Tersisa 2 Hari, Pelaporan SPT Pajak Baru Capai 10,14 Juta WP
Berdasarkan informasi dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) jumlah wajib pajak (WP) yang telah melaporkan surat pemberitahuan (SPT) tahunan pajak untuk tahun pajak 2019 hingga Selasa (28/4) pukul 08.00 WIB tercatat sekitar 10,14 juta wajib pajak atau turun 14,8% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 11,9 juta wajib pajak. Sebelumnya, DJP merelaksasi waktu pelaporan SPT bagi WP orang pribadi (OP) dengan menunda batas waktu pelaporan menjadi 30 April 2020.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Hestu Yoga Saksama mengatakan, sebagian wajib pajak masih belum mampu melaksanakan kewajiban perpajakan mereka secara mandiri, termasuk dalam menyampaikan SPT tahunan. Ia mengatakan sebelum adanya wabah Covid-19, DJP aktif melakukan sosialisasi secara tatap muka, misalnya melalui pojok pajak, kelas pajak di kantor pelayanan pajak (KPP), atau mengisi SPT tahunan bagi karyawan perusahaan atau instansi. Namun saat ini, pihaknya harus memaksimalkan materi edukasi seperti panduan atau video tutorial yang bisa diakses di website atau medsos. Namun ia menambahkan, perubahan mindset dari WP untuk lebih mandiri mempelajari dan melaksanakan kewajiban pajak memang diperlukan juga.
53% dari total 10,14 juta WP telah melakukan secara online, sehingga yang melaporkan SPT secara manual tinggal tersisa 351.432 WP dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Mayoritas WP melakukan pelaporan SPT secara online dan efilling application service provider (ASP), khusus melalui media ASP utilisasinya meningkat signifikan mencapai 16.419 laporan dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya 150 wajib pajak. Tahun ini, DJP menargetkan tingkat kepatuhan wajib pajak dalam menyampaikan SPT tahunan pajak tumbuh menjadi 8085% dari total 19 juta wajib pajak baik orang pribadi maupun badan. Target ini naik dari realisasi tahun lalu yang berada di level 73%.
Bank Woori Saudara Bagi Dividen Rp 13 per lembar saham
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk menyepakati pembagian dividen tahun buku 2019 sebesar Rp 13 per lembar saham. Tahun lalu, laba bersih perseroan sebesar 499,79 miliar atau turun 7% secara tahunan (year on year/yoy)
Direktur Bank Woori Saudara Indonesia sekaligus Sekret-aris Perusahaan Sadhana Priatmadja melalui keterangan tertulis, Rabu (29/4) mengatakan hal ini dikarenakan perlambatan ekonomi global dan perekonomian Indonesia, yang menyebabkan pengetatan pada pasar dana pihak ketiga (DPK) sehingga mendorong suku bunga DPK naik. Namun demikian, Sadhana mengatakan pihaknya berupaya memperkuat portofolio bisnis melalui diversifikasi produk dengan memadukan produk perbankan korporasi dan perbankan ritel.Covid Tumbangkan Ekonomi AS
Wabah virus corona Covid-19 menumbangkan perekonomian Amerika Serikat (AS). Produk domestik brutonya (PDB) kontraksi 4,8% pada triwulan pertama 2020. Penurunan tersebut adalah yang terbesar dalam 12 tahun atau sejak krisis finansial global. Pemerintah AS pada Rabu (29/4) menekankan bahwa data yang ada belum dapat menunjukkan dampak penuh dari wabah Covid19 terhadap ekonomi. Alasannya, sebagian besar dunia usaha tutup dan perintah tinggal di rumah bagi warga baru berlaku pada pekan terakhir Maret 2020.
Meski begitu, data terbaru PDB tersebut menunjukkan ekonomi AS tumbang, kalangan analis menyuarakan kekhawatiran apakah kebijakan-kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump akan terus membebani pertumbuhan di sepanjang 2020 dan wabah ini telah merenggut lebih dari 50.000 jiwa juga menghilangkan sekitar 26 juta lapangan kerja sejak pertengahan Maret 2020. Konsumsi pribadi anjlok 7,6% dan di berbagai sektor ekonomi, belanja turun tajam. Ekspor dan Impor juga turun. Asosiasi Transportasi Udara International atau International Air Transport Association (IATA) pada Rabu melaporkan bahwa trafik udara dunia menukik tajam 52,9% dan disebutkan sebagai penurunan terbesar dalam sejarah terakhir.
