UMKM
( 686 )Semesta Berpesta Bantu UMKM Kuliner di Bekasi Raup Cuan
BEKASI,ID-Festival Musik Berpesta tidak hanya menghadirkan deretan musisi ternama Tanah Air. Sejumlah UMKM kuliner juga meraup cuan saat penjajakan kreasi makanannya di Parking Ground Summarecon Mall Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (10/6) dan Minggu (11/6). Pengunjung Semesta Berpesta di Bekasi dapat menikmati berbagai kuliner seru yang merupakan produk kuliner khas Bekasi. Berbagai stand kuliner seperti Cake Kers, Dimple's Cake, Secangkir Kerinduan, Bakoelan Disya, Souffle Pancake Indonesia, Sunny Chiken, minuman bettaimo, Pondok Ojolali, Eatlah, Curry Puff, Zuppa Soup, Warung Bu Erna, Koofie 82, Arana, Kay Cookings, dan Rempahloka akan hadir di area event untuk dinikmati oleh pengunjung. "Semesta Berpesta sangan membantu penjualan UMKM. jadi, memang untuk acara-acara konser seperti ini, untuk para UMKM itu menjadi naik omzetnya seperti itu dan khususnya untuk branding ke seluruh Bekasi," ujar Riska dari UMKM Bekasi bernama Kay Cookies kepada jurnalis B Universe, di Bekasi, Sabtu (10/6) siang. Berdasarkan pantauan jurnalis B Universem UMKM Bekasi yang turut berpartisipasi di Semesta Berpesta juga diikuti minuman seakan Kerinduan. Makanan yang dijual antara lain aneka macam gorengan seperti risol, onde-onde, hingga pastel yang dibandrol dengan harga mulai Rp 5 ribu. (Yetede)
Tegel Motif Partai Politik
Tegel dengan motif partai politik yang dibuat di industri Win Art Solution, Desa Tamanagung, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (8/6/2023)
banyak diminati kalangan pegiat partai politik.
Setiap pekerja mampu menyelesaikan tegel motif parpol seluas 3 meter persegi per hari. Tegel semen yang dijual dengan harga Rp 280.000 per meter persegi sudah banyak dipesan oleh pegiat partai politik. (Yoga)
Siap Guncang Bekasi, Semesta Berpesta Ladang Cuan bagi UMKM
JAKARTA,ID-Setelah menggebrak Tangerang Semesta Berpesta siap mengguncang Parking Ground, Summarecon Mall Bekasi pada Sabtu, 10-11 Juni 2023. Perhelatan festival musik family frendly yang mengusung konsep musik, kuliner, fashion dan edukasi itu akan menghadirkan sederet bintang yang sedang hits, diantaranya Mahalini, Lyodra, Pamungkas, DMasiv, The Rain, Vieratale, Ardhito Pramono, Fourtwenty, Calliope, dan Huru-Hara Club. Semesta Berpesta juga bakal menjadi ladang rezeki alias cuan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Para pengunjung Semesta Berpesta di Bekasi bakal dimanjakan oleh booth-booth kuliner UMKM disekitar kota satelite tersebut, antara lain Cake kers, Dimple's Cake, Secangkir Kerinduan, Bakoelan Disya, Souffle Pancake Indonesia, Sunny Chiken, minuman Bettatimo, Pondok Ojolali, Eatlah, Warung Bu Erna, Koffe 82, Arana, dan Rempahloka. Bekasi merupakan Kota ke-2 festival kolosal yang dihelat Royal Anugrah Multimedia (RAM) Entertainment selaku event organizer dan BTV sebagai broadcast partner ini. Sebelumnya, Semesta Berpesta digelar di ICE BSD City Tangerang pada 3-4 Juni 2023. Selain itu Tangerang dan Bekasi, event bertabur bintang yang disponsori Group Astra dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk itu bakal digelar di Bandung, Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Solo, banjarmasin, Medan, Balikpapan, Palembang, dan Jakarta. (Yetede)
