Kalbe Farma Perkuat Pasar Regional dengan Strategi Penjualan
PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) sedang fokus memperluas pasar di kawasan Asia Tenggara melalui penambahan produk baru dan kemitraan strategis. Hari Nugroho, Corporate External Communication PT Kalbe Farma, menyebut bahwa Kalbe berupaya memperkuat ekspor, termasuk ke negara seperti Thailand, Sri Lanka, Timur Tengah, dan Afrika. Saat ini, ekspor berkontribusi sekitar 5%–6% dari total penjualan Kalbe.
Maria Teresa Fabiola, Corporate Secretary KLBF, menambahkan bahwa produk Kalbe telah tersedia di lebih dari 40 negara, menjadikan perusahaan ini kompetitif di pasar internasional. Pertumbuhan laba bersih Kalbe pada semester pertama mencapai 18,4%, didukung oleh kinerja yang kuat di seluruh segmen bisnis, pengelolaan biaya operasional yang baik, dan kemitraan strategis, termasuk dengan perusahaan dari Thailand dan China untuk pengembangan bahan baku obat.
Investor Incar Global Bond dengan Imbal Hasil Tinggi
Di tengah tumpukan utang yang menggunung, pemerintah nampaknya perlu mencari dana untuk membayar utang. Penerbitan Surat Utang Negara (SUN) jadi pilihan. Terbaru, pemerintah mengeluarkan SUB dalam denominasi mata uang asing ( dual currency ) yakni dolar AS (USD) dan SUN Sustainable Development Goals (SDG) dalam euro (EUR) Rabu (4/9) lalu. Nilai penerbitan masing-masing US$ 1,8 miliar dan 750 juta. Dalam rupiah, total nilai penerbitan sekitar Rp 40 triliun. Global bond itu tiga tenor, yakni 8 tahun, 10 tahun, dan 30 tahun. Masing-masing kuponnya 3,65%, 4,75% dan 5,15%. Catatan Kementerian, posisi utang pemerintah di era Jokowi mencapai Rp 8.502,69 triliun pada akhir Juli 2024. Adapun total utang jatuh tempo di 2025 Rp 800,33 triliun. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mencermati penerbitan surat utang di tengah kenaikan utang memang berisiko. Salah satunya risiko refinancing. Jika dibandingkan dengan negara peers seperti Malaysia dan Thailand, secara historis negara-negara itu menawarkan yield yang lebih rendah dari Indonesia. Adapun SUN tenor 10 tahun, David memprediksi akan ada di kisaran 6,2%-7% di akhir 2024.
"Secara keseluruhan profil utang masih cukup aman seiring dengan kondisi ekonomi yang cukup terjaga, tercerminkan dari penilaian S&P dan Fitch yang tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada BBB dengan
outlook
stabil," kata David kepada KONTAN, Senin (9/9).
Sementara itu Direktur
& Chief Investment Officer Fixed Income
Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra, Nazula mengatakan, dengan ekspektasi pemangkasan Fed rate akan mendorong imbal penurunan hasil US Treasury. "Kondisi ini menjadi sentimen positif untuk
global bond
Indonesia, terbukti dari
orderbook
yang
oversubscribe
," kata Ezra, Senin (9/9).
Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengungkapkan, total
order book
surat utang pemerintah itu mencapai US$ 8,5 miliar dan 3 miliar.
Chief Dealer Fixed Income & Derivatives
Bank Negara Indonesia (BNI) Fudji Rahardjo juga mengatakan, penerbitan
global bond
ini menjadi menarik karena arah suku bunga ke depan diproyeksi akan turun.
