;

Pemerintah Meresmikan Merger BUMN Pengelolan Bandara Indonesia atau InJourney Airports

Yuniati Turjandini 10 Sep 2024 Investor Daily (H)

Pemerintah meresmikan merger BUMN pengelolan bandara PT Angkasa Pura (AP) I dan AP II menjadi PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports. Perusahaan hasil merger AP I dan II menjadi operator bandara terbesar kelima dunia. Peresmian tersebut disaksikan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Menteri BUMN Erick Thohir, Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo, Direktur Utama (Dirut) PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) Donny Oskaria, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Novie Riyanto.

Erick Thohir mengatakan, integrasi atau penggabungan Angkasa Pura  mengacu pada penggabungan Angkasa Pura pengacu pada pengalaman pemerintah yang menyatukan BUMN Pelindo Meliputi Pelindo I, II, III, dan Pelinco IV tanpa masalah berarti. "Hal ini menjadi hari bersejarah, di mana saya dan Pak Budi Karya punya komitmen memastikan bagaimana Indonesia bisa bersaing di kancah yang lebih besar melalui pengelolaan bandara. Kita punya sejarah menyatukan Pelindo tanpa ada isu seperti  lay off dan lainnya. (Yetede)

Industri Multifinance Mencatatkan Kinerja Positif

Yuniati Turjandini 10 Sep 2024 Investor Daily (H)

Industri multifinance hingga 20 Juli 2024 mencatatkan kinerja yang positif dengan piutang pembiayaan tumbuh 10,53% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 494,10 triliun. Di tegah kondisi ekonomi yang menantang saat ini, perusahaan pembiayaan masih optimistis dapat memacu pertumbuhan kinerja. Pertumbuhan pembiayaan per Juli 2024 sedikit melambat dibandingkan dengan posisi Juni yang meningkat 10,27,72% (yoy), bahkan jauh lebih rendah dari Juli 2023 sebesar 16,22% (yoy).

OJK mencatat, pembiayaan modal kerja menjadi penopang pertumbuhan kinerja industri multifinance per Juli dengan peningkatan sebesar 9,43% (yoy), meskipun lebih lambat dari Juni 2024 yang naik 11,46% (yoy). Meskipun saat ini terjadi perlambatan konsumsi kelas menengah, kinerja PT CIMB Niaga Auto Finance  (CNAF) masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. "Dimana pertumbuhan piutang pembayaran sebesar 38,28% (Agustus Rp10,29 triliun) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 7,44 triliun," kata Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman. (Yetede)

Pemerintah Bentuk Komite Kejar Obligator BLBI

Yuniati Turjandini 10 Sep 2024 Investor Daily (H)
Pemerintah membuka wacana untuk membentuk Komite Penanganan Hal Tagih Dana Bantuan Likuditas Bank Indonesia (BLBI) pada 2025, untuk mengejar obligator yang belum menunaikan kewajiban mereka mengembalikan dana yang diterima melalui BLBI. Adapun pemerintah sudah memiliki Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI yang sudah berjalan sejak tahun 2021. Sayangnya tugas Satgas BLBI akan berakhir pada 31 Desember 2024. Padahal upaya mengumpulkan dana dari obligator BLBI masih jauh panggang dari api. Satgas BLBI bertugas untuk mendapatkan pembeli kompensasi dari Rp 110,45 triliun, termasuk melakukan ambil alih aset yang dimiliki obligator. Pengambilalihan dan pemulihan itu  sebagian nanti adalah mengalihnamakan aset tersebut menjadi aset negara. Hingga 5 September 2024 Satgas BLBI baru mengumpulkan Rp38,8  triliun dari obligator. (Yetede)

Turunnya Suku Bunga The Fed Bakal Diikuti Pemotongan Suku Bunga BI

Yuniati Turjandini 10 Sep 2024 Investor Daily (H)

Momentum penurunan suku bunga the Federal Reserve (Fed funds rate/FFR) yang bakal diikuti pemotongan suku bunga BI, sudah didepan mata. Kian dekatnya pemangkasan suku bunga tersebut, akan menjadi sentimen kuat penggerak saham perbankan seiring ekspekstasi membaiknya kinerja perusahaan. Saham bank-bank besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pun dipercaya masih menyimpan potensi gain hingga double digit.