Ian Shepherdson, analis dari Pantheon Macroeonomics berpendapat kontraksi PDB dapat mencapai dua digit pada kuartal II. Data yang ada memperkuat pandangan kalangan ekonom bahwa ekonomi AS sudah dalam resesi yang sangat dalam, pendapat yang senada juga di katakan Chris Rupkey, kepala ekonom MUFG di New York, seperti dikutip Reuters. Hal ini juga ditekankan Paul Ashworth, kepala ekonom Capital Economics, seperti dikutip CNBC bahwa data yang ada dapat mengindikasikan kuartal kedua bakal menjadi yang terburuk sejak pasca Perang Dunia II.Properti Kawasan Industri Masih Berpeluang Tumbuh
Industri dan logistik merasakan beberapa perubahan sebagaimana dikatakan Director Industrial & Logistics Services Colliers International, Rivan Munansa, dalam siaran pers, di Jakarta. Hasil survei Colliers International Indonesia (Colliers) memperlihatkan bahwa proses perizinan industri dan logistik menjadi semakin ketat sedangkan Hasil riset tim Industri & Logistik Colliers melaporkan bahwa orang dan investor telah membatalkan atau menunda keputusan untuk membeli atau menyewakan properti karena mereka sibuk berfokus pada kepentingan internal, terutama yang mencakup standard operation procedure (SOP) terkait Covid-19, termasuk kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH). Berdasarkan penelitian Colliers, aktivitas penjualan untuk kawasan industri turun pada triwulan I-2020. Transaksi di sektor properti industri lamban. Kelesuan transaksi ini telah diimbangi dengan penurunan aktivitas kunjungan lapangan dan rencana ekspansi.
Meski demikian Rivan melanjutkan, di masa pandemi ini Investor perlu secara aktif, lebih jeli dan agresif mencari properti yang tersedia pada saat peluang harga diskon kemungkinan muncul di pasar. Sedangkan untuk pemiliki harus fokus pada perencanaan dan penataan ulang model bisnis, agar sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, gudang dan pabrik yang berkualitas baik harus dipertimbangkan, meskipun beberapa sektor bisnis telah merasakan dampak negatif dari situasi saat ini, beberapa akan mendapat manfaat, atau memiliki potensi untuk tumbuh, terutama yang terlibat dalam perdagangan elektronik, barang-barang konsumsi, industri perawatan kesehatan dimana permintaan tinggi, dan juga pada masa depan, pusat data akan berpotensi besar.
Sementara itu, Arvin F Iskandar, ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta, menanggapi tekanan pandemi Covid-19 dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyarankan mitigasi yang dipilih di tengah tekanan tersebut salah satunya adalah dengan melakukan efisiensi operational expenditure (opex) dan slowing down capital expenditure (capex) serta senantiasa membuat inovatif agar produk yang dihasilkan lebih menarik.
Insentif Transportasi Mendesak
Dewan Pimpinan Pusat Organda menilai terlambat jika pemerintah meluncurkan insentif bagi pelaku usaha transportasi skala menengah dan besar pada 2 bulan mendatang. Sekretaris Jenderal DPP Organda Ateng Haryono menyatakan dalam situasi saat ini tidak ada pelaku usaha yang tidak menderita, baik pengusaha kecil maupun besar akibat pandemi virus corona. Dia mengapresiasi langkah pemerintah memberikan insentif pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan ukuran kredit di bawah Rp10 miliar.
Ketua Bidang Advokasi Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno mengemukakan hal senada bahwa saat ini diperlukan dukungan dan kebijakan dari pemerintah untuk penyelamatan sektor transportasi. Masing-masing sektor telah mengusulkan beragam stimulus. Sejak sudah ada 6.328 pekerja transportasi umum yang terkena pemutusan hubungan kerja. Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo mengatakan bagi pelaku usaha seperti operator bus yang memiliki nilai pembiayaan lebih dari Rp10 miliar terdapat dua skema yang diberikan, yakni cost sharing dan resharing dengan perbankan agar bisa mendapatkan dukungan atas restrukturisasi.
