;

PT Pertamina Mengembangkan Sustainable Aviation Fuel

Yuniati Turjandini 19 Nov 2024 Investor Daily (H)

PT Pertamina (Persero) sejak beberapa tahun lalu telah mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak nabati. Pada tahun ini bahkan SAF mengalami meningkatan manfaat, tak hanya mengurangi emisi karbon di sektor transportasi udara tetapi sekaligus menjawab persoalan sampah rumah tangga dan limbah industri. SVP Research & Technology Innovation Oki Muraza menjelaskan Pertamina sudah mengembangkan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) sebagai bahan baku SAF. Sebelumnya, pengembangan SAF yang dilakukan Pertamina menggunakan minyak kelapas sawit dalam bentuk crude palm oil (CPO) atau refined bleached deodorized pal  kernek oil (RBDPKO).

Langkah Pertamina dimulai dengan mengumpulkan UCI dari berbagai sumber, termasuk rumah tangga, restoran, dan industri pengolahan makanan. Teknologi pengolahan SAF menggunakan jalur Hydroprocessed Esters and Fatty Acid (HEFA) memungkinkan konvensi minyak jelantah menjadi bahan bakar yang kompatibel dengan infrastruktur penerbangan yang ada. Oki juga menekankan pada tahun depan, SAF dari UCO bisa menggunakan secara komersial. Targetnya pada kuartal pertama tahun  depan, SAF akan digunakan dalam joy-flight pada pesawat Pelita Air yang merupakan maskapai penerbangan milik Pertamina Group.  (Yetede)

Sejumlah bank Menilai Bisnis Wealth Management Masih Prospektif

Yuniati Turjandini 19 Nov 2024 Investor Daily
Sejumlah bank memprediksi bisnis wealth management masih cerah diakhir tahun ini dan juga tahun depan. Hal ini sejalan dengan kondisi adanya pemerintahan baru, kebijakan baru, dan tren suku bunga yang juga melanjutkan penurunan. Direktur Consumer Banking PT Permata Bank Djumariah Tentram mengatakan, di tengah penurunan kelas menengah secara nasional, bisnis wealth management Permata bank masih mencatatkan pertumbuhan positif. Djumariah menjelaskan, dari sisi pertumbuhan kekayaan, orang kaya dan bisnis wealth dari tahun ke tahun selalu tumbuh positif. Di mana, jumlah orang yang memiliki kekayaan di Indonesia terus mengalami pertumbuhan sekitar 4-5% setiap tahunnya. Dari data tersebut, Djumariah menilai bahwa segmen menengah atas dan high affluent konsisten bertumbuh. Meskipun segmen kelas menengah terjadi penurunan, tapi di Pertama Bank tidak terjadi, karena pertumbuhan masih positif. "Kami masih positif menghadapi ini terutama 2025, ada pemerintahan baru kami juga percaya ada kebijakan-kebijan baru yang membantu menopang pertumbuhan ekonomi di 2025, kami masih memandang ini hal positif," jelas Djumariah. (Yetede)

Kinerja Tujuh BUMN Karya yang Bakal Merger Agar Melebur

Yuniati Turjandini 19 Nov 2024 Tempo
MENTERI Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir berencana menggabungkan BUMN karya. Tujuh BUMN karya akan disederhanakan menjadi badan usaha di bawah tiga induk perusahaan. Proses peleburan akan dimulai dengan penggabungan PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Hutama Karya (Persero). Hutama Karya dan Waskita akan disatukan untuk mengerjakan proyek jalan tol, jalan non-tol, bangunan, dan residential commercial. PT Brantas Abipraya, PT Adhi Karya, dan PT Nindya Karya akan bergabung dengan berfokus pada proyek pembangunan air, rel, dan konteks lainnya. Sementara itu, PT Wijaya Karya dan PT Pembangunan Perumahan berfokus ke seaport dan airport. Integrasi perusahaan pelat merah ini sebagai upaya untuk menyehatkan dan membangun keahlian pada masing-masing BUMN. Namun ada risiko seperti penularan masalah dari perusahaan yang bermasalah ke entitas yang sehat. 

Segera Melakukan Peresmian

Yuniati Turjandini 19 Nov 2024 Tempo
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BP Danantara telah melakukan pertemuan dengan jajaran direksi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. untuk membahas pembentukan badan baru itu. Kepala BP Danantara, Muliaman Darmansyah Hadad, mengatakan pertemuannya dengan Telkom Indonesia hanya untuk memperkenalkan diri, tidak ada hal khusus yang dibahas. "Enggak ada hal-hal khusus, komunikasi pendahuluan saja dan kami sepakat untuk mem-follow up proses ini sesegera mungkin," tutur Muliaman saat ditemui di kantornya, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa, 19 November 2024.

