Ekonomi RI Diyakini Segera Membaik
Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi Tanah Air akan membaik pada kuartal ketiga tahun 2020.BI pun memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh di atas tiga persen pada kuartal IV.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah sebagai salah satu upaya menekan penyebaran wabah virus korona juga masuk dalam kalkulasi bank sentral.
Selama beberapa hari terakhir, tren kasus baru virus korona menunjukkan penurunan, sedangkan kasus sembuh lebih tinggi dibandingkan kasus meninggal dunia. Meski begitu, BI tidak mengubah perkiraan pertumbuhan ekonomi RI tahun ini yang mencapai 2,3 persen dengan mencermati dampaknya ke pada sektor investasi, produksi, dan pariwisata.
Peneliti Pusat Kajian Visi Teliti Saksama Widyar Rahman memperkirakan, kinerja perekonomian Indonesia dapat pulih sepenuhnya pada 2022. Ini dengan asumsi pandemi Covid-19 reda pada pertengahan 2020.
Kondisi permintaan barang dan jasa yang belum pulih dalam waktu dekat masih memperlambat pertumbuhan industri pengolahan nasional yang juga dipengaruhi oleh kinerja perdagangan global. Peneliti Senior Visi Teliti Sak sama Sita Wardhani menambahkan, dari sisi produksi, rata- rata produsen dalam negeri hanya memiliki stok bahan baku hingga Maret dan April 2020. Jika pasokan dari Cina terhambat, pemenuhan barang baku impor dapat tertunda lebih lama.
Sita mengatakan, kelangkaan bahan baku bisa memengaruhi beberapa industri unggulan yang tidak lagi mampu memenuhi permintaan, seperti sektor makanan dan minuman. Kelangkaan pasokan itu diperkirakan dapat memicu terjadinya inflasi tinggi sehingga sektor rumah tangga akan menurunkan konsumsi.
Bersama Lindungi UMKM
Sebanyak 23 juta UMKM mendapatkan program pembiayaan modal kerja. Program perlindungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di gulirkan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Salah satu fokus perlindungan ekonomi dalam kebijakan pemerintah, yakni melindungi UMKM dengan beberapa kebijakan, yaitu pertama, program untuk pelaku UMKM yang masuk kategori miskin dan kelompok rentan yang terdampak dari pandemi ini. Kelompok ini akan menjadi bagian dari penerima bansos maupun pembebasan pengurangan tarif listrik dan kartu prakerja.
Kedua, skema program insentif perpajakan bagi pelaku UMKM yang omzetnya masih di bawah Rp 4,8 miliar pertahun. Insentif ini diberikan dengan menurunkan tarif PPh final untuk UMKM dari 0,5 persen menjadi 0 persen selama enam bulan. Ketiga, yakni program relaksasi dan restrukturisasi kredit UMKM dengan berbagai skema program. Presiden juga meminta agar program penundaan angsuran dan subsidi bunga diperluas lagi untuk usaha mikro penerima bantuan usaha dari pemerintah daerah.Skema selanjutnya, program mengenai perluasan pembiayaan UMKM berupa stimulus bantuan modal kerja. Presiden juga meminta agar realokasi anggaran pemda diarahkan pada program-program stimulus ekonomi yang menyentuh sektor UMKM tersebut. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki mengatakan, bantuan modal kerja bagi pelaku UMKM agar mereka mampu menjalankan kembali usahanya.
Corporate Affairs Director PTSumber Alfaria Trijaya Tbk,Solihin menjelaskan, Alfamart dan Alfamidi menggratiskan biaya sewa tenant bagi mitra UMKM yang berjualan di depan gerai mereka. Pembebasan biaya sewa berlaku untuk periode April sampai Mei 2020. Solihin berharap inisiatif ini setidaknya bisa meringankan beban mitra UMKM. Sebelumnya, lembaga filantropi Dompet Dhuafa (DD) bersama Ok Oce bekerja sama memberikan modal usaha bagi pengusaha mikro. Ketua Umum Ok Oce Indonesia, Iim Rusyamsi, mengatakan, pembiayaan ini berasal dari wakaf bersama Dompet Dhuafa. Beberapa sektor yang akan diutamakan untuk dibantu, yakni kuliner dan fesyen.