Pembebasan PPh UMKM Resmi Berlaku
Pembebasan pajak bagi UMKM yang terdampak Covid-19 berlaku sejak April hingga September mendatang atau selama 6 bulan. Pembebasan pajak tersebut diberikan kepada UMKM yang memiliki omzet di bawah Rp4,8 miliar per tahun yang selama ini menikmati pajak penghasilan (PPh) final 0,5% sebagaimana tertuang dalam PP No. 23/2018.
Namun demikian, sejauh ini pemerintah belum menerbitkan beleid khusus yang mengakomodasi pembebasan PPh untuk UMKM tersebut. Berdasarkan catatan Ditjen Pajak dalam Laporan Kinerja 2019, realisasi PPh Final UMKM terkontraksi hingga 15,3% (year-on-year/yoy). Artinya, realisasi penerimaan PPh Final UMKM pada 2018 mampu mencapai Rp 5,6 triliun.
Prospek Kinerja Emiten - Menadah Berkah Minyak Murah
Bagaikan dua sisi mata uang, mendinginnya harga minyak membuat emiten pertambangan migas merana tetapi membuat emiten manufaktur berbahan baku minyak bisa tersenyum
Direktur Utama PT Barito Pacific Tbk. Agus Salim Pangestu mengatakan bahwa penurunan harga minyak berpotensi memperbaiki kinerja keuangan perseroan. Dampaknya dirasakan langsung oleh entitas anak usaha Barito Pacific, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA). Pasalnya, harga bahan baku naphta juga ikut turun sehingga ongkos produksi menjadi lebih murah.
Lukman Hakim, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Panca Budi Idaman Tbk., mengatakan bahwa penurunan harga minyak mentah dunia akan berpengaruh terhadap harga bahan baku perseroan sehingga tentu akan menekan beban pendapatan perseroan.
SVP Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan bahwa setidaknya terdapat tiga sektor yang akan mendapatkan keuntungan di tengah pelemahan harga minyak, yaitu industri petrokimia, otomotif, dan sektor industri berbasis pembangkit listrik. Setidaknya penurunan minyak dan penurunan pajak corporate dari 25% ke 20% bisa menahan penurunan pendapatan yang tajam pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini.
Sementara itu, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali mengatakan bahwa penurunan harga minyak dunia berpeluang membuat emiten-emiten di sektor manufaktur, transportasi, dan petrokimia memperbaiki kinerjanya.
VP Senior Credit Officer Moodys Investor Service Elena Nadtotchi mengatakan prospek pelemahan ekonomi global akan menekan permintaan minyak signifikan sepanjang 2020 sebelum akhirnya pulih pada 2021.
INSA Butuh Stimulus
Indonesian National Shipowners’ Association meminta pemerintah menambah stimulus khusus untuk perusahaan pelayaran yang terdampak langsung akibat pandemi virus corona.
Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto menyatakan pendapatan pelayaran nasional mengalami kemerosotan tajam bahkan hingga 75%—100% khususnya angkutan penumpang/roll on roll off (ro-ro).
Merosotnya harga minyak dunia, paparnya, telah berdampak pada pelaku usaha pelayaran supporting di sektor migas, seperti penurunan sewa atau renegosiasi kontrak 30%—40%, bahkan terminasi awal. jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mengakibatkan beban biaya naik signifikan.
Menurut Carmelita, sejumlah stimulus lain yang dibutuhkan dari sisi fiskal antara lain pembebasan pemotongan PPh 23 atas sewa kapal. Dari moneter, pemberian penjadwalan ulang pembayaran angsuran pokok dan bunga pinjaman ringan.
Gotong Royong Selamatkan Perbankan
Pandemi Covid19 telah memunculkan perkiraan terhadap penurunan ekonomi global di kisaran 3%—5% tahun ini saja. Ini semua imbas dari banyak negara yang melakukan social distancing hingga lockdown. Akibat pembatasan kegiatan yang terjadi di China, negara-negara Asia, Eropa dan Amerika sebagai pusat perkembangan ekonomi dunia tentu bisa menghadapi masalah yang lebih besar, terutama terkait dengan logistik. Pelajaran menarik dari kasus ini adalah ke depan setiap negara perlu mulai mencari keseimbangan antara globalisasi dan berdikari alias swasembada dalam negeri. Pandemi ini membuktikan bahwa globalisasi ekonomi, global supply-chain, international cooperation dan sebagainya ternyata mengandung risiko sangat besar.
