Fitofarmaka untuk Kemandirian Bangsa
Pengembangan dan pemanfaatan fitofarmaka dapat menjadi modal kuat bagi Indonesia mencapai kemandirian bangsa memenuhi produk farmasi. Namun, upaya tersebut belum optimal. Dukungan dari pemangku kepentingan dinilai masih lemah sehingga pemanfaatan fitofarmaka di dalam negeri masih terbatas. Indonesia memiliki potensi pengembangan fitofarmaka yang besar karena didukung ketersediaan sumber daya alam (SDA) yang sangat melimpah. Dengan 143 juta hektar hutan tropis, ada 28.000 spesies tumbuhan yang hidup di Indonesia. Diperkirakan 80 % atau 2.800 spesies tanaman obat di dunia berasal dari hutan tropis Indonesia. Berbeda dengan obat herbal terstandar, fitofarmaka merupakan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik.
Bahan baku dan produk jadinya pun telah dilakukan standardisasi. Sementara obat herbal terstandar, keamanan dan khasiatnya hanya dibuktikan dengan uji praklinik. Dekan Fakultas Kedokteran UI Ari Fah- rial Syam, Minggu (26/5) di Jakarta, mengatakan, berbagai riset dan pengembangan bahan alam di Indonesia sebenarnya sudah banyak dilakukan. Riset-riset tersebut juga telah didorong untuk menghasilkan produk-produk obat fitofarmaka. ”Sekarang ini sudah ada beberapa produk fitofarmaka yang telah dihasilkan. Produk tersebut pun sudah dipasarkan di masyarakat, tapi, pemanfaatannya belum optimal, karena fitofarmaka belum masuk dalam formularium nasional sehingga tidak dijamin oleh JKN (Jaminan Kesehatan Nasional),” katanya. Menurut dia, obat fitofarmaka yang belum masuk dalam formularium nasional menjadi salah satu kendala dalam mengoptimalkan potensi pemanfaatan obat tersebut.
Sebab, mayoritas penduduk di Indonesia merupakan peserta JKN. Kebutuhan obat yang diberikan pun harus sesuai dengan obat-obat yang terdaftar dalam formularium nasional program JKN. Sekalipun dokter telah menganjurkan penggunaan obat fitofarmaka kepada pasien, biaya untuk mengakses obat tersebut masih harus ditanggung secara mandiri. Padahal, terdapat beberapa obat fitofarmaka yang baik untuk pasien, terutama untuk pengobatan komplementer. Antara lain, fitofarmaka kombinasi ekstrak herbal seledri dan daun kumis kucing untuk menurunkan tekanan darah, fitofarmaka fraksi dari ekstrak kulit kayu manis untukmeringankan gangguan lambung, fitofarmaka ekstrak herbal meniran untuk memperbaiki sistem imun, serta fitofarmaka dari ekstrak cacing tanah untuk memperlancar sirkulasi darah. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023