Elon Musk Berbalik Dukung Non-Tarif untuk Mobil Listrik
CEO Tesla ELon Musk mengatakan tidak mendukung pengenaan tarif untuk kendaraan listrik buatan China. Pernyataannya merespon pengumuman Presiden Amerika Serikat Joe Biden baru-baru ini yang menyatakan bakal menerapkan tarif 100% atas impor mobil listrik China. Pekan lalu pemerintah Biden menyampaikan akan menerapkan tarif 100% untuk impor kendaran listrik China ke AS dengan tujuan menghentikan mobil listrik China murah membanjiri pasar AS. Menurut Gedung Putih subsidi China telah membantu perusahaan-perusahaan memproduksi produk energi bersih murah secara berlebihan, seperti panel surya dan kendaraan listrik hingga melebihi permintaan domestik. "Baik Tesla maupun saya tidak meminta tarif ini. Bahkan, saya terkejut ketika terif tersebut diumumkan," ujar Musk. Tesla sendiri harus berjuang untuk tahun ini, mengingat armada kendaraan listriknya yang menua, lemahnya permintaan konsumen untuk kendaraan, dan meningkatnya persaingan global-terutama China. (Yetede)
Naik Permanen HET Beras
Pembungkaman Pengkritik Privatisasi Air
Apa Manfaat Kenaikan HET Beras bagi Petani
Menakar Bukti Kasus Kekerasan Seksual Ketua KPU
Era Bunga Tinggi, Bank Syariah Mega Syariah Jaga Likuiditas
RI Ajak China Kembangkan Teknologi Pertanian Padi
Indonesia menjalin kerja sama dengan lembaga riset pada terbesar di China, China National Rice Research Institute (CNRRI), untuk mengembangkan teknologi pertanian guna menurunkan biaya produksi hingga 40-60%. CNRRI dikenal sebagai pusat riset terkemuka yang memainkan peran kunci dalam mengkoordinasikan program penelitian padi tingkat nasional dan global. Lembaga itu telah menghasilkan berbagai varietas padi unggul yang resisten hama penyakit, toleran cekaman lingkungan, serta menggunakan teknologi ramah lingkungan, dan hemat biaya.
Kerja sama yang diinisiasi Indonesia itu disambut baik oleh CBRRI dan difokuskan pada beberapa area penting. Area itu meliputi peningkatan kualitas benih dengan mengembangkan benih lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan serta teknologi pertanian modern dengan mengaplikasikan teknologi digital (kecerdasan buatan/AI) dan alat mesin pertanian modern seperti mesin pembibitan otomatis, transplanter, drone, combine harvester, dan RMU (rice milling unit). (Yetede)
Saham Papan Atas Makin Terbatas
Jumlah saham yang berada di papan utama berkurang drastis. Itulah yang tampak dari hasil rotasi anggota papan utama yang dilakukan oleh manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam evaluasi kali ini, otoritas bursa mengangkat 10 saham ke papan utama (lihat infografik). Kemudian BEI menurunkan 109 saham dari papan utama ke level papan pengembangan.Perubahan ini berlaku akhir Mei 2024 ini. Beberapa saham yang terdepak ke papan pengembangan cukup mengejutkan. Sebut saja PT Adira Finance Tbk (ADMF), HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan Bank Permata Tbk (BNLI). Ada juga emiten yang terafiliasi orang penting terdepak dari papan utama. Sebut saja emiten milik Keluarga Tanoko, PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk (DEPO). Emiten saham milik Tommy Soeharto, PT GTS Internasional Tbk (GTSI), dan PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) milik Grup Salim, hingga emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), juga tergusur dari papan utama. Sementara emiten saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya yang turun kelas yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Presisi Tbk (PPRE), PT Phapros Tbk (PEHA), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM).
Sebagai gambaran, merujuk data BEI, saat ini ada 926 emiten tercatat di BEI. Dari jumlah itu, 347 emiten atau 37,47% berada di papan utama, dan 320 emiten atau 34,55% di papan pengembangan. Usai perubahan tersebut, 248 emiten atau 26,78% di papan utama , sementara 419 emiten atau 45,24% di papan pengembangan. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengungkapkan, beleid perpindahan papan pencatatan ini bertujuan memberi klasifikasi yang jelas ke investor mengenai kondisi emiten berdasarkan kinerja fundamental, kapitalisasi pasar, serta pemenuhan atas peraturan bursa. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat saham yang naik ke papan utama akan mendapat sentimen positif. Sebaliknya, pasar cenderung merespons negatif saham yang turun ke papan pengembangan, apalagi jika penurunannya terkait faktor fundamental. Pendiri WH-Project William Hartanto juga melihat saham yang naik ke papan utama hanya menguat sejenak. Pasar bisa memanfaatkan momentum itu untuk trading pada saham tersebut. Sementara untuk saham yang turun ke papan pengembangan, William menyarankan wait and see.
Rupiah Bisa Melemah Hingga Tahun 2025
Rupiah berpotensi melemah hingga tahun depan. Pemerintah memasang asumsi rata-rata kurs rupiah di Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025 di kisaran Rp 15.300-Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS), atau di bawah rata-rata nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Abdurrahman membeberkan beberapa faktor penetapan asumsi nilai tukar rupiah tahun depan yang lebih optimistis di tengah fluktuasi pada saat ini. Pertama, bank sentral AS, The Fed diperkirakan mulai memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada paruh kedua tahun ini dan minimal dua kali pemangkasan pada tahun depan. Kedua, tensi politik dalam negeri melandai lantaran proses pemilihan umum (Pemilu) 2024 telah selesai, dan berlangsung aman. Ketiga, kinerja ekonomi nasional yang relatif kuat, ekspor diproyeksikan mulai membaik, penempatan devisa hasil ekspor (DHE) meningkat, dan juga inflasi yang relatif stabil.
Abdurrahman memastikan, penentuan asumsi dasar ekonomi makro 2025, termasuk nilai tukar rupiah, melalui rapat berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Bank Indonesia. Hanya, Kepala Ekonom Bank Sentral Asia (BCA) David Sumual menilai, asumsi kurs rupiah yang pemerintah patok dalam rentang Rp 15.300-Rp 16.000 terlalu optimistis. Asumsi ini kurang bersaing. "Dan agak overvalued dibandingkan dengan negara peers, atau negara emerging market dan juga mitra dagang utama," kata David kepada KONTAN kemarin. Sementara Staf Bidang Ekonomi, Industri, dan Global Markets dari Bank Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menyebutkan, asumsi nilai tukar dalam rentang Rp 15.300 hingga Rp 16.000 per dolar AS masih realistis. Ia memperkirakan, tahun depan, posisi cadangan devisa akan kembali meningkat sehingga nilai tukar bisa menguat.