Insentif Pajak Digenjot untuk Dongkrak Daya Beli
Pemerintah diminta melanjutkan dan memperluas sejumlah insentif pajak yang akan berakhir pada tahun ini. Kucuran insentif pajak dinilai bisa menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya kelas menengah. Sedikitnya ada tiga insentif pajak yang akan berakhir tahun ini. Pertama, insentif pajak penghasilan (PPh) final usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) 0,5%, khusus untuk wajib pajak orang pribadi yang telah dimanfaatkan sejak 2018. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 55/2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang PPh. Kedua, insentif pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk sektor properti. Mengacu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 7/2024, PPN DTP 50% berlaku untuk pembelian properti Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar periode 1 Juli-31 Desember 2024. Ketiga, diskon PPN sebesar 10% untuk mobil listrik yang juga akan berakhir tahun ini. Insentif itu tertuang dalam PMK No 8/2024. Menteri Keuangan Sri Mulyani belum lama ini mengatakan pihaknya akan mengevaluasi insentif PPh final UMKM 0,5%. Evaluasi itu untuk melihat kembali apakah insentif pajak UMKM yang sudah dimanfaatkan sejak 2018 perlu dilanjutkan atau tidak.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pemerintah memang perlu mengevaluasi sejumlah insentif pajak yang diberikan. Namun evaluasi itu dalam konteks memperkuat dukungan kepada masyarakat. Dia menyarankan, pertama,
pemerintah memperbesar insentif PPh final UMKM dari saat ini 0,5% menjadi hanya 0,1%.
Kedua,
memberikan insentif PPh 21 DTP untuk karyawan. Harapannya, insentif ini bisa mendorong konsumsi rumah tangga yang saat ini belum stabil.
Ketiga,
memperpanjang kembali insentif PPN DTP sektor properti. Ini lantaran sektor properti sangat sensitif terhadap penurunan jumlah warga kelas menengah.
Terkait insentif PPh final UMKM, Direktur Eksekutif MUC Tax Research Wahyu Nuryanto menilai, pemerintah berharap pelaku usaha mikro kecil bisa naik kelas. Tidak hanya skala usahanya, tetapi dalam menjalankan kewajiban perpajakannya.
Belanja Masyarakat Masih Belum Pulih
Kondisi belanja rumah tangga belum kembali ke kondisi sebelum pandemi Covid-19. Hal tersebut menjadi alarm bagi pemerintah, mengingat konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Pada kuartal I-2024 misalnya, dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 4,91% year on year (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,11% yoy. Di kuartal II-2024, pertumbuhan konsumsi rumah tangga 4,93% yoy, juga lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi di periode itu yang sebesar 5,05% yoy. Tanda pelemahan belanja rumah tangga berpotensi berlanjut. Sebab, dari hasil Survei Konsumen oleh Bank Indonesia (BI), proporsi pengeluaran konsumen untuk konsumsi Agustus hanya 73,5%, turun dari Juli sebesar 75,8%. Di Juli, proporsi pengeluaran untuk konsumsi juga turun dari Juni yang tercatat 73,9%. Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 60% PDB. "Di kuartal I dan II saat ada siklus puasa dan Lebaran tetapi [konsumsi] enggak nendang. Padahal yang mudik banyak dan ada pemilu," tutur dia, Senin (9/9). BPS sebelumnya mencatat masyarakat kelas menengah mencapai 57,33 juta pada 2019.
Angka ini terus menurun dalam lima tahun terakhir, hingga menjadi 47,85 juta pada 2024, atau turun 9,48 juta orang. Eko menduga, konsumsi rumah tangga hingga akhir 2024 tak mengalami perbaikan. Sebenarnya perbaikan bisa saja terjadi, dengan syarat, proses Pilkada 2024 berjalan lancar dan pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak semakin marak.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, menurunnya porsi pengeluaran konsumen untuk konsumsi karena mereka berhati-hati menggunakan uangnya. "Kami melihat masih ada momentum untuk mendorong konsumsi seperti efek musiman perayaan Natal dan Tahun Baru hingga pemotongan suku bunga acuan BI yang mendorong konsumsi barang tahan lama," kata Josua.
Rencana Belanja Modal Jumbo Emiten Pertambangan
Sederet emiten tambang dan energi menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) jumbo untuk menggarap proyek ekspansi di tahun ini. Salah satunya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Emiten tambang emas dan tembaga ini menganggarkan capex US$ 2 miliar pada 2024. Dengan capex berlimpah, saat ini AMMN sedang mengerjakan sejumlah proyek ekspansi. Meliputi smelter tembaga & precious metal refinery, Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), fasilitas liquified natural gas (LNG) dan fasilitas transmisi dan distribusi. Selain itu, AMMN menggarap desain ulang dan ekspansi pabrik konsentrator, serta proyek infrstruktur pendukung. Sederet proyek tersebut mendongkrak serapan capex AMMN per semester I-2024 menjadi US$ 867 juta, melonjak sekitar 99% dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan capex juga dialami PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), yang naik 46% menjadi US$ 394 juta per Juni 2024. Terutama diinvestasikan pada alat berat, tongkang dan infrastruktur pendukung di rantai pasokan. Lalu, untuk proyek smelter aluminium dan fasilitas pendukung. Adapun, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) tak ketinggalan menggelar ekspansi. MEDC menyiapkan capex US$ 350 juta untuk segmen minyak dan gas (migas) serta US$ 80 juta untuk ketenagalistrikan.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer melihat, anggaran maupun realisasi capex emiten tambang dan energi yang terbilang jumbo memberikan indikasi positif. Hal ini memberikan sinyal optimisme emiten dari sisi ekspansi sebagai strategi pengembangan bisnis ke depan.
Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki sepakat, capex yang besar bisa menjadi indikasi awal bahwa proyek ekspansi masih berjalan sesuai rencana. "Manajemen juga optimistis bisnis masih
in line
dengan target mereka," kata Yaki, Senin (9/9).
Founder
Stocknow.id Hendra Wardana menyoroti sektor tambang dan energi memiliki siklus bisnis yang panjang. Dus, emiten perlu melakukan pendekatan investasi jangka panjang. Secara umum, kata Hendra, capex sejumlah emiten besar menunjukkan langkah ekspansi pada proyek strategis di hulu dan hilir.
Secara teknikal, Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menjagokan saham ITMG, UNTR dan ADRO. Ketiga saham itu punya prospek positif untuk jangka pendek.
Penguatan Rupiah, Emiten Farmasi Lihat Peluang
Pemerintah dan parlemen belum lama ini menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2025.Nilai tukar rupiah dipatok di level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini lebih rendah daripada usulan pemerintah sebelumnya Rp 16.100 per dolar AS.
Penetapan asumsi kurs rupiah tersebut diproyeksi bakal menjadi angin segar bagi emiten farmasi. Maklum, emiten di sektor ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Direktur PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), Kartika Setiabudy mengatakan, kurs rupiah berpengaruh ke harga pokok penjualan perusahaan. Sebab, impor bahan baku obat belum tersedia secara lokal. Dalam kondisi kurs rupiah yang melemah terhadap dolar AS, perusahaan berupaya mengelola tingkat margin dengan strategi bauran produk dan pengelolaan harga.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, pengaruh dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tergantung pada strategi perusahaan untuk menjaga performanya. Misal, perusahaan bisa saja melakukan hedging. Jadi, pelemahan rupiah tidak berdampak pada naiknya biaya.
ELSA Panen Cuan dari Proyek Migas
PT Elnusa Tbk (ELSA) diperkirakan mampu melanjutkan tren pertumbuhan kinerja pada semester II-2024. Penyerapan belanja modal alias capital expenditure (capex) untuk proyek strategis hingga insentif di sektor hulu migas menjadi pendorong kinerja ELSA. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa mengatakan, ELSA membukukan pendapatan sebesar Rp 6,3 triliun pada semester I 2024. Nilai itu tumbuh 7,8% year on year (yoy) dari Rp 5,86 triliun. Pertumbuhan pendapatan ELSA ditopang oleh segmen jasa hulu migas terintegrasi yang naik sekitar 37,35% menjadi Rp 2,6 triliun dari senilai Rp 1,9 triliun. Sementara segmen jasa penunjang migas menurun sebesar 16,55% yoy menjadi Rp 692 miliar dari Rp 829 miliar serta jasa distribusi dan logistik energi melorot 1,88% yoy menjadi Rp 3,3 triliun dari Rp 3,36 triliun. "ELSA sebagai salah satu pemain dalam industri tersebut memiliki peralatan pengeboran (rig) yang andal dan mumpuni bernama Elnusa Modular Rig 01 (EMR-01)," ujarnya, Senin (9/9). Meski begitu, analis Lotus Andalan, Fath Aliansyah berpandangan kontribusi dari sektor hulu migas akan sedikit lebih rendah dari semester I 2024.
Menurutnya, terdapat risiko dengan adanya pergantian pemerintahan yang baru yang dapat mempengaruhi jalannya proyek. "Walaupun masih bisa bertumbuh dibanding tahun lalu, tapi ada kecenderungan lebih kecil dibanding semester I," sebut Fath.
