Potensi Omset E-Dagang Rp 1.700 Triliun
Selama pandemi Covid-19 di Indonesia, transaksi e-dagang meningkat sebesar 54 persen atau lebih dari 3 juta transaksi per hari. Potensi e-dagang Indonesia bisa mencapai Rp 1.700 triliun pada tahun 2025. Selama pandemi Covid-19 transaksi e-dagang di Indonesia meningkat sebesar 54 persen, tercatat hingga lebih dari 3 juta transaksi per hari. Pesatnya perkembangan tersebut membuat ekonomi digital Indonesia berpotensi mencapai lebih kurang Rp 1.700 triliun pada tahun 2025. Sinergi dan kolaborasi diyakini semakin berperan dalam transformasi digital untuk merebut pasar, terutama bagi koperasi serta usaha mikro, kecil dan menengah.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam siaran pers, Minggu (14/11/2021), terkait rapat koordinasi nasional ”Transformasi Digital Koperasi dan UMKM” yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, mengatakan, digitalisasi koperasi dan UMKM makin signifikan sejalan dengan tantangan era Revolusi lndustri 4.0 yang menuntut seluruh kegiatan ekonomi bergeser dari pola konvensional menjadi lebih modern.
"Lampu Kuning" Pengelolaan Rajungan
Penangkapan rajungan mulai mendekati ambang berlebih. Komoditas perikanan skala ekspor ini kerap diburu dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan tidak memperhatikan daya dukung. Komoditas rajungan sebagai salah satu primadona ekspor perikanan Indonesia terus mengalami eksploitasi. Di beberapa sentra produksi, hasil tangkapan rajungan mulai menunjukkan penurunan. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, ekspor komoditas rajungan-kepiting hingga triwulan III (Januari-September) 2021 sebesar 447 juta dollar AS atau berkontribusi 11 persen terhadap total nilai ekspor perikanan. Konstribusi ekspor itu meningkat dibandingkan triwulan II-2021 yang tercatat 9,9 persen. Kenaikan nilai ekspor itu menempatkan kelompok kepiting-rajungan pada peringkat ketiga komoditas unggulan, setelah udang, dan tuna-cakalang. Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) mencatat, hampir 80 persen produk rajungan diekspor ke Amerika Serikat.
Meski tergolong unggulan, produksi rajungan di beberapa sentra produksi mulai menunjukkan tren penurunan akibat penangkapan berlebih dan tidak ramah lingkungan. Upaya mendorong kenaikan ekspor rajungan yang berkualitas, peningkatan kesejahteraan nelayan, dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlanjutan produksi kini menjadi tantangan.
”Yang paling menyedihkan, saya mengalami alat tangkap hilang karena tersapu bersih alat tangkap yang merusak. Penangkapan dengan alat yang tidak ramah lingkungan harus dibatasi. Kalau tidak dibatasi, bukan cuma merusak tempat habitat rajungan, tetapi bisa mengganggu nelayan-nelayan rajungan,” kata Miswan, yang juga Ketua Forum Komunikasi Nelayan Rajungan Provinsi Lampung.
Ironi Seputar Telur, Waktunya Mengolah Sendiri
Ketika peternak menderita karena harga jual telur hancur dan produksi tak terserap pasar, Indonesia masih mengimpor telur olahan. Surplus telur belum dimanfaatkan maksimal dan kendala yang ada belum dapat solusi jitu.
Unjuk rasa peternak unggas seolah tak berjeda beberapa tahun terakhir. Latar belakangnya sebagian besar karena harga jual ayam hidup (livebird) dan telur ayam yang anjlok di tingkat peternak. Situasi itu terutama dipicu oleh ketidakseimbangan pasar di mana produksi daging dan telur ayam melebihi permintaan. Risiko terbesar dialami peternak karena harga jual hasil jerih payahnya berulang tertekan hingga di bawah ongkos produksi.
