;

Program Tax Amnesty Siap Kembali Digulirkan

Hairul Rizal 20 Nov 2024 Kontan (H)
Rencana pengguliran kembali kebijakan Tax Amnesty di Indonesia menjadi topik kontroversial. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengubah Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak, dengan pembahasan yang kemungkinan akan dimulai pada 2025. Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, mengungkapkan bahwa meskipun RUU tersebut menjadi prioritas, substansi pembahasan dengan pemerintah belum disusun.

Program Tax Amnesty pertama kali dilakukan pada 2016 dan kedua kalinya melalui Program Pengungkapan Sukarela (PPS) pada 2022. Meskipun kedua program ini berhasil menarik dana dari luar negeri, rasio perpajakan Indonesia tetap rendah. Fajry Akbar dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengkritik langkah ini, menilai bahwa pengulangan program tax amnesty bisa merusak rasa keadilan di kalangan wajib pajak yang patuh dan berisiko melemahkan penegakan pajak.

Ariawan Rahmat dari Indonesia Economic Fiscal Research Institute (IEF) menyarankan agar pemerintah menunda kebijakan ini setidaknya untuk lima tahun ke depan, karena dapat menurunkan kredibilitas pemerintah. Bhima Yudhistira dari Center of Economics and Law Studies (Celios) juga menyoroti potensi moral hazard, di mana konglomerat nakal mungkin akan terus mengandalkan pengampunan pajak, sehingga menurunkan tingkat kepatuhan wajib pajak.

Kebijakan tax amnesty yang digulirkan bersamaan dengan rencana kenaikan tarif PPN 12% pada 2025 semakin menambah ketegangan, menimbulkan pertanyaan besar tentang keadilan pajak di Indonesia.

Belanja Awal 2024 Dibiayai Lewat Sukuk Global

Hairul Rizal 20 Nov 2024 Kontan
Pemerintah Indonesia menerbitkan surat berharga syariah negara (SBSN) berdenominasi dolar AS atau sukuk global senilai US$ 2,75 miliar (sekitar Rp 43,57 triliun) untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan awal tahun 2025 (prefunding). Ini adalah penerbitan sukuk global kedua pada tahun 2024, setelah yang pertama pada Juni senilai US$ 2,35 miliar. Deni Surjantoro, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, mengonfirmasi bahwa sukuk ini bertujuan untuk mendanai program-program pemerintah, terutama yang berkaitan dengan belanja rutin dan program populis, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 71 triliun pada APBN 2025.

Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, menilai bahwa penerbitan sukuk global ini cukup untuk menutupi pengeluaran rutin pemerintah, termasuk gaji pegawai dan subsidi. Dengan belanja negara yang diperkirakan mencapai Rp 3.600 triliun pada 2025, sukuk ini dapat membantu memenuhi kebutuhan pendanaan di awal tahun, termasuk untuk pembayaran bunga utang dan belanja modal.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mempertimbangkan strategi prefunding ini untuk menjaga stabilitas APBN dan memastikan kesiapan instrumen utang. Meskipun demikian, pemerintah masih memiliki opsi untuk melaksanakan lelang rutin surat utang domestik untuk menutupi sisa kebutuhan pembiayaan.

Suku Bunga BI Jadi Penentu Arah Bursa Saham

Hairul Rizal 20 Nov 2024 Kontan
Pekan ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yang diperkirakan akan tetap dipertahankan di level 6%. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan BI mengenai prospek ekonomi dan strategi menghadapi risiko global yang dapat mempengaruhi arus modal asing. Sukarno Alatas, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai jika BI menurunkan suku bunga, pasar dapat merespons dengan dua skenario: bullish, jika penurunan dianggap mendorong pertumbuhan kredit, atau bearish, jika dikhawatirkan melemahkan nilai tukar rupiah.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, setuju bahwa pelemahan rupiah akan mendorong BI untuk menahan suku bunga guna menjaga stabilitas pasar. Sektor yang diperkirakan menarik jika suku bunga ditahan adalah finansial, konsumer non-cyclical, dan konsumer cyclical. Namun, jika terjadi pemangkasan suku bunga mendadak, sektor finansial, properti, dan otomotif akan lebih cenderung bergerak.

