;

Cuan Berkat Tren Belanja Online

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Kontan, 24 April 2020

Tidak semua industri terkena pukulan hebat akibat pandemi Covid-19. Analytic Data Advertising (ADA) mencatat pada Maret 2020 penggunaan aplikasi belanja online naik hingga 300% sejak kebijakan social distancing diumumkan. Kondisi ini menguntungkan emiten pergudangan. Karena itu, para pengelola pergudangan juga yakin kinerja tahun ini masih positif. Memang, saat ini, emiten pengelola kawasan pergudangan belum merasakan dampak signifikan dari tren kenaikan belanja online seperti dilansir dari Head of Corporate Finance & Investor Relations PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP) Asa Siahaan. Meski begitu, ia menegaskan belum mengubah arah ekspansi hingga akhir tahun dimana Rp 600 miliar akan digunakan untuk menyelesaikan pembangunan empat proyek pergudangan dan belum berencana mengubah target kinerja keuangan tahun ini. PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk (BBSS) memiliki optimisme serupa dan belum berencana mengubah target. Menurut Sekretaris Perusahaan BBSS Andrew Djauhary, optimisme tersebut didorong oleh adanya peningkatan bisnis e-commerce.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menjelaskan, saham emiten pergudangan kurang menarik dan dari sisi likuiditas saham emiten pergudangan dianggap kurang likuid, ia beranggapan, sejauh ini baru PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang terbilang likuid, sedangkan saat dikonfirmasi terpisah, Erlin Budiman, Vice President of Investor Relations SSIA, mengatakan bahwa pihaknya saat ini masih dalam proses pembukuan sehingga belum bisa memberikan detail dampak kenaikan belanja online.

UMM Bahas The New Normal Setelah Covid-19

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Republika, 24 April 2020

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar dalam jaringan (daring) bertemakan "The New Normal di Indonesia setelah Covid-19". Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Arum Martikasari mengatakan, krisis yang dialami masyarakat sangat berdampak besar, perusahaan besar, UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) juga ikut terdampak. 
Karakter Indonesia yang sedikit keras kepala ditunjukkan mengingat masih banyak masyarakat sulit menerapkan imbauan jaga jarak. Menurut Arum, masyarakat Indonesia memiliki karakter komunal yang sangat kuat. Merasa kurang puas apabila belum bertemu orang secara langsung. Hal yang pasti, Arum menilai, telah terjadi pergeseran karakter pada generasi milenial. Mereka mulai semangat kembali ke nilai-nilai lokal yang diajarkan di masa lalu. Ajaran gotong-royong dan saling membantu kembali dilakukan demi keselamatan bersama.

Proyek LRT Adhi Karya Berlanjut

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Republika, 24 April 2020

General Manager Departemen Perkeretaapian PT Adhi Karya (Persero) Tbk Isman Widodo mengatakan proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek) telah mengikuti dan menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid- 19, dengan berkoordinasi dengan pemilik atau tim pengelola kegiatan (TPK) pelaksanaan pembangunan, dalam hal ini dari Kementerian Perhubungan. Isman mengatakan, pelaksanaan pekerjaan yang bersifat administratif atau pertemuan dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi ataupun aplikasi-aplikasi yang bisa diterapkan untuk pekerjaan dari rumah atau work from home (WFH). Untuk pekerjaan-pekerjaan yang langsung ditangani oleh orang, Adhi Karya melaksanakan jaga jarak dari satu pekerja dengan pekerja lainnya. Progres masing-masing lintas pelayanan adalah lintas pelayanan I mencapai 88 persen, kemudian lintas pelayanan II 67 persen, dan lintas pelayanan III 64 persen, ujar Isman. Pembangunan prasarana kereta api ringan atau LRT wilayah Jabodebek tahap I sejak September 2015 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp 22,8 triliun (termasuk pajak). LRT Jabodebek ditargetkan rampung pada Juli 2021. Corporate Secretary Adhi Karya Parwanto Noegroho menjelaskan, kontribusi per lini bisnis pada perolehan kontrak baru pada Maret 2020 meliputi lini bisnis konstruksi dan energi sebesar 94 persen, properti sebesar 5 persen, dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya.