UMKM Didorong Cari Dana di Pasar Modal
Untuk meningkatkan kapasitas usahanya, UMKM perlu menggalang pendanaan dari publik melalui pasar modal. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memberikan pendampingan dan inkubasi bisnis agar UMKM bisa melantai di bursa saham. ”Ini agar UMKM bisa mencari alternatif pendanaan di luar perbankan,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki seusai penandatanganan nota kesepahaman dengan BEI di Jakarta, Rabu (7/6/2023). (Yoga)
Manajemen Keuangan UMKM Ditingkatkan
Bank Indonesia (BI) bersinergi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mendorong peningkatan literasi keuangan UMKM melalui pemanfaatan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK). Deputi Gubernur BI Juda Agung, Rabu (7/6/2023), menekankan, UMKM perlu didorong untuk mampu meningkatkan kapasitasnya dalam manajemen keuangan sehingga mampu menganalisis kinerjanya. (Yoga)
MENGGESER SUKACITA KE KAYUTANGAN
Minggu (28/5) malam, kawasan Kayutangan, Kota Malang, Jatim, riuh. Ribuan orang berkumpul bersesakan di antara UMKM dan panggung pentas. Hari itu, Kota Malang punya acara pentas kolaborasi Malang 109. Sebuah acara musik, tari, berpadu dengan pameran UMKM. Orang bermusik, menari, dan berjualan produk UMKM membaur jadi satu di sepanjang 40 meter ruas jalan Kayutangan. Mereka berkumpul menjadi satu dalam acara Malang 109. Itu adalah pentas tahunan komunitas musik di Malang yang tahun ini dikemas bersamaan dengan pameran produk UMKM. Kegiatan diselenggarakan oleh Musik Malang Bersatu Indonesia (MMBI) berkolaborasi dengan Pemkot Malang, pelaku usaha kreatif, dan masyarakat. Adapun angka 109 merupakan usia Kota Malang pada tahun ini. Jadi, pentas malam itu disebutsebut sebagai rangkaian HUT Kota Malang yang diperingati setiap 1 April.
”Adanya kegiatan seperti ini membuat UMKM seperti kami memiliki kesempatan menunjukkan produk kami. Lumayan setelah kemarin-kemarin kena pandemi,” kata Suryadi, penjual es puter asal Bareng, Klojen. Suryadi mengaku sudah menghabiskan tiga drum es puter untuk acara tersebut. ”Memang jumlah barang yang habis tidak sebanyak acara saat Malang Tempo Doeloe, beberapa tahun lalu. Saat Malang Tempo Doeloe bisa habis 10 drum sehari. Tapi, hasil ini lumayan juga untuk menjaga kondisi ekonomi sekarang ini,” kata pria yang menjadi generasi kedua pembuat es puter. Semangat dalam menonton acara Malang 109 juga dikatakan oleh Emanuel (43), warga Balearjosari. Menurut dia, acara tersebut bisa menjadi salah satu alternatif hiburan warga yang murah meriah. ”Hanya saja, memang harus ditata konsepnya agar warga bisa menonton dengan nyaman. Ini kami dari tadi hanya bisa nonton dari belakang, karena di depan panggung su-dah sangat penuh penonton dan untuk undangan,” katanya.
