Ironi Seputar Telur, Waktunya Mengolah Sendiri
Ketika peternak menderita karena harga jual telur hancur dan produksi tak terserap pasar, Indonesia masih mengimpor telur olahan. Surplus telur belum dimanfaatkan maksimal dan kendala yang ada belum dapat solusi jitu.
Unjuk rasa peternak unggas seolah tak berjeda beberapa tahun terakhir. Latar belakangnya sebagian besar karena harga jual ayam hidup (livebird) dan telur ayam yang anjlok di tingkat peternak. Situasi itu terutama dipicu oleh ketidakseimbangan pasar di mana produksi daging dan telur ayam melebihi permintaan. Risiko terbesar dialami peternak karena harga jual hasil jerih payahnya berulang tertekan hingga di bawah ongkos produksi.
Peternak protes karena telur ayam produksi mereka hanya laku Rp 14.000-Rp 17.000 per kilogram (kg) awal bulan lalu. Padahal, pemerintah telah menetapkan harga acuan penjualannya di tingkat produsen sebesar Rp 19.000-Rp 21.000 per kg. Kerugian mereka berlipat karena pada saat yang sama ongkos produksi naik seiring naiknya harga sejumlah komponen, terutama pakan yang didorong oleh kenaikan harga jagung. Ironisnya, ketika peternak menderita karena harga jual telur hancur dan sebagian produksi tak terserap pasar, Indonesia masih mengimpor telur olahan. Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian, Supriyadi, dalam diskusi ”Mengupas Peluang Industri Pengolahan Telur di Indonesia” yang digelar Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Rabu pekan lalu mengatakan, impor telur cair beku tahun 2020 mencapai 441 ton dengan nilai 671.000 dollar AS. Padahal, Indonesia surplus telur ayam dan tahun ini diperkirakan mencapai 200.000 ton.
Tags :
#UmumPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023