Dia berharap, pertemuan awal Danantara dengan jajaran direksi Telkom Indonesia dapat menghasilkan kesepakatan yang baik. Sehingga, lanjut Muliaman, perkenalan dengan para direksi perusahaan BUMN itu bisa lebih efektif terhadap pembentukan Danantara. "Mudah-mudahan dengan perkenalan itu bisa lebih efektif aja, saya kira tidak ada hal-hal lain," kata dia. Prabowo Minta Peluncuran Danantara Jangan Buru-buru, Apa itu BPI Danantara? Menurut Muliaman, setelah ini, Danantara akan segera memanggil tujuh perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun menurut mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu, tak akan ada banyak agenda pada pertemuan awal. "Tentu saja dengan semuanya yang tujuh (BUMN) yang akan diserahkan ke Danantara lebih banyak perkenalan," ucap dia.

Selain bertemu dengan direksi Telkom Indonesia, Danantara juga memanggil PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di hari yang sama untuk membahas rencana peluncuran Danantara. Wakil Kepala BP Danantara, Kaharuddin Djenod Daeng, mengatakan pertemuannya itu direspons secara baik dari para jajaran direksi BRI untuk pembentukan badan pengelolaan investasi itu. "Sangat positif, sangat positif setelah mengetahui kami akan bergerak seperti apa dan kita semuanya, Danantara, BRI sangat-sangat mendukung visi presiden untuk membangun Indonesia yang kuat," ucap Kaharuddin. (Yetede)

Tak Kurang 250 Pelaku Industri Karet dari 13 Negara Bertemu dalam Forum di Yogyakarta

Yuniati Turjandini 19 Nov 2024 Tempo
Tak kurang 250 pelaku industri karet dari 13 negara bertemu dalam forum di Yogyakarta selama tiga hari ke depan mulai Selasa hingga Kamis, 19-21 November 2024. Dalam forum bertajuk International Rubber Conference 2024 itu, hadir pelaku industri karet dari Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Sri Lanka, Cote d’Ivoire Afrika, Cina, India, Kamboja, Myanmar, Jepang, Perancis, dan lainnya. Pada hari pertama, para pelaku industri karet itu menyoroti berbagai isu karet alam. Salah satunya soal wabah penyakit karet berkepanjangan yang belum juga ada obatnya dan lambat laun mempengaruhi produksi global termasuk di Indonesia.

"Pelaku industri karet dunia saat ini masih berhadapan dengan wabah penyakit Pestalotiopsis yang menyerang sejak tahun 2018, ini sudah mengurangi produktivitas karet hingga sekitar 40 persen," ujar Sekretaris Jenderal International Rubber Research Development Board (IRRDB) Seri Dato’ Aziz Abdul Kadir di sela pembukaan, Selasa. Aziz mengungkapkan berbagai cara sudah coba ditempuh berbagai negara untuk memerangi wabah ini namun belum menemukan hasil memuaskan. Melalui forum yang digelar Pusat Penelitian Karet, IRRDB dan Japan International Cooperation Agency (JICA) itulah, coba dirumuskan bersama formula yang bisa diterapakan memerangi wabah.

Kemenperin Sebut 3 Sektor Industri Ini Kompetitif di Kancah Global "Kami pertemukan ilmuwan dengan pelaku industri di forum ini untuk mencari jalan keluar atas wabah itu," kata dia. Adapun Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Uhendi Haris membeberkan dampak wabah Pestalotiopsis itu di Indonesia hingga saat ini diperkirakan menerjang tak kurang 600 ribu hektar lahan karet. "Sebelum ada serangan wabah itu produksi karet Indonesia masih di atas angka 3,6 juta ton pertahunnya, namun setelah wabah itu maksimal 2,2 juta ton saja per tahunnya," kata Uhendi. (Yetede)


Momentum Kebangkitan Saham BUMN

Hairul Rizal 19 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun saham-saham BUMN, seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM, telah menjadi sasaran aksi jual investor asing dan mengalami kinerja yang kurang baik belakangan ini, terdapat sejumlah sentimen positif yang dapat memicu rebound pada saham-saham tersebut. Beberapa faktor yang mendukung potensi pemulihan ini antara lain konsolidasi di kalangan BUMN Karya, program pemerintah yang melibatkan BUMN dalam Program Makan Bergizi Gratis, serta pembentukan Danantara yang bertujuan untuk mengonsolidasikan BUMN. Selain itu, peraturan pemerintah yang membebaskan bank-bank BUMN dari risiko politik terkait kredit macet UMKM turut memberikan sentimen positif.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, meyakini bahwa perombakan pengurus BUMN yang dilakukan oleh pemerintah dapat meningkatkan kinerja emiten BUMN, asalkan pengurus yang baru berkompeten dan memiliki komitmen terhadap good corporate governance. Ia juga merekomendasikan investor untuk "buy on weakness" pada saham-saham pelat merah, termasuk BBNI, TLKM, BMRI, JSMR, PTBA, dan ADHI, mengingat prospek positif yang masih ada hingga akhir tahun.

