Bambang Surya Atmaja, Penggerak Wisata Curug Cipeuteuy
Bambang Surya Atmaja (32) pulang kampung mengembangkan wisata Curug Cipeuteuy di Bantaragung, Kabupaten Majalengka, Jabar. Sejumlah wisatawan bersantai di gazebo sekitar Curug Cipeuteuy, Senin (22/4). Beberapa orang berendam di kolam dekat air terjun setinggi 12 meter. Ada yang berfoto di jembatan berlatar belakang pepohonan pinus atau piknik di tempat yang tersedia. Tak jauh dari air terjun, berdiri mushala, kamar mandi, serta warung. Semua tertata rapi. Selain menikmati dingin curug, wisatawan dapat menapaki jalur untuk jalan kaki atau berkemah di area bumi perkemahan. Sejumlah fasilitas di destinasi wisata itu berasal dari desain Bambang Surya Atmaja, pengelola Curug Cipeuteuy bagian pengembangan. Tamatan MTSN, setara SMP ini tak punya latar belakang pendidikan teknik arsitektur atau mengikuti les serupa.
”Semuanya saya desain di komputer. Saya belajar otodidak,” ucap Ibenk, sapaannya. Keadaan membuatnya harus memahami soal desain arsitektur. Pembangunan curug yang dirintis tahun 2009 itu adalah swadaya warga. Mereka menyumbang uang, tenaga, dan keahlian. Saat itu, ayahnya, Sukyadi, dan sejumlah warga yang tergabung dalam Masyarakat Pariwisata Gunung Ciremai (MPGC) menginisiasi pengembangan Curug Cipeuteuy. Bersama Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, mereka menyulap semak belukar menjadi tempat wisata air terjun. Pengembangan wisata di sini tak lepas dari ditetapkannya Ciremai sebagai taman nasional. Konsekuensinya, warga tidak lagi boleh seenaknya menanam dan mengambil sesuatu dari gunung setinggi 3.078 meter di atas permukaan laut tersebut.
Curug Cipeuteuy termasuk zona pemanfaatan untuk wisata. ”Cipeuteuy ini alamnya bagus, tetapi sarananya kurang. Akhirnya, saya coba desain gambar untuk pembangunan fasilitas,” ucapnya. Tanpa upah, ia merancang sejumlah prasarana di area itu. Modalnya, latihan desain di laptop yang ia beli dari hasil merantau di negeri orang. Karena keterbatasan biaya, pengembangan destinasi itu belum maksimal. Akses menuju kawasan di 700 mdpl itu masih sempit dan rusak. Sempat merantau, pada 2014, ia meneguhkan diri untuk mengembangkan wisata desa. Ibenk mengerjakan apa saja. Dari menjaga pos tiket, memarkir, menguras kolam, hingga mendesain gazebo serta titik untuk swafoto. Ia juga aktif mengajak anak muda membantu pengembangan Curug Cipeuteuy. ”Dari situ, pengunjung mulai banyak yang datang,” ucapnya. Ibenk pula yang menginisiasi konsep outbound dan kegiatan perkemahan di desanya, hasilnya cukup memuaskan. Rombongan sekolah hingga beberapa perusahaan menikmati fasilitas baru tersebut.
Saat ini, rata-rata 2.000-3.000 orang mengunjungi destinasi itu setiap bulan. Sebelum pandemi Covid-19 tahun 2020, jumlahnya bisa 4.000 wisatawan per bulan. Dengan tiket Rp 15.000 per orang, pemasukan mencapai Rp 45 juta per bulan, belum termasuk biaya parkir. Selain operasional pariwisata, dana itu juga digunakan untuk membantu guru mengaji, masjid, hingga kebutuhan masyarakat. Curug Cipeuteuy juga berkontribusi untuk pendapatan desa dan PNBP. Ibenk turut berperan dalam penyelamatan lingkungan. ”Setiap tahun, kami menanam 500 sampai 1.000 bibit tanaman endemik Ciremai, di wilayah kritis,” katanya. Pohon itu seperti picung (Pangium edule) dan salam (Syzygium polyanthum). Tidak hanya alam, ia juga memberikan pilihan bagi warga, terutama anak muda, untuk memanfaatkan potensi desa. Ibenk tidak ingin generasi penerus di Bantaragung merantau ke kota hingga luar negeri yang risikonya lebih besar. (Yoga)
Perlu Didukung Roadmap Industri yang Jelas
Pembangunan smelter PT Freeport Indonesia (PFTI) di Manyar, Gresik, Jawa Timur (Jatim) yang segera beroperasi barulah tahap sangat awal dari upaya hilirisasi dan industrialisasi terhadap komoditas mineral tembaga. Setelah itu, diperlukan sinergitas dengan sektor-sektor industri lain yang siap untuk menyerap produk lanjutan yang memiliki nilai tambah jauh lebih tinggi. Untuk itu, diperlukan peta jalan (roadmap) yang akan menjadi pedoman dan memberi arah bagi para pelaku industri agar bisa terlibat secara efektif dalam proses hilirisasi dan industrialisasi.
Hingga kini, pemerintah dinilai belum memiliki peta jalan hilirisasi yang komprehensif. Sehingga, kebijakan hilirisasi yang diambil, terkait nikel misalnya, lebih karena mengikuti tren kendaraan listrik dunia. Direktur Ekskutif ReforMiner Institute Komaida Notonegoro menyatakan, yang terpenting untuk dilakukan pemerintah adalah menyinergikan industri pengguna dengan produk-produk yang dihasilkan smelter. "Sejauh ini, saya melihat roadmap-nya belum cukup jelas atau clear. Kira-kira arah kebijakan industri nasional kemana, terus kemundian link-nya dengan industri smelter seperti apa?," ujar Komaidi. (Yetede)
Evaluasi Kebijakan Cuti Bersama
Prabowo Siap Antisipasi Kebocoran Program Makan Siang Gratis
Presiden terpilih periode 2024-2029, Prabowo Subianto menegaskan akan mengeksekusi program makan siang dan susu gratis untuk anak-anak sekolah secara efisiensi dan tanpa kebocoran. Prabowo memastikan akan mengambil berbagai langkah untuk mencegah terjadinya kebocoran dalam pelaksanaan program tersebut. Menurut Prabowo, kebocoran tidak boleh terjadi karena yang dirugikan adalah bangsa dan negara serta masyarakat. "Masalahnya, ini sudah lama saya bicarakan, sebagai anak bangsa kita sadar banyak terjadi kebocoran di negara kita.
Sekarang, bagaimana kiat membuat skema dengan efisien dan baik, tanpa ada kebocoran sampai ke anak-anak kita," kata Prabowo. Selain itu, kata Prabowo, pembagian susu gratis kepada anak-anak di seluruh Indonesia juga akan dijalankan sesuai tipilogi masing-masing daerah. Dia mencontohkan Pulau Moa di Maluku Barat Daya, yang kerap memproduksi susu kerbau, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan susu bagi anak-anak di wilayah tersebut. (Yetede)