Kadis Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Baihaqie mengatakan bahwa Kayutangan masuk destinasi wisata ke-75 dari 4.500 destinasi wisata se-Indonesia. Kegiatan tersebut diharapkan bisa digelar rutin tahunan. ”Untuk kegiatan ini sudah masuk 82 UMKM, yang sudah berjualan sejak tadi siang, dan malam hari sudah habis. Produk dijual adalah aneka makanan khas Kota Malang. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya membangkitkan ekonomi di Kota Malang,” kata Baihaqie. Wali Kota Malang Sutiaji berharap bahwa masyarakat mendukung kegiatan itu dengan menjaga kondusivitas kegiatan. Dengan terjaganya kondusivitas acara, maka menurut Sutiaji, pemerintah akan mengupayakan acara tersebut bisa digelar lagi tahun depan. (Yoga)
UMKM Indonesia Harus Naik Kelas
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Walakin, UMKM harus naik kelas dengan menjadi bagian dari rantai pasok industri. ”Perlu pendekatan inkubasi yang membantu pelaku UMKM, mulai dari pembiayaan hingga pemasaran,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Teknik Perencanaan Bidang Koperasi, UMKM, dan Kewirausahaan secara daring, Senin (29/5/2023). (Yoga
EKSPOR DAERAH : DAYA SAING UMKM DIPERKOKOH
Tren penurunan ekspor nasional belakangan ini disikapi serius oleh sejumlah daerah dengan memperkokoh daya saing usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM guna menciptakan pasar baru dan mengerek performa dagang. Tak hanya itu, gelaran investasi dan perdagangan di daerah juga menjadi solusi alternatif mengangkat kinerja ekspor.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel), misalnya yang bakal meningkatkan daya saing produk UMKM di kancah internasional.Pemrov Sulsel menargetkan minimal ada 140 UMKM baru yang bisa menembus pasar mancanegara.Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulsel Dewa Nyoman Mahendra mengatakan, hanya sekitar 20% saja produk UMKM yang berhasil di pasar ekspor.Sebagian besar, imbuhnya, masih bersaing untuk pasar lokal. Padahal, produk yang dihasilkan pelaku UMKM di Sulsel memiliki kualitas yang baik, meskipun memang perlu adanya sedikit pembaharuan. Oleh karena itu, dia mengungkapkan bahwa Pemprov Sulsel akan mulai mengurasi atau menyeleksi ribuan UMKM yang ada di wilayah ini untuk dilatih supaya produknya bisa makin menarik.
Menurutnya, berdasarkan Rencana Pembangungan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulsel, wilayah ini mematok nilai ekspor sebanyak US$1,71 miliar pada 2023.
Untuk itu, dia optimistis bahwa langkah penguatan daya saing UMKM Sulsel mampu mengangkat performa ekspor wilayah ini lebih tinggi. Dewa berharap, langkah tersebut juga bisa menembus pasar nontradisional atau pasar baru di kancah global. Langkah lain yang dilakukan Pemprov Sulut adalah dengan melakukan sertifikasi bagi UMKM wilayah ini. Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengungkapkan bahwa hingga saat ini Dinas Koperasi dan UMKM Sulsel telah melakukan fasilitasi sertifikasi gratis bagi 1.450 UMKM guna mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas produk para pelaku UMKM.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sulsel Ashari F. Radjamilo mengungkapkan bahwa UMKM di provinsi ini telah mengalami peningkatan yang signifi kan dari segi kualitas maupun kuantitas. Data Dinas Koperasi dan UMKM Sulsel menunjukkan bahwa pebisnis UMKM di wilayah ini telah mencapai 1,5 juta unit usaha.
Data Dinas Perindustrian Sulsel menunjukkan bahwa saat ini telah dilakukan fasilitasi sertifikasi bagi 635 IKM, di antaranya 585 IKM mendapatkan fasilitasi sertifikat halal, dan 50 IKM mendapatkan fasilitasi sertifikat HKI (paten merk)
Mataram Bergerak Jadi Kota Ekonomi Kreatif
Kota Mataram tidak hanya menjadi pusat pemerintahan NTB. Kota berpenduduk 486.700 jiwa itu juga mulai bergerak menjadi kota ekonomi kreatif, yaitu pelaku UMKM tumbuh dan berinovasi. Hafizah (55) memukul pahat dengan palu besi, mengukir motif rumit pada kursi kayu di depannya dengan sangat rapi. Hafizah ditemui pada Jumat (19/5) saat memahat kerajinan cukli di rumahnya di Lendang Re, Kelurahan Sayang-sayang, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Lingkungan itu adalah sentra cukli NTB. Cukli adalah kerajinan kayu yang dipadukan dengan kerang. Kayu dipahat atau dicungkil pada motif yang telah dibuat. Pada cungkilan itu lalu dimasukkan atau ditempelkan potongan-potongan kerang sehingga terbentuk motif baru yang indah.