Pemasukan Seret - Alas Kaki Cuma Bertahan Hingga Juni

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 24 April 2020

Daya tahan industri alas kaki nasional diperkirakan hanya sampai Juni di tengah tekanan pelemahan pasar akibat pandemi COVID-19. Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) Firman Bakrie mengatakan perusahaan yang masih beroperasi penuh hanya yang skala besar dan orientasi pada ekspor. Namun, ekspor pun untuk periode Juni belum ada kepastian order. Untuk itu, Firman menyatakan perusahaan secara umum masih bisa mempertahankan karyawan dalam kondisi tanpa pemasukan ini, tetapi hanya sampai tiga bulan ke depan dan belum termasuk THR. Firman melanjutkan, meskipun utilisasi secara umum 41%, di sektor alas kaki belum ada PHK. Kalaupun ada, jumlahnya masih kecil. Firman pun menegaskan masalah utama pada masa pandemi COVID-19 ini adalah lebih karena pasar yang lesu dan turun tajam, bahkan cenderung hilang. Sementara ada beban harus menanggung upah karyawan dalam kondisi tidak ada pemasukan. Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut jika COVID-19 semakin memburuk dan menekan perekonomian, maka pertumbuhan manufaktur hanya akan berkisar 0,7—0,8%. Sedangkan, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi sebesar 2,4%.


Emiten Unggas Trengginas

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 24 April 2020

Langkah pemerintah untuk menyerap ayam dari peternak membawa angin segar bagi laju saham emiten perunggasan yang telah menguat dua digit dalam sebulan terakhir. Berdasarkan data Bloomberg, harga saham emiten perunggusan kompak menguat pada sesi perdagangan, diantaranya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN), dan PT Sierad Produce Tbk. (SIPD) yang berada dalam tren positif dengan menguat di atas 10% sebulan terakhir. Analis Kresna Sekuritas Timothy Gracianov menjelaskan harga ayam menurun cukup dalam sejak pertengahan Maret lalu, karena sempat menyentuh level di bawah Rp10.000 per kilogram. Pemerintah kini turut turun tangan memenuhi kebutuhan protein masyarakat, seperti bekerja sama dengan Grab Indonesia untuk distribusi pangan agar harga ayam dapat lebih terjaga. Menurut Timothy, dua emiten yang menarik dikoleksi dari sektor perunggasan pada kuartal II/2020 yakni JPFA dan CPIN, karena bertepatan dengan puasa dan Lebaran yang biasanya meningkatkan konsumsi ayam. 

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Emma A. Fauni mengatakan secara historis harga day old chicken dan ayam potong seharusnya lebih tinggi secara musiman selama Ramadan. Saham JPFA menjadi pilihan utama Mirae karena kualitas laba bersih yang lebih baik dan potensi kenaikannya. Di sisi lain analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji memperkirakan produk emiten unggas relatif memiliki permintaan yang stabil, bahkan berpeluang tumbuh positif pada Ramadan kali ini. Secara teknikal, dia masih merekomendasikan hold saham MAIN, JPFA, dan CPIN. Menurutnya, ketiga emiten itu berada dalam fase bullish consolidation.

Ditjen Pajak Coba Tiga Jurus Tambah Penerimaan

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Kontan, 24 April 2020

Hasil penerimaan pajak sepanjang kuarta I-2020 Direktorat Jenderal Pajak lebih rendah dibandingkan target. Direktur Pelayanan, Penyuluhan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu) Hestu Yoga Saksama menyampaikan, secara umum kantor pajak akan meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak (WP) yang tinggi dan pengawasan dan penegakkan hukum yang berkeadilan. Caranya lewat tiga strategi mengoptimalkan penerimaan pajak. Pertama, kantor pajak merasa penting untuk terus melaksanakan fungsi edukasi, ekstensifikasi, pengawasan dan penegakan hukum dalam rangka perluasan basis pajak. Yoga bilang pendekatan tersebut tetap dijalankan, walaupun kondisi saat ini tidak memungkinkan kegiatan pertemuan langsung atau tatap muka dengan para WP, sementara waktu, semuanya dilakukan dengan memanfaatkan saluran elektronik seperti telepon, email, online meeting, dan lain-lain.

Kedua, pemanfaatan berbagai data yang ada di Ditjen Pajak, baik internal maupun eksternal antara lai seperti data keuangan, Automatic Exchange of Information (AEoI), maupun data pihak ketiga. Dari data tersebut kantor pajak bisa melakukan penilaian tingkat kepatuhan wajib pajak, baik secara formal maupun materiil. Memang, strategi ini akan mengalami banyak hambatan. Ditjen Pajak mematok target kepatuhan formal 80%-85%, tumbuh dari tahun lalu di level 73%. Sayangnya, bila melihat realisasi pelaporan wajib pajak atas kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan tahunan (SPT) belum mencerminkan pertumbuhan. Tren penurunan ini terjadi di semua SPT, realisasi SPT sampai dengan 21 April 2020 turun 16,2%. Wajib pajak (WP) orang pribadi (OP) turun 2,8%. Begitu pula dengan realisasi kepatuhan Badan usaha melaporkan SPT sebagai basis penerimaan pajak. Wajib pajak badan yang sudah menyampaikan baru 9,3 SPT, turun ketimbang periode sama tahun lalu sejumlah 10,1 SPT.

