Benahi Ekosistem Asuransi Kesehatan
OJK bertekad untuk membenahi ekosistem asuransi kesehatan. Hal ini dilakukan seiring melonjaknya rasio klaim terhadap premi yang diterima perusahaan asuransi yang sangat tinggi, melebihi premi bruto yang diterima. Kondisi ini dinilai kurang ideal dari sisi bisnis. "Tadi disampaikan angkanya 138%, ini mungkin perlu dijajaki lebih lanjut, namun kami memastikan bahwa itu diatas 100%. Ini belum memperhitungkan dari biaya lain secara keseluruhan, jadi belum combine ratio, tapi baru murni klaim rasio terhadap premi yang diterima," kata Kepala Ekskutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono. Ia mengatakan, produk asuransi kesehatan termasuk produk unggulan, terbukti dari minat perusahaan asuransi terhadap produk ini cukup tinggi, yakni dari perusahaan asuransi jiwa dan perusahaan asuransi umum. (Yetede)
Indosat Berambisi jadi Perusahaan Teknologi
PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchinson (IOH) berambisi menjadi perusahaan teknologi dengan melebarkan sayapnya di industri teknologi seperti information, communication & technology (ICT) dan Artificial Intelegence (AI). Berlanjut, dana sebesar Rp 2,3 triliun juga disiapkan untuk melanjutkan ekspansi. Presiden Direktur dan CEO Indosat ooredoo Hutchison Vikram Sinha menungkapkan bahwa perseroan saat ini fokus bertransformasi menjadi perusahaan teknologi dari sebelumnya perusahaan telekomunikasi. Indosat pun melakukan investasi besar-besaran dari sisi SDM untuk mewujudkan transformasi tersebut. Vikram berkeyakinan, investasi teknologi tidak mungkin dilakukan apabila tidak diimbangi dengan investasi dari human capital. "Sebagai contoh, dalam hal perencanaan kapasitas, kami biasanya mengivestasikan hampir 5-6 triliun untuk mengelola kapasitas. Dikerjakan secara manual dengan tingkat akurasi sebesar 70-75%, namun, ketika kami mengerjakan pengelolaan kapasitas itu melalui bantuan AI, tingkat akurasinya naik menjadi 98%," beber Vikram. (Yetede)
Marak BNPL, Transaksi Kartu Kredit Masih Tumbuh 11,57%
Ditengah maraknya bisnis buy now pay later (BNPL) yang ditawarkan, bisnis kartu kredit perbankan masih mencatatkan pertumbuhan positif. Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi kartu kredit masih tumbuh dua digit per April 2024. Nominal kartu kredit masih meningkat 11,67% (year on year/yoy) mencapai Rp 34,39 triliun," kata Gubernur BI Perry Warjiyo. Sementara itu OJK juga mencatatkan outstanding piutang pembiayaan perusahaan BNPL per maret sebesar Rp 8,13 triliun, meningkat 23,9% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kartu kredit. Dengan rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross 3,15%, dan NPF nett 0,59%. Meskipun pertumbuhan bisnis paylater lebih tinggi dibandingkan dengan bisnis kartu kredit, namun kedua produk tersebut memiliki pasar yang berbeda. Sehingga, seharusnya bisnis paylater tidak bisa menggantikan kartu kredit dan tidak perlu dikhawatirkan perbankan. (Yetede)
Medco Energi Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp400 Miliar
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) siap melunasi obligasi jatuh tempo sebesar Rp 400 miliar. Dana tersebut berasal dari hasil penerbitan obligasi pada tahun ini dengan total nilai mencapai Rp 1,5 triliun. Pada tahun ini, tepatnya pada Februari 2024, emiten dengan kode saham MEDC tersebut telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap II Tahun 2024 dengan hasil menghimpun dan sejumlah total Rp 1,5 triliun. Direktur Keuangan Medco Energi Internasional Anthony R. Mathias menyampaikan, dana yang terhimpun dari penerbitan Obligasi Berkelanjutan II Tahap V Tahun 2024 tersebut akan digunakan perseroan untuk melunasi Obligasi rupiah perusahaan yang jatuh tempo tahun ini. "Termasuk untuk pembayaran Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2021 Seri A," jelas Anthony. (Yetede)
Elon Musk Berbalik Dukung Non-Tarif untuk Mobil Listrik
CEO Tesla ELon Musk mengatakan tidak mendukung pengenaan tarif untuk kendaraan listrik buatan China. Pernyataannya merespon pengumuman Presiden Amerika Serikat Joe Biden baru-baru ini yang menyatakan bakal menerapkan tarif 100% atas impor mobil listrik China. Pekan lalu pemerintah Biden menyampaikan akan menerapkan tarif 100% untuk impor kendaran listrik China ke AS dengan tujuan menghentikan mobil listrik China murah membanjiri pasar AS. Menurut Gedung Putih subsidi China telah membantu perusahaan-perusahaan memproduksi produk energi bersih murah secara berlebihan, seperti panel surya dan kendaraan listrik hingga melebihi permintaan domestik. "Baik Tesla maupun saya tidak meminta tarif ini. Bahkan, saya terkejut ketika terif tersebut diumumkan," ujar Musk. Tesla sendiri harus berjuang untuk tahun ini, mengingat armada kendaraan listriknya yang menua, lemahnya permintaan konsumen untuk kendaraan, dan meningkatnya persaingan global-terutama China. (Yetede)