Analis Sinarmas Sekuritas, Inav Haria Chandra memperkirakan, untuk semester II ini akan terjadi pergeseran. Segmen bisnis hilir dinilai yang akan akan mendukung pendapatan ELSA.
Secara umum, kinerja ELSA diperkirakan tetap positif. Sinarmas Sekuritas telah meningkatkan perkiraan laba bersih ELSA, yakni menjadi Rp 667 miliar dibandingkan dengan sebelumnya sebesar Rp 647 miliar.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer bilang, sentimen-sentimen itu akan memberikan efek positif terhadap saham ELSA. "Jika mengasumsikan
earning per share
(EPS) disetahunkan berada di 121 dan potensi ELSA bagi dividen di kisaran 40%-50%, maka bisa menghasilkan potensi dividend yield antara 10%-13%, dengan menggunakan harga terakhir Rp 480," terang Miftah.
Kredit Apartemen Lesu, Apa Solusinya?
Penyaluran kredit kepemilikan apartemen (KPA) masih tumbuh mini, meski
outstanding
kredit kepemilikan hunian secara keseluruhan tumbuh pesat hingga pertengahan tahun. Ini sejalan dengan pasar apartemen yang masih mengalami tekanan.
Hendra Hartono, CEO Leads Property Services Indonesia, mengatakan, pasar apartemen hingga saat ini belum bergerak. Perbankan juga cenderung menutup diri dalam menyalurkan KPA.
Penyaluran kredit ke sektor apartemen baik, untuk kontruksi maupun KPA, sangat terbatas. Kalau pun bank mau membiayai KPA, mereka selektif, kecuali untuk pembeli
secondary
. Sebelum menyetujui kredit, bank juga sangat memperhatikan di mana calon lokasi nasabahnya, kata Hendra, Senin (9/9).
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit kepemilikan apartemen (KPA) masih rendah, jauh dari total pertumbuhan kredit kepemilikan hunian. Namun, laju KPA dalam tren naik.
Outstanding
KPA per Juni 2024 tercatat mencapai Rp 30,31 triliun, tumbuh 7,26% secara tahunan. Lajunya naik dari 4,76% pada Juni 2023 dan 5,75% di Desember.
Sebelumnya, SVP
Consumer Loan Group
Bank Mandiri Dessy Wahyuni mengatakan, permintaan KPA menurun karena pengembang memang lebih fokus pada penjualan rumah tapak dibanding apartemen.
Klaim Kesehatan Berpotensi Terus Meningkat
Klaim asuransi kesehatan yang naik pesat menjadi beban bagi perusahaan asuransi jiwa. Di semester I tahun ini, klaim asuransi kesehatan secara industri naik 26% secara tahunan jadi Rp 11,83 triliun. Kondisi ini juga terjadi di masing-masing perusahaan asuransi jiwa.
PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) misalnya, per Juli 2024, mencatat pembayaran klaim kesehatan dan meninggal dunia meningkat 28% secara tahunan menjadi Rp 394 miliar.
Head of Customer and Marketing
MSIG Life Lukman Auliadi menyebut, klaim ini perwujudan komitmen perlindungan pada nasabah. Perusahaan ini juga terus melakukan manajemen risiko yang kuat, melalui pengembangan data analitik.
Pembayaran klaim kesehatan PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia pada Juli 2024 juga mengalami peningkatan sebanyak 18,50% secara tahunan menjadi Rp 680 miliar.
Chief Marketing Officer
Generali Indonesia Vivin Arbianti Gautama menjelaskan, klaim kesehatan memiliki kontribusi terbesar terhadap total klaim Generali Indonesia, yaitu mencapai 79%.
Generali Indonesia telah membayarkan total klaim senilai Rp 866,5 miliar untuk lebih dari 189 kasus klaim. Total klaim tersebut mencakup klaim meninggal dunia, klaim kesehatan dan klaim penyakit kritis.
Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu pun mengakui penyebab utama peningkatan klaim asuransi kesehatan ini adalah semakin tingginya biaya kesehatan, yang dipengaruhi oleh inflasi medis. Inflasi biaya medis yang meningkat mempengaruhi biaya obat-obatan, perawatan, hingga layanan rumahsakit.
Merawat Warga Lansia Penderita Alzheimer dengan Kesungguhan Hati
Aura penuh keceriaan dari senyum dan tawa kakek-kakek dan nenek-nenek memenuhi setiap sudut ruang lantai empat Gedung Administrasi RS Universitas Indonesia, Depok, Jabar, Rabu (4/9). Namun, di balik senyuman lembut dan tatapan samar mereka ada perjuangan yang tak terlihat. Perjuangan untuk melawan alzheimer. Keceriaan terlihat sejak mereka satu per satu berdatangan dengan sambutan hangat dari fasilitator Tenteram Senior Care, lembaga yang didedikasikan untuk meningkatkan mutu hidup para lansia, dengan perhatian khusus pada penyandang demensia, termasuk alzheimer. Acara dimulai dengan sarapan bersama dengan menu bubur kacang hijau dan teh hangat sembari saling berkenalan. Setelah perut terisi, fasilitator mengajak kakek dan nenek berkumpul dalam lingkaran kecil serta menggerakkan anggota tubuh. Mereka memijat telinga, menggerakkan pergelangan tangan, hingga menggerakkan kesepuluh jari tangan.
Gerakan-gerakan ini disebut senam otak. Stimulasi gerak tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga menjaga kesehatan otak. Olahraga ringan setiap hari bisa menjadi langkah kecil untuk mencegah demensia dan menjaga kebugaran mental, khususnya bagi warga lansia. 15 menit berlalu, para kakek dan nenek dipersilakan duduk untuk mendengarkan edukasi kesehatan kulit lansia bersama Mulqi Handaru Priyanto, dokter dermatologi dan venereologi RSUI. Mulqi memanggil semua peserta dengan sebutan ”kakak” untuk meningkatkan jiwa muda dalam tubuh para lansia ini. Selain senam otak dan diskusi kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama, karaoke menyanyikan lagu-lagu kenangan para kakek-nenek, bermain untuk melatih motorik para lansia, seperti mengisi teka-teki silang, melukis, mewarnai, lempar bola, dan menari.
Semua dilakukan untuk melatih motorik dan kesehatan mental para lansia agar tidak mudah demensia. ”Masalah utama para lansia ini, sebenarnya kesepian dan tidak ada aktivitas lagi. Sekarang mereka justru kembali tersenyum bersama teman-temannya di sini, bahkan selalu menunggu hari Rabu setiap minggunya,” kata Velly Saafrianti, Ketua Tenteram Senior Care. Berbeda dengan Joko Sumitro (39) di Balikpapan, Kaltim, yang merawat beberapa warga lansia yang hidup menggelandang dan dijaring dinas sosial dengan fasilitas lebih terbatas, termasuk yang mengidap alzheimer, di Panti Jompo Bhakti Abadi Balikpapan, Kaltim. Joko merupakan penerus pengurus panti setelah ayahnya berpulang pada tahun 2018. Di tengah kesibukan pribadi dan keluarga, mau tak mau mempelajari berbagai penanganan penghuni panti yang berdiri sejak 1989 tersebut. Sebagian besar penghuni panti tak terhubung dengan keluarga.
Karena itu, perawat sepertinya mesti hadir mengisi ruang afeksi penghuni panti. Yang ia bisa lakukan adalah meningkatkan kualitas hidup penghuni panti di masa tua dengan perhatian cukup. Di Panti Werdha Hargo Dedali, Surabaya, Jatim, 30 penghuni lansia, sebagian di antaranya mengalami demensia, ”dititipkan” kerabat. Penanggung jawab wajib menanggung biaya bulanan Rp 3,5 juta-Rp 4 juta. Penghuni berasal dari Surabaya atau luar ibu kota Jatim. Penghuni memiliki keluarga atau wali yang menjadi penanggung jawab di Surabaya. Panti ini didirikan 31 Januari 1987 oleh putra putri pejuang kemerdekaan di Surabaya bekerja sama dengan Kemensos, Dinas Sosial Jatim, serta Dinas Sosial Kota Surabaya dengan kapasitas 100 orang. Ada 20 pegawai dan perawat menangani penghuni. ”Penghuni di sini hidup sampai berpulang atau tergantung keluarga,” kata Ketua Yayasan Hargo Dedali, Endang Sinargianti. (Yoga)