Ketiga, perluasan basis pajak tersebut seperti pemajakan transaksi digital, terutama untuk pemungutan pajak pertambahan nilai (PPN) dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE), dalam waktu dekat sudah bisa diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) untuk pelaksanaannya, Darussalam Pengamat Pajak DDTC menilai, terlepas dari pandemi ini, awal tahun ini Ditjen Pajak telah merumuskan Rencana Strategis (Renstra) 2020-2024 yang berisi dua pilar, yakini perluasan basis pajak dan pajak untuk mengerek perekonomian. Yang mana menurutnya semakin relevan dengan situasi pandemi ini. Di satu sisi dibutuhkan relaksasi sebagai upaya mencegah kedalaman dampak pandemi korona. Di sisi lain, ada upaya antisipasi untuk mencegah ketidakstabilan penerimaan negara melalui perluasan basis pajak.

Emiten Berkapitalisasi diatas Rp 100 Triliun Bertambah

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Kontan, 24 April 2020

JAKARTA. Meski masih belum lepas dari tekanan sentimen negatif penyebaran virus korona dan ancaman perlambatan ekonomi, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang April ini cukup positif. Kenaikan IHSG ini membuat kapitalisasi pasar bursa saham juga meningkat. Saat IHSG anjlok ke level terendah, kapitalisasi pasar sempat turun jadi Rp 4.515,84 triliun. Kemarin, data BEI mencatat kapitalisasi pasar bursa mencapai Rp 5.311 triliun. Di akhir tahun lalu, kapitalisasi pasar mencapai Rp 7.241,91 triliun.

Di akhir 2019, ada 13 emiten yang memiliki kapitalisasi pasar di lebih dari Rp 100 triliun. Saat IHSG turun ke level terendah tahun ini, jumlah emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun tersisa delapan saham. Namun kemarin, jumlah emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun kembali bertambah menjadi 10 saham.

Namun Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, saham-saham yang kembali ke jajaran emiten berkapitalisasi raksasa ini tak lantas lantas mengindikasikan pelaku pasar kembali optimistis melihat prospek bursa saham namun lebih karena mekanisme pasar. Hal ini disebabkan harga saham big caps memang sudah turun dalam akibat dampak negatif Covid-19. Sebagian investor menganggap harga saham yang sudah murah ini sebagai peluang untuk kembali masuk dan membeli saham-saham tersebut.

Teguh menilai, saat ini belum ada sentimen positif yang jadi tanda fundamental emiten kembali membaik dan pasar pulih seperti penemuan vaksin, melandainya kasus atau rasio kematian yang semakin mengecil. Terlebih, sejumlah emiten sudah mengonfirmasi kinerja keuangan tahun ini bakal tertekan. Karena itu, masih ada kemungkinan harga saham-saham tersebut kembali turun dan memangkas kapitalisasi pasar

Analis Senior Anugerah Sekuritas Bertoni Rio juga menilai, sentimen positif yang mendorong kenaikan kapitalisasi pasar emiten big caps bersifat terbatas. Secara umum, pasar saham masih dinaungi sentimen negatif. Meski begitu. Ia menilai secara jangka panjang, kinerja emiten big caps berpotensi membaik dengan cepat. Apalagi, saat ini sejatinya sejumlah emiten tengah dinaungi sentimen positif. BRPT misalnya. Anjloknya harga minyak global bisa membuat beban oprasional perusahaan milik Prajogo Pangestu ini jadi lebih murah.

Dari 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, ASII mencatat pertumbuhan market caps paling rendah. Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai ini wajar. Pasalnya, bisnis yang dijalani emiten ini sedang tertekan. Selain bisnis otomotif, ASII juga tertekan oleh potensi berkurangnya pemasukan dari segmen perkebunan.