Keluhan pengusaha nasional karena kekurangan bahan baku impor dari China menjadi contoh buruk akibat ketergantungan. Selama ini global supply-chain diyakini begitu kuat, sehingga pemikiran tentang swasembada sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak modern. Salah satu sektor yang perlu mendapatkan perhatian untuk dijaga adalah perbankan dan industri keuangan pada umumnya. Perbankan merupakan urat nadi ekonomi modern. Industri ini adalah cermin kondisi ekonomi suatu negara. Keadaan ekonomi saat ini akan menjadi lebih ringan ketika pemerintah, rakyat, dunia usaha, LSM, politisi dan komponen lainnya bekerja bersama untuk menyelamatkan ‘perahu Indonesia’. Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang meminta bank melakukan keberpihakan kepada konsumen dengan melakukan restrukturisasi kredit harus dilakukan secara berhati-hati serta dengan kriteria yang jelas.
Debitur harus sadar ketika krisis terjadi maka akan memicu kebangkrutan bank. Ketika bank mengalami kesulitan, fasilitas perbankan tidak bisa dinikmati lagi. Dalam kondisi ini hadir Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan dana siap pakai Rp123 triliun untuk berjaga jaga. Bentuk gotong royong yang cukup monumental adalah rencana merger antara Bank Banten dan Bank Jabar Banten (BJB) sebagaimana disampaikan OJK. Meski murni aksi korporasi biasa tetapi langkah ini dapat dipandang sebagai wujud gotong royong dalam rangka penyehatan perbankan. Langkah pemerintah membantu ekonomi pihak terdampak seperti golongan miskin dan pengangguran dalam bentuk penyediaan kebutuhan pokok, jangan didorong hanya dari sisi demand saja tetapi sisi supply juga perlu dibantu.
Otomotif Global Bersiap untuk Pulih
Pandemi Covid-19 di beberapa belahan dunia berangsur mulai reda. Sejumlah aktivitas bisnis pun perlahan kembali normal, termasuk di antaranya industri otomotif. Dilansir dari Car Advicepada Selasa (28/4), sejumlah jenama yang mulai mengaktifkan kembali fasilitas produksinya, adalah Volkswagen, Renault, Toyota, Jaguar Land Rover, dan Mercedes-Benz.
Dari semua brand itu, pabrikan per tama yang memastikan untuk kembali beroperasi adalah Volkswagen (VW). Pabrikan Jerman ini resmi membuka kembali pabriknya pada 20 April di Zickau, Jerman dan Bratislava, Slovakia. Selain itu, hampir semua fasiltias produksi VW di Cina juga telah kembali beroperasi.
Sementara itu, Mercedes Benz juga tengah bersiap untuk kembali membuka tiga fasilitas produksi di Jerman. Kemudian, jenama Toyota pun telah kembali membuka pabrik di Prancis yang digunakan untuk memproduksi Yaris. Namun, pada tahap awal, Toyota masih memangkas kapasitas produksinya, demi tetap menjaga kesehatan dan keselamatan para pegawai.
Nissan pun mulai melakukan persiapan untuk mengaktifkan kembali fasilitas produksi di Inggris. Sejumlah fasilitas yang berada di Amerika Serikat (AS) saat ini belum dapat dibuka lantaran masih adanya pembatasan aktivitas. Beberapa pabrikan yang masih menangguhkan produksi di AS, di antaranya adalah Honda, Toyota, Hyundai, dan Nissan.
Meski demikian, pemerintah AS memberikan izin bagi General Motors dan Ford untuk membuka fasilitas produksinya karena tengah berkontribusi dalam pembuatan ventilator untuk para pasien korona.
Tak heran, selama pendemi, diler berhenti beroperasi dan masyarakat pun lebih fokus pada kesehatan dan keperluan pokok yang lebih urgen. Kondisi ini pun membuat penjualan mobil anjlok di awal 2020.
Pandemi yang terjadi di Indonesia telah memaksa Daihatsu melakukan penutupan sementara pada fasilitas produksinya. Senior Executive Director ADM, Erlan Krisnaring, mengatakan, pembukaan kembali fasilitas produksi diawali dengan melatih karyawan pabrik sehingga proses produksi ADM akan dilakukan sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19.
Setelah seluruh persiapan dipastikan sesuai dengan protokol Covid-19, ADM akan mempertimbangkan untuk memulai kembali produksi. Namun, pada tahap awal, produksi di- lakukan guna memenuhi permintaan pasar ekspor saja.