Pandhu Dewanto, analis Investindo Nusantara Sekuritas, mengingatkan potensi window dressing menjelang akhir tahun. Meredanya tekanan jual akibat capital outflow dapat mendorong arus beli, memberikan peluang bagi saham big caps yang telah terkoreksi untuk mencatatkan kenaikan. Secara keseluruhan, meskipun prospek jangka pendek lebih menarik, pelaku pasar cenderung berhati-hati menunggu keputusan BI terkait suku bunga.

BEI Permudah Investor dengan Penurunan Nilai NAB ETF

Hairul Rizal 20 Nov 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini menerbitkan pembaruan Peraturan Nomor I-C yang bertujuan untuk memperkuat ekosistem reksadana di pasar modal Indonesia. Salah satu perubahan utama adalah penurunan nilai minimum Nilai Aktiva Bersih (NAB) awal reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang unit penyertaannya diperdagangkan di BEI, dari yang sebelumnya Rp 5 miliar menjadi Rp 1 miliar. Langkah ini diharapkan dapat mendorong Manajer Investasi (MI) untuk lebih aktif menerbitkan produk reksadana berbentuk Exchange-Traded Fund (ETF) yang akan memberikan lebih banyak pilihan bagi investor.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan bahwa aturan baru ini, yang mulai berlaku pada 15 November 2025, juga mencakup pengaturan tentang multi kelas pada ETF. Dengan demikian, diharapkan dapat memperkaya produk investasi yang tersedia dan meningkatkan diversifikasi portofolio bagi investor.

Reza Fahmi, Head of Business Development PT Henan Putihrai Asset Management, menyambut baik perubahan ini karena memberi fleksibilitas bagi MI dalam mengembangkan produk baru. Namun, ia juga mengingatkan akan potensi risiko jika terlalu banyak produk yang dikeluarkan, yang dapat berdampak negatif pada kualitas dan kinerja ETF tersebut.

Pembaruan regulasi ini merupakan langkah positif untuk mendukung pertumbuhan pasar modal Indonesia, meski membutuhkan perhatian terhadap pengelolaan produk yang bijaksana agar tidak merugikan investor.

Larangan iPhone 16 Picu Hambatan Pasar Elektronik

Hairul Rizal 20 Nov 2024 Kontan
Kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menghadapi tantangan signifikan setelah pelarangan penjualan iPhone 16 di Indonesia, yang diperkirakan dapat menekan penjualan pada kuartal terakhir 2024. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai bahwa meskipun segmen ponsel ERAA kemungkinan terdampak, diversifikasi produk yang meliputi aksesoris, komputer, dan produk operator dapat membantu menjaga kinerja perusahaan. ERAA juga dapat mengandalkan segmen flagship Android yang lebih kompetitif dan program cicilan 0% untuk menjaga permintaan.

Selain itu, meskipun penjualan ponsel dan tablet mengalami penurunan, segmen aksesoris dan komputer menunjukkan pertumbuhan positif, memberikan dorongan bagi perusahaan. Namun, risiko suku bunga tinggi dan depresiasi rupiah tetap perlu diperhatikan, karena bisa mempengaruhi daya beli konsumen.

Alif Ihsanario, analis dari Ciptadana Sekuritas, memproyeksikan ERAA akan mencatatkan penjualan Rp 67,85 triliun dan laba bersih Rp 951 miliar pada 2024, meskipun dampak pelarangan iPhone 16 mungkin memperlambat penjualan di kuartal keempat. Jonathan Guyadi, analis Samuel Sekuritas, optimis bahwa daya beli masyarakat kelas menengah atas akan mendukung kinerja ERAA, dan valuasi saham yang murah memberikan peluang untuk membeli.

Meskipun tantangan terkait pelarangan iPhone 16 ada, ERAA masih memiliki peluang untuk mempertahankan kinerja yang solid berkat diversifikasi produk dan dukungan dari sektor lain.