ADB Setujui Utang ke RI untuk Korona US$ 1,5 Miliar

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Kontan, 24 April 2020

Asian Development Bank (ADB) menyetujui utang senilai US$ 1,5 miliar untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam menanggulangi dampak pandemi Covid-19 yang menyasar sektor kesehatan masyarakat, sosial, dan perekonomian. Dalam keterangannya, Kamis (23/4) Presiden ADB Masatsugu Asakawa mengatakan, dukungan anggaran dari ADB diharapkan bisa membantu membantu pemerintah mengatasi tantangan Covid-19 dengan berfokus kepada kelompok miskin dan rentan miskin, termasuk kaum perempuan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawari mengatakan, pemerintah sangat menghargai cepatnya respons ADB dan eratnya komunikasi dengan pemerintah untuk membantu kebutuhan mendesak di Indonesia. Menurutnya, dukungan dari ADB akan sangat membantu pemerintah dalam melaksanakan langkah-langkah menyeluruh untuk memitigasi dampak pandemi ini.

Penanganan Dampak Covid 19 - Insentif Yang Tak Berujung

R Hayuningtyas Putinda 26 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 24 April 2020

Berbagai stimulus telah diberikan oleh pemerintah untuk meminimalisasi dampak pandemi COVID-19 terhadap ekonomi nasional. Insentif fiskal pun diperluas hampir ke seluruh sektor industri yang ada di Tanah Air, yang diantaranya Pertambangan dan Penggalian, Pendidikan, Informasi komunikasi, dan lain sebagainya.

Mulai dari insentif untuk pajak penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga kemudahan distribusi barang untuk pengusaha yang memanfaatkan fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Dampak dan implikasi dari insentif tersebut, diantaranya memberikan tambahan penghasilan bagi pekerja sektor industri pengolahan, serta menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri dan meningkatkan kegiatan ekspor. 

Pemerintah juga mengeluarkan Ketentuan Baru Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), yaitu Pemasukan barang dari dalam negeri dalam rangka diolah untuk tujuan ekspor tidak dipungut PPN atau PPN dan PPnBM, dapat melakukan penyerahan hasil produksi untuk diolah dan/atau digabungkan dengan hasil produksi KB maupun KITE IKM, serta KITE pembebasan dan KITE IKM dapat melakukan penyerahan hasil produksi untuk penanganan bencana COVID-19 kepada pemerintah atau orang yang memperoleh pembebasan bea masuk dan pajak dalam rangka impor di dalam negeri.

Pendapatan Premi Asuransi Kian Bertumbuh

R Hayuningtyas Putinda 25 Apr 2020 Tempo, 23 April 2020

Industri asuransi menangkap peluang di tengah wabah Covid-19. Sejumlah perusahaan asuransi mencatatkan kenaikan pendapatan premi pada kuartal I tahun ini. Presiden Direktur Prudential Indonesia, Jens Reisch, mengatakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan pendapatan premi adalah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi di tengah wabah. Jens berujar, salah satu produk yang banyak diminati adalah produk asuransi jiwa syariah PRUCinta. Produk ini dirancang dengan menyesuaikan kondisi terkini, dengan harga premi terjangkau. Menurut Jens, Prudential juga memberikan inisiatif perlindungan khusus Covid-19 yang dapat dimanfaatkan oleh semua nasabah. Jika terinfeksi Covid-19, nasabah akan menerima pertanggungan klaim kesehatan dan santunan tunai Rp 1 juta per hari apabila menjalani rawat inap. Jens menyadari pertumbuhan premi juga diiringi dengan peningkatan klaim, sehingga pembayaran klaim turut menjadi prioritas. 

Chief Executive PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia, Edy Tuhirman, mengatakan pertumbuhan premi pada awal tahun positif, meski ada keterbatasan pemasaran dan penjualan akibat kebijakan physical distancing. Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), Didit Mehta Pariadi, mengatakan kenaikan premi yang dialami perusahaan ditopang oleh penjualan premi harta benda, premi kredit, dan premi Kesehatan. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Dalimunthe mengatakan, selama pandemi corona, perusahaan asuransi dituntut beradaptasi dengan cepat, khususnya untuk mengoptimalkan pemasaran dan penjualan premi. Terlebih, cara pemasaran akan banyak menggunakan teknologi atau minim interaksi langsung yang bisa menurunkan biaya operasional.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, mengatakan pola konsumsi masyarakat berubah seiring dengan penyebaran wabah. Masyarakat menahan belanja,tapi kebutuhan untuk berjaga-jaga dari risiko tetap jadi prioritas. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan, perusahaan asuransi tetap harus meningkatkan kehati-hatiannya karena masyarakat menyadari risiko yang dihadapi ke depan semakin besar sehingga memilih untuk mengalihkan risiko tersebut kepada perusahaan asuransi. 


Pilihan Editor