"Dengan estimasi the fed memangkas suku bunga sebesar 25 basispoin (bp) di bulan September (dan 50bp untuk full year 2024/FY24), kami memperkirakan BI mengikuti langkah tersebut dengan penurunan suku bunga sebanyak 50bp. Kami berpendapat, BBRI menjadi bank yang paling diuntungkan dari skenario suku bunga ini. Bank BUMN tersebut juga akan mendapatkan dampak ganda yang menguntungkan selama siklus suku bunga rendah," kata Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dan Anthony dalam riset terbarunya yang dikutip Senin (9/9/2024). (Yetede)

KPK dan Dewan Pengawasnya Akankah Bekerja Seperti yang Diharapkan

Yuniati Turjandini 10 Sep 2024 Tempo
SEBAGAI organ yang bertugas mengawasi pelaksanaan tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dewan Pengawas atau Dewas KPK punya wewenang serta peran untuk memperkuat organisasi dan peran lembaga pemberantasan korupsi. Dalam konteks ini, Dewas KPK harus mampu melihat kondisi interaksional lembaga lain agar KPK dapat mencontoh model interaksi terbaik dari organisasi lain dalam hal pemberantasan korupsi. Hal ini dapat menjadi instrumen untuk memperbaiki dan memperkuat organisasi KPK. Selain itu, Dewas KPK dituntut mampu melihat persoalan secara multidimensional, termasuk mengenali tantangan yang dihadapi lembaga.

Namun belakangan ini tingkat kepercayaan masyarakat terhadap KPK, berdasarkan sejumlah survei, mengalami penurunan konsistensi dan ketajaman. Kondisi ini dipengaruhi aspek penegakan hukum, penanganan tahanan, serta persoalan kredibilitas pimpinan dan para staf. Saat ini KPK menghadapi persoalan serius pada aspek integritas. Kelemahan lain KPK, mengacu pada Laporan Dewas 2023, adalah persoalan koordinasi dan supervisi. KPK juga tampak tidak berdaya dalam menghadapi persoalan korupsi dan tata kelola  di sektor eksploitasi sumber daya alam. Hal ini terlihat dari munculnya sejumlah kasus korupsi bernilai fantastis dan melibatkan pihak-pihak di dalam lembaga negara.

Selain itu, KPK terlihat lemah dalam aspek penanganan korupsi politik, khususnya pada masalah politik uang, konflik kepentingan, dan perdagangan pengaruh. Padahal manipulasi politik merupakan sumber korupsi sistematis. Situasi ini terlihat dalam Indeks Persepsi Korupsi yang menurun tajam pada 2022, di mana aspek politik menjadi kontributor penurunan secara signifikan. (Yetede)

Kejahatan Anak Yang Semakin Mengkhawatirkan

Yuniati Turjandini 10 Sep 2024 Tempo
KEMENTERIAN Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mendorong polisi mengungkap motif kekerasan seksual yang berujung pada kematian seorang remaja putri 13 tahun di Palembang, Sumatera Selatan. Pendalaman ini dinilai penting untuk mengetahui latar belakang kejahatan tersebut. Sebab, empat orang yang diduga sebagai pelaku adalah anak-anak. “Mengapa anak-anak bisa melakukan kejahatan berat seperti itu?" kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA Nahar pada Jumat, 6 September 2024.

Menurut Nahar, kejahatan anak ada kemungkinan terjadi karena pengaruh lingkungan yang tidak mendukung tumbuh kembang anak. Jadi, secara tidak langsung, anak yang diduga sebagai pelaku tersebut sebenarnya adalah korban dari lingkungan yang tak sehat. "Bisa jadi akibat kondisi anak memiliki masalah lain karena kurang perhatian orang tua, kurang pengetahuan memanfaatkan teknologi informasi, atau menjadi korban pornografi,” ujar Nahar.  