GURU HONORER Bertahan Hidup dengan Gaji Tak Layak

Yoga 19 Nov 2024 Kompas (H)

Andri M Fonda (33) meletakkan tasnya di pematang sawah sebelum mulai mencangkul sepetak sawah di Kecamatan Siulak, Kerinci, Jambi, Minggu (20/10) pagi. Tas yang sama dibawa Fonda untuk mengajar siswanya di SMP Negeri Kerinci. Jika biasanya tasnya berisi buku dan alat tulis, pagi itu diisi dengan topi dan air minum. Sudah delapan tahun Fonda mengabdi di SMP negeri sebagai guru honorer. Namun, kata sejahtera tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Penghasilan sebagai guru honorer yang jauh dari layak membuat Fonda harus banting tulang mencari tambahan penghasilan sebagai buruh tani. ”Honor (jadi guru) tergantung dari jam mengajar. Kalau mendapat jam mengajar sedikit hanya menerima Rp 400.000 selama enam bulan,” ungkap Fonda. Dari penghasilan yang diperolehnya dalam enam bulan, artinya Fonda hanya digaji sekitar Rp 66.000 per bulan.

Pagi itu Fonda menggarap sawah kerabatnya, dengan upah Rp 70.000 setelah bekerja. Uang itu sangat berarti karena akan diberikan kepada istrinya untuk berbelanja sayuran di pasar. Selain itu, Fonda juga sedang menggarap kebun milik orangtuanya. Namun, penghasilan yang tidak menentu dari hasil berkebun belum bisa diandalkan untuk memberikan penghasilan tambahan. Pada masa panen terakhir, Fonda harus rela menanggung rugi. Tanaman cabai miliknya gagal panen. Padahal, dia berutang ke koperasi untuk mendapatkan modal. Utang Rp 7 juta itu pun saat ini masih belum terbayar. Penghasilan Rp 66.000 per bulan sebagai guru honorer tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Fonda dan keluarganya. Ia memperkirakan total pengeluaran keluarganya Rp 2,5 juta setiap bulan. Tak heran jika Fonda harus mencari tambahan penghasilan dengan bekerja serabutan selain sebagai guru.

Fonda juga bisa menjadi bangunan dengan bayaran Rp 150.000 per hari. Pekerjaan-pekerjaan sampingan tersebut dijalani Fonda pada hari-hari di luar jam mengajarnya. Istri Fonda membantu menambah penghasilan dengan berjualan baju di ruko yang juga menjadi tempat tinggal Fonda, istri, dan anaknya. Mereka menyewa dengan harga Rp 500.000 per bulan. Namun, hasil penjualan baju sering tak mampu menutupi biaya sewa. Rasa cinta pada dunia pendidikan yang membuat Fonda bertahan menjadi guru honorer hingga saat ini. Interaksi dengan siswa menjadi penyemangatnya untuk terus mengabdi di sekolah. Adanya seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) bagi guru honorer membangkitkan semangatnya untuk mengabdi di sekolah. Pernah gagal pada seleksi 2023, Fonda menaruh harapan besar pada seleksi PPPK tahun ini. (Yoga)


Kemenangan Trump karena The American Dream

Yoga 19 Nov 2024 Kompas (H)

Kemenangan Donald Trump dari Partai Republik atas KamalaHarris dari Partai Demokrat disusul keberhasilan hattrick Partai Republik menguasai mayoritas Kongres dan juga Senat, fenomena yang disebut a governing trifecta. Kegagalan Harris adalah ketidakmampuan tim kampanyenya mengolah ekspektasi perbaikan momentum ekonomi berdasarkan beberapa indikator terkini kepada para pemilih yang frustrasi karena harga-harga yang tidak kembali seperti saat presidensi Trump yang pertama. Padahal, momentum pemulihan ekonomi dari dampak Covid-19 sejak akhir 2022 makin terlihat. Inflasi tahunan, puncaknya 9,1 % pada Juni 2022 turun ke 2,4 % pada September 2024. Angka pengangguran Oktober 2024 turun ke 4,1 %, jauh dari 14,9 % pada April 2020 saat puncak pandemi Covid-19.

Pertumbuhan ekonomi cukup sehat, 2,8 % di triwulan III sedikit di bawah 3 % pada triwulan sebelumnya. Indeks pasar saham AS (US 500) merupakan satu indikator dini yang memprediksi kemenangan Trump berlawanan dengan prediksi media mainstream yang cenderung berpihak pada Harris. Indeks ini naik tajam beberapa hari sebelum pencoblosan. Sejak 31 Oktober, US 500 naik dari 5.705,9 ke 5.952,8 pada 4 November, sehari sebelum para pemilih pergi ke kotak suara. Kegagalan Harris adalah kegagalan melihat dua prioritas yang saling terkait di mata pemilih dalam merealisasikan The American Dream. Prioritas utama adalah harga rumah yang terjangkau.