Peternak protes karena telur ayam produksi mereka hanya laku Rp 14.000-Rp 17.000 per kilogram (kg) awal bulan lalu. Padahal, pemerintah telah menetapkan harga acuan penjualannya di tingkat produsen sebesar Rp 19.000-Rp 21.000 per kg. Kerugian mereka berlipat karena pada saat yang sama ongkos produksi naik seiring naiknya harga sejumlah komponen, terutama pakan yang didorong oleh kenaikan harga jagung. Ironisnya, ketika peternak menderita karena harga jual telur hancur dan sebagian produksi tak terserap pasar, Indonesia masih mengimpor telur olahan. Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian, Supriyadi, dalam diskusi ”Mengupas Peluang Industri Pengolahan Telur di Indonesia” yang digelar Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Rabu pekan lalu mengatakan, impor telur cair beku tahun 2020 mencapai 441 ton dengan nilai 671.000 dollar AS. Padahal, Indonesia surplus telur ayam dan tahun ini diperkirakan mencapai 200.000 ton.
Ketahanan Pangan, Kampung Bawang Merah Dikembangkan
Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta mengembangkan budi daya bawang merah di wilayah dataran tinggi yaitu di Desa Bojong Timur, Kecamatan Bojong, yang merupakan kaki Gunung Burangrang. Saat ini, wilayah tersebut menjadi kampung bawang merah. Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta Sri Jaya Midan mengatakan sejak dua tahun yang lalu, Kabupaten Purwakarta mengujicobakan budi daya bawang merah. Jika di daerah sentra bawang merah yang lain, tanaman jenis umbi-umbian ini ditanam di dataran rendah. Namun, di Purwakarta ditanamnya di dataran tinggi.“Kami, sudah uji coba tanam bawang merah dari biji. Hasilnya cukup bagus. Untuk tahun ini, kami uji coba tanam dari umbi, yang bibitnya merupakan bantuan dari pusat,” ujarnya, Minggu (14/11).Adapun, kampung bawang ini adanya di kaki Gunung Burangrang. Suhu di wilayah itu cukup dingin. Luas areal perkebunannya mencapai 30 hektare, dengan jumlah petani yang bercocok tanamnya sekitar 200 orang.
Ke depannya, akan terus dikembangkan komoditas bawang merah ini, tidak hanya di Kecamatan Bojong. Tetapi di kecamatan lain yang memiliki suhu udara yang sama, kemiripan kontur tanah, dan kesuburan tanah yang sama. Seperti di Kecamatan Darangdan, Kecamatan Kiarapedes, dan Kecamatan Wanayasa.Kabupaten Purwakarta juga berencana mengembangkan kampung hortikultura. Perkampungan ini, nantinya akan menjadi sentra buah dan sayuran lokal. Rencananya, ada empat perkampungan hortikultura yang akan dikembangkan.“Pengembangan kampung hortikultura sudah mulai dirintis.”.
Yaitu, kampung durian di Kecamatan Pondok Salam, kampung manggis di Darangdan, kampung cabai di Darangdan dan kampung bawang di Bojong.
Transformasi Peduli Lindungi, Integrasi Data Medis Siap bergulir
Kementerian Kesehatan membuka peluang bekerja sama dengan pemain industri asuransi dan layanan kesehatan berbasis teknologi dalam pemanfaatan aplikasi Peduli Lindungi. Rencananya, aplikasi Peduli Lindungi akan diintegrasikan dengan data rekam medis masyarakat dan para pengunduh aplikasi itu. Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan Setiaji mengatakan, dalam pengembangan aplikasi Peduli Lindungi, nantinya dapat dikerjasamakan dengan pemain asuransi dan perusahaan rintisan yang bergerak di sektor kesehatan (health technology/healthtech). Menurutnya, aplikasi Peduli Lindungi akan terintegrasi dengan banyak data yang memudahkan para pemain asuransi dan healthtech untuk menganalisis calon nasabahnya. “Dengan adanya data yang terintegrasi ini tidak hanya asuransi juga tele-medicine akan terkoneksi dengan sistem kita,” katanya kepada Bisnis, Sabtu (13/11). Dia berencana mengintegrasikan data rekam medis (medical record) masyarakat ke dalam aplikasi Peduli Lindungi. Dengan terintegrasi, imbuhnya, proses administrasi terkait dengan kesehatan akan lebih cepat dari sebelumnya.
