Nelayan Kecil Mengeluhkan Limbah
Pudding terlihat sedang memperbaiki jaring seroknya di Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (26/5/2025). Bermata pencarian utama sebagai nelayan, Pudding mengeluhkan seringnya dia bertemu limbah dari darat yang terbawa ke Teluk Jakarta. Menurut Pudding, kondisi itu membuat ikan menjauh dari jaring yang ia tanam sekitar 2 kilometer dari daratan sehingga hasil tangkapannya menjadi semakin berkurang. (Yoga)
Geliat Pundi-pundi Pariwisata
Di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu, sumber pertumbuhan alternatif diharapkan berkontribusi optimal, diantaranya adalah pariwisata. Keindahan Nusantara dan berbagai pergelaran acara skala global diharapkan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman). Melalui kantong para wisman, ekonomi domestik diharapkan lebih menggeliat. Merujuk laporan Mastercard Economic Institute bertajuk ”Travel Trends 2024: Breaking Boundaries”, sektor pariwisata global berkembang pesat seiring meningkatnya pengeluaran konsumen di sektor ini dan lonjakan lalu lintas penumpang. Momen ini diperkirakan berlanjut,karena konsumen di seluruh dunia lebih mengutamakan pengalaman yang tak terlupakan dan mengalokasikan lebih banyak anggaran perjalanan. Setahun terakhir, Jepang jadi destinasi wisata terfavorit wisatawan di seluruh dunia.
Asia Tenggara tak kalah popular, ditandai masuknya Malaysia dan Indonesia ke dalam 10 besar destinasi global teratas selama 12 bulan terakhir. Secara global, para wisatawan juga cenderung menghabiskan waktu di negara dengan iklim yang lebih hangat. Destinasi Asia Tenggara, seperti Malaysia, Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Filipina, mengalami masa kunjungan yang panjang, yaitu lebih dari tujuh hari per kunjungan. Per Maret 2024, wisatawan di seluruh dunia menghabiskan rata-rata 5,5 hari sekali liburan, lebih lama dibanding periode sebelum pandemi Covid-19 yang hanya 4,5 hari. Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara dengan kunjungan wisatawan terlama, yakni rata-rata 8,9 hari atau lebih tinggi dibanding sebelum pandemi yang 7 hari.
Para wisman tinggal lebih lama karena kenaikan tarif hotel yang lebih rendah dibanding negara lain. Apabila wisatawan menghabiskan waktu lebih lama, besar kemungkinan mereka membelanjakan uang sehingga positif bagi perekonomian lokal. Secara umum, para wisatawan dari AS dan Eropa memilih Asia Tenggara sebagai destinasi dan menetap lebih lama lantaran iklim yang lebih hangat serta harga yang lebih terjangkau, didukung nilai tukar yang lebih menguntungkan. Mastercard Economic Institute juga menemukan, para wisman lebih memprioritaskan pengalaman serta hiburan malam saat berlibur, terutama mereka yang berasal dari Australia, yang menghabiskan 19 % pengeluarannya untuk kegiatan itu.
Wisatawan asal China juga makin gencar, menghabiskan 10 % anggaran liburan mereka untuk kegiatan tersebut pada 2024, naik dari 7 % pada 2023. Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran wisatawan untuk pengalaman dan hiburan malam mencapai 12 % dari total alokasi pengeluaran selama berwisata, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ke depan, tren pariwisata di seluruh dunia dan Asia Tenggara diproyeksikan terus bertumbuh. Sebagian besar dari mereka cenderung mencari pengalaman tak terlupakan, termasuk destinasi wisata dan kuliner. ”Bagi otoritas pariwisata, sektor ritel, perhotelan, dan food and beverages (makanan dan minuman), biaya itu penting. Nilai tukar mata uang asing dan daya beli jadi komponen penting saat merencanakan perjalanan mereka (wisatawan global),” ujar Chief Economist, Asia Pacific, Mastercard, David Mann, dalam keterangan tertulis, Kamis (16/5/2024). (Yoga)
Program Prioritas Bisa Ubah Neraca Komoditas
Pemerintah memperbarui acuan ekspor dan impor komoditas yang dibutuhkan masyarakat dan industri melalui Perpres No 61 Tahun 2024 tentang Neraca Komoditas. Neraca dapat diubah dalam kondisi tertentu, termasuk program prioritas pemerintah. Regulasi baru yang ditetapkan Presiden Jokowi pada 21 Mei 2024, mengganti Perpres No 32 Tahun 2022 tentang hal yang sama dan berlaku mulai 20 Juni 2024. Neraca komoditas merupakan data dan informasi yang memuat situasi konsumsi dan produksi komoditas tertentu untuk kebutuhan penduduk dan keperluan industri dalam kurun waktu tertentu yang ditetapkan dan berlaku secara nasional. Data dan informasi itu harus terverifikasi dan berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, dan pelaku usaha atau asosiasi.