Selain sebagai tempat tinggal, rumah adalah investasi utama kelas menengah. Selain itu, harga-harga tetap mahal. Purchasing Manager Index (PMI) sektor manufaktur secara konsisten berada di zona kontraksi atau di bawah 50 sejak Juli 2024 atau 4 bulan sebelum pilpres awal November. Indeks Harga Konsumen (IHK) yang tinggi terjadi pada masa pemerintahan Biden. Di sisi lain, janji Trump untuk menghentikan perang Ukraina-Rusia dalam 24 jam sangat menarik. Pemilih melihatnya sebagai sesuatu positif, suatu usaha untuk mengurangi tekanan kenaikan harga dari sisi rantai pasok. Peluang paradoks untuk pemilih Trump yang mengharapkan inflasi rendah dan harga kembali normal dapat terjadi. Trump berjanji melindungi industri dari serbuan barang-barang impor, terutama dari China, dengan kebijakan tarif antara 20 % dan 60 %. (Yoga)


Dengan Imbalan Jutaan Rupiah Calo bergerilya Janjikan Kelulusan Guru Honorer

Yoga 19 Nov 2024 Kompas

Praktik percaloan marak terjadi dalam seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Calo bergerilya mendekati guru honorer dengan menjanjikan kelulusan seleksi PPPK. Atas tawaran itu, calo mematok uang jasanya hingga belasan juta rupiah. Sebagian guru honorer tergiur mencoba peruntungan. Di Batu Bara, Sumut, Faisal, adik mantan Bupati Batu Bara Zahir, memerintahkan Kadis Pendidikan Batu Bara, Adenan Haris dan Sekdis Pendidikan, Darwinson Tumanggor meminta uang peserta seleksi guru PPPK senilai Rp 30 juta. Perintah tersebut dilaksanakan Darwinson bersama Kabid Ketenagaan Dinas Pendidikan, yang meminta uang kepada peserta seleksi Rp 40 juta untuk membantu kelulusan guru PPPK.

Informasi ini tertuang dalam laman PN Medan http://sipp.pn-medankota.go.id/index.php/detil_perkara yang diakses pada Minggu (17/11). Marni, bukan nama sebenarnya, peserta seleksi tahun lalu, membenarkan adanya permintaan uang itu. Sehari sebelum pengumuman kelulusan, ia menerima telepon dari seseorang yang mengaku perantara Darwinson. Perantara menginformasikan Marni tidak lulus karena nilainya tidak cukup. Perantara mengatakan, Marni bisa lulus jika membayar Rp 50 juta. ”Calo itu menawarkan posisi saya naik dan masuk formasi, tetapi biayanya Rp 50 juta. Saya tidak mau, hingga akhirnya saya tidak diluluskan,” ucapnya. Persekongkolan ini terbongkar. Atas laporan warga, penyidik Polda Sumut mengusut kasus ini. Per Sabtu (16/11) kasus ini dalam proses persidangan PN Medan. (Yoga)


Mempertanyakan Kelanjutan Beasiswa ke Luar Negeri

Yoga 19 Nov 2024 Kompas

Kejelasan dan kelanjutan program yang dijanjikan pemerintah untuk membiayai pendidikan tinggi di luar negeri dinanti. Para talenta muda berprestasi yang terjaring di kelas persiapan Beasiswa Indonesia Maju S-1 Luar Negeri Angkatan 4 dari Pusat Prestasi Nasional mempertanyakan keberlanjutan program ini. Mereka masih berharap program dilanjutkan sesuai informasi yang disosialisasikan di awal. Para orangtua peserta Beasiswa Indonesia Maju (BIM) S-1 Luar Negeri Angkatan 4, pada Senin (18/11) menggagas petisi daring di laman change.org. Petisi itu disampaikan untuk menyatukan suara menanyakan keberlanjutan program tersebut kepada Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen (sebelumnya Kemendikbudristek).

