;

Geliat Pundi-pundi Pariwisata

Ekonomi Yoga 27 May 2024 Kompas
Geliat Pundi-pundi Pariwisata

Di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu, sumber pertumbuhan alternatif diharapkan berkontribusi optimal, diantaranya  adalah pariwisata. Keindahan Nusantara dan berbagai pergelaran acara skala global diharapkan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman). Melalui kantong para wisman, ekonomi domestik diharapkan lebih menggeliat. Merujuk laporan Mastercard Economic Institute bertajuk ”Travel Trends 2024: Breaking Boundaries”, sektor pariwisata global berkembang pesat seiring meningkatnya pengeluaran konsumen di sektor ini dan lonjakan lalu lintas penumpang. Momen ini diperkirakan berlanjut,karena konsumen di seluruh dunia lebih mengutamakan pengalaman yang tak terlupakan dan mengalokasikan lebih banyak anggaran perjalanan. Setahun terakhir, Jepang jadi destinasi wisata terfavorit wisatawan di seluruh dunia.

Asia Tenggara tak kalah popular, ditandai masuknya Malaysia dan Indonesia ke dalam 10 besar destinasi global teratas selama 12 bulan terakhir. Secara global, para wisatawan juga cenderung menghabiskan waktu di negara dengan iklim yang lebih hangat. Destinasi Asia Tenggara, seperti Malaysia, Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Filipina, mengalami masa kunjungan yang panjang, yaitu lebih dari tujuh hari per kunjungan.  Per Maret 2024, wisatawan di seluruh dunia menghabiskan rata-rata 5,5 hari sekali liburan, lebih lama dibanding periode sebelum pandemi Covid-19 yang hanya 4,5 hari. Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara dengan kunjungan wisatawan terlama, yakni rata-rata 8,9 hari atau lebih tinggi dibanding sebelum pandemi yang 7 hari.

Para wisman tinggal lebih lama karena kenaikan tarif hotel yang lebih rendah dibanding negara lain.    Apabila wisatawan menghabiskan waktu lebih lama, besar kemungkinan mereka membelanjakan uang sehingga positif bagi perekonomian lokal. Secara umum, para wisatawan dari AS dan Eropa memilih Asia Tenggara sebagai destinasi dan menetap lebih lama lantaran iklim yang lebih hangat serta harga yang lebih terjangkau, didukung nilai tukar yang lebih menguntungkan. Mastercard Economic Institute juga menemukan, para wisman lebih memprioritaskan pengalaman serta hiburan malam saat berlibur, terutama mereka yang berasal dari Australia, yang menghabiskan 19 % pengeluarannya untuk kegiatan itu.

Wisatawan asal China juga makin gencar, menghabiskan 10 % anggaran liburan mereka untuk kegiatan tersebut pada 2024, naik dari 7 % pada 2023. Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran wisatawan untuk pengalaman dan hiburan malam mencapai 12 % dari total alokasi pengeluaran selama berwisata, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ke depan, tren pariwisata di seluruh dunia dan Asia Tenggara diproyeksikan terus bertumbuh. Sebagian besar dari mereka cenderung mencari pengalaman tak terlupakan, termasuk destinasi wisata dan kuliner. ”Bagi otoritas pariwisata, sektor ritel, perhotelan, dan food and beverages (makanan dan minuman), biaya itu penting. Nilai tukar mata uang asing dan daya beli jadi komponen penting saat merencanakan perjalanan mereka (wisatawan global),” ujar Chief Economist, Asia Pacific, Mastercard, David Mann, dalam keterangan tertulis, Kamis (16/5/2024). (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :