Penguatan Rupiah, Emiten Farmasi Lihat Peluang
Pemerintah dan parlemen belum lama ini menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2025.Nilai tukar rupiah dipatok di level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini lebih rendah daripada usulan pemerintah sebelumnya Rp 16.100 per dolar AS.
Penetapan asumsi kurs rupiah tersebut diproyeksi bakal menjadi angin segar bagi emiten farmasi. Maklum, emiten di sektor ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Direktur PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), Kartika Setiabudy mengatakan, kurs rupiah berpengaruh ke harga pokok penjualan perusahaan. Sebab, impor bahan baku obat belum tersedia secara lokal. Dalam kondisi kurs rupiah yang melemah terhadap dolar AS, perusahaan berupaya mengelola tingkat margin dengan strategi bauran produk dan pengelolaan harga.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, pengaruh dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tergantung pada strategi perusahaan untuk menjaga performanya. Misal, perusahaan bisa saja melakukan hedging. Jadi, pelemahan rupiah tidak berdampak pada naiknya biaya.
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023