Ketimpangan Logistik Ancam Ketersediaan Pangan
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Sarwo Edhy mengatakan permintaan bahan pangan, seperti beras, terus meningkat selama Ramadan ini. Meski pasokan beras diperkirakan surplus hingga Juni nanti, melonjaknya konsumsi masyarakat bisa memicu krisis pangan di kemudian hari.
Menurut catatan Kementerian Pertanian, dari 34 provinsi, ada tujuh provinsi yang rawan krisis pangan, seperti Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan separuh wilayah Kepulauan Papua, karena ada masalah di pemerataan logistik.
Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan wajar jika konsumsi beras pada bulan Ramadan meningkat tajam. Tapi, dia mengatakan, permintaan beras bakal lebih tinggi karena banyaknya permintaan di kalangan swasta dan lembaga swadaya masyarakat yang dialokasikan untuk bantuan sosial.
Direktur Operasional dan Pelayanan Masyarakat Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan serapan Bulog sudah cukup meningkat di kisaran 5.000 ton per hari dari sebelumnya 2.000-3.000 ton. Menipisnya stok beras terjadi karena Bulog gencar melakukan operasi pasar dan penyaluran bantuan sosial di berbagai wilayah.
Selain beras, pemerintah berupaya menggenjot pasokan gula. Menurut Tri, stok gula saat ini masih kosong karena persoalan administrasi yang telat diproses di Kementerian Perdagangan. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengklaim importasi 150 ribu ton gula kristal putih akan mulai masuk ke Indonesia pada awal Mei mendatang, produsen yang menjual di atas harga eceran tertinggi akan diberi sanksi.
Bank Sentral Gelontorkan Rp 508,3 Triliun untuk Pelonggaran Moneter
Bank Indonesia telah melakukan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) sebesar Rp 503,8 triliun sejak awal tahun. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tersebut masih perlu ditunjang oleh kebijakan fiskal untuk bisa menggerakkan ekonomi.
Menurut Perry, kebijakan moneter tidak bisa langsung masuk ke sektor riil dan membutuhkan stimulus fiskal agar langsung menyentuh masyarakat. Saat ini, kata Perry, pemerintah dan OJK sedang menerapkan pelonggaran agar dana perbankan segera mengalir.
Pelonggaran moneter sebesar Rp 386 triliun berasal dari pembelian surat berharga negara di pasar sekunder yang dilepas asing dan dari term repo perbankan.
Ekonomi Terkontraksi Berat
Tanda-tanda perlambatan ekonomi kian tampak. Tanda- tanda kuat tersebut, di antaranya harga minyak dunia yang terjun bebas.Pasar global sudah menunjukkan harga minyak acuan Amerika WTI dan internasional Brent jatuh sangat dalam. Jenis WTI bahkan terperosok hingga ke level minus pada 21 April lalu untuk kontrak Mei 2020. Dengan harga minus, artinya penyuplai minyak justru siap membayar kepada pembeli.
Harga minyak dunia terlempar jauh hingga menyentuh angka belasan dolar AS saja per barelnya. Ini fakta yang sangat menakutkan terlebih bagi semua negara yang selalu mengandalkan pertumbuhan ekonomi dari jualan minyak. Indonesia memang sudah tak masuk dalam daftar negara pengekspor minyak. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di kota-kota besar membuat aktivitas ekonomi terganggu. Banyak karyawan yang terpaksa harus libur, bahkan tak sedikit terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal ini menilai laju pertumbuhan ekonomi nasional bakal minus 1,9 persen. Dia pesimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2020 akan mencapai level positif karena daya beli masyarakat memang sedang menurun. Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean memprediksi tekanan ekonomi yang terjadi akibat pandemi corona baru akan berhenti pada pertengahan 2021.
Pandemi coronavirus telah mengakibatkan kombinasi berbagai macam dimensi, yaitu dimensi pandemi covid-19, efek virus corona terhadap sosial dan politik, dan aktivitas perekonomian yang terpengaruh oleh penyebaran virus covid-19. Menurut Adrian, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 bisa positif, forecast moderat optimistis ekonomi Indonesia tumbuh 1,8 persen pada 2020 dengan inflasi 2,7 persen.
Ekonom Faisal Basri memperkirakan, pertumbuhan ekonomi nasional paling tinggi hanya menembus angka 0,5 persen pada 2020. Skenario terburuknya bahkan hanya minus 0,25 persen. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua 2020 berada pada level negative karena konsumsi rumah tangga sebagai penyokong produk domestik bruto (PDB) menurun.