Namun, beberapa analis, seperti Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas, memperingatkan investor untuk berhati-hati terhadap saham BUMN, karena pergerakan indeks BUMN20 saat ini berada dalam tren menurun (downtrend). Felix Darmawan dari Panin Sekuritas juga menekankan bahwa untuk membalikkan tren negatif ini, diperlukan sentimen yang kuat, seperti stabilitas ekonomi global dan kinerja keuangan yang solid.

Kementerian BUMN, melalui Menteri Erick Thohir, tetap fokus pada pembenahan dan peningkatan kualitas BUMN, termasuk memperkuat kerja sama dengan sektor swasta, guna menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan mencapai keseimbangan antara BUMN, swasta, UMKM, serta investor.

Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan yang dihadapi saham BUMN, potensi rebound tetap ada dengan adanya berbagai inisiatif dari pemerintah dan perbaikan di tubuh BUMN. Namun, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan perkembangan sentimen pasar dan kebijakan pemerintah.



Membangun Kepercayaan Investor di Saham BUMN

Hairul Rizal 19 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Saham-saham BUMN menghadapi tekanan jual signifikan dari investor asing, terutama emiten besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM, yang menyebabkan indeks IDX BUMN20 mengalami penurunan sebesar 11,58% (year-to-date/YtD) hingga pertengahan November 2024. Penyebab utama dari tekanan tersebut adalah sentimen eksternal, seperti terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dan kebijakan proteksionisme yang berpotensi mempengaruhi ekonomi global. Hal ini, ditambah dengan sikap hawkish dari Bank Sentral AS (The Fed) dan ketidakpastian geopolitik, membuat investor asing kembali menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, ada sejumlah sentimen domestik yang berpotensi mengangkat kinerja saham BUMN di masa depan. Beberapa faktor positif tersebut antara lain konsolidasi di kalangan BUMN Karya, seperti rencana penggabungan PT Waskita Karya (WSKT) dan PT Hutama Karya (Persero), serta program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis yang melibatkan BUMN besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, TLKM, dan PGAS. Selain itu, Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 47/2024 tentang Penghapusan Piutang Macet kepada UMKM yang membebaskan bank-bank BUMN dari risiko politik terkait kredit macet, serta perombakan pengurus BUMN yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan pelat merah.

Menteri BUMN, Erick Thohir, juga mengumumkan pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang akan menjadi superholding BUMN. Ada yang memandang bahwa Danantara bisa menjadi katalis positif untuk emiten-emiten pelat merah besar, namun ada pula yang khawatir bahwa perubahan ini bisa menambah tekanan pada saham-saham BUMN. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memberikan penjelasan yang transparan dan meyakinkan investor mengenai manfaat dan dampak dari Danantara, terutama terkait dengan status saham BUMN yang akan dialihkan ke lembaga baru ini.

Sejumlah analis mengingatkan bahwa meskipun ada potensi pemulihan, perhatian yang lebih besar perlu diberikan untuk memastikan bahwa perubahan struktural ini tidak merugikan investor atau menciptakan ketidakpastian yang lebih besar di pasar saham.



Menapaki Jalan Sulit Menuju Target Ekonomi

Hairul Rizal 19 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Realisasi investasi sektor hulu migas Indonesia sepanjang Januari hingga Oktober 2024 mencapai US$10,3 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Meskipun demikian, target investasi sektor hulu migas yang semula dipatok US$17,7 miliar telah direvisi turun menjadi US$16 miliar, mengingat sejumlah kebijakan seperti kewajiban tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang menghambat progres kegiatan. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, tetap optimistis target akhir tahun bisa tercapai, meskipun ada penundaan kegiatan.

Di sisi lain, penerimaan negara dari sektor hulu migas juga mencatatkan angka US$12,7 miliar, hampir mencapai target yang diharapkan. Djoko Siswanto berharap penerimaan negara bisa melampaui US$14 miliar pada akhir tahun. Namun, sektor ini masih dihadapkan pada tantangan, seperti pemerasan terhadap kontraktor di Selat Madura yang mengganggu kegiatan eksplorasi. Djoko meminta dukungan dari DPR dan pemangku kepentingan untuk menyelesaikan masalah tersebut, yang dapat mempengaruhi kenyamanan investor.