”Kami memulai kerajinan ini sejak 1990-an. Alhamdulillah, masih bertahan sampai saat ini dengan berbagai pasang surutnya,” kata Zaenudin (55), suami Hafizah, pemilik Anugerah Craft. Menurut Zaenudin, kerajinan cukli saat ini lesu. Berbeda jauh dengan tahun 1990-an hingga 2000-an di mana cukli begitu populer. Saat itu, kerajinan cukli juga diekspor. Paling banyak ke Jepang dalam bentuk asbak, piring, kotak-kotak kecil, serta kursi dan meja. Pesanannya hingga ribuan unit. ”Sekarang sudah jauh berkurang. Kondisi ini mulai terasa pasca peristiwa Bom Bali satu dan dua. Kemudian gempa Lombok 2018, hingga terakhir kemarin, pandemi,” katanya. Zaenudin optimistis usaha cukli membaik karena pandemi yang kian terkendali. Zaenudin terus berinovasi sesuai kebutuhan pasar. ”Di Mandalika, misalnya, ada balap MotoGP. Tahun lalu, kami sudah coba membuat produk cukli dengan tema MotoGP. Tahun ini, jumlahnya akan kami tingkatkan karena peminatnya pasti tinggi,” ujarnya.
Pemilik Maza Handcrafted Pearls and Jewerly di Jalan Gajah Mada, Luberty Budi Utama (43), yang akrab disapa Maza, mengatakan, sebelum pandemi, omzetnya Rp 100 juta per bulan. Namun, saat pandemi, turun 80 %. Ia mengikuti berbagai pelatihan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, termasuk menggunakan Tiktok untuk pemasaran. ”Produk kami juga bersertifikat dan bergaransi. Apalagi merek kami sudah memiliki paten sejak 2020 sehingga dipercaya pelanggan,” kata Maza. UMKM di bidang kuliner, Sate Rembiga Goyang Lidah, berinovasi membuat sate kemasan sejak 2021. Pratiwi Wulandari, penanggung jawab produksi Sate Rembiga Goyang Lidah kemasan, mengatakan, sate rembiga dulu hanya tahan seminggu. Kini, sate rembiga tahan sampai enam bulan. Kabid UMKM Dinas Perindustrian, Koperasi, UKM Kota Mataram Mamluatul Chair mengatakan, ada 5.000 UMKM di Kota Mataram. Dukungan kepada UMKM dimulai dari bantuan modal, peningkatan kapasitas SDM dan produk, pelibatan dalam pameran, hingga fasilitasi legalitas usaha sehingga Mataram ke depan bisa menjadi kota ekonomi kreatif seperti kota-kota besar di daerah lain di Indonesia. (Yoga)
MENDULANG CUAN DI PANTAI HINGGA RUANG TERBUKA KOTA MATARAM
Nurhayati (52) menawarkan dagangan kepada setiap orang yang melintas di depan lapaknya. Mulai pukul 06.00 Wita, Minggu (21/5) Nurhayati membuka lapak di kawasan Jalan Udayana, Kota Mataram. Setiap Minggu, di salah satu jalur utama ibu kota provinsi NTB itu berlangsung kegiatan hari bebas kendaraan bermotor (car free day/CFD). Sejak setahun terakhir, Nurhayati datang ke acara CFD membawa berbagai keripik, seperti keripik bebela atau pegagan, keripik pare, dan keripik bayam. ”Semua keripik ini saya produksi sendiri. Selain berjualan di rumah, saya juga datang ke Udayana setiap minggu,” kata Nurhayati yang berdomisili di lingkungan Jempong, kawasan eks Bandara Selaparang. Acara CFD di Jalan Udayana yang merupakan ruang terbuka hijau di Kota Mataram selalu ramai. Sejak dibuka dari pukul 06.00 hingga 09.00 Wita, pengunjungnya bisa ratusan hingga ribuan orang. Tidak hanya untuk berolahraga seperti jalan kaki, lari, dan bersepeda, warga yang dating juga untuk berburu kuliner, kerajinan, dan produk lainnya.