Ekonomi Berkelanjutan, Pariwisata Kaltim Mulai Dipacu
Masa depan ekonomi Kalimantan Timur yang berkelanjutan diperkirakan bakal menggeser sektor pertambangan dan beralih pada pariwisata serta industri bernilai tambah. Sektor pariwisata memberikan efek berganda pada sektor yang lebih banyak daripada sektor tambang. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltim Tutuk S. H. Cahyono mengatakan sektor pariwisata memberikan kontribusi devisa daerah terbesar kedua setelah batu bara ketika sebelum pandemi Covid-19. “Batu bara itu nomor satu memang, tapi jangka menengah-panjang batu bara itu makin lama makin sedikit dibutuhkan oleh dunia. Karena apa? Karena dunia itu ingin menggenjot yang namanya EBT ,” ujarnya, Kamis (11/11).
Tutuk menjelaskan pariwisata menjadi salah satu opsi dalam membentuk ekonomi Kaltim yang berkelanjutan karena investasi di industri pariwisata berdampak secara eksponensial apabila dilihat dari tingkat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), kesempatan kerja, dan multiplier effect atau efek berganda bagi sektor-sektor lainnya. “Semua bergerak, mulai dari travel-nya, transportasi, kuliner, ekonomi kreatif, suvenir seperti manik-manik, akomodasi, hotel dan restoran, semuanya bergerak. Kalau batu bara hanya tongkang yang bergerak,” katanya.
BTN Ingin Insentif Berlanjut
Bank Tabungan Negara (BTN) terus memacu penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Agar semakin cepat pulih, BTN mengharapkan ada perpanjangan dan perluasan Insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di sektor perumahan. Wakil Direktur Utama Bank BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, "Kami berharap insentif PPN tersebut bisa diperpanjang dan diperluas untuk transaksi perumahan sampai tipe-tipe tertentu terutama tipe rumah sederhana." ujar Nixon.
Bank Menurunkan Bunga Sesuai Profil Resiko
Seiring tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), perbankan terus berusaha menyesuaikan besaran bunga kredit untuk memacu permintaan kredit dimasyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai dengan Agustus 2021 Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) terus menurun seiring penurunan komponen harga pokok dana dan biaya overhead masing-masing sebesar 16 basis poin (bps) dan 10 bps.Penurunan SBDK telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit. Antara lain suku bunga kredit modal kerja yang telah turun dibawah level 9,00% hingga level 8,92%. Bank Permata telah menyesuaikan bunga di segmen ritel sesuai dengan profil resiko nasabah dan bunga yang berlaku di pasar. Bank Permata telah menurunkan bunga KPR maupun kredit UMKM dikisaran 2% hingga 2,25%.
Asuransi Jiwa Gencar Jualan Melalui Bank
Mulai meredanya kasus positif Covid-19 membuat penjualan produk asuransi jiwa melalui bank atau biasa dikenal bancassurance semakin meningkat. Dari data, bancassurance menyumbang premi paling besar dibandingkan kanal lain. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatatkan premi dari bancassurance mencapai Rp 48,23 triliun, atau meningkat 27,3% yoy per kuartal II-2021. Kanal ini menyumbang porsi terbesar, mencapai 46% terhadap total premi industri.
Sektor Komoditas Menjadi Juara
Indeks KOMPAS100 mencetak kenaikan 6,26% sepanjang kuartal empat berjalan ini. Performa indeks 100 sahan dengan likuiditas tinggi dan fundamental baik ini melebihi performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang naik 5,79% di periode yang sama. Booming harga komoditas menjadi pemicu utama. "Namun, kenaikan harga komoditas juga menekan industri lain seperti semen," ujar Willinoy Sitorus, Analis Trimegah Sekuritas, dalam risetnya.