Fungsi neraca sebagai dasar penerbitan persetujuan ekspor dan impor serta acuan data dan informasi situasi konsumsi dan produksi suatu komoditas berskala nasional. Neraca itu bisa jadi acuan data dan informasi kondisi serta proyeksi pengembangan industri nasional dan acuan penerbitan perizinan berusaha untuk menunjang kegiatan usaha di bidang ekspor dan impor. Dalam Pasal 24 Perpres No 61/2024 tercantum, neraca komoditas yang ditetapkan pemerintah dapat diubah dalam kondisi tertentu, berupa bencana alam, bencana nonalam, investasi baru, program prioritas pemerintah, dan kondisi lainnya, meliputi pengajuan baru dan pengajuan perubahan rencana kemudahan. Bisa juga berupa pengajuan kembali permohonan usulan rencana kebutuhan yang sebelumnya ditolak.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal, Sabtu (25/5) mengatakan, prinsip dasar perpres itu menjaga keseimbangan kebutuhan dan produksi komoditas yang dibutuhkan masyarakat dan industri. Agar keseimbangan itu terjaga baik, data neraca komoditas harus akurat. ”Akurasi data neraca itu penting lantaran bakal menjadi penentu tepat atau tidaknya kebijakan impor atau ekspor komoditas. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru merugikan produsen atau industri di dalam negeri,” ujarnya. Prinsip serupa berlaku pada neraca komoditas terkait program-program prioritas pemerintah. Dalam pembangunan infrastruktur, misalnya, impor besi-baja untuk proyek itu harus terukur agar tidak merugikan industri besi-baja domestik. (Yoga)
Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja Masih Marak
Jumlah pekerja yang mengalami PHK meningkat. Pemerintah diharapkan menjaga iklim usaha dalam negeri yang kondusif di tengah perekonomian global yang menantang. Laman satudata.kemnaker.go.id menyebut, jumlah pekerja yang mengalami PHK di 34 provinsi sepanjang 2022 mencapai 25.114 orang. Sementara pada Januari-Desember 2023 angkanya melonjak menjadi 359.858 orang. Pada Januari-Maret 2024 jumlah pekerja yang di-PHK mencapai 23.421 orang. Angka PHK periode yang sama tahun 2023 yang berjumlah 20.393 orang. Kemenaker merekap data jumlah pekerja ter-PHK itu dari dinas tenaga kerja di provinsi dan kabupaten/kota. Namun, angka PHK yang diterbitkan tidak menyebut secara detail asal sektor dan penyebab PHK.