”Pada awalnya menjanjikan rangkaian proses pembinaan sampai adanya seleksi lanjutan untuk BIM program bergelar atau beasiswa S-1 luar negeri, tetapi tidak terlaksana,” ujar Nyoman Suri Sukmawati yang memulai petisi tersebut. Para orangtua meminta Puspresnas menyediakan konseling pendidikan, memberikan penggantian biaya (reimbursement) untuk pendaftaran ke empat universitas di luar negeri, serta menerbitkan letter of sponsorship (LoS) dan letter of guarantee (LoG). Para orangtua juga meminta Puspresnas memastikan keberlanjutan proses seleksi bagi anak-anak untuk mendapat beasiswa S-1 luar negeri sesuai dengan komitmen di awal, serta memberikan data dan/atau dokumen.

Puspresnas juga diminta memberi dukungan penuh lainnya yang diperlukan bagi anak-anak penerima BIM Persiapan S-1 Luar Negeri Angkatan 4. ”Kembalikan program BIM sesuai komitmen awal Puspresnas untuk anak-anak kami, sebanyak 350 anak berprestasi yang sudah dipilih oleh negara,” tulis Suri. Peserta telah menjalani kelas persiapan BIM S-1 Luar Negeri Angkatan 4, seperti proses program pembinaan (IELTS, SAT, proyek Sosial, summer program, hingga rangkaian seminar daring) selama satu tahun. Hal ini untuk mendapatkan LoA (letter of acceptance) sebagai syarat dibiayai pendidikan S-1 luar negeri dari Puspresnas. (Yoga)


Platform Media Sosial dihukum penggunanya

Yoga 19 Nov 2024 Kompas

Orang beramai-ramai menghukum platform media sosial begitu mereka menilai tata kelolanya tidak benar. Situs media sosial Bluesky telah menggaet 1 juta pengguna baru dalam sepekan sejak pemilu AS, seiring makin banyaknya pengguna yang meninggalkan X, media sosial milik Elon Musk, yang dulu bernama Twitter. Sejumlah pengguna X meninggalkan platform tersebut karena menilai media sosial itu terlalu banyak berisi ujaran kebencian, disinformasi, dan misinformasi. Pelantar X juga dikhawatirkan rentan bias politik sebab Musk kini bergabung di kabinet presiden terpilih AS Donald Trump. Pada Rabu (13/11). Bluesky mengumumkan total penggunanya melonjak menjadi 15 juta akun, naik dari 13 juta akun pada akhir Oktober 2024 (Kompas.id, 17/11/2024).

Trump yang kalah tahun 2020 juga melakukan langkah serupa. Karena Twitter (yang kemudian menjadi X) menggembok akun Trump karena berkali-kali mengeluarkan ujaran kebencian, Trump kemudian mengajak pendukungnya pindah ke media sosial bernama Truth Social. Sikap emosional para pendukung sosok atau partai politik tertentu hanya karena calonnya kalah atau diperlakukan tidak pas oleh perusahaan media sosial ternyata tidak cukup menewaskan platform. Sikap mereka itu hanya sementara. Dalam kasus terakhir, masalahnya berbeda. Para pengkritik X menyatakan menutup akun mereka dan pindah ke Bluesky karena ada alasan etis dan mereka juga mempertanyakan tata kelola media sosial tersebut. Mereka melakukan langkah itu dengan alasan kuat, bukan karena sikap emosional semata. Sejumlah media melakukan penutupan dengan alasan X telah berpihak dan tak berusaha menekan ujaran kebencian.

Sementara itu, Bluesky mengatakan mendapat tambahan pengguna sebanyak 1 juta di tengah keriuhan pilpres AS. Pengguna media sosial ini juga bertambah karena kasus di Brasil. Pengguna aktif X juga mengalami penurunan sekitar 5 juta. Meski demikian, semua kehebohan ini belum tentu mematikan X dan kemudian memunculkan Bluesky sebagai pemenang. Perkiraan bahwa mereka akan terdampak signifikan masih terlalu jauh. Masalah pokok mereka adalah aspek bisnis di kedua platform. Sejauh ini bisnis keduanya belum menunjukkan keuntungan. Ketika masih bernama Twitter dan kemudian dibeli Elon Musk, platform tersebut masih merugi. Kini, X juga masih sulit meyakinkan pengiklan karena banyak merek yang tidak lagi beriklan di X karena alasan etis. Merek mereka tidak mau berada di ruang siber yang tidak aman. Di sisi lain, Bluesky masih jauh dari laba karena sibuk menaikkan jumlah pengguna. (Yoga)


Pilihan Editor