Selain itu, Moshe Rizal, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas, menekankan perlunya kebijakan terobosan untuk menjadikan industri hulu migas Indonesia lebih atraktif bagi investor. Menurutnya, perbaikan aturan yang ada masih belum cukup untuk menarik lebih banyak investasi, terutama karena negara lain mulai menawarkan iklim investasi yang lebih baik dan sesuai dengan tren transisi energi global.


Industri Ritel Diprediksi Sulit Capai Pertumbuhan Dua Digit di 2025

Hairul Rizal 19 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pertumbuhan sektor ritel nasional pada tahun 2025 diperkirakan akan terbatas, kemungkinan hanya mencapai satu digit, atau tidak lebih dari 10%. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyatakan bahwa kenaikan tarif PPN dari 11% menjadi 12% tanpa adanya stimulus untuk masyarakat kelas menengah bawah bisa memperburuk daya beli mereka dan berdampak negatif terhadap penjualan produk ritel. Alphonzus mengusulkan agar pemerintah terlebih dahulu memaksimalkan pertumbuhan usaha sebelum menaikkan tarif PPN, untuk menghindari dampak negatif yang lebih besar terhadap sektor ritel.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa kenaikan PPN menjadi 12% sudah diamanatkan oleh Undang-Undang No. 7/2021, dan pemerintah berencana untuk menjalankannya pada 1 Januari 2025. Meskipun demikian, tarif PPN ini tidak akan berlaku untuk barang dan jasa kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso optimistis bahwa sektor ritel dapat mencatatkan pertumbuhan sekitar 5% pada 2025, meskipun dalam kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.

Sementara itu, Executive Director Indogrosir, Anton Prasetyo, berharap bahwa bisnis ritel di Indonesia dapat tumbuh lebih baik di 2025 dibandingkan dengan tahun ini, meskipun sektor ini menghadapi persaingan ketat dan penurunan daya beli. Anton optimistis bahwa sektor ritel akan terus beradaptasi dengan tantangan dan dapat mencatatkan pertumbuhan positif, meskipun pelaku ritel dihadapkan pada berbagai kendala.

Secara keseluruhan, artikel ini menunjukkan bahwa meskipun ada optimisme dari pemerintah dan beberapa pelaku industri terkait proyeksi pertumbuhan sektor ritel pada 2025, kekhawatiran terhadap dampak kenaikan PPN dan penurunan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah bawah, tetap menjadi perhatian utama yang perlu diperhatikan oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas sektor ritel.



Kenaikan Tarif PPN Tuai Penolakan

Hairul Rizal 19 Nov 2024 Kontan (H)
Rencana pemerintah menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% pada Januari 2025 menuai penolakan luas, terutama dari kalangan ekonomi, akademisi, dan masyarakat. Yustinus Prastowo, mantan Staf Khusus Menteri Keuangan, menyebut kenaikan ini dapat melemahkan daya beli masyarakat sekaligus mengurangi permintaan dan penawaran. Senada, Roy N Mandey, Ketua FAPRA, meminta kebijakan ini ditunda agar tidak mengganggu konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari 50% Produk Domestik Bruto (PDB).

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI memperkirakan dampak kenaikan PPN sebesar 4,79% terhadap pengeluaran kelompok miskin. Jahen F Rezki, Wakil Kepala LPEM UI, mengingatkan bahwa kebijakan ini berisiko menambah jumlah penduduk miskin dan menurunkan konsumsi rumah tangga. Dampak serupa pernah terlihat pada 2022, saat PPN naik dari 10% ke 11%, yang menambah beban rumah tangga miskin lebih besar dibanding kelompok kaya.

Menurut Ahmad Heri Firdaus dari Indef, kenaikan PPN ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi hingga 17 basis poin dan menurunkan konsumsi rumah tangga sebesar 0,26%. Dengan sentimen negatif yang meluas, bahkan muncul ajakan aksi boikot konsumsi di media sosial sebagai bentuk protes.

Komisi XI DPR, melalui Wakil Ketuanya, Dolfie, mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan ulang kebijakan ini. DPR meminta peta jalan komprehensif mengenai rencana peningkatan rasio pajak sebelum mengambil keputusan.

Desakan untuk menunda kenaikan tarif PPN semakin kuat, mengingat dampaknya pada daya beli masyarakat dan perekonomian nasional. Kebijakan ini dianggap tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi masyarakat, terutama kelompok menengah bawah.

Pilihan Editor