Plt Direktur Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Kemenaker Heru Widianto saat dikonfirmasi, Sabtu (25/5) di Jakarta hanya menyebut jumlah kasus PHK selama triwulan I-2024 mencapai lebih dari 1.000 kasus. Menaker Ida Fauziyah seusai rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Senin (20/5), menjelaskan, ada sejumlah perusahaan di Indonesia yang tidak mampu bersaing dengan dinamika pasar dan tidak mampu menyesuaikan produknya dengan permintaan konsumen. Akibatnya, perusahaan seperti itu tidak mampu bertahan lalu melakukan PHK. ”Terkait fenomena PHK akhir-akhir ini yang marak di Jabar khususnya, itu memang ada beberapa perusahaan yang tidak mampu bersaing dengan dinamika pasar,” ujar Ida. ”Jika PHK terpaksa diambil, kami mendorong agar hak-hak pekerja ter-PHK dipenuhi sesuai regulasi,” ujarnya. (Yoga)
Pameran Busana di Kota Lama
Para model atau peragawati tampak dari pintu kaca saat akan memeragakan busana pada acara Heritage Fashion Show di Gedung Monod Huis, Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (26/5/2024). Peragaan busana bertema batik di salah satu bangunan tua tersebut merupakan upaya menjual pesona Kota Lama untuk mengembangkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif, yang diharapkan dapat meningkatkan penjualan batik di tanah air khususnya di kota Semarang. (Yoga)
Suka Duka Pekerja Informal
Banyak orang bercita-cita meraih karier mapan di sektor formal. Namun, realitas ekonomi tak jarang mengarahkan mereka ke jalur berbeda. Sektor informal, dengan segala dinamikanya, jadi sumber penghidupan sebagian besar masyarakat. Amelya (36) pengusaha penatu di Jaktim, menuturkan, Pandemi Covid-19 membuatnya merelakan karier yang sudah 10 tahun ia rintis di perusahaan agen perjalanan. Sejak September 2023, ia merintis usaha penatu di rumahnya. Kini, ia punya waktu kerja fleksibel. Namun, ada tantangan yang harus dihadapi. ”Buka usaha ini mulai dari rumah dulu, enggak langsung besar. Harus cari pelanggan dulu, pertama tetangga, dari mulut ke mulut, hingga pelanggan meluas. Tantangannya, kita harus banyak upgrade, seperti pewangi pakaian yang awet agar pelanggan senang. Waktu kerja memang lebih fleksibel, tapi kita perlu usaha lebih keras,” ujarnya.
Senangnya jadi pencukur rambut adalah saat pelanggan ramai, seperti menjelang Lebaran. Bahkan, orang rela menunggu hingga tengah malam. Pendapatan saat Lebaran bahkan lebih besar dari tahun sebelumnya. Selain itu, bisa bertemu dan kenal banyak orang. Bahkan, dari pelanggan jadi teman.”Awalnya, sehari bisa nggak ada pelanggan sama sekali. Sempat terpikir mau menyerah, tetapi nanti nggak makan. Namun, lama-kelamaan, orang-orang tahu dan kenal, ada saja pelanggan, mah. Bahkan, ramai. Dari situ sadar kalau semua perlu proses,” ujar Mahrus Ali Wafa (33) pemangkas rambut di Bogor, Jabar.
Mhd Fadil Arbi (25) pemasok bahan bangunan dan kontraktor bangunan di Bukittinggi, menceritakan Setelah lulus sarjana di Jakarta, ia melihat teman-temannya sulit mendapatkan pekerjaan, sehingga ia memutuskan pulang kampung, belajar ke orangtua yang sudah menjalankan usaha kontraktor, lalu mencoba membangun usaha pemasok bahan bangunan karena peluang dan jaringannya terbuka. Pendapatannya naik-turun, tetapi jika dirata-rata, omzetnya bisa di atas upah minimum di Jakarta. ”Dalam jangka panjang, saya hanya akan fokus untuk mengembangkan usaha di kampung halaman dan belum ada pikiran untuk bekerja di sektor formal,” ujarnya. (Yoga)
Kunjungan Wisatawan Mancanegara
Wisatawan mancanegara dan calon penumpang terlihat mengantre dan memadati area pelaporan Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Minggu (26/5/2024). Sepanjang 2024, Lombok kembali ramai dikunjungi wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, yang turut menggeliatkan perekonomian warga lokal. Pada Maret 2024, Badan Pusat Statistik mencatat ada lebih dari 5.208 wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Lombok. Sebanyak 2.120 orang di antaranya berasal dari Eropa. (Yoga)
Pemilik KTP Nonaktif Bisa Ikut Pilgub
Mulai 24 Juni 2024, KPU DKI Jakarta akan memutakhirkan data pemilih melalui pencocokan dan penelitian daftar pemilih. Warga terdampak penataan atau masuk dalam usulan penonaktifan NIK tetap bisa mencoblos karena masih ada dalam daftar penduduk potensial pemilih. Jakarta akan melangsungkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2024 pada 27 November nanti. Pilgub ini bagian dari pilkada serentak di 545 daerah lain. Tahapan persiapan di Jakarta akan memasuki pemutakhiran data pemilih melalui pencocokan dan penelitian daftar pemilih mulai bulan depan atau Juni.