Menkeu Sri Mulyani menjelaskan, pada triwulan kedua 2020 kemungkinan pertumbuhan ekonomi RI hanya akan menyentuh angka 0,3 persen. Akan tetapi, Menkeu berharap pada kuartal ketiga terjadi rebound minimal pada level 1,5 persen hingga 2,8 persen. Menkeu menggambarkan, akan terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan hingga 3,78 juta orang.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, sesungguhnya pemerintah sudah menyiapkan tiga skenario, yaitu opsi moderat, berat, dan sangat berat. Tolak ukurnya adalah pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, dan inflasi.
"Krisis yang terjadi kali ini berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya."
Menerka Arah Pertumbuhan Asia
Perekonomian Asia masih sakit. Seluruh penentu kebijakan di negara-negara di kawasan masih berupaya keras menghentikan penyebaran dan pandemi COVID-19. Pandemi memang melumpuhkan hampir seluruh sektor perekonomian, baik jasa maupun perdagangan ekspor impor. Pandemi bahkan disebut-sebut menyeret perekonomian Asia ke arah krisis dan resesi. Direktur Asia Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF), Changyong Rhee, mengatakan segenap penentu kebijakan perlu benar-benar menopang rumah tangga dan dunia usaha yang terpukul keras akibat larangan perjalanan, social distancing, dan tindakan-tindakan lain guna menghentikan pandemi. Secara keseluruhan, perekonomian global diprediksi bakal terkontraksi sampai tiga persen tahun ini, penurunan paling tajam sejak 'Great Depression' di era 1930-an. Sedangkan Asia, jelas Changyong, IMF memproyeksikan perekonomian Asia tahun ini tidak mengalami pertumbuhan sama sekali, alias zero growth.
Pemerintahan di semua negara Asia tentu saja sudah mengambil sejumlah langkah untuk memitigasi, dengan tetap mengutamakan dukungan langsung pada sektor Kesehatan, yang diperkuat dengan paket-paket stimulus demi menopang sektor-sektor perekonomian yang terimbas. Menurut Changyong, IMF memperkirakan kinerja perekonomian Asia masih lebih baik ketimbang kontraksi ekonomi di kawasan lain. IMF memperkirakan negara-negara dimaksud tak lain Singapura, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Hongkong.
Cina, perekonomian dunia terbesar kedua, justru disebut IMF mampu menghindari resesi. Meskipun tahun ini hanya mencatat pertumbuhan 1,2 persen. India, perekonomian terbesar ketiga Asia, juga diproyeksikan mencatat pertumbuhan positif tahun ini, di kisaran 1,9 persen. Perekonomian Indonesia, diproyeksikan IMF, juga tetap berada di area positif. Meski hanya mengalami pertumbuhan sedikit di atas nol persen, namun belum sampai mengalami pertumbuhan negatif.
Cina tetap diproyeksikan menjadi pengatrol utama pemulihan ekonomi di kawasan. Muncul pula pandangan yang menyebutkan pemulihan kekuatan perekonomian Cina juga sangat bergantung pada pemulihan di kawasan lain dunia. Arah pertumbuhan ekonomi Asia selama beberapa tahun ke depan, pemulihan bisa saja terjadi dengan cepat seiring pulihnya kegiataan ekonomi dan sosial publik. Semua prediksi memunculkan sebuah konsensus;pemulihan perekonomian bakal sangat bergantung pada berapa lama pandemi virus bisa dihentikan.
Asosiasi Tekstil Minta Perketat Impor
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) berharap pemerintah bisa melindungi pasar domestik dengan memperketat produk impor masuk ke Indonesia. Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja, mengatakan garmen Bangladesh, India, dan Vietnam rata-rata di-cancel apabila nanti kondisi normal, garmen mereka bisa masuk Indonesia.
Jemmy mengatakan, beberapa industri yang selama ini berorientasi ekspor pun bisa menjual produknya ke pasar dalam negeri. Saat ini tingkat permintaan dalam negeri anjlok seiring dengan penutupan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tak hanya itu, kegiatan ekspor juga terganggu akibat Covid-19.
Menurut Jemmy, supaya industri TPT bisa terjaga dan bangkit lagi, API mengusulkan sejumlah relaksasi kepada pemerintah. Beberapa di antaranya terkait pembebasan biaya listrik.
Wakil Ketua Umum API Chandra Setiawan menambahkan, penerapan proteksi antidumping dibolehkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Chandra mengungkapkan, biaya sewa penjualan pakaian jadi di mal lebih murah bagi merek luar negeri dibandingkan untuk produk dalam negeri.
Direktur Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Afdhal Aliasar mengatakan, saat ini industri fashion Muslim telah mendapatkan dampak negatif dari pandemi. Meski begitu, Afdhal meyakini, industri fashion Muslim bisa segera bangkit jika ada kepastian ketersediaan bahan baku.
987.000 IKM Diusulkan Dapat Pinjaman Lunak
Kementerian Perindustrian mengusulkan industri kecil dan menengah terdampak Covid-19 diberikan bantuan pinjaman lunak senilai Rp 26,9 triliun. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan, ada dua persoalan utama yang dihadapi IKM saat ini yakni terkait dengan bahan baku dan restrukturisasi kredit. Menteri Perindustrian telah memberikan surat pada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian agar ada pinjaman lunak pada 987.000 IKM terdampak saat ini. Sementara itu, dia menyebut untuk skema pembayaran listrik, THR, dan karyawan yang terdampak PHK telah dibuatkan skema sendiri dari Kemenko Perekonomian.
Pembiayaan Bank - Sejumlah Sektor Masih Prospektif
Sejumlah sektor masih memiliki prospek positif di tengah pandemi virus corona meskipun penurunan omzet tidak terhindarkan. Kondisi ini memungkinkan bank untuk tetap bisa menyalurkan kredit, tetapi sangat terbatas. Sektor dengan dampak menengah mengalami penurunan omzet antara 10% — 30%, diantaranya multifinance, otomotif, pusat perbelanjaan, peternakan, perikanan, dan komoditas. Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan permintaan kredit mengalami penurunan hampir 50% dibandingkan kondisi normal. Hal itu terjadi di semua sektor.
Sementara itu, Direktur Corporate Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Alexandra Askandar mengatakan saat ini penyaluran kredit masih dilakukan untuk sektor yang bisnisnya berjalan baik dan fokus pada penyelesaian proyek-proyek yang sudah berjalan. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan masih menyalurkan kredit untuk industri tekstil dan sektor farmasi yang memproduksi vitamin. Senior Faculty LPPI Lando Simatupang pun menyebutkan tidak banyak sektor yang mampu disaluri kredit. Namun, dia mengatakan Industri mamin [makanan dan minuman] kemungkinan masih akan baik karena kebutuhan konsumsi masih ada. Sementara itu, untuk jasa kesehatan, mungkin tidak akan terlalu tinggi.
Pengamat ekonomi dari Perbanas Institute Piter Abdullah mengatakan sebagian besar permintaan kredit kini ditujukan bukan untuk tambahan modal kerja ataupun investasi. Menurutnya, perbankan harus ekstra hati-hati dalam mengevaluasi kelayakan kredit.
Relaksasi Wajib Pajak Badan - Pengusaha Keluhkan Prosedur Administrasi
Pelaku usaha mengeluhkan adanya kerancuan dalam ketentuan administrasi mengenai pelaporan surat pemberitahuan (SPT) Tahunan bagi wajib pajak badan. Wakil Ketua Tetap Bidang Perpajakan Kadin Herman Juwono menjelaskan, hampir tidak ada penyederhanaan administrasi dalam ketentuan yang termuat dalam Perdirjen No. 6/2020 karena wajib pajak harus melaporkan formulir 1771 induk beserta keenam lampirannya. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab banyaknya wajib pajak badan yang belum melaporkan SPT Tahunan.
Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP Hipmi Ajib Hamdani mengeluhkan kebijakan ini karena masih meminta wajib pajak menyiapkan laporan keuangan. Dia mengusulkan agar wajib pajak cukup menyampaikan SPT Tahunan menggunakan formulir 1771 Y. Ketua Komite Perpajakan Apindo Siddhi Widyaprathama meminta agar Ditjen Pajak memperpanjang batas waktu penyampaian SPT Tahunan dari 30 April 2020 menjadi 31 Mei 2020. Menanggapi hal ini, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen pajak Hestu Yoga Saksama mengatakan relaksasi yang diberikan dalam penyampaian SPT Tahunan sudah cukup sederhana.