CFD menjadi tempat yang strategis bagi pelaku UMKM memasarkan produk mereka, seperti Nurhayati. Apalagi untuk usaha, seperti bagi yang tidak memiliki gerai atau toko sendiri untuk usaha kuliner lainnya. Juga bagi mereka yang produknya belum masuk ke toko oleh-oleh. Karena itu, Nurhayati tidak mau melewatkan acara CFD di Udayana. Ibu lima anak itu sejak Kamis hingga Jumat memproduksi keripik yang bahan bakunya ditanam sendiri di pekarangan rumahnya. Lalu pada hari Sabtu, ia dibantu anaknya mengemas keripik itu. ”Hitungan harinya sudah pas, biar keripiknya tetap renyah. Tetapi, sebenarnya, sampai satu bulan pun (keripik itu) bisa tetap renyah,” kata Nurhayati yang sudah lebih dari tujuh tahun berjualan keripik. Setiap hari Minggu, ia membawa 50 bungkus keripik ke Udayana. Satu bungkus keripik dijual Rp 10.000. Kadang, keripiknya ludes terjual. Kadang masih tersisa, lalu ia jual kembali saat berada di rumah. Dengan begitu, setiap minggu, ia bisa mendapat omzet sekitar Rp 500.000.
Deny Hartawan (38), warga Kebon Talo Jaya, Ampenan Utara, Kota Mataram, sering ke acara CFD bersama keluarga untuk berburu berbagai produk jualan UMKM. ”Paling sering kuliner, seperti jajanan tradisional. Anakanak saya suka. Kadang beli produk lain, seperti hari ini (saya) beli sepatu juga,” ujar Deny. Menjelang sore hingga malam, kawasan Udayana kembali ramai. Lapak-lapak sate bulayak mulai dibuka. Sate bulayak adalah sate daging hingga jeroan sapi yang disantap bersama lontong berbungkus daun enau muda. Selain di Udayana, pelaku usaha juga memanfaatkan kegiatan-kegiatan lain di Taman Sangkareang, Taman Loang Baloq, serta di ruang terbuka hijau Pagutan dan Selagas untuk berjualan. Pelaku usaha di Kota Mataram juga memanfaatkan pesisir pantai yang tak pernah sepi pengunjung untuk mendulang cuan. Salah satunya adalah kawasan Pantai Ampenan, 5 km arah barat kawasan Udayana. Di Pantai itu ada pasangan suami istri Muhyidin (64) dan Sahram (54) yang setiap hari berjualan kudapan tradisional, seperti lupis dan serabi. Di Pantai Ampenan, kedua kudapan tersebut dinikmati sambal melihat debur ombak pagi. Setiap hari, mereka mengolah 2 kg tepung beras untuk serabi. Sementara untuk lupis, dari 1,5 kg beras ketan. Jualan mereka selalu ludes oleh pengunjung kawasan Pantai Ampenan. Omzetnya setiap hari sekitar Rp 300.000. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Halodoc Bantu Tangani 12% Pasien Covid-19
30 Dec 2021 -
Core Petani Tak Menikmati Penetrasi Digital
30 Dec 2021 -
PII Berikan Penjaminan 37 Proyek Senilai 350 T
30 Dec 2021 -
Investasi Manufaktur Ditargetkan Rp 310 Triliun
30 Dec 2021 -
Tiongkok Akan Longgarkan Lagi Kebijakan Moneter
29 Dec 2021