”Kami akan mulai (pemutakhiran data) tanggal 24 Juni,” ucap Ketua Divisi Data dan Informasi KPU DKI Jakarta Fahmi Zikrillah, Minggu (26/5). Berdasarkan hasil sinkronisasi daftar penduduk potensial pemilih pemilihan (DP4) dan daftar pemilih tetap (DPT) terakhir dari Sistem Informasi Data Pemilih per 19 Mei 2024, pukul 21.30 WIB, terdapat 8.315.669 pemilih untuk Pilkada 2024 di Jakarta, dengan 21.161 pemilih di Kepulauan Seribu, 826.838 pemilih di Jakpus, 1.361.838 pemilih di Jakut, 1.931.750 pemilih di Jakbar, 1.777.357 pemilih di Jaksel, dan 2.396.725 pemilih di Jaktim.
Tahapan pemutakhiran data pemilih ini berbarengan dengan penataan atau usulan penonaktifan NIK warga Jakarta yang tinggal tak sesuai domisili atau alamat KTP oleh Disdukcapil DKI Jakarta. KPU DKI Jakarta memastikan warga terdampak tetap bisa menggunakan hak suaranya. ”Hasil koordinasi dengan Dukcapil DKI disampaikan bahwa terhadap mereka yang NIK-nya dinonaktifkan masih tetap ada di dalam DP4 sehingga tidak berdampak terhadap data pemilih di Jakarta,” kata Fahmi. (Yoga)
Fitofarmaka untuk Kemandirian Bangsa
Pengembangan dan pemanfaatan fitofarmaka dapat menjadi modal kuat bagi Indonesia mencapai kemandirian bangsa memenuhi produk farmasi. Namun, upaya tersebut belum optimal. Dukungan dari pemangku kepentingan dinilai masih lemah sehingga pemanfaatan fitofarmaka di dalam negeri masih terbatas. Indonesia memiliki potensi pengembangan fitofarmaka yang besar karena didukung ketersediaan sumber daya alam (SDA) yang sangat melimpah. Dengan 143 juta hektar hutan tropis, ada 28.000 spesies tumbuhan yang hidup di Indonesia. Diperkirakan 80 % atau 2.800 spesies tanaman obat di dunia berasal dari hutan tropis Indonesia. Berbeda dengan obat herbal terstandar, fitofarmaka merupakan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik.
Bahan baku dan produk jadinya pun telah dilakukan standardisasi. Sementara obat herbal terstandar, keamanan dan khasiatnya hanya dibuktikan dengan uji praklinik. Dekan Fakultas Kedokteran UI Ari Fah- rial Syam, Minggu (26/5) di Jakarta, mengatakan, berbagai riset dan pengembangan bahan alam di Indonesia sebenarnya sudah banyak dilakukan. Riset-riset tersebut juga telah didorong untuk menghasilkan produk-produk obat fitofarmaka. ”Sekarang ini sudah ada beberapa produk fitofarmaka yang telah dihasilkan. Produk tersebut pun sudah dipasarkan di masyarakat, tapi, pemanfaatannya belum optimal, karena fitofarmaka belum masuk dalam formularium nasional sehingga tidak dijamin oleh JKN (Jaminan Kesehatan Nasional),” katanya. Menurut dia, obat fitofarmaka yang belum masuk dalam formularium nasional menjadi salah satu kendala dalam mengoptimalkan potensi pemanfaatan obat tersebut.