Korban dalam kejahatan ini adalah AA, pelajar kelas VIII. Jasadnya ditemukan di permakaman umum Talang Kerikil, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Palembang, pada Ahad, 1 September 2024. Hanya berselang dua hari, polisi menangkap empat anak yang diduga sebagai pelaku. Mereka adalah IS, 16 tahun, MZ (13); MS (12); dan AS (12). Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, empat remaja itu menyekap dan mencabuli korban secara bergiliran pada 31 Agustus 2024. Setelah AA tidak bernapas, mereka meninggalkan jasadnya di permakaman hingga ditemukan oleh penduduk pada keesokan harinya. (Yetede)

Potong Gaji untuk Iuran Dana Pensiun Menjadi Beban Bukan Solusi

Yuniati Turjandini 10 Sep 2024 Tempo
AIZ Zaki, 25 tahun, mengeluhkan rencana pemerintah memotong gaji pekerja untuk iuran dana pensiun tambahan. Pekerja kelas menengah di Jakarta Selatan itu menilai pemerintah gegabah apabila memotong upah karyawan di tengah kondisi ekonomi yang rentan saat ini. "Gaji saya masih terbilang pas-pasan dan belum cukup untuk tabungan jangka panjang yang lebih besar," tuturnya kepada Tempo, Senin, 9 September 2024.

Ia juga ragu akan pengelolaan dana pensiun tambahan ini. Terlebih rencana ini datang mendadak dan pemerintah tidak membeberkan urgensi penarikan iuran tersebut. Jika pemerintah ingin memotong gaji pekerja, kata dia, setidaknya masyarakat mendapat penjelasan yang terang tentang rencana dan jaminan program tersebut.

Bagi Faiz, iuran ini hanya akan menambah beban karena dana pensiun belum menjadi prioritasnya. Apalagi gaji karyawan swasta sudah mendapat banyak potongan setiap bulan, seperti pajak penghasilan, iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan, serta iuran BPJS Ketenagakerjaan yang memuat program serupa, yakni Jaminan Hari Tua (JHT). Ditambah iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang rencananya mulai dipungut pada 2027.

Rencana pemotongan gaji untuk program dana pensiun tambahan merupakan tindak lanjut atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (Undang-Undang PPSK). Aturan ihwal mekanisme dana pensiun wajib ini masih dirancang serta akan tertuang dalam bentuk peraturan pemerintah dan diturunkan dalam bentuk peraturan Otoritas Jasa Keuangan. PP soal program pensiun tambahan akan terbit pada Januari 2025. (Yetede)

Akselerasi Kredit Korporasi Menuju Pertumbuhan

Hairul Rizal 10 Sep 2024 Bisnis Indonesia (H)

Perubahan strategi perbankan Indonesia, terutama bank pelat merah, yang mengalihkan fokus sementara dari sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) ke sektor korporasi. Tokoh penting dalam perubahan ini adalah Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), yang menjelaskan bahwa BRI mengurangi porsi kredit untuk UMKM dan beralih ke sektor korporasi untuk menjaga kualitas kredit di tengah meningkatnya risiko kredit macet (NPL) pada UMKM. BRI tetap selektif dengan memilih korporasi yang terhubung dengan rantai pasokan UMKM.

Novita Widya Anggraini, Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), juga menyatakan bahwa BNI mulai fokus pada kredit korporasi, meskipun tetap berkomitmen untuk memperbaiki segmen UMKM dengan penguatan credit scoring. Sementara itu, Yuddy Renaldi, Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BPD Jabar Banten), menyebutkan bahwa meski UMKM sering kali berisiko, sektor ini masih menjanjikan jika dikelola dengan selektif.

