;

"Lampu Kuning" Pengelolaan Rajungan

Ekonomi Hairul Rizal 15 Nov 2021 Kompas
"Lampu Kuning" Pengelolaan Rajungan

Penangkapan rajungan mulai mendekati ambang berlebih. Komoditas perikanan skala ekspor ini kerap diburu dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan tidak memperhatikan daya dukung. Komoditas rajungan sebagai salah satu primadona ekspor perikanan Indonesia terus mengalami eksploitasi. Di beberapa sentra produksi, hasil tangkapan rajungan mulai menunjukkan penurunan. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, ekspor komoditas rajungan-kepiting hingga triwulan III (Januari-September) 2021 sebesar 447 juta dollar AS atau berkontribusi 11 persen terhadap total nilai ekspor perikanan. Konstribusi ekspor itu meningkat dibandingkan triwulan II-2021 yang tercatat 9,9 persen. Kenaikan nilai ekspor itu menempatkan kelompok kepiting-rajungan pada peringkat ketiga komoditas unggulan, setelah udang, dan tuna-cakalang. Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) mencatat, hampir 80 persen produk rajungan diekspor ke Amerika Serikat.

Meski tergolong unggulan, produksi rajungan di beberapa sentra produksi mulai menunjukkan tren penurunan akibat penangkapan berlebih dan tidak ramah lingkungan. Upaya mendorong kenaikan ekspor rajungan yang berkualitas, peningkatan kesejahteraan nelayan, dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlanjutan produksi kini menjadi tantangan. ”Yang paling menyedihkan, saya mengalami alat tangkap hilang karena tersapu bersih alat tangkap yang merusak. Penangkapan dengan alat yang tidak ramah lingkungan harus dibatasi. Kalau tidak dibatasi, bukan cuma merusak tempat habitat rajungan, tetapi bisa mengganggu nelayan-nelayan rajungan,” kata Miswan, yang juga Ketua Forum Komunikasi Nelayan Rajungan Provinsi Lampung.

Tags :
#perikanan
Download Aplikasi Labirin :