;

Kinerja Emiten Terhambat Beban PPN

Kinerja Emiten Terhambat Beban PPN
Rencana pemerintah menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% pada tahun 2025 berpotensi menambah tekanan pada daya beli masyarakat yang sudah lemah. Oktavianus Audi, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyebut kenaikan ini kemungkinan akan memaksa emiten menaikkan harga jual produk untuk mengimbangi beban pajak. Hal ini dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat, membuat mereka lebih selektif dalam memenuhi kebutuhan.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, memperkirakan bahwa emiten di sektor konsumer akan menghadapi tantangan berat karena kenaikan harga barang berpotensi menurunkan permintaan. Emiten seperti PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) yang produknya banyak dikonsumsi masyarakat diprediksi merasakan dampak langsung, dengan kemungkinan penurunan volume penjualan.

Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menyarankan investor untuk memantau strategi emiten konsumer dalam beradaptasi terhadap kenaikan PPN ini. Emiten dengan inovasi produk dan basis konsumen yang loyal berpotensi bertahan atau bahkan tetap tumbuh. Selain itu, laporan keuangan emiten akan menjadi indikator penting dalam menilai prospek mereka di tengah kenaikan PPN.

Reza mengingatkan investor untuk tidak panik menghadapi sentimen ini. Ia menyarankan fokus pada strategi emiten dan laporan keuangan kuartal pertama 2025 untuk mengevaluasi dampaknya. Reza merekomendasikan saham-saham seperti ICBP, MYOR, CMRY, KLBF, CLEO, dan GOOD. Sementara itu, Audi merekomendasikan beli saham ICBP dan MYOR dengan target harga masing-masing Rp 14.000 dan Rp 2.880 per saham.

Kenaikan tarif PPN ini menjadi tantangan besar, tetapi juga mendorong inovasi dan efisiensi bagi pelaku usaha untuk menjaga daya saing dan loyalitas konsumen.
Download Aplikasi Labirin :