Sebab, mayoritas penduduk di Indonesia merupakan peserta JKN. Kebutuhan obat yang diberikan pun harus sesuai dengan obat-obat yang terdaftar dalam formularium nasional program JKN. Sekalipun dokter telah menganjurkan penggunaan obat fitofarmaka kepada pasien, biaya untuk mengakses obat tersebut masih harus ditanggung secara mandiri. Padahal, terdapat beberapa obat fitofarmaka yang baik untuk pasien, terutama untuk pengobatan komplementer. Antara lain, fitofarmaka kombinasi ekstrak herbal seledri dan daun kumis kucing untuk menurunkan tekanan darah, fitofarmaka fraksi dari ekstrak kulit kayu manis untukmeringankan gangguan lambung, fitofarmaka ekstrak herbal meniran untuk memperbaiki sistem imun, serta fitofarmaka dari ekstrak cacing tanah untuk memperlancar sirkulasi darah. (Yoga)
Abbas Suswadi Berjaya dengan Kue dan Roti
Abbas Suswadi (39) perintis Tridara Cake and Bakery. Warga Cirebon, Jabar, teguh di jalan usaha kuliner. Empat plakat penghargaan dan sertifikat terpajang di atas meja kantor Abbas di Desa Kalikoa, Kedawung, Sabtu (18/5). Ia menunjukkan piagam dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Tipe A1 Cirebon di Kemenkeu, ”Waktu itu, ada kunjungan Menkeu Sri Mulyani. Bu menteri nanya, mana yang bikin (kue) ini? Jamuan (kue) itu dari saya,” ujar Abbas soal piagam penghargaan pada pertengahan Februari lalu itu. Pertanyaan Sri Mulyani jadi berkah, Abbas lalu mendapat banyak pesanan kue dan roti dari para pejabat. KPPN Cirebon hanya salah satu dari sekian instansi yang sering menikmati produknya.
”Minggu depan ada pesanan dari SMA di Waled untuk acara sekolah. Pesannya 380 snack box dan nasi kotak,” ujarnya. Aneka kue yang ia tawarkan adalah roti cokelat, roti piza, bolen pisang, lemper ayam, hingga martabak. Ada pula berbagai kuliner Cirebon, seperti empal gentong. Pesanan tidak mengalir begitu saja, tetapi butuh waktu lama bahkan bertahun-tahun. Apalagi, Abbas tak punya latar belakang bisnis dan modal besar. Sejak 2008, ia hanyalah pekerja di beberapa perusahaan tambang di Kalimantan. Pada 2021, Abbas yang tinggal seorang diri di Kalimantan terjangkit Covid-19. ”Saya diminta keluarga untuk resign. Apalagi, istri saya di Cirebon dan enggak bisa ikut,” ujarnya.
Ia pun coba meneruskan usaha roti ibu mertuanya, Nur Asih. Bermodalkan uang pensiunnya, Abbas mulai mengembangkan usaha roti sang ibu. Tahun pertama, ia dipaksa belajar bikin roti dan kue. Ia, mem-branding usahanya sebagai Tridara Cake and Bakery. Abbas turut mengikuti pelatihan yang digelar Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kota Cirebon serta instansi lainnya. Pada Maret 2023, ia mendaftar dalam Rumah BUMN, wadah pengembangan UMKM. Dalam perjalanannya, beberapa pelaku UMKM lainnya mundur. Sebab, ada yang hanya berharap mendapatkan bantuan modal. Ia pun mengetahui cara mengurus administrasi usaha, dari izin produk industri rumah tangga (PIRT), label halal, hingga pembayaran pajak.
Administrasi lengkap membuatnya mudah menerima pesanan dari instansi pemerintah. Kini, sehari, ia menerima minimal pesanan 50 boks kue atau hampir 2.000 boks sebulan. ”Kalau ada pesanan lebih dari 200 boks kue sehari, saya memanggil dua orang (pekerja tambahan). Mereka pengojek online dan pedagang kaki lima. Jadi, total ada tujuh orang yang bekerja,” kata Abbas yang memiliki lima karyawan. Pekerja lainnya merupakan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Abbas juga tak ragu membagikan ilmunya. Ia, beberapa kali melatih anggota Senjapreneur, organisasi kewirausahaan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Ia bahkan menjadikan kantornya sebagai tempat pelatihan bagi pelaku UMKM. Semuanya gratis. Dengan mengenal banyak orang, ia yakin, usahanya berkembang. (Yoga)









