi tersebut dipamerkan dalam acara Pameran Teknologi Ramah Perempuan di Kota Kupang, NTT, Selasa (7/2/2023), yang digelar Yayasan Penguatan Lingkar Belajar Komunitas Lokal. Adriana Nomleni, staf Yayasan Penguatan Lingkar Belajar Komunitas Lokal, mengatakan, teknologi mampu membuat perempuan NTT menjadi lebih produktif. (Yoga)
ASEAN Tourism Forum
Sejumlah UKM binaan Bank Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan Travel Exchange (Travex) di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Kamis (2/2). Bursa pariwisata yang mempertemukan sesama pelaku usaha pariwisata ini diikuti perwakilan dari 29 negara. Travex adalah salah satu agenda utama ASEAN Tourism Forum (ATF) 2023 yang diselenggarakan di Yogyakarta hingga 5 Februari 2023. (Yoga)
Mendorong Kinerja UMKM
Kehadiran sejumlah kebijakan yang mendukung usaha mikro kecil dan menengah mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor bisnis itu. Tak hanya bank, perusahaan teknologi finansial pun turut menyatakan ketertarikannya. Kabar baik ini tentunya memberi angin segar bagi UMKM di Tanah Air di tengah keterpurukan akibat pandemi Covid-19. Sebagaimana yang kita ketahui, UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional sangat rentan dengan kebangkrutan. Modal yang minim diikuti segmen pasar terbatas menjadi persoalan besar dalam mengembangkan usaha ini. Berdasarkan survei dari The United Nations Development Programme (UNDP) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI yang melibatkan 1.180 responden para pelaku UMKM, diketahui selama periode awal pandemi yaitu 2020—2021 lebih dari 48% UMKM mengalami masalah bahan baku. Akibatnya, sebanyak 77% usaha mikro, kecil, menengah mengalami penurunan pendapatan, dan 88% UMKM terjadi kemerosotan permintaan produk. Bahkan sebanyak 97% UMKM mengalami penurunan nilai aset.
Namun, seiring dengan pelonggaran mobilitas masyarakat diikuti dengan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah dengan melibatkan perbankan nasional, UMKM mulai menunjukkan perbaikan. Saat ini, sekitar 84,8% UMKM yang tadinya terpuruk sudah kembali beroperasi normal. Ada beberapa faktor penyebab UMKM mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses kredit dari bank dan lembaga keuangan lainya, antara lain karena tidak mempunyai atau agunan yang dimiliki tidak cukup, dan keterbatasan akses informasi ke perbankan seperti pola pembiayaan. Guna membantu pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah, pemerintah memberi kelonggaran kepada sektor tersebut salah satunya adalah perpanjangan restrukturisasi kredit. Sektor UMKM tercatat mendapatkan kucuran kredit Rp1.335 triliun, naik 0,85% secara bulanan pada November 2022.
Investor Wajib Gandeng UMKM, Capai Kontrak Rp 22,6 Triliun
Pemerintah mewajibkan pengusaha besar untuk menggandeng pelaku UMKM lokal dalam rantai pasoknya untuk meningkatkan efek pengganda dari investasi terhadap ekonomi daerah. Kemitraan substantif itu diharapkan dapat mendorong UMKM untuk naik kelas dan menyerap lebih banyak tenaga kerja. Berdasarkan data Kementerian Investasi, sejak pertama diterapkan pada April 2021 sampai 2022, nilai kontrak kemitraan investor besar dengan UMKM lokal mencapai Rp 22,6 triliun dengan total 1.178 kesepakatan.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi Yuliot mengatakan, dengan mewajibkan investor besar bekerja sama dengan UMKM lokal, efek pengganda dari investasi yang masuk terhadap roda ekonomi daerah bisa lebih maksimal. Dengan demikian, investasi tidak hanya menguntungkan korporasi besar yang menanamkan modal serta mitra usahanya di ibu kota seperti praktik yang selama ini berlaku, tetapi juga menguntungkan pelaku usaha kecil di daerah tujuan investasi. ”Dampaknya, sepanjang 2022, UMKM mendapat tambahan omzet Rp 4,5 triliun dari investasi yang masuk. Selain menjadi modal untuk bertumbuh dan ekspansi, kerja sama itu juga membukakan pasar yang pasti bagi UMKM,” kata Yuliot, Kamis (26/1). (Yoga)
KEN 2023 Dimeriahkan Kegiatan Budaya dan Pameran UMKM
JAKARTA, ID - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno mengungkapkan, Kharisma Event Nusantara (KEN) 2023 siap dimeriahkan oleh 110 kegiatan dalam bentuk pertunjukan seni dan budaya hingga pameran produk UMKM.“Kharisma Event ini merangkum 110 event unggulan dan merupakan hasil kurasi dari hampir 300 event yang diusulkan oleh Dinas Pariwisata Provinsi. Jadi Kemenparekraf akan meluncurkan 110 event terpilih di teater IMAX Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah dengan tajuk ‘Kharisma Event Nusantara Festival’,” ungkap Sandiaga dalam diskusi daring, Selasa (24/1/2023). Lebih lanjut, Sandiaga juga mengatakan bahwa akan ada 10 event terbaik dari 34 provinsi di Indonesia yang akan hadir di acara Kharisma Event Nusantara. Sandiaga mengatakan bahwa hal ini juga bertujuan untuk mempromosikan KEN ke dalam lingkup Bangga Berwisata di Indonesia. (Yetede)