Di sisi lain, Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, justru melihat segmen UMKM masih menarik, dengan pertumbuhan kredit UMKM hampir 10% YoY dan kualitas kredit yang membaik. Pendapat ini didukung oleh Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk, yang menganggap UMKM sebagai pasar strategis dengan potensi pertumbuhan besar.

Meskipun ada pergeseran fokus ke korporasi, beberapa bank swasta tetap melihat UMKM sebagai segmen yang menjanjikan, sementara bank pelat merah lebih berhati-hati dengan mempertimbangkan risiko kredit macet yang tinggi di sektor ini.

Bisnis UMKM: Jangan Lupakan Segmen 'Wong Cilik'

Hairul Rizal 10 Sep 2024 Bisnis Indonesia

Pandemi Covid-19 membawa tantangan berat bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, yang sempat terhenti aktivitasnya. Meskipun stimulus pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membantu meringankan UMKM dengan kebijakan restrukturisasi kredit, kondisi bisnis mereka masih belum pulih sepenuhnya.

Stimulus Pemerintah: Stimulus tersebut mencakup perpanjangan tenor dan diskon suku bunga yang membantu bank mempertahankan laba positif, meskipun kredit macet meningkat. Namun, dengan berakhirnya kebijakan relaksasi ini pada tahun 2024, bank kini harus menambah pencadangan akibat naiknya rasio kredit bermasalah (NPL), yang tercermin dari NPL gross sebesar 2,27% pada Juli 2024.

OJK menolak perpanjangan kebijakan relaksasi kredit bermasalah kecuali untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), meskipun ada desakan dari bank pelat merah seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri. Akibatnya, bank-bank besar mulai mengalihkan fokus mereka dari UMKM ke sektor korporasi yang dianggap lebih rendah risikonya.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang ketidakmerataan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kesenjangan antara pelaku usaha besar dan kecil. Untuk itu, dibutuhkan peran aktif pemerintah dalam memberikan stimulus lebih lanjut dan memperkuat UMKM. Selain itu, bank harus berperan dalam mendampingi UMKM agar mereka dapat kembali pulih, bukan hanya mengambil keuntungan saat sektor ini menguntungkan.

Jerat Pinjaman Online: Ancaman Bagi Generasi Muda

Hairul Rizal 10 Sep 2024 Bisnis Indonesia

Generasi Z dan Milenial, yang merupakan masa depan ekonomi Indonesia, menghadapi risiko finansial yang serius akibat penggunaan layanan pinjaman online (pinjol). Laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa hampir 40% kredit macet dari pinjol berasal dari kelompok usia 19-34 tahun. Pinjaman yang awalnya mempermudah akses ke pembiayaan justru menjadi jerat bagi mereka yang kurang memahami risiko keuangan, terutama dalam penggunaan untuk kebutuhan konsumtif tanpa pertimbangan kemampuan membayar.

Pada tahun 2023, kredit macet dari kelompok ini naik menjadi 38%, dan diperkirakan mencapai 40% pada tahun 2024. Untuk mengatasi masalah ini, OJK mendorong penerapan credit scoring, sebuah sistem penilaian kredit yang bisa mendeteksi risiko sejak awal. Pengalaman negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa credit scoring berbasis data dapat membantu mengurangi kredit macet.

Tokoh penting seperti Abdullah Azwar Anas, Menteri PANRB, mendorong peningkatan literasi keuangan sebagai solusi jangka panjang. Selain itu, Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, dan Kominfo juga berperan penting dalam edukasi keuangan melalui kurikulum sekolah, pesantren, serta platform digital yang sering digunakan oleh generasi muda. Edukasi ini perlu ditingkatkan karena survei OJK menunjukkan rendahnya literasi keuangan di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda.

Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, generasi Z dan Milenial harus dibekali dengan literasi keuangan yang memadai agar tidak terjebak dalam utang. Kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, diharapkan dapat menciptakan generasi yang lebih tangguh secara finansial.

Pilihan Editor