Semangat Pagi di Pasar Darfuar
Sebuah minibus berwarna biru perlahan memasuki area terminal yang berada di sisi utara Pasar Darfuar di Distrik Samofa, Biak Numfor, Papua, Rabu (19/4). Sejumlah buruh angkut yang telah menunggu bergegas mendekat ke minibus. Salah seorang di antaranya naik ke atap untuk menurunkan muatan satu per satu. Barang-barang yang dikemas dalam karung tersebut adalah milik mama-mama Papua yang akan berjualan di Pasar Darfuar. Setelah diturunkan, karung-karung tersebut kemudian dipindahkan ke troli. Sebagian besar adalah hasil kebun, seperti ubi jalar, ubi kayu, cabai, tomat, pisang, dan pinang. Buruh angkut lantas mendorong troli menuju lapak yang ditempati para mama Papua berjualan di dalam pasar. Untuk sekali mengantarkan barang, para buruh angkut menerima upah Rp 5.000 dengan jarak hanya 50 meter dari lokasi bongkar muat menuju ke lapak-lapak pedagang di dalam pasar.
Pasar Darfuar merupakan pasar tradisional yang juga berperan sebagai pasar induk untuk memasarkan hasil bumi dan komoditas pangan yang dihasilkan oleh warga setempat. Para mama Papua inilah yang membawa sendiri dan menjual langsung komoditas pertanian dan perkebunan mereka di pasar. Mereka mulai berjualan sejak pagi hingga malam atau pulang setelah barang-barang laku terjual. Ina Krar (52) menuturkan, dirinya sejak pukul 07.00 sudah berada di pasar. Ina yang berjualan sayur dan pinang sering berjualan hingga menjelang petang. Terkadang ia baru pulang setelah pukul 19.00 ketika hasil kebun yang dibawanya belum laku terjual. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023