Ekspor Produk UMKM ke ASEAN Terbuka
Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (Hipmikindo) membuka peluang dan memfasilitasi ekspor bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan target pasar Asia Tenggara. Ketua Umum DPP Hipmikindo Syahnan Phalipi, Selasa (17/1) di Banjarmasin, Kalsel, mengatakan, pendekatan untuk ekspor ke kawasan ASEAN dengan merangkul diaspora Indonesia. (Yoga)
Sinergi untuk Perkuat Pasar Produk UMKM
Kemendag bersinergi dengan lembaga pembiayaan memperkuat modal usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mengembangkan pasar bagi produknya. ”Kemendag akan menggandeng perbankan nasional membantu pembiayaan UMKM melalui program kredit usaha rakyat. Kemendag juga menjalin komunikasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia,” ujar Mendag Zulkifli Hasan, Sabtu (7/1) di Bandar Lampung. (Yoga)
ANCAMAN RESESI Prioritaskan pada yang Paling Membutuhkan
Memasuki tahun 2023, Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva melalui siaran di CBS, Minggu (1/1) pagi, mengingatkan, sepertiga negara di dunia akan mengalami resesi. Penyebabnya adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi di tiga kekuatan ekonomi terbesar dunia, yaitu AS, China, dan Uni Eropa. China bahkan diprediksi hanya tumbuh 3,2 %, terendah dalam 40 tahun terakhir. Negara-negara yang tidak mengalami resesi pun akan merasa seperti memasuki resesi dan akibatnya akan dirasakan oleh ratusan juta orang. Ekonomi Indonesia tahun 2023 diperkirakan tumbuh 4,7-5 % dengan defisit APBN menjadi -2,84 %. Sementara BI menargetkan inflasi 2-4 %, seperti sebelum pandemi Covid-19. Indonesia pada 2023 masih memiliki peluang menjaga pertumbuhan berkualitas.
Tantangan ada pada sektor mikro. Menjaga konsumsi masyarakat harus dilakukan lebih produktif, selain memberi bantuan sosial. Jumlah 64 juta UMKM yang merupakan 99,9 % total unit usaha menjadi sumber pertumbuhan dan konsumsi. Kewajiban penggunaan produk dalam negeri bagi lembaga pemerintah di tingkat pusat dan daerah dipastikan memberi tempat pada UMKM setempat. Jika kualitas dan kuantitas produk belum memenuhi syarat, menjadi tugas pemda membantu, termasuk agar UMKM menguasai teknologi digital, terutama perempuan pengusaha. APBN yang mendapat durian runtuh dari ekspor komoditas layak digunakan untuk terus menyubsidi bunga kredit modal kerja dan investasi UMKM dengan prosedur lebih mudah. UMKM di bidang yang merupakan keunggulan komparatif dan kompetitif Indonesia perlu didorong, seperti di sektor pangan, industri kecil, dan pertambangan rakyat. UMKM menjadi pencipta pendapatan dan lapangan kerja yang menopang konsumsi masyarakat. (Yoga)
Realisasi Dana Bergulir LPBD KUMKM 2022 Capai 100%
JAKARTA, ID – Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB KUMKM) telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp 1,8 triliun hingga akhir Desember 2022. Dari jumlah tersebut, realisasi penyaluran ke koperasi sektor riil mencapai 24,5% dari target sebesar 15%. "Akhir Desember 2022 sudah terealisasi Rp 1,8 triliun atau 100% tersalurkan. Untuk koperasi sektor riil sudah terealisasi 24,5%. Namun saya belum puas, tahun depan harus lebih tinggi,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam Refleksi 2022 dan Outlook 2023, Senin (26/12/2022). Pemerintah mendorong agar koperasi menjadi inkubator bisnis bagi UMKM. Oleh karena itu, pemerintah menugaskan LPDB agar menjadi pihak yang memperkuat pendanaan bagi koperasi. Pada saat yang sama, LPDB juga dapat berperan untuk membiayai UMKM. “Karena ini bagian dari arahan Presiden Joko Widodo lewat Menteri Keuangan supaya pembiayaan ini baik KUR (Kredit Usaha Rakyat) maupun LPDB agar memperkuat sektor produksi, supaya kita nggak dikuasai produk impor,” tandas Teten. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Harga Batu Bara Acuan, Rekor Emas Hitam Terhenti
09 Dec 2021 -
Visa Luncurkan Layanan Konsultasi Kripto
09 Dec 2021 -
UE Ingin Bentuk Kekuatan Dagang Baru
09 Dec 2021 -
Mati Hidup Garuda
13 Dec 2021









